
Di tengah kepanikan yang melanda, otakku tiba-tiba muncul sebuah solusi.
"Halo Ndah, ada apa?" akhirnya aku berpura-pura sedang mengangkat telfon dari Indah. "Dari tadi mau aku angkat, tapi keburu dimatiin sama kamu."
Terlihat Tisa membuang muka ke arah lain. Aku langsung bernafas lega.
Segera aku menutupkan buku menu wajahku. Agar Tisa tak menyadari kalau akulah yang sedang ditelfonnya.
"Halo?" Aku langsung mengangkat telfon begitu merasa posisiku aman. Tisa tak menjawab.
"Halo! Oi" Aku sedikit menaikkan nada suaraku agar Tisa menjawab. Tentunya dengan nada suara yang sudah aku ubah.
[ Ah, iya! Halo! ] terdengar suaranya di seberang telfon.
"Kupikir kau ke kafe sendirian. Rupanya kau datang dengan seseorang. Siapa dia?" Aku tertawa menyeringai melihatnya dari sini.
Sungguh dalam hati aku ngakak. Yang aku tanyakan ke Tisa adalah diriku sendiri cuy.
"Ah, aku tahu! Dia kan cintamu yang bertepuk sebelah tangan! ] ucapku lagi sebelum Tisa menjawab.
[ Siapa yang kau bilang bertepuk sebelah tangan?! Kami saling mencintai! ] terdengar nada bicara Tisa sangat tidak terima.
Aku terkekeh tanpa suara.
"Oh ya? Lalu kenapa kalian putus?!" Aku tak ingin mendengar alasannya meskipun aku sudah tahu.
Bukannya menjawab, Tisa malah diam.
"Iya, tak usah kau jawab. Aku tahu kok kalau cintamu bertepuk sebelah tangan."
[ Sudah kubilang aku tak bertepuk sebelah tangan! Kami putus karena dia dijodohkan! ] akhirnya Tisa menjawab.
"Wah, sama kayak kita dong berarti!"
[ Jangan samakan Andri denganmu! Dia itu menerima perjodohan karena demi keluarganya. Sementara kau hanya demi bisnis! ]
Rasanya kepalaku jadi besar mendengar Tisa tidak rela aku disamakan dengan orang lain.
"Wah wah.. Sepertinya kau sangat mencintainya ya. Sudah putus pun kau masih membelanya. Sayangnya cuma bertepuk sebelah tangan!" Aku menatap Tisa dengan full senyum dari sini.
[ Heegh! Dibilang-- ] Tisa mendadak tak melanjutkan ucapannya.
[ Lupakan soal bertepuk sebelah tangan itu. Cepat kemari! Kau membuatku menunggu! Aku juga tak suka menunggu tahu! ]
"Ahaha.. Sepertinya kita jodoh ya. Buktinya kita punya kesamaan!"
[ Cih! ] kudengar Tisa berdecih. [ Kau ada dimana sih?! ] terlihat Tisa tolah-toleh mencariku.
__ADS_1
Suasana kafe sedang full, jadi dia tak akan tau kepalaku sedang nyembul dibalik buku menu, sedang mengawasinya.
"Percuma kau tolah-toleh gitu. Kau kan nggak tahu aku!" celetukku membuatnya kembali berdecak.
[ Jika kau melihatku, kenapa kau tak kesini? Cepatlah ke sini! Bukankah kau yang mengajakku untuk bertemu di kafe ini untuk--"
"Aku berubah pikiran!" Aku memotong ucapan Tisa.
[ Apa maksudmu?! ]
"Setelah aku pikir-pikir lagi, kenapa aku harus menuruti keinginanmu untuk membatalkan perjodohan ini? Memangnya imbalan apa yang aku dapat jika menurutimu?" ucapku sambil menahan senyum.
[ Apa? ] wajahnya nampak terlihat kesal dari sini.
"Rugi sekali aku jika menolak perjodohan ini! ] imbuhnya. [ Aku akan kehilangan aset besar yang sangat menjanjikan. Ditambah, aku juga akan kehilangan calon istri yang ternyata lumayan cantik!"
Ya. Akan sangat rugi aky!
"Harusnya waktu itu aku datang menemuimu. Bukannya malah menyuruh temanku. Harusnya sudah dari dulu aku menyetujui perjodohan ini! Sudah ya aku tutup dul--"
[ Tunggu dulu! ] sergah Tisa. [ Lalu bagaimana denganku? Aku nggak setuju dengan perjodohan ini! Aku nggak mau menikah denganmu! Aku hanya mau menikah dengan orang yang aku cintai! ]
"Orang yang kau cintai? Orang mana yang kau maksud? Apa orang yang akan menikah dengan jodohnya itu hm?"
Tisa tiba-tiba menoleh ke arahku. Segera aku membuang buka ke arah lain.
Jarak kami yang lumayan jauh membuat suaraku tak bisa didengarnya secara langsung.
Klik!
Aku mematikan sambungan telfon karena kalau kelamaan takutnya malah ketahuan nanti.
Tiba-tiba seorang pria berseragam kurir menghampiri meja Tisa.
Aku tersenyum saat melihat tangan pria itu membawa paper bag. Itu pasti sepatu yang kupesan untuk Tisa.
Aku tak bisa mendengar apa yang mereka obrolin. Aku hanya bisa melihat ekspresi bingung di wajah Tisa.
Terlihat kurir itu menyerahkan paper bag ke Tisa. Lalu pergi meninggalkannya.
Aku langsung mengetik pesan untuk Tisa.
[ Buka lah. Aku membelinya untukmu! ]
Aku tersenyum saat Tisa membaca pesan dariku dan mulai membuka paper bag itu.
Terlihat wajah Tisa suka melihat sepatu itu. Dia mengeluarkannya.
__ADS_1
Kembali aku mengetik pesan untuknya.
[ Pakailah pas pernikahan kita nanti! ]
[ Aku tahu kau tak bisa memakai sepatu yang ada heelsnya. Sepatu ini pasti cocok denganmu! ] tambahku lagi.
Tring!
Balasan darinya masuk ke hpku.
[ Sepatu ini terlihat sangat kecil. Tentu saja tak muat di kakiku! ]
Aku tertawa membaca pesan darinya.
[ Kenapa kau bisa lupa dengan ukuran kakimu sendiri?! Kau tidak akan tahu itu muat atau tidak jika kau tak pernah mencobanya! Coba pakailah! ] kusuruh Tisa mencoba sepatu itu.
Terlihat dari sini Tisa menurunkan salah satu satu sepatu dan memasukkan kakinya ke sana.
Dia terlihat sangat terkejut karena sepatu itu sangat pas di kakinya. Tentu saja akan pas. Orang aku nanya ke Bundanya.
Langsung saja kutekan nomor Tisa dan menelfonnya.
"Gimana? Pas sekali kan?" ucapku bangga.
[ Bagaimana kau bisa-- ]
"Sudah kukatakan aku tahu semua tentangmu!" potongku.
Aku tersenyum penuh kemenangan saat Tisa terdiam tak bisa menjawab.
[ Tapi sayangnya sepatu ini tidak akan pernah aku pakai!] ucapnya setelah beberapa saat.
"Kenapa? Bukankah ukuran sepatunya sangat cocok?"
Kenapa dia tak mau memakainya? Apa dia tak suka dengan model sepatunya?!
[ Aku tidak akan pernah memakainya, karena pernikahan itu tidak akan terjadi! ] sahutnya di seberang sana.
Aku bernafas lega. Kupikir dia tidak suka dengan modelnya.
[ Sudah kubilang, aku hanya akan menikah karena cinta! Sedangkan aku tak mencintaimu! ]
"Hahaha!" Aku tertawa mendengar ucapannya barusan. "Omong kosong! Kau akan jatuh cinta padaku jika kau tahu wajahku!" karena aku adalah Andri Sa!
Aku mendengar Tisa berdecih di seberang sana.
"Kau tak percaya? Baiklah. Akan kukirimkan fotoku sekarang juga!"
__ADS_1
Langsung kumatikan sambungan telfon. Memilih foto yang pas untuk Tisa dan mengirimkannya.
Aku yakin dia akan tercengang melihat foto yang kukirim.