
Akhirnya kami sampai di sebuah hotel mewah bintang lima.
Ketika sampai di sana, kami langsung disambut oleh pria berjas abu-abu dengan rambut yang sudah tinggal separuh kepalanya.
Dia adalah Direktur hotel ini.
"Perkenalkan, saya Andri. Dan ini asisten saya," ucapku sambil menunjuk Tisa.
"Tisa," es batuku mengangguk tersenyum pada pria yang ada di depan kami.
Direktur hotel ini tersenyum dan menunjuk dirinya sendiri. "Aku Sam."
Crat!
Apa itu barusan?!
Mataku terbelalak karena bersamaan dengan huruf S yang ia ucapkan, air ludahnya juga ikut tersembur.
"Kau lihat itu?" tiba-tiba Tisa berbisik di telingaku.
"Mm!" Aku mengangguk kecil tanpa menoleh ke Tisa.
"SAMSON!" ucapnya Direktur itu lagi.
Crat! Crat!
Sekali lagi, air ludah Pak Sam muncrat bersamaan dengan ia yang menyebutkan namanya.
Kenapa jadi mendadak hujan asam gini?! Mana nggak bawa payung lagi!
"Nama lengkapku adalah Samson.." Crat! "Sudirja.." Crat! "Surahmat!" Crat!!
Gara-gara namanya banyak mengandung huruf S, air asamnya jadi terjun bebas dari tempat penampungan.
Apesnya, aku yang berdiri tepat di depannya jadi sasaran empuk hujan asam itu.
Segera aku mengusap wajahku yang terkena air asam milik Pak Sam.
"Kalian bisa memanggilku Sam atau Samson."
Crat!
Dengan sigap aku langsung memundurkan wajahku agar terhindar dari ludah Pak Sam.
"Terserah kalian mau memanggil saya dengan sebutan apa. Enaknya kalian aja!" lanjut Pak Sam lagi.
Aku dan Tisa hanya mengangguk sambil memaksakan senyum.
"Oh ya, mari masuk ke ruangan saya. Kita lanjutkan obrolannya di dalam," ucap Pak Sam sambil memandu kami ke ruangannya.
Kami pun melanjutkan obrolan yang sempat tertunda tadi.
Aku dan Tisa duduk di depan Pak Sam dan hanya terhalang sebuah meja kaca.
"Hotel kami memiliki kamar yang seperti ini. Superior standar, tiga ratus kamar."
Crat!
Aku meringis melihat air asam itu muncrat ke meja kaca di depan kami.
"Deluxe spesial, dua ratus kamar."
Crat!
Kembali air ludah itu memuncrat ke meja.
Saat menoleh, ternyata Tisa juga bergidik melihat air asam yang mendarat ke meja kaca di depan kami.
"Dan yang paling laris.." Pak Sam memberi jeda ucapannya dan sedikit menarik nafas sebelum melanjutkan bicara.
__ADS_1
Tanpa sadar aku dan Tisa ikut menarik nafas dan saling memundurkan badan sebelum terkena muncratan.
"Kamar suite eksekutif! Seratus kamar!"
Crat! Crat! Crat!
Aku menatap air asam yang sudah memenuhi meja kaca di depan kami.
"Kamar itu memiliki meja kerja. Jacuzzi, dan isi ulang minibar gratis. Pelayanan kami sangat luar biasa!!"
CRAT!!
"Ugh!" mouse di depan Pak Sam terkena air asam yang lumayan besar.
Semoga mouse itu tidak akan leleh.
Terlihat dari sudut mata, Tisa mendekatkan wajahnya di telingaku tanpa menoleh.
"Apa pelindung percikannya rusak?" bisiknya.
"Stt!!" Aku menyenggol lengannya. Takutnya Pak Sam mendengar juga.
"Kita bisa bicara sambil minum. Silahkan!"
Crat! Pluk!
"Egh!" Aku menoleh ke Tisa yang ternyata sedang menoleh ke arahku juga.
Kami saling pandang ketika air asam milik Pak Sam muncrat ke cangkir kopi di depan kami.
Menambah perasa lagi di kopi yang tentunya sudah dikasih gula.
Aku dan Tisa saling menghela nafas melihat cangkir kopi di depan kami.
"Kopi kalian akan dingin. Minumlah!"
Pluk!
"Ugh!" Aku menghela nafas panjang. "Kami bukan pecinta kopi," aku beralasan.
"Benar!" imbuh Tisa.
Secara bersamaan, aku dan Tisa mendorong kopi itu minggir dari hadapan kami.
"Bagaimana kalau dengan jus jeruk?!"
Plukk!
"Ugh!!" tanganku yang berada di atas meja terkena air asam. Aku menoleh ke Tisa yang sedang menatapku.
"Mm bagaimana kalau--"
"Pak Sam!" Aku mengangkat tangan memotong ucapan Pak Sam. "Sepertinya kami mau teh saja!"
"Mm, oke. Kalau gitu aku akan menyuruh OB untuk membuatkannya!" Pak Sam bangkit dari duduknya dan berjalan keluar ruangan hendak memanggil OB.
"Dia harus dikarantina!" bisik Tisa di telingaku.
"Apa kau punya tisu?!!" Aku berbisik ke Tisa.
Terlihat Tisa segera mengacak-acak isi tasnya.
"Aku nggak punya tisu!" ujarnya.
"Apa?!"
Tisa kembali mengacak isi tasnya. Dia malah mengeluarkan bedak yang ada kaca kecilnya.
Aku terkena air asam! Kenapa dia malah ingin bedakan?!
__ADS_1
"Kita gunakan ini saja!" ucapnya sambil mengelap tanganku yang terkena air asam mengenakan benda bulat yang biasanya digunakan untuk memakai bedak.
"Ini tehnya!" tiba-tiba Pak Sam kembali dengan membawa dua cangkir teh.
Tisa buru-buru menurunkan tangannya kebawah meja. Menyembunyikan alat bedak yang tadi digunakan untuk mengelap tanganku.
"Silahkan diminum Pak.."
Pak Sam terlihat seperti berusaha mengingat namaku.
"Andri, Pak," ucap Tisa memberitahunya sambil menunjukku. Tanpa sengaja tangannya yang memegang alat bedak tadi ikut terangkat.
"Ah, ya. Silahkan diminum Pak Andri. Ahaha, aku sangat pelupa."
Dan seketika pandangan Pak Sam mengarah ke tangan Tisa. Melihat alat bedak yang dipegang Tisa.
Pak Sam menatap bingung alat bedak itu.
"Ahaha.." Tisa berlagak sedang memakai bedak. Dia menepuk-nepukkan alat bedak tadi ke pipinya agar Pak Sam tidak curiga.
"Jangan!!" ucapku lirih melihat alat bedak bekas air asam itu menempel di pipi Tisa.
"Arghh!!" Tisa terpekik dan menjauhkan alat bedak tadi. Mungkin dia merasakan basah.
"Hargh!!" Pak Sam malah ikut kaget dan berteriak. "Ada apa?!" tanyanya.
"Aku lupa tidak memberi makan kucingku pagi ini!" jawab Tisa asal.
"Oh, begitu rupanya."
"Ahaha. Aku sangat pelupa." terlihat Tisa segera mengusapi pipinya.
"Ahaha, sama. Aku juga pelupa, ahaha," ucap Pak Sam dengan tertawa.
"Ahahaha." Aku berusaha memaksakan tawa. Begitu juga dengan Tisa.
"Eh?" Tiba-tiba Pak Sam berhenti tertawa ketika melihat ke atas meja.
Dia terlihat bingung menatap air asam miliknya memenuhi meja kaca di depannya.
Kemudian Pak Sam memandang ke atas. "Oh, sepertinya AC-nya bocor. Akan kupanggil tukang AC untuk membetulkannya."
Aku dan Tisa hanya saling pandang mendengar perkataan Pak Sam yang mengira AC-nya bocor.
Bocor dari mana?! Orang itu air ludahnya sendiri!
_________
Tidak perlu mikir dua kali. Aku tidak jadi menjalin kerjasama dengan Pak Sam.
Bisa-bisa aku harus membawa payung jika tiap kali harus bertemu dengannya.
Kami saling menghela nafas lega ketika memasuki mobil hendak pulang.
Ketika aku menghidupkan mesin mobil, kulirik Tisa yang sedang sibuk dengan sabuk pengaman.
Dia terlihat kesusahan memasang sabuk pengaman itu.
"Macet ya?"
"Ck. Iya nih!" Tisa menarik-narik kasar sabuk pengaman itu.
"Jangan ditarik-tarik kayak gitu. Kasar banget sih nariknya. Cewek tuh harus lemah lembut," tuturku yang akhirnya mendapat lirikan maut dari Tisa.
"Kalau ditarik kenceng kayak gini aja nggak bisa, apalagi ditarik lembut!!" sahutnya kesal.
Aku terkekeh mendengar ucapannya.
"Tapi meskipun kasar-kasar gini, aku tetep suka kok!" rayuku yang tak ingin dia ngambek padaku.
__ADS_1
Tapi seketika aku menangkap rona merah di wajah Tisa.