KISAH DI KOS-KOSAN CAMPURAN VERSI ANDRI

KISAH DI KOS-KOSAN CAMPURAN VERSI ANDRI
Dijodohin Dengan Anaknya Om Darma


__ADS_3

Aku memarkirkan mobilku di halaman rumah Ibu kos yang lumayan luas.


"Sebenarnya ada apa dengan jantungku?"


Aku menyandarkan tubuh di kursi sambil memegang dada.


"Masa sih aku punya penyakit jantung? Tapi kan di keluargaku tidak ada yang punya riwayat sakit jantung? Apa aku harus periksa ke dokter?"


Sepertinya aku harus membuat janji dengan dokter jantung. Aku harus memeriksakan jantungku sebelum terlambat.


Triririring


"Halo Ndah, ada apa?" tanyaku setelah mengangkat telfon.


[ Besok sore kakak ada waktu nggak? Aku mau minta tolong sesuatu boleh nggak? ] nada suara Indah terdengar sopan dan dibuat-buat manis.


Aku bergeming. Pasalnya, jika Indah sudah bicara dengan nada manis seperti ini, dia pasti lagi merencanakan sesuatu.


[ Kok diam sih kak? ]


"Mm, aku besok mau keluar sama Romi!" jawabku bohong.


[ Jangan bohong! Aku tadi udah nelfon Kak Romi dulu. Katanya besok dia mau jalan-jalan sama pacarnya! ]


Aku hanya menghela nafas berat.


[ Kenapa menghela nafas gitu? Kakak nggak mau bantuin aku ya? ]


"Iya-iya. Bantuin apa emang?" tanyaku pasrah.


Tiga detik kemudian aku terbelalak mendengar ucapan Indah. Dia memintaku untuk pura-pura jadi pacarnya saat menghadiri reuni SMA untuk memanas-manasi mantan pacarnya.


"Nggak! Aku nggak mau!"


[ Ayolah kak, plisss. Sekalii aja! ]


Haaah.. Dia kalau ada maunya emang selalu bersikap manis ya. Untung saudara.


"Yaudah deh, iya!"


Terdengar sorak gembira dari seberang.


_________


Sesuai permintaan Indah kemarin, sore ini aku datang ke rumahnya untuk menjemputnya.


Tapi bukannya langsung berangkat, aku malah akan di dandani.


"Kenapa aku harus di dandani segala sih?! Nggak mau! Mana ada laki-laki pakek begituan!" tolakku melihat peralatan makeup di meja riasnya.


"Ayolah Kak, biar ganteng!"


"Emang aku kurang ganteng ya!"


"Bukan gitu, ini untuk penyamaran saja. Mantan pacar aku kan dulu pernah makan bareng sama Kakak. Ini supaya dia nggak ngenalin Kakak!"

__ADS_1


"Tapi aku nggak mau pakek lipstik itu! Masa laki-laki pakek gituan!"


"Ini bukan lipstik Kak, ini tuh pelembab bibir! Udah ya bentaran doang ini kok! Nggak bakalan lama!"


Kemudian Indah mulai memoles wajahku. Aku hanya pasrah sambil menutup mata.


Kuharap aku tak berubah jadi lenong, karena aku merasa wajahku seperti dibedaki juga olehnya.


"Kyaaa Oppa!! Kakak benar-benar kayak oppa-oppa Korea deh kalau kayak gini!!"


Aku membuka mata mendengar teriakan Indah.


Aku menatap diriku di cermin. Benar-benar sangat berbakat tangan Indah. Aku sudah seperti orang lain di sana. Alisku juga digambar.


"Inget ya kak, nanti panggilan kita di sana 'Sayang'!"


Mobil meluncur ke sebuah kafe setelah persiapan abc sampai z.


"Datang juga kamu Ndah! Aku pikir kamu nggak datang karena belum move on dariku!" sambut seorang cowok yang bernama Tio. Pacar Indah dulu.


Wah, dia benar-benar tidak mengenaliku. Padahal sewaktu pacaran sama Indah dulu, kami pernah makan bareng. Ini semua karena makeup ini.


"Maaf ya, sudah membuatmu kecewa karena aku sudah move on! Kenalin nih, pacar baru aku!"


Sorak sorai teman-teman Indah terdengar ketika aku dikenalkan.


"Ganteng banget Ndah! Nemu dimana Oppa kayak gini! Tio mah kalah jauh!" sahut teman cewek Indah.


"Halah. Pacaran kok sama plastik!" cibir Tio.


"Heh! Apa maksudmu!" Indah tak terima aku dikatai plastik. Aku hanya terkekeh karena mendengar perdebatan anak kuliahan ini.


"Sudah selesai ngomongnya?" tanyaku yang sedari tadi diam. "Ngatain orang plastik! Kamu itu sebenarnya iri kan karena kalah ganteng sama aku?!"


Asekk! Pingin ngakak rasanya! Baru kali ini aku muji diri sendiri.


"Kalau aku yang ganteng ini kamu katain platik? Terus kamu yang modelan gini apa?!"


Dia terlihat geram. Aku hanya tersenyum simpul.


Mendengar sorak dari teman-temannya, Tio pergi dari kafe karena merasa jengkel.


_________


Entah sudah berapa lama acara reuni ini berlangsung. Yang jelas ini sudah malam.


Aku mengajak Indah pindah meja untuk makan malam sekalian.


"Makasih ya Kak, udah bantuin. Aku heran deh, kenapa aku dulu suka sama kayak modelan Tio gitu! Nggak habis pikir aku!"


Aku hanya terkekeh mendengar Indah.


"Kakak sendiri gimana? Udah punya pacar belum?"


"Kepo banget sih!" sahutku sambil menyuapkan makanan ke mulut.

__ADS_1


"Kalau belum punya aku cariin nih! Biar nggak jomblo terus!"


Lagi-lagi aku hanya terkekeh. Tapi tiba-tiba saja aku jadi teringat Tisa.


"Eh Kak, itu bukannya Om ya?" tunjuk Indah ke meja yang berjarak dua meja dariku.


Saat aku menoleh ada Papa dan Om Darma di sana.


"Hai--"


Aku segera membungkam Indah yang ingin menyapa Papa. Menaruh jari telunjuk di bibir sebagai isyarat.


Ngapain Papa ada di sini?


Aku berusaha menguping pembicaraan mereka.


"Bagaimana, apa putrimu sudah pulang ke rumah?" tanya Papa.


Memangnya kemana anaknya Om Darma?


Saat ke rumah Om Darma kemarin, aku memang tak melihat anaknya.


"Belum. Sampai saat ini dia masih belum pulang. Aku belum berhasil membujuknya pulang," sahut Om Darma.


Kenapa Papa menanyakan anaknya Om Darma?


"Aku juga nggak tahu dimana alamat dia tinggal. Lalu bagaimana dengan putramu sendiri?"


"Haahh." Papa menghela nafas panjang.


"Setelah dia tahu aku menjodohkannya, dia pergi dari rumah. Awalnya aku tahu dia tinggal di sebuah apartemen. Tapi sekarang dia sepertinya pindah lagi. Dan saat ini, aku nggak tahu dia tinggal dimana. Aku sudah mencari ke semua apartemen dan hotel. Tapi nggak ketemu."


"Kalau putramu masih mending. Meskipun sekarang dia tidak tinggal serumah denganmu, tapi dia masih mau bekerja di perusahaanmu kan?!" timpal Om Darma.


"Lah kalau putriku, aku nggak tahu dia tinggal dimana, aku juga nggak tahu dia kerja apa. Entah jadi apa dia di luaran sana!" lanjutnya lagi.


Jadi anaknya Om Darma kabur dari rumah?


"Tapi aku suka dengan putramu. Dia sangat cerdas dan bertanggung jawab dalam pekerjaannya. Aku sudah bertemu dengannya!"


"Putrimu juga sangat berbakat bukan. Aku pernah mendengar, dia berhasil mendapatkan tender yang sangat sulit didapatkan oleh perusahaan lain."


Hemh! Papa memuji anak orang lain! Padahal dia tak pernah anaknya sendiri.


"Ahaha. Itu sudah tidak ada artinya lagi saat dia lebih memilih keluar dari perusahaan!" jawab Om Darma.


Sebenarnya kenapa mereka membahas ini semua?


"Aku ingin perjodohan ini tetap dilanjutkan," ucap Om Darma


Hah?


"Aku juga setuju!" sahut Papa.


Apa?! Jadi ternyata aku dijodohkan dengan anaknya Om Darma!

__ADS_1


Tapi baguslah. Sepertinya anaknya Om Darma juga nggak setuju dengan perjodohan itu. Makanya dia kabur.


Memangnya di jaman sekarang siapa yang mau dijodoh-jodohin?


__ADS_2