KISAH DI KOS-KOSAN CAMPURAN VERSI ANDRI

KISAH DI KOS-KOSAN CAMPURAN VERSI ANDRI
Dongeng Sebelum Tidur


__ADS_3

"Tisa, aku menyukaimu!"


Akhirnya aku menyatakan perasaanku.


Tisa terdiam. Mata kami saling berpandangan beberapa lama. Hingga akhirnya Tisa menarik tangannya dari genggamanku.


"Maaf Ndri--"


"Aku tahu jawabanmu!" potongku. "Tapi aku akan tetap menunggumu dan terus menyukaimu. Aku tidak akan menyerah dan akan terus menunggu jawabanmu!"


Kudekatkan wajahku dan berbisik di telinganya.


"Aku tahu, perasaan itu tidak bisa dipaksakan. Semuanya butuh proses! Dan di dalam proses itu, aku tidak akan menyerah untuk membuatmu jatuh cinta kepadaku!"


Ya. Aku tidak akan menyerah! Akan kupastikan kau akan mencari Sa!


________


Sebelum Tisa kembali dari makan siang, aku segera menaruh cilok dan sempol di meja kerjanya dan keluar dari ruangan.


Lalu aku sembunyikan di balik tembok. Menunggu Tisa masuk.


Tak lama, kulihat Tisa masuk ke ruang kerja. Saat ini, dia pasti sudah melihat cilok di meja kerjanya.


[ Aku tahu kamu bukan tipe perempuan yang suka dikasih bunga. Kamu lebih suka makanan. Makanya aku beliin kamu cilok sama sempol. Dimakan ya.. ] kukirimkan pesan itu padanya.


Tak berselang lama, balasan darinya masuk.


[ Kok kamu bisa tahu kalau aku suka cilok sama sempol? ]


Aku tersenyum membaca pesan itu. Langsung saja kubalas pesan Tisa.


[ Apa sih yang nggak aku tahu! ]


Aku segera keluar dari tempat persembunyianku dan masuk ke ruang kerja.


Tisa terus saja menatapku. Lama sekali dia memandangku. Sampai aku duduk di meja kerjaku pun dia tetap memandangku.


"Kenapa ngeliatin aku kayak gitu?! celetukku. "Udah mulai suka ya sama aku?!" Aku tersenyum ke arahnya.


Seketika Tisa langsung membuang muka ke arah lain yang membuatku langsung terkekeh.


Lihat itu! Pipinya langsung berubah warna. Sepertinya dia mulai mencair.


"Nggak usah malu, akuin aja! Sebenarnya aku ini ganteng kan?! Makanya kamu ngeliatin aku terus!" godaku.


Terdengar Tisa mendengus.


"Di-stop dulu ya Bos PD-nya. Kita harus segera berangkat meeting!" ucapnya sambil beranjak dari kursi.


Aku pun ikut berdiri dan beranjak dari kursi. Setelah sedikit merapikan dasi sendiri karena tak mungkin Tisa yang merapikan, kami berjalan keluar dari ruangan.


Ketika sampai di koridor, senyumku terbit memikirkan sesuatu untuk mencairkan Tisa.


Aku memulai aktingku. Merogoh saku celana kanan kiri. Seolah sedang mencari sesuatu.


"Dimana ya?" Aku terus mencari untuk menarik perhatian Tisa.


"Apa yang kamu cari?" tanyanya. "Mungkin ketinggalan di dalam ruangan. Apa yang ketinggalan? Biar aku ambilkan!"


Aku beralih merogoh saku jasku.


"Ah, aku sudah menemukannya!" seruku. Aku menarik tangan dari saku jas dan membentuk jariku menjadi bentuk hati, kemudian menunjukkannya pada Tisa.

__ADS_1


Dan itu sukses membuatnya tersenyum.


Yes! Aku yakin, sedikit demi sedikit, aku akan bisa mencairkan Tisa!


"Apa kamu suka?" tanyaku.


"Ck. Dasar! Uda ah, ayo berangkat. Nanti kita telat!" Tisa segera mendorongku agar kembali berjalan.


"Barusan kamu senyum tuh! Kamu suka kan?!"


"Udah ah! Ayo cepetan jalan!!" pipi Tisa kembali berubah warna.


_________


Di sepanjang meeting berlangsung, hp Tisa terus berdering. Sepertinya dia lupa tidak mensilent hpnya. Entah siapa yang menghubunginya.


"Angkat saja dulu, nggak papa!" ucapku.


Dia menurut dan segera pamit keluar dari ruang meeting.


Karena kepo siapa yang menelfon Tisa, aku pun ikut keluar dari ruang meeting.


Terlihat Tisa mengangkat telfon. Dia berdiri di dekat jendela.


"Siapa yang kau panggil sayang?!" serunya ke orang yang ada di seberang. Nada Tisa terdengar tidak suka karena orang itu memanggil sayang.


"Kalau kangen, ya datang aja ke kosanku!"


Apa?! Tisa sedang ngobrol sama siapa sih?! Kenapa orang itu manggil sayang dan Tisa menyuruhnya datang ke kosan?!


"Siapa itu?!" tanyaku yang sudah tidak bisa menahan kepo.


"Udah dulu ya, aku matiin telfonnya!" ujar Tisa pada orang yang ada di seberang.


"Halo! Siapa ini?!" ketusku ke orang di seberang telfon.


[ Lah! Ini siapa?! Tisa-nya mana? Aku belum selesai ngomong sama Tisa! ]


Yang menyahut suara cewek.


"Kok suaranya cewek?" tanyaku ke Tisa.


"Ya iyalah suaranya cewek! Orang yang nelfon Pipit kok! Memangnya kamu kira siapa?!"


"Aku pikir tadi--"


"Udah deh! Yuk cepet masuk lagi, meetingnya kan belum selesai!" potong Tisa dan bergegas kembali masuk ke ruang meeting.


_________


Seberapapun bekunya Tisa, aku yakin bisa mencairkannya. Pasti. Aku tak akan menyerah.


Malam semakin larut. Tapi aku masih belum tertidur.


Entahlah kenapa. Kuraih hp dan membuka galeri. Kupandangi foto Tisa.


Tisa udah tidur belum ya?


Saat ini sudah pukul 22.01.


"Sa?" Kuputuskan untuk memanggilnya dari balik tembok ini.


Sesaat aku merasa bersyukur kosan ini tidak kedap suara.

__ADS_1


"Kamu udah tidur?"


Masih tak ada jawaban dari Tisa.


"Aku yakin kamu masih belum tidur!"


Hening tak ada jawaban. Lalu aku tersenyum simpul.


"Kalau kamu nggak jawab, berarti kamu setuju jadi pacar aku!"


"Ck. Iya, aku belum tidur! Ada apa?!" Akhirnya dia menjawab.


Senyumku mengembang.


"Yaah, padahal aku berharap kamu nggak jawab!"


Aku menatap tembok di sampingku.


"Kamu mau ngomong apa?!" tanyanya ketus.


"Jangan jutek gitu dong nadanya. Ntar aku tambah suka gimana?!" Aku tersenyum lebar. Nggak sia-sia aku belajar gombal dari Eyang Google.


"Kalau kamu cuma mau gombal, mending aku tidur aja deh!" sahutnya.


"Ini nih ciri khas kamu, cuek bebek! Dan karena ini juga yang bikin aku tambah suka!"


Jujur, aku memang tertarik ke Tisa karena sifatnya yang beda dari kebanyakan cewek.


"Pertama kali aku ketemu sama kamu, kamu itu menurutku aneh!"


"Terus kalau aneh, kenapa kamu suka sama aku?!" tanya Tisa.


"Ya justru karena itu! Kamu itu aneh karena unik! Itu pertama kalinya aku ketemu cewek yang cuek, apa adanya dan nggak jaim. Keunikan kamu inilah yang membuatku suka sama kamu!"


"Itu pujian atau ejekan?!" sahutnya.


Aku terkekeh. Ini adalah ciri khas Tisa.


"Waktu itu aku masih belum menyadari perasaanku. Saat melihatmu, di dalam pikiranku hanya ada keinginan untuk melindungimu!"


Kuutarakan apa yang memang kurasakan dulu. Bahkan aku yang tadinya ingin pindah dari sini pun urung gara-gara Tisa juga.


Berawal dari kedatangan Om-om preman yang menampar Tisa, sampai kedatangan Iren. Aku merasa ingin melindunginya.


"Waktu ada Iren datang kesini, aku bisa merasakan dia menyukaimu. Ternyata kenapa aku bisa mengetahui perasaan Iren, itu karena aku juga menyukaimu! Tapi waktu itu aku masih belum menyadarinya. Di dalam benakku, hanya ada keinginan untuk melindungimu darinya."


Tisa hanya diam menyimakku.


"Dan di hari kamu membawa Mbak Lina ke rumah sakit, aku sangat khawatir padamu ketika kamu menelfonku dan menyuruhku untuk datang ke rumah sakit. Tapi bodohnya aku masih belum menyadari perasaanku. Aku baru menyadari perasaanku, ketika Pak Yosua datang ke kantor. Di hari kamu memanggilnya Koko, aku merasa cemburu dan di saat itulah aku sadar akan perasaanku padamu!"


Yang ini aku agak bohong sih, karena kan aku udah sadar sama perasaanku sebelum Tisa kerja di kantorku.


Tisa diam karena menyimak atau jangan-jangan dia udah tidur lagi. Dari tadi dia diem-diem bae.


"Sa?"


Tak ada jawaban.


"Tisa?"


Kembali tak ada sahutan. Sepertinya dia beneran udah tidur deh.


Yaelah. Ane cerita panjang lebar. Malah ditinggal tidur. Dikira ane lagi bacain dongeng tidur apa.

__ADS_1


__ADS_2