KISAH DI KOS-KOSAN CAMPURAN VERSI ANDRI

KISAH DI KOS-KOSAN CAMPURAN VERSI ANDRI
Demi Es Krim Pura-pura Pacaran


__ADS_3

"Aaa.. Emm.." Tisa mendadak tergagap.


"Kenapa kamu membuang obat ini?!" Aku kembali bertanya.


"Anu.., itu.."


Sebenarnya kenapa Tisa jadi gugup begitu?


"Kenapa?!"


"Aku.. Aku nggak suka obatnya! Pahit!" jawab Tisa pada akhirnya.


Konyol! Yang namanya obat kan memang pahit! Yang manis itu gula!


Tisa menatapku setelah menjawab pertanyaanku.


"Kamu ini gimana sih Sa? Kamu umur berapa?! Yang namanya obat pasti pahit lah! Tapi kan itu untuk kesehatan!!"


Tisa hanya terdiam.


"Ayo kamu minum obatnya sekarang juga! Biar cepat sembuh!"


Aku mengajak Tisa ke dapur untuk minum obat.


Aku menuangkan air untuk Tisa. Aku juga membelah obat yang besar menjadi dua.


"Ini, minum." Aku menyodorkan air serta obat itu ke Tisa.


Dia langsung meminumnya di depanku.


_________


Besoknya Tisa sudah mulai masuk kerja lagi.


Tapi sialnya, aku nggak bisa berangkat ke kantor bareng Tisa karena Papa menyuruhku untuk datang ke sebuah kafe karena ada yang mau dia omongin.


Kalau bukan karena Mama yang meminta untuk datang, aku mah ogah mau kesana.


"Sebenarnya apa sih yang mau Papa omongin sampai harus datang ke kafe segala?! Kan ngomong di telfon juga bisa!"


Aku menggerutu di sepanjang jalan menuju kafe itu.


Sesampainya di kafe, tak cuma Papa yang ada di sana. Tapi Mama, Om Darma dan istrinya juga ada di sana.


"Ada apa Pa?" tanyaku menghampiri meja mereka setelah bersalaman dengan Om Darma dan istrinya. Aku lupa nama istrinya.


"Aku ada meeting pagi ini," ucapku sedikit berbisik pada Papa. Memberitahunya agar tak berlama-lama dalam pertemuan ini.


"Serahkan saja meeting itu pada asistenmu! Kata Sinta kamu sudah punya asisten baru."


Aku sedikit terkejut mendengar Papa mengetahui kalau aku sudah punya asisten baru.


"Jadi selama ini Sinta itu mata-mata Papa ya!"


"Sudahlah, Papa lega asisten kamu bukan laki-laki lagi. Akhirnya kamu setuju untuk mempunyai asisten perempuan."

__ADS_1


Aku hanya mendengus mendengar jawaban Papa.


Ternyata selama ini Sinta terus melaporkan gerak-gerikku pada Papa. Dia itu resepsionis atau mata-mata sih!


Papa kemudian memukai percakapan dalam pertemuan ini.


"Andri, Om Darma dan Tante Dira ini adalah calon mertuamu. Mereka adalah sahabat Papa. Dan putri merekalah yang akan Papa jodohkan denganmu."


Aku nggak kaget dengan ucapan Papa. Aku sudah tahu itu.


"Jodoh kamu sedang ada di luar negeri. Jadi dia tidak bisa ikut dalam pertemuan ini," ucap Papa lagi.


Hemh! Luar negeri apaan! Aku yakin dia masih belum kembali ke rumahnya.


Tapi, syukurlah. Kalau dia nggak datang di pertemuan ini, itu berarti perjodohan ini nggak bakal terjadi. Karena kami sama-sama nggak setuju.


_________


Setelah obrolan membosankan itu selesai aku langsung berangkat ke kantor.


Aku sampai di kantor ketika sudah jam makan siang.


Dan kini aku ada di kafe depan kantor. Tersenyum menatap Tisa yang sedang sibuk mengunyah makanan.


Aku mentraktir Tisa makan karena tadi pagi dia yang menggantikan aku untuk meeting. Sebab Pak Yosua tak ada di kantor karena sedang mengurus proyek yang ada di luar kota.


Entah kenapa aku mempercayakan meeting itu padanya. Mungkin karena aku sudah melihat keahlian Tisa dalam mengerjakan tugas yang kuberikan.


"Aku nggak nyangka lho Sa! Kata karyawan yang lain, tadi kamu presentasinya udah kayak orang yang handal dan berpengalaman!!" ucapku sambil mengunyah makanan.


Bahkan pembawaannya ketika presentasi seperti orang yang sangat profesional katanya.


"Sayang sekali aku nggak bisa lihat langsung waktu kamu presentasi tadi."


Tisa tak menanggapi ucapanku. Dia sibuk dengan makanan di depannya.


"Apa kamu dulu pernah bekerja perusahaan?"


Pertanyaanku barusan berhasil mengalihkan perhatian Tisa dari piringnya.


"Nggak pernah," sahutnya cepat. "Aku nggak pernah kerja di kantor manapun."


"Masa sih Sa? Tapi kalau melihat dari kinerjamu, sepertinya kamu sudah terbiasa kerja di kantor!"


Tisa memang menjadi asistenku lantaran keinginanku, tanpa tes apapun.


Tapi kinerjanya diluar ekspektasiku. Dia bisa menghandle urusan kantor.


"Iya, beneran. Aku nggak pernah kerja di perusahaan. Kan kamu tahu sendiri kalau aku itu kerja di pabrik," jawab Tisa.


"Maaf, permisi. Kamu yang presentasi waktu meeting tadi itu kan?!" seorang pria paruh baya menghampiri meja kami.


Dia adalah salah satu klienku yang ikut meeting tadi pagi.


"Iya Pak. Ada apa ya?" tanya Tisa.

__ADS_1


"Sepertinya aku mengenalmu. Tapi aku lupa." Ekspresi pria itu seperti mengingat-ingat sesuatu.


"Ah, ya! Aku ingat sekarang! Kamu adalah orang yang memenangkan tender besar tahun lalu. Kalau tidak salah, waktu itu kamu adalah perwakilan dari kantor Pak Darma kan?!"


Perwakilan kantor Om Darma?


Aku menangkap raut wajah Tisa langsung berubah. Tapi dua detik kemudian Tisa kembali mengubah air mukanya kembali normal.


"Ahaha. Sepertinya Bapak salah orang!" sahut Tisa menyangkal ucapan pria di depan kami.


"Nggak. Saya nggak salah orang! Nada bicaramu waktu meeting tadi itu sama persis dengan orang yang waktu itu menang tender!!"


Tririring!


Hp pria itu berbunyi. Di mengangkatnya.


Setelah mengakhiri telefon tadi, dia dengan buru-buru memasukkan hpnya ke dalam saku celana.


"Saya permisi dulu ya. Maaf sudah mengganggu waktu makannya," ucapnya, lalu pergi meninggalkan kami.


Aku menatap Tisa. Memikirkan perkataan pria tadi.


Dia mengatakan Tisa adalah perwakilan perusahaan dari Om Darma dan memenangkan tender besar.


Tapi Tisa sendiri mengatakan kalau dia tak pernah bekerja di perusahaan.


"Ahaha! Sepertinya wajahku pasaran ya. Buktinya, kata Bapak tadi ada orang yang wajahnya mirip denganku!" Tisa terkekeh kecil.


Ah, benar. Mungkin saja pria tadi salah orang.


________


Aku mengajak Tisa pulang bersama.


Ketika di lampu merah, seseorang mengetuk kaca mobil di sebelah Tisa.


"Ada apa Mbak?" tanya Tisa ketika sudah membuka kaca.


"Ini Mbak, khusus untuk hari ini kafe es krim kami lagi mengadakan promosi setengah harga untuk pasangan kekasih."


Perempuan itu menyerahkan brosur warna merah muda. "Silahkan datang ke kafe kami."


Kemudian dia berlalu meninggalkan mobil yang kami tumpangi dan menghampiri pengendara mobil dan motor yang ada di lampu merah.


"Aku mau lihat brosurnya." Kuulurkan tanganku meminta lembar brosur yang ada di tangan Tisa.


Aku membolak-balik brosur itu. Membaca tulisan yang tertera di sana.


"Alamatnya nggak jauh dari sini. Kamu mau mampir ke sana nggak? Lumayan, mumpung es krimnya setengah harga," tawarku ke Tisa.


"Tapi kan kita bukan sepasang kekasih!"


"Nggak papa! Kan orang kafenya juga nggak tahu kita itu sepasang kekasih atau bukan."


Aku tersenyum dalam hati. Siapa tahu setelah pura-pura jadi pacar, nantinya malah jadi pacar beneran.

__ADS_1


__ADS_2