KISAH DI KOS-KOSAN CAMPURAN VERSI ANDRI

KISAH DI KOS-KOSAN CAMPURAN VERSI ANDRI
Butuh Yang Manis-manis


__ADS_3

"Nggak apa-apa. Pikirkan saja dulu, baru jawab," ucap Pak Yosua sebelum Tisa menjawabnya, lalu pergi meninggalkan Tisa karena hujan sudah reda.


Pak Yosua meninggalkan jaketnya yang masih bertengger di pundak Tisa.


"Astaga! Jaketnya!" pekik Tisa.


Aku buru-buru memanggilnya sebelum Tisa hendak mengejar Pak Yosua.


"Tisa!"


Dia menoleh ke arahku yang sudah berdiri di belakangnya. Wajahnya seperti terkejut melihatku.


"Oh, Andri! Kamu dengar ya, barusan?!"


"Apa?" Aku balik nanya, pura-pura tidak tahu.


"Ah, nggak! Nggak jadi!"


Aku menatap jaket Pak Yosua yang dipakai Tisa.


"Ah, jaket ini.. tadi dipinjami Pak Yosua. Tapi aku lupa mengembalikannya," jawab Tisa tanpa aku tanya.


Aku tak menjawab dan hanya terus menatapnya karena merasa kesal dengan pernyataan Pak Yosua barusan.


"Oke-oke! Aku ngaku! Tadi aku ditembak sama Pak Yosua!"


"Aku kan nggak ngomong apa-apa." Aku hanya mengangkat satu alisku.


"Tapi kamu denger kan?!"


Lagi-lagi aku tak menjawabnya.


"Jangan-jangan Pak Yosua nunggu jawabanku lewat jaket ini!" gumam Tisa sendiri yang menyimpulkan bahwa saat mengembalikan jaket itu, maka ia juga harus memberi jawaban untuk Pak Yosua.


"Terus, sekarang kamu maunya apa?" tanyaku.


"Aku? Aku sekarang cuma mau pulang! Aku capek, dingin pula!"


"Ya sudah, pulang saja dulu. Itu pikirkan nanti saja. Yuk pulang bareng!"


Tisa hanya mengangguk dan mengikutiku yang berjalan ke parkiran.


Sepanjang perjalanan, aku hanya diam. Sesekali melirik Tisa yang melempar pandangannya ke luar.


_________


Aku tidur miring ke kiri, lalu balik lagi miring ke kanan, mencari posisi yang nyaman untuk tidur.


Tapi tetap saja mataku tak bisa terlelap. Padahal ini sudah lewat tengah malam.


Sepanjang malam aku tak bisa tidur karena memikirkan jawaban Tisa untuk Pak Yosua.


_________


Aku terbangun ketika alarm sudah berbunyi. Aku lekas pergi mandi.


Meskipun ini masih terlalu pagi untuk pergi ke kantor, tapi tak ada salahnya aku mandi kan.


Saat aku keluar dari kamar mandi, aku menemukan Tisa yang berdiri di depan kamarnya. Dia sudah siap dengan setelan kemeja biru.


"Mau kemana kok pagi-pagi udah siap?" Aku bertanya sambil menggosok rambut yang basah.


"Aku mau ke kantor!"


"Kok pagi banget?" Mataku menatap plastik bag yang diletakkan di pinggir pintu karena Tisa sedang mengikat tali sepatu. "Apa itu jaketnya Pak Yosua?"

__ADS_1


Tisa mengangguk. Itu berarti Tisa akan mengembalikan jaket Pak Yosua pagi ini. Yang berarti dia juga akan memberikan jawaban pada Pak Yosua!


"Tunggu bentar ya! Kita bareng! Aku juga mau berangkat!"


Aku gegas masuk ke kamar dan bersiap-siap. Aku harus tau apa jawaban Tisa.


Aku berganti pakaian secepat kilat.


"Yuk berangkat!" ajakku ketika sudah keluar dari kamar.


Hening beberapa saat di dalam perjalanan menuju kantor.


"Itu isinya, jaket Pak Yosua?" akhirnya aku memecah keheningan. Tapi bodohnya aku malah mengulang pernyataan yang sudah kutanyakan.


"Iya."


"Kalau kamu mengembalikan jaketnya sekarang, itu berarti kamu udah punya jawaban untuk dia?" Aku menoleh ke Tisa.


Tisa mengangguk. "Iya."


Aku ingin tahu apa jawaban Tisa. Tapi aku tak menanyakannya.


Setelah itu, keheningan kembali menyerang kami hingga sampai ke kantor.


Suasana kantor masih sepi karena memang ini masih pagi. Hanya ada beberapa OB yang datang untuk bersih-bersih.


"Kamu duluan aja masuk ke ruangan. Aku mau ke Pak Yosua dulu," ucap Tisa saat keluar dari mobil.


Aku hanya mengangguk menjawabnya.


Tapi diam-diam, aku mengikuti Tisa yang berjalan ke tempat yang biasanya digunakan para karyawan untuk merokok.


Pak Yosua masih belum datang. Aku segera bersembunyi dibalik pintu. Mengintip Tisa yang duduk di kursi yang ada di sana.


Aku hanya bisa melihat Pak Yosua yang menyapa Tisa dan duduk di samping Tisa.


Kemudian Tisa menyerahkan plastik bag yang berisi jaket Pak Yosua.


Setelah itu, entah apa yang mereka bicarakan karena aku tak bisa mendengarnya.


Mereka bicara apa sih?! Siall!! Apa jawaban Tisa?!! Aku tidak bisa mendengarnya dari sini!!


Seberapapun aku berusaha mempertajam pendengaranku, tetap tak bisa mendengar apa-apa.


Tisa yang tadinya hanya menunduk, kini mendongak menatap Pak Yosua.


Sial!!! Aku tak bisa mendengar jawaban Tisa! Aku harap kamu menolaknya Sa!


Dan detik berikutnya, mataku membulat saat melihat Pak Yosua memeluk Tisa.


Apa ini?! Jadi Tisa menerima Pak Yosua?!!


Di saat itu pula, tatapan mata Tisa menangkap keberadaanku yang sedang mengintip mereka.


Aku segera pergi dari sana dan menutup pintu. Aku merasa susah untuk bernafas.


Ternyata Tisa juga menyukai Pak Yosua.


Iya. Kenapa aku baru sadar sekarang?! Tisa sering makan siang bareng Pak Yosua. Sudah jelas jika dia juga menyukai Pak Yosua!


Jadi inilah yang dirasakan orang-orang patah hati.


_________


Di ruang kerjaku, aku hanya berdiri di depan jendela kaca besar. Memandang keluar sana.

__ADS_1


Dari tadi aku cuma berdiri sambil menghela nafas panjang.


Aku menoleh saat mendengar suara pintu terbuka. Tisa yang masuk. Aku langsung memutar kepalaku, kembali menatap keluar sana.


"Mm, Ndri.. yang kamu lihat tadi itu--"


"Aku sudah tahu!" potongku. "Kamu tidak perlu menjelaskannya."


Aku sudah cukup melihat dia dipeluk Pak Yosua. Aku tak perlu mendengarnya yang akan pamer hubungan barunya itu.


Yang hanya akan bikin telinga sakit. Dan bukan cuma telinga yang sakit.


Hari ini di dalam ruangan jadi lebih sunyi dari biasanya. Aku juga memilih diam.


Hanya terdengar suara keyboard yang ditekan Tisa. Dan suara mesin fotokopi saat dia memfotokopi sesuatu.


Sesekali aku melirik Tisa yang fokus menatap layar laptop.


Aku merasa kecewa dengan jawaban Tisa. Tapi gimana lagi? Itu sudah keputusan Tisa.


Tiba-tiba Tisa bangkit dan berjalan ke meja kerjaku. Dia menyerahkan beberapa dokumen.


"Ndri, ini ada beberapa dokumen yang perlu kamu tanda tangani."


Aku hanya melirik dokumen itu sebentar. "Hm."


Bukannya kembali ke meja kerja, Tisa malah masih terus berdiri di depan meja kerjaku.


"Kamu sariawan ya Ndri?"


Aku mendongak saat mendapat pertanyaan aneh itu. "Nggak." Aku kembali menatap layar laptop di depanku.


"Nanti setelah makan siang kita ada pertemuan dengan Pak Hartono. Beliau ingin membahas tentang proyek perluasan apartemen yang ada di luar kota," ucap Tisa memberitahu schedule hari ini.


"Hm."


"Setelah itu, kita ada meeting yang diadakan di kantor Pak Bowo," lanjutnya lagi.


"Hm."


"Lalu setelah meeting dari kantor Pak Bowo, kita akan mampir ke proyek yang sedang dibangun di dekat sana. Untuk memantau sudah sejauh mana perkembangannya."


"Hm."


Aku terus saja menjawabnya singkat. Saat ini aku sedang tak mood membahas pekerjaan.


"Dan juga, kamu perlu menaikkan gaji dua kali lipat untuk asistenmu yang baru ini!"


"Hm. Hah?! Apa?!" Aku terkejut dan mendongak menatap Tisa. "Menaikkan gaji?"


Tisa seketika terkekeh. "Dari tadi kamu cuma menjawabku 'hm' saja. Aku pikir kalau aku menanyakan tentang kenaikan gaji, kau akan menjawabku 'hm' juga. Tapi ternyata tidak!"


Secara tidak sadar aku jadi ikut terkekeh. Tapi seketika senyumku menghilang begitu teringat dia dan Pak Yosua sudah...


Haaaa. Aku menghela nafas panjang.


"Sa, tolong buatkan aku teh. Gulanya yang banyak ya!"


Tisa mengernyit. "Tumben? Biasanya gulanya dikit."


"Aku lagi pengen yang manis-manis!"


"Oke! Tunggu sebentar ya," ucapnya sambil keluar ruangan.


Di situasi yang pahit ini aku butuh yang manis-manis.

__ADS_1


__ADS_2