
Aku nggak pulang ke rumah seperti yang aku pamitkan ke Tisa.
Aku membelokkan mobil ini ke rumah Bu kos dan titip mobil Papa di sana.
Nggak ada waktu buat pulang. Setelah ini adalah bagian terpenting dari akting yang sedang kita jalani.
Ayahnya Tisa sekarang lagi pura-pura ada di rumah sakit. Dia akan meminta Tisa untuk segera ke rumah sakit. Setelah itu dia akan meminta Tisa untuk setuju dengan perjodohan ini.
Ribet banget ya, padahal kan aku dan Tisa udah saling suka. Ngapain drama segala. iya, aku pun juga mikir gitu. Tapi yaudah lah, ini permintaan camer.
Jadi intinya aku harus cepat-cepat sampai di kosan lagi buat nganterin dia ke rumah sakit.
"Loh Ndri, ini kamu titip dua mobil di sini?" tanya Ibu kos begitu aku turun dari mobil Papa.
Sementara motorku yang tadinya ada di rumah Papa, sudah terparkir indah di depan rumah Ibu kos.
Aku tadi minta Pak Jarwo buat ngaterin kesini. Biar aku nggak bolak balik.
"Ndri!"
"Eh, iya Bu?"
"Ditanya malah bengong! ini kamu kenapa bawa mobil lagi?! Tambah penuh ini pekarangan Ibu isi dua mobil kamu!" Bu kos menunjuk mobilku dan mobil Papa.
"Aduh, maaf Bu. Sementara doang kok Bu! Sampai besok pagi deh! Saya lagi buru-buru ini."
"Beneran ya! Awas kalau ternyata kamu bawa mobil ketiga dan diparkir dini juga!"
"Iya Bu, tenang aja!"
"Ini kunci motormu. Tapi ada Bapak-bapak yang nitip ke Ibu!" Bu kos menyerahkan kunci motor padaku.
Rupanya Pak Jarwo menitipkan kunci motor ke Ibu kos.
"Dia siapa sih Ndri? Bapak kamu?"
"Hah? Siapa Bu?" Aku mengernyit tak mengerti.
"Itu, Bapak-bapak yang bawain motor kamu kesini!"
Oh, yang ditanyain Bu bos, Pak Jarwo.
"Dia Bapak kamu?"
"Ah, bukan Bu!" jawabku cepat.
"Terus dia siapa?" Bu kos tampak antusias sekali.
"Dia.." Aku mikir sejenak harus jawab apa. Masa harus bilang bodyguard Papa sih. "Teman! Iya, dia teman saya Bu!"
Bu kos menatapku heran.
"Kok kamu temenan sama Bapak-bapak sih Ndri? Eh, tapi bukan ini yang mau aku tanyain. Dia udah punya istri apa belum Ndri?"
__ADS_1
"Hah??"
Bu kos mendadak mesam-mesem sendiri.
"Orangnya gagah banget. Ya, mana tahu dia belum punya istri. Boleh lah bagi nomor telfonnya."
Waduh, rupanya Bu kos kesengsem sama Pak Jarwo nih!
Duh, tapi ini bukan waktu yang tepat. Aku lagi ada urusan yang sangat mendesak.
"Besok aja saya bagi nomornya ya Bu. Saya lagi buru-buru ini!"
Meskipun tampak kecewa, Bu kos hanya bisa mengangguk.
"Oke deh. Jangan lupa ya."
Segera aku menancap gas ke kosan. Jangan sampai Tisa udah duluan berangkat ke rumah sakit.
Dan di belokan terakhir akan sampai ke kos, aku menghentikan motorku saat melihat Tisa duduk di aspal. Ada juga Pipit yang sedang meminggirkan motornya.
"Tisa, Pipit! Kalian kenapa?!"
Kalau melihat motor yang tiduran di aspal dan Tisa yang lagi duduk di aspal juga, kayaknya dia habis jatuh dari motor.
Seketika mereka berdua menoleh menatapku. Di saat itu juga aku melihat sesuatu menetes dari hidung Tisa.
"Tisa jat--"
"Ya ampun Tisa! Hid--"
"Ndri, anterin aku!" potong Tisa dan langsung naik ke motorku.
"Tapi Sa, kamu--" ucapanku terpotong saat menoleh dan melihat Tisa menangis.
"Buruan!" serunya.
Langsung saja aku melajukan motor. Aku sampai lupa tujuan mau kemana gara-gara melihat Tisa menangis. Kulambatkan laju motor.
"Tapi Sa, kita mau kemana?" tanyaku pura-pura tak tahu.
Sebenarnya aku agak khawatir melihat Tisa mimisan kayak gitu. Apa tadi dia jatuhnya parah sampai mimisan kayak gitu?
"Ke rumah sakit Ndri! Rumah sakit Cendana!"
Itu adalah rumah sakit dimana Om Darma pura-pura dirawat.
"Ya ampun Sa, ini kita beda jalur! Kenapa kamu nggak ngomong dari tadi?!"
Aku menoleh ke belakang, Tisa mendongak melihat plang alamat di pinggir jalan. Sepertinya karena panik dia lupa memberitahuku alamat yang ditujunya.
Kulihat Tisa kembali menangis. Dia pasti khawatir banget sama Om Darma.
Cepat-cepat dia mengusap air mata itu.
__ADS_1
"Kamu jangan nangis lagi. Apa kepalamu sakit banget? Hidungmu sampai berdarah karena jatuh tadi!"
Tisa tak menjawab. Kulirik di spion dia mengusap mimisan di hidungnya.
Apa kepalanya tadi terbentur keras ke aspal saat jatuh?
"Tahan sedikit lagi ya Sa. Sebentar lagi kita sampai. Aku punya kenalan Dokter di sana. Jadi begitu kamu sampai aku akan minta dia langsung menanganimu!"
"Ndri, aku kesana bukan mau berobat! Aku kesana karena Ayahku dirawat di sana," terangnya.
"Ayah? Ayahmu kenapa Sa?" Aku pura-pura kaget. Duh, padahal aku sangat khawatir ke Tisa saat ini.
"Aku nggak tahu. Tadi Bunda nelfon dan mengatakan kalau Ayah masuk rumah sakit. Makanya tadi aku buru-buru. Tapi aku malah jatuh! Buruan ya Ndri!"
"Oke, pegangan ya Sa!"
Tisa tak menjawab. Segera aku menambah kecepatan.
Tiba-tiba aja aku merasa kepala Tisa bersender di punggungku.
"Ndri, aku pinjam punggungmu sebentar ya," ucapnya hampir tak terdengar.
Nadanya lemas. Membuatku tambah khawatir.
"Sa? Kamu kenapa? Sa?" Tisa tak menyahut.
Aku menoleh sedikit ke belakang. Tisa masih bersender di punggungku tanpa suara.
"Sa! Tisa!"
Dia masih tetap tak menyahut. Aku menggerakkan punggungku yang sedang disandarinya. Tapi siapa sangka tiba-tiba..
Brugh!
"Tisa!!"
Tisa jatuh dari motor karena aku menggerakkan punggungku yang dibuat sandaran olehnya. Sepertinya dia tadi lemas dan setengah sadar.
Segera aku menghentikan motor dan berlari ke Tisa yang tergeletak tak berdaya di aspal.
Aku mengangkat kepalanya dan kuraruh di pangkuan.
"Sa, maafin aku Sa!" Harusnya tadi aku memeganginya. Harusnya tadi aku tak menggerakkan punggung.
Aku sangat panik saat mata Tisa terpejam.
"Sa, bangun Sa! Tisa!"
BLEDARRRR!
Petir menggelegar bersamaan dengan turunnya hujan.
"Tisa!!" kupeluk erat tubuh Tisa yang pingsan.
__ADS_1