KISAH DI KOS-KOSAN CAMPURAN VERSI ANDRI

KISAH DI KOS-KOSAN CAMPURAN VERSI ANDRI
Sakit Jantung?


__ADS_3

Mobilku berhenti di sebuah rumah yang belum pernah kudatangi.


"Ndri, kenapa kita malah ke sini?" tanya Tisa yang membuatku tersadar bahwa saat ini aku sedang bersama Tisa.


Mungkin karena dia ada di kursi belakang makanya aku lupa. Apalagi dari tadi nggak ada obrolan sama sekali.


"Oh iya, aku lupa nggak bilang sama kamu. Kamu ingat nggak, sama Om yang di lampu merah tadi pagi?" Aku menoleh ke belakang.


Tisa bergeming tak menjawab.


"Itu lho, Om yang ngajak aku ngobrol. Ternyata kantor kami bekerja sama dengan kantornya. Aku mampir ke rumahnya untuk mengambil berkas penting."


Terlihat Tisa memandang rumah di depan. Alisnya bertaut.


"Ayo kita turun!"


"A-andri, aku nungguin di mobil aja ya," entah kenapa, aku mendengar nada panik darinya.


Aku mengernyit bingung. "Kenapa? Cuma sebentar kok. Setelah aku ngambil berkas, kita langsung pulang."


"Nggak deh, aku nungguin kamu di sini aja!"


"Ya udah deh. Kalau gitu mesin mobilnya tetep aku nyalain, supaya nggak panas di dalam mobil," aku pun keluar dari mobil meninggalkan Tisa.


Pintu rumah Pak Darma terbuka sebelum aku mengetuknya.


"Sore Pak, saya mau ambil berkas yang tadi siang," ucapku sopan.


Pak Darma mengangguk. "Ayo masuk dulu Ndri. Aku kenalin sama istriku!" ucapnya memanduku masuk.


Cuma ngambil berkas doang, kenapa harus kenalan sama istrinya?


Di ruang tamu ada seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik.


"Bunda, kenalin ini Andri!" ucap Pak Darma memperkenalkanku.


"Andri?" Dia terlihat terkejut melihatku. "Dia--"


"Ekhem!" Pak Darma berdehem memotong ucapan istrinya.


"Ehm, jadi ini anaknya Pak Wijaya? Wah, sudah besar ya!" ucap wanita di depanku.


Entah kenapa, aku merasa yang mau dia ucapkan tadi bukan ini.


"Panggil saja Bunda Dira," dia menjulurkan tangannya padaku. "Eh, maksudnya Tante Dira. Kamu juga boleh panggil suami saya 'Om'!"


Aku menerima uluran tangannya sambil tersenyum.


"Sebentar ya Ndri, aku ambil berkasnya dulu!" Om Darma berlalu meninggalkanku yang duduk di ruang tamu.


"Ayo kita makan dulu, Tante baru aja selesai masak!"


"Maaf Tante, tapi Andri nggak bisa lama-lama. Lain kali saja," tolakku. "Andri kesini cuma mau ngambil berkas."


"Sayang sekali."


Tak berapa lama Om Darma datang dengan berkas di tangannya.


"Kamu mau langsung pulang Ndri? Nggak ngobrol-ngobrol dulu?"


"Maaf Om, lain kali saja."

__ADS_1


Aku langsung berpamitan, takutnya Tisa nunggu kelamaan. Om Darma juga mengantarku ke pintu depan.


"Lho, itu mobil kamu kok dibiarin nyala Ndri?"


"Iya Om. Ada teman saya di dalamnya."


"Kenapa tadi nggak diajak masuk aja?"


"Dia nggak mau Om, katanya mau nunggu di mobil aja. Kalau gitu saya pamit pulang ya Om!"


Begitu masuk ke mobil, aku tak langsung menjalankan mobil. Aku melirik Tisa yang duduk tenang di kursi belakangku.


"Mm, Sa?"


"Ya?"


"Rasanya kok aku seperti supir ya, kalau kamu duduk di belakang. Boleh nggak kalau kamu pindah ke depan?"


Tisa bergeming. Ia malah memandang Pak Darma yang masih berdiri di teras rumahnya.


Setelah beberapa saat, Tisa malah merangkak ke depan melalui celah dua kursi di depan. Lalu duduk di kursi depan.


Aku memang memintanya untuk pindah ke depan. Tapi nggak harus lewat di situ juga kali. Kan bisa keluar dulu dari mobil!


"Apa?!! Kau memintaku untuk pindah ke depan kan?!!" tanya Tisa karena aku menatapnya heran. Tawaku langsung pecah.


"Aku memang memintamu untuk pindah ke depan, tapi kenapa kamu malah lewat sini?!! Kamu bisa pindah ke depan melalui pintu kan?!"


"Sudahlah, yang penting aku sudah pindah ke depan kan?! Ayo kita pulang sekarang!" sahutnya tak sabar.


"Ahaha! Oke oke!"


Aku pun mulai menjalankan mobil, meninggalkan rumah Om Darma setelah membunyikan klakson tanda pamit pada Om Darma.


Hingga akhirnya kami sampai di kosan. Saat turun pun Tisa tidak mengucapkan apapun. Bahkan terimakasih saja tidak.


"Sa!" panggilku. "Sekali lagi aku ingetin kamu ya. Jangan dekat-dekat sama Iren!"


"Hm!" jawabnya sambil melirikku. Tapi sedetik kemudian, alisnya bertaut. "Kamu nggak turun?" tanyanya.


"Aku masih belum pulang kerja, aku mau kembali ke kantor," sahutku yang memang masih akan meeting.


Tisa terlihat ingin mengatakan sesuatu tapi urung. Aku pun langsung menjalankan mobil meninggalkan area kosan.


_________


Meeting berjalan lancar. Aku memutuskan untuk langsung pulang.


Karena di kos-kosan tidak ada tempat parkir untuk mobil, aku memutuskan untuk menitipkannya di rumah Ibu kos.


Saat sudah mau sampai di rumah Ibu kos, aku melihat perempuan yang tak asing berdiri di pinggir jalan.


Ternyata itu Tisa. Terlihat dia terus menggaruk-garuk lengannya.


Kuhentikan mobilku di depannya dan membuka kaca mobil. Dia terus saja menggaruk-garuk lengan.


"Kamu ngapain berdiri di sini Sa?"


"Aku mau ke--"


"Ya ampun Sa! Kulit kamu kenapa merah-merah gitu?!!" tanyaku saat menyadari itu. Pantas saja dia terus garuk-garuk dari tadi.

__ADS_1


"Aku alergi. Ini aku mau beli obat, tapi apoteknya tutup. Mau ke klinik tapi nggak ada angkot yang lewat!" Tisa terus saja menggaruk kulitnya yang terlihat kemerahan.


"Ayo naik, aku anterin kamu!"


Segera dia naik ke mobil mendengar tawaranku.


"Jangan digaruk! Nanti malah luka!" ucapku memberitahu.


"Ngomong doang mah gampang. Coba kamu tahu rasa gatalnya!" sahutnya kesal.


"Emangnya tadi kamu makan apa, kok bisa jadi kayak gini?!!"


"Tadi aku makan bakwan. Aku nggak tahu kalau ada udangnya. Aku alergi udang. Udah terlanjur ketelen!"


Aku langsung melajukan mobil menuju ke klinik terdekat.


Begitu sampai di klinik, Tisa langsung berlari ke dalam untuk membeli obat. Aku memutuskan untuk membeli air minum untuknya.


Tapi begitu aku kembali, terlihat Tisa langsung mengunyah obat itu.


"Kamu langsung kunyah obatnya?!!" Tisa mengangguk. "Nggak pahit?!!"


"Tentu saja pahit!" sahutnya.


"Ini air, minumlah!"


"Makasih ya." Tisa mengambil air yang kusodorkan. "Makasih juga udah nganterin aku."


"Iya, sama-sama. Yuk kita pulang."


Tisa hanya mengangguk dan masuk ke dalam mobil. Aku pun mulai menjalankan mobil.


"Gimana Sa? Masih gatal?"


Tak ada sahutan dari Tisa.


"Sa?" Aku menoleh ke samping karena Tisa tak menjawabku. Tapi ternyata dia tertidur. Sepertinya itu efek obat tadi.


Aku membiarkannya tidur. Sampai akhirnya kami sampai di kosan.


Aku ragu untuk membangunkannya. Dia terlihat sangat pulas.


Kupandangi wajahnya yang sedang tertidur. Beberapa anak rambut menghalangi wajahnya.


Aku merapikan anak rambut itu ke belakang telinganya yang justru membuat gelenyar aneh di dada ini.


Jantungku mendadak karaoke di dalam sana.


Ada apa denganku?! Sejak kapan aku punya penyakit jantung?!


Aku sedikit berdehem agar Tisa terbangun. Tapi Tisa tetap tak bangun juga.


"Sa, bangun!" ucapku pada akhirnya.


Tisa langsung membuka matanya. Dia seperti terkaget mendengar suaraku.


"Maaf, aku ketiduran," ucapnya.


"Iya, nggak papa. Sepertinya itu karena efek obatnya. Kita udah sampai di kosan."


Kemudian Tisa turun dari mobil. "Kamu nggak turun?" tanyanya.

__ADS_1


"Aku masih ada urusan!" sahutku bohong. Jantungku masih saja karaoke di dalam sana.


__ADS_2