KISAH DI KOS-KOSAN CAMPURAN VERSI ANDRI

KISAH DI KOS-KOSAN CAMPURAN VERSI ANDRI
Tisa Dipecat


__ADS_3

Begitu sampai di rumah sakit, aku langsung mencari keberadaan Tisa.


Aku sempat bingung karena saat bertanya ke resepsionis, tak ada nama pasien bernama Tisa.


Tapi untungnya mataku menangkap sosok Tisa yang berdiri di depan sebuah kamar rumah sakit.


Aku sedikit panik melihat warna merah darah menempel di bajunya.


"Tisa! Kamu kenapa?!! Kenapa ada darah di bajumu?!!" tanyaku ketika menghampirinya.


"Ini bukan darahku, tapi darah Mbak Lina."


"Mbak Lina?! Kenapa dengan dia?!"


"Tadi aku menemukannya terkapar di lantai kamarnya. Jadi aku membawanya ke rumah sakit. Dan ternyata katanya dia keguguran!"


Aku sedikit bernafas lega karena bukan Tisa yang terluka.


"Tapi, mendengar apa yang dikatakan suster tadi, sepertinya dia sengaja mengugurkan kandungannya."


Aku menatap Tisa terkejut.


"Ya ampun Mbak Lina. Tega sekali dia membunuh bayi yang tidak bersalah!"


Tisa pun menceritakan kejadian mulai ketika dia menemukan Mbak Lina yang pingsan di kamarnya.


Menurut Tisa, Mbak Lina menggugurkan kandungannya karena pacarnya tak mau bertanggung jawab.


Seperti yang kami dengar di pertengkaran mereka tadi malam.


Kami berdua pun memutuskan untuk menjaga Mbak Lina.


_________


Entah sudah berapa lama aku tertidur. Aku terbangun saat merasakan pegal karena tertidur dengan posisi duduk bersandar.


Saat menoleh ke samping kanan, aku menemukan Tisa juga tertidur, berjarak dua kursi dariku.


Kami sama-sama tertidur di kursi tunggu yang berada di luar kamar tempat Mbak Lina dirawat.


Kurogoh hpku untuk melihat jam. Masih pukul dua dini hari.


Aku melepas jasku dan menyelimutkannya pada Tisa. Wajahnya terlihat sangat kelelahan.


Lalu aku kembali duduk untuk melanjutkan tidurku.


Aku baru terbangun ketika mendengar suara bising di sekitarku.


Ketika membuka mata, suasana rumah sakit mulai ramai dengan lalu lalang suster dan dokter.


Ketika menoleh ke kanan. Tisa sudah tak ada di sana. Hanya ada jasku yang sudah terlipat rapi di sampingku.


Kenapa es batu itu?


Tiriririmg!


Hpku berdering. Aku segera mengangkatnya.


[ Andri! Ada di mana kamu! ] teriak Papa dari seberang telfon.


[ Jam berapa ini?! Kenapa kamu belum datang ke kantor?! Kamu tahu kan hari ini ada meeting penting?! ]


Aku mengintip jam di sudut layar.


Astaga! Ini sudah jam setengah sepuluh siang!


[ Cepat datang ke kantor! Para klien sudah berkumpul semua ini! Kamu gimana sih?! Cuma kamu yang belum datang! Cepat datang ke kantor!! ]


Aku menutup sambungan telfon. Tak berselang lama Tisa datang. Aku segera berpamitan padanya.


Langsung saja kutancap gas menuju ke kantor.


_________


Setelah sampai di kantor, ternyata klienku sudah tak ada.


Papa memarahiku karena keteledoranku dalam mengurus klien dan mengecewakan mereka.

__ADS_1


"Apa-apaan dengan penampilanmu yang amburadul gini! Kamu baru bangun tidur hah?!"


Aku mengusap wajahku yang memang tak sempat cuci muka karena buru-buru tadi.


"Astaga Andri! Ada apa denganmu! Bukankah ini juga baju yang sama yang kau pakai kemarin?! Kau tidak ganti baju?! Kemana kau semalam sampai tidak mandi dan tidak ganti baju hah!"


Papa menyentak nafasnya kasar.


"Papa nggak mau tahu! Pokoknya kamu harus bujuk para klien yang sudah kamu kecewakan karena berjam-jam menunggumu yang tak kunjung datang!"


Aku hanya menatap Papa pasrah.


"Bujuk mereka! Jangan sampai mereka tidak mau berkerja sama lagi dengan kita!"


Aku hanya bisa menurut. Aku mendatangi satu per satu kantor para klien. Benar-benar melelahkan.


Bahkan aku sampai ke luar kota karena ada salah satu kantor klienku ada di sana.


Aku baru pulang ke kosan setelah hari sudah gelap.


Ketika membuka pagar kosan, aku menemukan Tisa sedang duduk di depan kamarnya dengan baju yang basah kuyup.


"Tisa?! Kenapa kamu duduk di luar?!"


Tisa mendongak menatapku.


"Baju kamu juga basah kuyup gini! Kamu kehujanan?!"


"Ndri, kamu punya isolasi nggak?!"


Alisku bertaut mendapati pertanyaan darinya.


"Hah? Isolasi? Buat apa?!"


"Aku mau menyambung uangku ini!" ucapnya sambil menunjukkan uang basah yang sudah sobek jadi dua, membuatku keceplosan terkekeh.


"Ahaha! Buang aja itu! Udah nggak bisa digunain lagi dah!!"


"Enak aja main buang! Ini tuh kalau disambungkan masih laku tahu!!" sahutnya kesal.


Padahal aku tak ada niatan untuk membuat kesal.


Kami menoleh serempak ke arah pagar dimana ada Pipit di sana.


"Pipit! Kamu datang di waktu yang tepat!! Kamu punya isolasi nggak?!"


"Punya!" jawab Pipit.


"Nah, ini nih jawaban yang aku mau!! Bukannya malah nyuruh buang!!" Tisa melirikku sinis. "Yuk, masuk ke kamar!"


Mereka berdua pun hilang dibalik pintu kamar Tisa.


Duh, ini sih bukannya mengikis jarak. Tapi aku malah mempertebal jarak dengan Tisa.


Lagian tadi kenapa aku malah ketawa sih?!


Setelah melepas kemeja dan mengganti dengan kaos oblong, aku merebahkan diri di kasur.


Samar-samar terdengar percakapan di kamar sebelah, kamar Tisa.


"Aku dipecat Pit, karena nggak masuk kerja tanpa izin selama dua hari. Snif snif!" itu suara Tisa.


"Kan uang tabunganmu masih ada!"


"Uang tabunganku juga sudah habis!!"


"Kok bisa habis? Memangnya kamu beli apa sampai menghabiskan uang tabungan?!"


"Aku menggunakan uang tabunganku untuk membayar biaya administrasi Mbak Lina di rumah sakit. Tadinya sih uangku masih sisa lima ratus ribu. Tapi waktu mau pulang, aku malah dijambret! Dan sekarang, uangku tinggal segini!! Udah robek pula! Hwaaa!!"


Dan aku malah menertawakannya dan menyuruhnya membuang uang yang terakhir itu. Aku menepuk dahiku sendiri. Bagus sekali Ndri.


"Ya ampun Tisa!! Kenapa kamu sok-sokan bayarin biaya rumah sakit Mbak Lina?!! Emangnya kamu siapanya dia sampai bayarin biaya rumah sakitnya?!! Saudara bukan, sahabat juga bukan!!" nada bicara Pipit langsung naik dua oktaf.


"Heeeghh!! Kenapa tanpa pikir panjang kamu begitu mudah menggunakan uang tabunganmu sampai habis?!! Uang yang selama ini sudah kamu kumpulkan dengan susah payah, lenyap begitu saja!!"


Tak ada sahutan dari Tisa. Aku setuju dengan Pipit. Tisa tanpa pikir panjang menguras tabungannya untuk Mbak Lina.

__ADS_1


Dan sekarang, dia dipecat.


Kenapa pas di rumah sakit Tisa nggak ngomong ke aku tentang biaya perawatan Mbak Lina? Aku kan bisa bantu!


"Padahal kamu mengumpulkan uang itu untuk membangun butik yang selama ini kamu impikan!! Sekarang butik impianmu menjauh bersamaan dengan raibnya uang tabunganmu!!"


"Aku nggak punya pilihan lain. Waktu itu keadaannya darurat. Nyawa taruhannya!" Akhirnya Tisa menjawab.


Ya, itulah Tisa. Dia selalu memikirkan orang lain. Itu sisi yang aku suka.


"Ya terus, sekarang apa yang kamu dapatkan setelah berbuat baik?! Kamu dipecat! Uang tabungan juga habis!! Itu yang kamu dapatkan!!" Pipit kembali mengomel.


"Pit, ngomelnya nanti dulu kenapa sih?! Aku lapar, traktir aku ya!!"


Pipit mengiyakan. Setelah itu terdengar pintu kamar Tisa terbuka.


Padahal Tisa sedang kesusahan. Tapi aku malah menertawakannya tadi.


Bagus sekali kelakuanmu Ndri!


Semoga Tisa tidak membenciku.


Aku bangkit dan menuju ke dapur. Mengambil teh melati di lemari yang menjadi minuman kesukaanku. Kemudian menyeduhnya.


Aromanya menenangkan.


Beberapa menit aku duduk di dapur menikmati teh.


Tak berapa lama, Tisa masuk ke dapur dengan satu dus mie instan.


"Waduh! Borong mie Bu?" tanyaku menyapanya. Semoga dia menjawabnya.


"Iya. Awas ya, kalau kamu nyolong mie ini!!"


Syukurlah dia masih mau bicara sama aku. Aku pikir dia marah sama aku karena tadi aku menertawakannya.


"Aku dengar tadi, katanya kamu dipecat ya?! Dan juga, aku dengar uang tabungan kamu juga habis?" Aku bertanya dengan hati-hati.


Sepertinya mie itu dibelikan Pipit.


"Kamu nguping ya?!"


"Bukan nguping!" bantahku. "Tapi tembok di kosan ini yang mengizinkanku mendengar semua pembicaraanmu tadi!"


Tembok di sini memang tidak bisa menjaga rahasia orang.


"Iya, aku dipecat. Tapi besok aku akan melamar kerja di sebuah kafe!"


Aku sedikit menghela nafas lega. Syukurlah. Aku suka pribadinya yang selalu semangat.


"Oke! Semoga diterima!"


"Iya, makasih doanya."


"Mau teh?" tawarku. Aku berusaha menahannya agar lebih lama bersamaku.


"Nggak, aku nggak suka teh. Aku sukanya susu jahe. Aku ke kamar dulu ya."


Aku hanya menghela nafas panjang melihat Tisa keluar dari dapur.


"Lina!! Buka pintunya!!" terdengar teriakan laki-laki dari luar.


"Lina!! Keluar kamu!!" terdengar dia juga menggedor pintu.


"Haah, padahal Mbak Lina nggak ada. Tapi dia tetap tidak bisa membiarkan kosan tenang!"


Aku menyesap tehku. Mengabaikan teriakan tadi.


"Jangan kurang ajar ya!! Sudah kubilang aku bukan perempuan seperti itu!!" tiba-tiba terdengar teriakan Tisa.


Tisa?!


Aku langsung bangkit dan bergegas keluar.


"Lepasin aku, dasar brengs*k!!"


"Ulu-ulu.. Kau jadi tambah manis saat marah! Tapi bibir merah mudamu ini tidak cocok berkata-kata kasar. Bibir ini lebih cocok untuk aku lum*t!"

__ADS_1


Aku berang melihat kedua tangan Tisa yang dicekal oleh seorang laki-laki. Sementara tangan lainnya hendak menyentuh bibir Tisa.


"Jauhkan tangan kotormu itu darinya!" geramku mencengkram kuat tangan laki-laki itu.


__ADS_2