KISAH DI KOS-KOSAN CAMPURAN VERSI ANDRI

KISAH DI KOS-KOSAN CAMPURAN VERSI ANDRI
Salah Paham


__ADS_3

Melihatnya sedang kesusahan memasang sabuk pengaman, membuatku mengulurkan tangan untuk membantunya.


Seet!


Tiba-tiba saja aku merasa Tisa menahan nafasnya.


Kenapa aku bisa tahu? Ya karena tidak ada helaan nafas yang menerpa wajahku. Karena saat ini wajahku persis berada di depan wajah Tisa.


"Nggak usah tegang gitu. Nafas aja!" ucapku sambil terkekeh.


Aku menarik sabuk pengaman itu.


Ceklek!


"Hahh.."


Terdengar Tisa bernafas lega saat aku menjauh darinya setelah berhasil memasangkan sabuk pengamannya.


Mobil kulajukan dengan kecepatan sedang. Hening tak ada obrolan.


Hingga aku terpikirkan suatu ide untuk menggombali es batu yang ada di sampingku.


Aku mulai bersenandung kecil.


"Lupa. Lupa lupa lupa, lupa lagi syairnya.." Aku berhenti bernyanyi dan menoleh ke Tisa. "Kamu tahu nggak kenapa lupa syairnya?" tanyaku.


"Ya karena memang itu udah liriknya!"


"Bukan!"


"Lah, terus apa?"


"Karena ingatnya cuma sama kamu! Eaa!!"


"Apaan sih Ndri?! Garing tahu nggak!"


Meskipun dia bilang garing, tapi aku bisa melihat sudut bibirnya kedut-kedut.


Aku tak akan menyerah.


"Yaudah deh, biar nggak garing aku mau berhitung aja. Nanti kamu koreksi. Ada yang salah apa nggak."


Kedua alis Tisa terlihat menyatu. Aku pun mulai berhitung.


"Satu, tiga, empat, lima.." Aku berhenti berhitung dan menoleh ke Tisa. "Ada yang kurang nggak dari angka-angka tadi?"


"Nggak ada duanya," sahutnya.


"Iya, sama kayak kamu! Nggak ada duanya di hati aku!!"


Eaaaa.


Aku tersenyum penuh kemenangan saat melihat pipinya berubah warna. Aku tahu dia pasti sedang tersipu.


Kau akan leleh Sa! Aku akan pastikan itu!


"Sa," panggilku.


"Hm."


"Aku punya saran untuk nama kamu di masa depan."


"Hah? Nama di masa depan? Apa?" tanyanya dengan alis menyatu.


"Nyonya Andri!" sahutku dengan terkekeh kecil.


Tisa langsung membuang muka ke samping. Menyembunyikan rona merah di pipinya.


Terlihat dari samping sudut bibirnya kedut-kedut. Sepertinya dia sedang berusaha untuk tidak tersenyum.


"Kalau mau senyum, senyum aja kali. Nggak usah ditahan!" seruku. "Eh, jangan deh. Kamu jangan senyum!"

__ADS_1


Tisa langsung menoleh menatapku. "Emangnya kenapa?"


"Nanti aku bisa diabetes!"


"Hah? Apa hubungannya aku senyum sama diabetes?!"


"Kamu nggak senyum aja udah manis. Apalagi kalau senyum, jadi kemanisan dong!" sahutku tanpa menoleh ke Tisa.


Tapi sudut mataku menangkap Tisa seperti ingin tersenyum.


Lihat pipinya yang merah itu! Aku berhasil membuatnya leleh!


"Sa, aku tahu kamu itu sebenarnya ada sedikit rasa suka sama aku!" Aku bicara dengan rasa percaya diri.


"Nggak usah kepedean!" ketusnya.


"Aku nggak tahu kenapa kamu nolak aku. Tapi cepat atau lambat, aku akan mengubah keputusanmu itu!"


Tisa diam tak menjawab. Tapi pipinya masih saja merona merah.


Dia pasti sudah ada rasa padaku walaupun sedikit.


"Sa--"


"Stop ya Ndri!" potongnya. "Aku mau tidur sebentar sebelum sampai ke kantor!"


Aku menoleh ke Tisa yang menyandarkan kepalanya ke jok kursi. Matanya terpejam.


"Yahh.. Jangan tidur dong Sa. Temenin aku ngobrol."


Dia tak menghiraukan ucapanku dan tetap memejamkan matanya.


"Sa."


Tisa tak menyahut. Masa sih dia udah tidur?


"Sa."


Aku terus memanggilnya. Sampai ke empat kalinya tak mendapat respon dari Tisa, akhirnya aku menyerah.


Sepertinya Tisa sudah benar-benar tertidur. Cepet amat lelapnya ya?


"Mimpiin aku ya Sa!" ujarku meskipun Tisa tidak akan mendengarnya.


Akhirnya mobil melaju dalam keheningan. Tak ada teman ngobrol rasanya benar-benar sepi.


Hingga mobilku tercebak di kemacetan yang begitu panjang.


Suara klakson motor dan mobil saling paduan suara.


Lama kami terjebak di kemacetan ini. Aku menoleh ke Tisa yang masih memejamkan matanya.


Paduan musik tanpa dirigen ini terus saja berlanjut sampai beberapa menit. Mobilku tak bergerak seinci pun dari tadi.


"Haaah.." Aku menghela nafas panjang sambil menyandarkan punggungku di kursi mobil.


Entah sudah berapa menit kami terjebak macet.


Tririring!


Tiba-tiba hp Tisa ikutan paduan suara.


Hp itu terus saja berbunyi. Tapi Tisa tidak bergerak sedikit pun. Pulas sekali tidurnya sampai tak mendengar dering dari benda pipih miliknya.


Kuabaikan saja bunyi hp itu. Tapi hp itu terus saja berdering.


Apa aku angkat aja ya?


Kutatap Tisa yang sepertinya tidak terganggu akan bunyi nyaring itu.


Atau aku bangunin Tisa aja?

__ADS_1


Melihat wajahnya yang pulas tertidur, aku jadi tak tega ingin membangunkannya.


Aku pun memutuskan untuk mengangkatnya saja. Takutnya ada sesuatu yang penting.


Kuraih tas yang ada di pangkuannya. Mengambil hp yang sedari tadi berdering.


"Aku bantu angkat telfonnya ya Sa. Takutnya penting," aku berbicara ke Tisa yang sedang tidur.


Aku tak membaca nama si penelfon dan langsung menggeser tombol hijau.


"Halo?" sapaku ke orang di seberang telfon.


[ Siapa ini? Kenapa yang ngangkat cowok?! ]


Terdengar suara laki-laki. Aku langsung membaca nama si penelfon. 'Ayah', itulah tulisan yang tertera di layar.


Entah kenapa aku jadi mendadak panik saat tahu Ayah Tisa yang menelfon.


"Maaf Om, saya cuma bantu angkat telfonnya--"


[ Mana Tisa?! ] Ayah Tisa memotong ucapanku.


"Tisa-nya lagi tidur Om--"


[ Apa?!! Tidur?! Kamu jangan macam-macam sama anak saya ya!! ] lagi-lagi dia memotong ucapanku.


Aduh! Mampus! Kenapa jadi salah paham?! Nggak boleh! Citraku harus bagus di depan camer!


"Nggak Om! Om salah paham! Tisa memang tidur di samping saya. Tapi saya--"


[ Apa?!! Berani-beraninya kamu terang-terangan bilang tidur sama anak saya!! ]


Aduhhh! Salah lagi jawabnya! Gimana cara jelasinnya supaya Ayah Tisa nggak salah paham?!! Mana dari tadi ucapanku dipotong mulu lagi!


"Bukan Om! Maksud saya bukan begitu. Om salah pa--"


[ Diam kamu! Jangan bicara lagi!! Bangunin Tisa sekarang!! ]


Aduhh. Belum juga ketemu, masa sudah memberi kesan buruk sih?!!


[ Halo!! Awas kalau kamu sampai macam-macam sama anak saya!! Cepet bangunin Tisa sekar-- ]


Tut tut tut.


"Yaah.. HP-nya mati!"


Hp Tisa mendadak mati sebelum aku menjelaskan kesalahpahaman ke Ayah Tisa.


Aku menoleh ke Tisa yang ternyata sudah bangun.


"Tisa! Kamu udah bangun!" dia menatap hpnya yang berada di tanganku. "Tadi Ayah kamu nelfon. Aku angkat, tapi dia malah salah paham."


Aku berusaha menjelaskan seraya menyodorkan hpnya.


"Kenapa kamu nggak bangunin aku?!" terlihat Tisa berusaha menghidupkan hpnya yang mati.


"Awalnya aku mau bangunin kamu. Tapi aku nggak tega, karena kamu tidurnya pulas banget sampai nggak denger hpmu berbunyi."


Tisa mengusap wajahnya kasar karena hpnya tidak bisa menyala.


Semoga Tisa tidak marah padaku.


"Terus, Ayah kamu nyuruh aku buat bangunin kamu. Tapi hp kamu malah mati duluan sebelum aku sempat bangunin kamu."


Aku berusaha menjelaskan ke Tisa berharap dia tak marah.


"Kamu bawa charger nggak?" tanyanya yang kusambut dengan gelengan kepala karena aku memang tak membawa charger.


Tisa kembali mengusap wajahnya kasar. Aku jadi merasa bersalah.


"Maaf ya Sa. Gara-gara aku ngangkat telfonnya, Ayah kamu jadi salah paham. Dia ngira kamu tidur sama aku." Aku menatap wajah Tisa yang juga sedang menatapku.

__ADS_1


__ADS_2