
Setelah masalah ban beres, aku langsung pulang ke kosan. Begitu sampai di rumah Ibu kos, aku langsung berganti dengan motor matic.
Begitu sampai di kosan, aku langsung disambut dengan pemandangan yang luar biasa.
Segera aku turun dari motor dan menghampiri dua manusia lawan jenis itu.
"Ngapain kamu peluk-peluk Tisa?!" Aku menarik Tisa dari rangkulan tangan Faiz. Aku menatap tajam Faiz.
"Maaf, aku nggak bermaksud meluk Tisa kok!" terang Faiz. "Tapi, kok kamu kayak marah banget Ndri? Apa kalian pacaran?"
"Kami memang nggak pacaran. Tapi kami--"
"Oh, kirain pacaran, karena kamu keliatan kayak nggak terima banget kalau aku meluk Tisa," ucap Faiz memotong perkataanku.
"Iz, dengerin dulu. Aku belum selesai ngomong!" seruku saat dia malah ngeloyor masuk ke dalam.
"Maaf Ndri, aku kebelet buang air nih!" sahutnya tanpa menoleh.
"Ndri, yang dibilang Faiz tadi bener. Faiz nggak berniat meluk aku. Tadi itu ada... ah udahlah!"
Tisa yang tak ada niat untuk menjelaskan tambah membuatku kesal. Apalagi dia malah senyum-senyum sambil melihatku.
"Kenapa senyum-senyum gitu?! Seneng karena habis dipeluk Faiz?!"
Bukannya ngasih penjelasan, Tisa malah tersenyum makin lebar.
"Kayaknya kamu seneng banget sampai senyum-senyum sendiri kayak gitu!" sungutku. "Kenapa nggak kamu susul aja dia, buat minta peluk lagi, kalau memang semenyenangkan itu dipeluk olehnya?!"
Lihat itu! Senyumnya makin lebar!
Tanpa bilang apa-apa, Tisa malah pergi meninggalkanku.
"Sa, kamu mau kemana?!"
"Mau nyusul Faiz lah! Kan kamu yang suruh tadi!" sahutnya tanpa menoleh.
"Aish! Kamu nggak peka ya! Tadi itu aku nggak serius nyuruh kamu buat nyusul Faiz!" seruku lagi, tapi tidak dihiraukan Tisa.
Sudah kuduga Faiz adalah ancaman. Aku harus waspada sama dia.
_________
Aku nggak boleh ngambek kayak gini sama Tisa. Biar gimanapun, aku adalah pihak yang bersalah gara-gara darma yang dibuat calon Ayah mertua.
Aku harus bisa luluhin hati Tisa lagi.
"Sa? Kamu udah tidur?" tanyaku sambil menghadap tembok. Karena temboknya terlalu tipis atau apa, suaraku pasti bisa terdengar jelas oleh Tisa.
Jam masih menunjukkan pukul sembilan malam. Aku yakin dia belum tidur.
"Besok ke kantor berangkat bareng yuk!" ucapku lagi.
Masih tak ada jawaban dari Tisa.
"Sepertinya kamu udah tidur. Kalau gitu, selamat malam. Sampai jumpa besok!"
Aku tahu dia masih belum tidur. Dia hanya tak mau menjawab.
_________
__ADS_1
Pagi harinya aku bersiap-siap pagi sekali. Karena aku tahu, Tisa pasti udah ngerencanain pergi ke kantor duluan agar tak berangkat bersamaku.
Kini, aku sudah siap di belokan gang dekat kos-kosan setelah barusan mengambil mobil yang aku parkir di rumah Ibu kos.
Aku menyenderkan tubuhku di badan mobil. Menunggu Tisa lewat.
Nah, apa aku bilang!
Dua sudut bibirku terangkat ke atas saat melihatnya muncul dengan wajah penuh senyuman.
Dia masih belum sadar aku ada di depannya. Dia pasti sudah mengira berhasil meninggalkanku.
Ekspresi wajahnya langsung berubah saat melihatku. Langkah kakinya juga sempat terhenti.
"Hai Sa! Udah siap ya. Yuk kita berangkat!" ucapku sambil tersenyum.
"Ayo, tunggu apalagi? Kamu lagi buru-buru ke kantor kan, makanya kamu berangkat sepagi ini. Iya kan?" ucapku saat melihat Tisa masih bergeming.
Dia hanya melirik dengan tatapan kesal sambil masuk ke dalam mobil.
Hahaha. Gagal sudah rencanamu Tisa!
"Kok kamu ta--"
"Tahu dong!" potongku. "Kan kita udah sehati, makanya aku tahu kalau kamu akan berangkat pagi!"
Aku hanya tersenyum puas saat melihatnya kesal.
Mobil mulai berjalan dalam keheningan.
"Ehem!" Tisa berdehem.
Aku menoleh ke arahnya saat Tisa tak kunjung menjawab.
"Sa, kok kamu bengong? Ada apa? Apa kamu sakit?" Aku meraba keningnya untuk mengecek suhu tubuh.
"Eh. Nggak kok, aku nggak papa!" dengan cepat Tisa menyingkirkan tanganku. Sepertinya dia masih marah gara-gara kemarin.
"Sa, untuk yang kemarin aku--"
"Untuk jadwal hari ini..." Tisa memotong ucapanku. Jelas sekali dia tak ingin mendengar aku membahas masalah drama itu. Padahal aku ingin meminta maaf padanya.
"Hari ini ada meeting bersama di kantor dengan beberapa karyawan, untuk membahas tentang bisnis wahana permainan tempo hari yang ingin kamu bangun."
Aku hanya manggut-manggut mendengar Tisa membacakan jadwal hari ini.
__________
Jadwal kantor yang padat membuatku tak bisa bicara secara pribadi dengan Tisa.
Aku hanya bisa terus-terusan menghela nafas panjang sembari berjalan ke ruang meeting. Sementara Tisa sudah ada di ruang meeting tersebut karena dia yang mempersiapkan tempatnya.
Aku mengernyit saat sampai di pintu ruang meeting dan mendapati para karyawan berdiri di ambang pintu dan bukannya masuk.
"Lihat itu! Sudah kuduga mereka itu pacaran! Apa aku bilang!" ucap salah seorang dari mereka.
Pintu yang terbuat dari kaca membuatku dengan jelas bisa melihat isi ruang meeting. Yang mereka bicarakan adalah Tisa dan Pak Yosua yang sedang sibuk menyiapkan dokumen.
"Mereka serasi banget ya!"
__ADS_1
"Iya! Padahal selama ini Pak Yosua kayak kulkas berjalan. Nggak pernah senyum! Tapi liat itu! Dia bahkan tersenyum manis ke Mbak Tisa!"
Telingaku panas mendengar ocehan mereka.
"Ini waktu kerja, bukan waktu bergosip!" tegurku yang seketika membuat mereka terdiam dan langsung masuk ke ruangan.
Meeting pun dimulai. Aku semakin kesal karena posisi duduk Tisa yang ada di tengah-tengah antara aku dan Pak Yosua.
Harusnya aku saja yang ada di tengah. Supaya Tisa tidak dekat dengan Pak Yosua.
Para karyawan itu bergegas masuk setelah kedatangan Andri. Kami pun segera memulai meeting.
Selama meeting berlangsung, Tisa dan Pak Yosua terdengar kusak-kusuk membicarakan sesuatu.
"Ehem! Ehkhem!" Aku berdehem agak keras. Kode agar Tisa tak terlalu dekat dengan Pak Yosua.
"Ndri, kamu sakit tenggorokan?" tanya Tisa. "Ini, minumlah sedikit. Agar tenggorokanmu terasa lebih enak!" Dia menggeser botol minuman ke arahku.
"Tidak perlu!" jawabku sok cuek karena sedang kesal.
Aku pura-pura fokus menatap karyawan yang sedang presentasi di depan.
"Kebetulan aku juga tak mendapatkan jatah minum. Aku haus, biar aku saja yang minum!" tiba-tiba Pak Yosua meraih botol yang Tisa kasih kepadaku.
Segera aku meraih botol itu. Kami pun jadi saling tarik-menarik botol itu. Hingga akhirnya Pak Yosua mengalah.
Kupikir aku sudah menang, eh tau-taunya Pak Yosua masih belum menyerah.
Setelah meeting selesai, aku yang memang masih ada di samping Tisa mendengar percakapan mereka.
"Sa!" Pak Yosua memanggil Tisa. "Aku pesan makanan untuk makan siang. Tapi ternyata malah gratis satu porsi lagi. Kamu mau nggak?"
Modus sekali dia. Beli makanan satu gratis satu. Bilang pengen makan bareng!
"Mau Pak! Terimakasih ya!"
Aku langsung menoleh ke Tisa yang memang nggak bisa nolak makanan gratis.
"Kalau gitu nanti makan siang bareng ya?" ajak Pak Yosua. Tisa hanya menjawab dengan anggukan.
"Siang ini perusahaan akan mentraktir semua karyawan makan siang bersama-sama!" ujarku membuat pengumuman agar mereka batal makan siang bersama.
Setelah itu keluar dari ruangan itu diiringi sorak-sorai para karyawan yang senang karena akan ditraktir.
_________
Seharian ini jadwalku benar-benar padat. Aku jadi tak bisa mengobrol dengan Tisa.
Aku sedang rebahan di kasur kosan setelah seharian sibuk kegiatan di kantor.
Saat melihat jam, masih pukul tujuh malam.
"Ngajak Tisa makan malam ah!" Aku bangkit berdiri dan keluar dari kamar.
"Makan nasi goreng di depan gang enak nih kayaknya. Nggak papa makan di pinggir jalan, yang penting sama Tisa. Tempat itu nggak penting, yang penting adalah sama siapa."
Aku mengetuk pintu kamar Tisa. Tapi tak ada jawaban.
"Tisa?" kembali aku mengetuk pintu.
__ADS_1
Sepi. Tak ada jawaban sama sekali. Tiba-tiba perasaanku nggak enak. Kayak khawatir gitu. Tapi aku nggak tau apa yang aku khawatirin.