
"Tisa, sebenarnya aku--"
"Enak ya, jadi anak muda!" ucap Tante Sarah tiba-tiba. Dia keluar dari kamarnya dan berjalan melewati kami, menuju ke dapur.
Benar-benar nggak bisa lihat suasana banget manusia satu ini!
Hufff... Sabar Andri.. Ayo fokus ke Tisa lagi!
Aku kembali menatap Tisa yang sedang menunggu ucapku.
"Sebenarnya aku itu suk--"
"Hahhh! Senangnya bisa jadi anak muda, bisa mesra-mesraan terus!" kembali Tante Sarah memotong ucapanku. Dia keluar dari dapur dan berjalan masuk ke kamarnya.
Heeegh!!
Aku kembali menghela nafas panjang. Menatap mata Tisa dalam-dalam. Berusaha menciptakan suasana romantis.
"Kalau nggak mau ngomong, aku masuk aja ya. Aku mau istirahat." Tisa meraih gagang pintu kamarnya.
"Tunggu Sa!" segera kuraih pergelangan tangannya. "Aku suk--"
"SIOMAY SIOMAY!! TULIT TULIT!!"
Heeghh! Lagi-lagi gangguan!
Tak kuhiraukan seruan itu dan kembali melanjutkan ucapku yang terus saja terputus.
"Aku su--"
"Wah, pas sekali!!"
Huwaaa!!! Kenapa menyatakan perasaan itu susah sekali sih?!
Kali ini gangguan datang dari Ibu kos. Aku mengaruk pipiku dengan kesal.
Ibu kos menghampiri kami dengan sebuah kantong kresek.
"Ibu kesini mau ngasih ini. Dimakan ya," Ibu kos menyodorkan nasi kotak ke Tisa. Aku pun juga diberi nasi kotak itu.
Ibu kos berlalu ke kamar yang lain untuk membagikan nasi kotak.
"Makasih ya Bu," pekik Tisa saat Ibu kos hendak membuka pagar kosan.
"Iya, sama-sama," sahutnya sambil keluar dari pagar.
"Kamu tadi mau bilang apa Ndri?"
"Aku tadi mau bilang, sebenarnya aku itu su--"
"Oh iya Ndri! Jangan lupa ya!" teriakan Ibu kos kembali memotong ucapanku.
Kepalaku rasanya sudah mau meledak.
Entah hal apa yang membuatnya kembali berbalik ke kosan dan meneriakkan namaku.
"Dua hari lagi bayar kos ya!" teriaknya lagi kemudian pergi.
Aku menghela nafas berat. Pangkal tenggorokanku terasa panas.
"Apa tadi Ndri? Lanjutin!" ucap Tisa sambil membuka nasi kotaknya.
"Aku su--"
"Yaaahh, ada udang lagi," gumam Tisa kecil.
"Ka udang!"
Tidak!!! Bukan itu yang mau aku omongin!!
Gara-gara mendengar gumaman Tisa, aku jadi salah ucap!! Tidak!! Gagal sudah!!
Tisa mengernyit menatapku.
"Aku suka udang! Jadi, kamu bisa kasih udangnya ke aku!" lanjutku yang sudah kepalang salah omong.
__ADS_1
_________
Pagi harinya di hari libur ini, tepatnya pukul 05.27 aku pergi jogging untuk menghilangkan rasa kesalku karena tak berhasil menyatakan perasaanku.
Nampaknya aku harus mencari tempat yang sekiranya tak akan gangguan.
Ketika pulang ke kos, aku langsung menuju ke dapur. Ternyata Tisa ada di sana dengan kue yang sudah dipotong-potong tersaji di depannya.
"Wah, banyak amat kuenya! Siapa yang ulang tahun? Ibu kos kah?"
"Ahaha. Bukan. Makan Ndri, ada banyak nih!"
"Kalau bukan dari Ibu kos, terus dapat dari mana?" Aku menyendok kue yang ada di piring kecil. "Mmm, rasanya e--"
"Dapat dari Koko ganteng! Eh, kalau nggak salah namanya Yosua!" Tante Sarah tiba-tiba nongol di depan pintu dapur.
"Enek!" lanjutku setelah tau kue ini dari Pak Yosua.
Aku sudah terlanjur menghabiskan potongan kue itu.
"Terlalu manis kuenya. Jadinya enek," ujarku lagi.
Tisa menyendok kue di piring kemudian melahapnya.
"Udah pas kok manisnya!" ucap Tisa sambil mengecap-ngecap kue. "Enak kok!"
"Enggak, ini tuh kemanisan! Kayaknya gulanya lebih satu sendok deh!"
Tante Sarah yang sudah selesai mencuci piring bekas kuenya mendekat ke arahku.
"Koko yang datang kesini tadi ganteng lho. Awas, nanti kamu di-duain!" bisiknya di telingaku sebelum berjalan keluar dari dapur.
Dia ngompor-ngomporin aku dan berhasil membuat komporku menyala.
Aku menatap Tisa yang sedang asik menyantap kue.
"Jadi, tadi Pak Yosua kesini?" tanyaku.
"Iya."
"Ngapain pagi-pagi kesini?"
"Dalam rangka apa?"
"Mamanya ulang tahun."
"Oh! Kamu suka kue?"
"Iya, suka!"
Aku bisa ngasih kue lebih banyak dari ini jika kamu sangat menyukai kue Tisa!
Triririring!
Hp Tisa yang terletak di meja berdering. Layarnya menyala.
Mataku terbelalak melihat wallpapernya.
Itu foto Pak Yosua!! Apa ini?! Kenapa Tisa memasang foto Pak Yosua sebagai wallpaper hpnya?!
Tisa langsung menyambar hpnya dan berlari keluar.
Siapa yang menelfonnya sampai-sampai harus keluar segala?! Apa Pak Yosua?!
Jadi Tisa udah jadian sama Pak Yosua! Sejak kapan?!
Aku merasakan keanehan di dadaku. Terasa tidak enak saat menghela nafas. Aku benar-benar merasa tidak nyaman di dada setelah mengetahui kenyataan ini.
Seperti ada batu yang menindihku.
Tak lama, Tisa kembali masuk ke dapur.
"Siapa yang telfon barusan? Kok sampek keluar segala?"
"Adeknya Pak Yosua," jawabnya sambil mengambil air minum.
__ADS_1
Sama Adeknya pun dia juga udah akrab?!
"Oh. Udah berapa hari kamu jadian sama Pak Yosua?"
"Uhuk uhuk uhuk!" tiba-tiba saja Tisa terbatuk.
"Dapat kesimpulan dari mana itu? Emangnya kata siapa aku pacaran sama Pak Yosua?"
"Lha itu, wallpaper hp kamu foto Pak Yosua! Kalau bukan pacaran, kenapa foto Pak Yosua dibuat wallpaper?"
Bukannya menjawab Tisa malah terkekeh.
"Ini maksud kamu?" Tisa menunjukkan wallpaper hpnya padaku.
"Nih ya, kamu lihat isi galerinya!" Tisa membuka galery hpnya. Banyak foto-foto Pak Yosua di sana.
Kenapa dia malah pamer foto Pak Yosua?! Apa dia sengaja nunjukin betapa sukanya dia sama Pak Yosua?!
"Kamu bucin juga ya, sampai mengoleksi segitu banyaknya foto Pak Yosua!" ucapku berusaha sedatar mungkin.
"Ahaha!" Tisa malah tertawa lagi. "Andri, Andri! Ini tuh hpnya Pak Yosua, ketinggalan!"
"Hah?! Jadi itu bukan hp kamu?!"
Entah siapa yang telah mengangkat batu yang tadi menindihku. Yang jelas, nafasku tak terasa sesak seperti tadi.
"Bukan! Ini hp Pak Yosua!"
"Jadi kamu sama Pak Yosua nggak pacaran?!"
"Enggak!"
"Ehehe. Aku pikir itu hp kamu. Kirain kamu pacaran sama dia!"
Aku merasa lega dugaanku salah. Suasana dapur kembali sepi. Mungkin ini saat yang tepat untuk menyatakan perasaanku.
"Tisa!"
"Hm?"
"Aku mau ngomong sesuatu sama kamu!"
"Iya, ngomong aja!" Tisa membalas tatapanku.
"Sebenarnya aku itu--"
"Tisa!!" suara laki-laki memotong ucapanku.
Dengan kesal aku menoleh ke sumber suara. Pak Yosua berdiri di ambang pintu dapur.
"Hpku ada di sini kah?" tanyanya.
"Iya, ini!" Tisa menunjukan hp ke Pak Yosua.
"Pantes, aku cari nggak ada!"
Aku menatapnya tajam ketika dia melangkah masuk ke dapur.
Lagi-lagi Pak Yosua menghalangiku. Apa dia sengaja kali ya!
"Lho? Kok Pak Andri ada di sini?!" tanyanya terkejut setelah menyadari keberadaanku.
"Saya ngekos di sini!"
"Hah? Bapak ngekos di sini?" keterkejutannya semakin bertambah.
"Iya. Memangnya kenapa?! Ada masalah kah?"
"Ahaha. Nggak ada masalah sih Pak. Saya cuma nggak nyangka aja, Pak Direktur tinggal di sini. Saya pikir Bapak tinggalnya di apartemen mewah!"
Aku tak ada niatan untuk basa-basi dengannya. Setelah mengambil hpnya, Pak Yosua langsung berpamitan pulang.
Apa aku harus membawa Tisa ke dalam goa, supaya tidak ada gangguan dari siapapun dan apapun?! Atau ke benua Antartika aja?!
"Kamu mau ngomong apa tadi Ndri?" tanya Tisa membuyarkan lamunanku.
__ADS_1
"Nggak jadi deh. Besok-besok aja!"
Kos-kosan bukan tempat yang tepat untuk menyatakan perasaan. Ada banyak sekali gangguan di sini.