
Nggak nyangka ya, ternyata hari tunangan kita barengan!" ucapku ke Tisa yang mendadak membeku.
"Ndri, apa kamu bahagia?" tanyanya tiba-tiba.
"Ya, aku bahagia!" jawabku mantap. "Meskipun aku awalnya menolak dijodohkan, pada akhirnya aku sangat bersyukur dengan perjodohan ini!"
Karena ternyata perempuan itu adalah kamu Sa!
"Aku harap kamu juga sepertiku. Mulailah bersyukur dan menerima keadaan, dengan begitu kamu akan merasakan kebahagiaan," imbuhku. Setelah itu aku keluar dari dapur.
Setelah itu aku rebahan di kasur. Mata masih belum ngantuk. Nggak sabar buat besok.
[ Apa kau sudah tidur? ] kukirim pesan itu ke Tisa menggunakan nomor Putra.
Centangnya warna biru. Tapi Tisa tak membalas. Kembali aku mengetik pesan untuknya.
[ Karena tanda centangnya berubah menjadi biru, itu artinya kau membaca pesan ini. Yang berarti kau belum tidur. ]
Tring!
Akhirnya balas juga dia. Segera aku membuka pesannya.
[ ada apa? ]
[ Apa kau sudah mencoba dressnya? Ukurannya pas kan? ]
[ Belum. Aku capek, jadi tak sempat mencobanya. ]
[ Tidak usah dicoba pun aku yakin dressnya pas. Jangan begadang dan cepatlah tidur agar kau terlihat fresh di acara pertunangan kita besok! ]
Tak ada balasan lagi darinya. Kembali aku mengiriminya pesan.
[ Selamat tidur dan mimpiin aku ya! ]
Aku terkekeh saat dia membalas dengan emot muntah.
_________
Mataku tak pernah lepas dari Tisa yang kini memakai dress warna putih dengan make-up tipis yang tambah membuatnya cantik.
Sementara aku masih memakai rambut, brewok dan gigi palsu buat penyamaran.
Aku meraih tangannya untuk memasang cincin di jari manisnya.
"Jangan khawatir Sa!" bisikku. "Setelah cincin ini tersemat di jarimu, aku yakin kamu akan mencintaiku!"
"Kenapa kamu begitu yakin?" cibirnya ketus.
"Tentu saja!" Karena aku adalah Andri.
"Sepertinya itu tidak akan terjadi!"
"Kita lihat saja nanti!" Aku tersenyum penuh arti.
Kini, cincin sudah tersemat di jari manisnya.
Semua tamu undangan bertepuk tangan setelah Tisa memakaikan cincin untukku.
"Tisa, apa kau sudah merasa jatuh cinta padaku?" tanyaku sambil tersenyum.
"Maaf karena mengecewakanmu, sepertinya sihirmu tidak mempan padaku!"
__ADS_1
"Belum, sihirnya belum bekerja. Tapi sebentar lagi pasti akan bekerja!"
Setelah mengatakan itu, aku meraba-raba keningku. Mencari sambungan kulit untuk melepas rambut palsu ini.
Aku lihat Tisa begitu terkejut begitu aku melepas rambut palsu ini.
Kini beralih ke pipi, berusaha melepas brewok palsu ini. Tahi lalat kecil juga tak lupa aku lepas.
Setelah itu, aku juga mencopot gigi palsu yang menyembunyikan gigiku yang gingsul satu.
"Andri?!" kaget Tisa. "Jadi selama ini ..."
"Wah, kayaknya sihirku udah bekerja nih!" Aku tersenyum penuh kemenangan. "Udah aku bilang kan, kalau kamu bakalan jatuh cinta sama aku setelah kita tunangan!"
"Jadi, selama ini kamu--"
"Bohong?" Aku menyela ucapannya. "Aku nggak bohong kok! Putra itu beneran nama aku. Andri Putra Wijaya! Kamu masih ingat kan?"
"Pantas aja selama ini kamu selalu tahu semua tentangku. Dari ukuran baju, cincin, sampai sepatu! Siapa yang kamu suruh untuk memata-mataiku? Jangan-jangan Faiz ya?!"
Aku mengernyit saat Tisa menebak nama Faiz sebagai orang suruhanku untuk mematai-matainya.
"Faiz? Bukan. Aku aja nggak kenal sama dia dan baru kenal pas dia pindah ke kosan kita! Kamu pasti kaget ya karena aku tahu semua ukuran tubuhmu!" Aku tersenyum simpul.
"Untuk ukuran baju dan cincin, aku tahu karena waktu itu aku pernah ngajak kamu ke toko perlengkapan pernikahan kan! Aku sengaja nyusun rencana agar kamu yang nyobain baju dan cincinya agar aku bisa tahu ukuran yang pas buat kamu! Untuk model bajunya, kamu sendiri yang bilang kan kalau kamu nggak terlalu suka dengan model yang terlalu terbuka!" jelasku. Terlihat Tisa sangat terkejut.
"Lalu kalau ukuran sepatu? Seingatku, waktu itu aku nggak pernah nyobain sepatu di sana deh?"
"Oh, kalau itu sih, aku dapat informasi dari orang yang paling terpercaya!" Aku tersenyum memandang Bundanya Tisa.
Terlihat Tisa mengusap wajahnya kesal. Mungkin dia tidak menyangka orang tuanya bersekongkol denganku.
"Sekedar ngasih tau, Pipit sebenarnya juga tahu tentang aku yang menyamar ini!" ucapku lagi.
"Sa, sebenarnya aku masih mau ngobrol banyak sama kamu. Tapi sayangnya aku sudah dipanggil sama beberapa kolegaku," ucapku sembari menunjuk Bapak-bapak yang duduk di sebuah meja. "Ngobrolnya di lanjut nanti ya!' Aku pun menjauh dari Tisa dan berjalan ke meja Bapak-bapak yang sedang menungguku.
Setelah berbincang dengan Bapak-bapak rekan bisnis, aku tak melihat keberadaan Tisa.
"Palingan dia ada di taman," ucap Pipit seolah mengerti siapa yang kucari.
Ternyata bener kata Pipit, Tisa ada di taman. Dia sedang duduk di bangku taman.
"Sa, kok kamu malah sendirian di sini?" Aku menepuk pundaknya.
Dia diam tak menjawab.
"Masuk kedalam yuk! Bunda nyariin kamu!" ujarku sambil duduk di sampingnya.
Dia masih bungkam. Sariawan kali ya.
"Yuk kedalam, masih banyak tamu-tamu yang belum pulang. Masa kita yang tunangan malah ninggalin mereka!" ajakku lagi.
"Ndri, aku masih belum bilang menerima lamaranmu lho!"
"Tapi kau sudah memakai cincinnya Sa!" sahutku terkekeh.
Aku meraih jemari tangan Tisa dan menggenggamnya.
"Aku seneng banget kita udah tunangan Sa!"
Tiba-tiba Tisa menarik tangannya dari genggamanku.
__ADS_1
"Kenapa kamu nggak jadi artis aja?!" tukasnya.
"Maksudnya?"
"Maksudku, kamu begitu mahir dalam berakting. Harusnya kamu jadi artis saja, bukan jadi direktur!"
"Kamu marah Sa?"
"Kamu pikir aja sendiri! Yang kamu permainankan itu perasaan lho Ndri, perasaanku! Aku bahkan sampai merasa patah hati!" serunya kesal.
Aku langsung mengubah dudukku menghadap Tisa.
"Aku senang saat kamu nembak aku. Dan tiba-tiba aja kamu mutusin aku. Gimana nggak patah hati coba! Eh tapi ternyata itu semua bagian dari akting kamu! Bahkan, pindahnya kamu ke kosanku mungkin bagian dari rencana kamu juga kan?!"
Aku terkejut mendengar ucapan Tisa. Segera aku meraih tangannya. Tapi dengan segera dia kembali menarik tangannya dariku.
Saat aku meraih tangannya kembali, dia dengan cepat menarik tangannya lagi.
"Aku minta maaf Sa. Aku nggak ada niatan untuk mainin perasaan kamu!"
Tisa masih menatap lurus ke depan tak menoleh atau pun menjawab.
"Ini semua rencana Ayah kamu. Dan soal datangnya aku ke kosan kamu, itu murni bukan akting Sa. Awal aku ngekos disana itu karena aku kabur dari Papa yang berusaha menjodohkan aku! Sumpah, beneran, aku nggak bohong! Aku baru tahu kalau orang yang dijodohkan denganku itu kamu, ketika Papaku datang ke kantor memergoki kita waktu itu. Kamu masih ingat kan?"
Tisa hanya melirik sekilas lalu kembali menatap ke depan.
"Hemh! Bisa aja sekarang kamu juga bohong kan! Siapa yang tahu? Kamu kan pinter akting!"
"Sa, aku benar-benar nggak bohong!" Aku berusaha meyakinkannya.
"Udahlah, capek aku!" Tisa berdiri dan hendak melangkah pergi.
"Kamu mau kemana Sa?"
"Aku mau kedalam, mau makan hidangan enak disana. Daripada dini terus, cuma makan hati!" tukasnya lalu pergi meninggalkanku.
Aku tak mengharapkan ini semua. Aku tak menyangka Tisa akan semarah ini. Bagaimana ini?! Ini semua bukan kemauanku. Semua rencana ini adalah rencana Ayahnya Tisa.
Sampai acara pertunangan selesai, aku tak bisa mengobrol dengan Tisa karena rekan bisnis yang terus saja mengajak ngobrol.
Tak kulihat Tisa ada di manapun. Ketika aku menanyakan pada Bunda, ternyata Tisa baru saja pamitan pulang ke kosan. Segera aku menyusulnya keluar.
"Bareng sama aku aja Sa!" seruku setelah sampai di halaman rumah dan melihatnya berdiri sambil mengutak-atik hp.
"Nggak usah! Aku udah pesan ojek online!" jawabnya ketus.
"Cancel aja Sa. Ayo kamu bareng aku aja!" Aku menarik tangan Tisa ke arah mobilku diparkir.
Begitu sampai di parkiran, aku terkejut melihat keadaan mobilku.
"Apa ini?! Kenapa ban mobilku pada kempes?!"
Tiga ban mobilku kempes. Cuma satu yang baik-baik saja.
"Duh, kenapa bisa gini ya? Perasaan pas berangkat tadi masih baik-baik aja," gumamku lirih.
Gimana ini? Aku kan mau pulang bareng Tisa.
"Maaf Ndri, kayaknya aku nggak bisa bareng kamu. Tuh, ojek online aku udah datang. Aku duluan ya, daah..."
"Eh Sa, tunggu! Kita pulang bareng aja, tungguin aku! Sa!"
__ADS_1
Tisa tak menghiraukanku dan pergi naik ojek meninggalkanku.