
Pagi harinya aku langsung memesan seluruh kafe dan menyuruh agar mendekor seromantis mungkin.
Aku terus saja senyum-senyum menatap Tisa yang duduk di meja kerjanya.
Segala rangkaian kata sudah tersusun rapi di dalam otak. Aku akan menyatakan perasaanku saat makan siang nanti.
Rasanya sudah nggak sabar menunggu siang.
Berkali-kali aku mengecek jam, entah kenapa waktu terasa begitu lambat.
Dan akhirnya waktu yang aku tunggu-tunggu tiba. Saat Tisa sudah keluar dari ruangan aku langsung menelpon pihak kafe.
"Gimana? Semuanya sudah siap kan?"
Senyumku terbit mendengar jawaban dari seberang.
"Oke. Sebentar lagi saya akan ke sana!"
Aku langsung menyusul Tisa yang sudah keluar ruangan duluan. Aku akan mengajaknya makan di kafe.
Tapi begitu aku keluar ruangan, Tisa sudah nggak ada. Koridor kantor ramai dengan lalu-lalang para karyawan yang hendak akan makan siang.
Aku tak menemukan Tisa berjalan di antara orang-orang itu.
"Ke mana Tisa? Perasaan dia baru saja keluar, kok udah hilang aja sih?"
Dia nggak mungkin pergi ke cafe dekat kantor. Karena cafenya kan tutup, kan aku yang menyewanya.
Apa dia ke cafe yang agak jauh dari kantor?
Ah, nggak mungkin. Apa jangan-jangan dia pergi ke warteg yang ada di dekat kantor itu?
"Aish! Tisa gimana sih?! Kan tadi malam aku udah bilang kalau mau traktir dia makan siang. Tapi dia main ngilang aja!"
Dengan cuaca yang sedikit mendung, mungkin mau hujan. Aku berjalan kaki ke warteg dekat kantor.
[ Kamu makan dimana? Di warteg dekat kantor kah? ] kukirim pesan itu ke Tisa.
Tapi tak ada balasan darinya. Aku pun memutuskan untuk meneleponnya. Tapi Tisa tak kunjung menjawab. Membuatku mempercepat langkah kakiku.
Tak butuh waktu lama, aku sampai di warteg itu.
Suasana warteg begitu ramai, sepertinya sudah full. Seluruh kursi yang bentuknya memanjang, sudah terisi penuh.
Tapi begitu aku melihat ke arah bagian pojok, mataku menajam melihat orang yang aku cari duduk dengan seorang pria. Siapa lagi kalau bukan Pak Yosua.
Kursi panjang yang terisi penuh itu, terlihat sesak. Membuat Tisa dan Pak Yosua duduk begitu berdekatan.
Langsung saja aku menyerobot duduk diantara mereka berdua. Memisahkan Pak Yosua dan Tisa.
"Haduhhh, di luar cuacanya panas sekali!" Aku mengipas-ngipaskan tanganku. "Tapi ternyata di dalam sini lebih panas!"
__ADS_1
Di luar memang mendung, tapi aku yang panas.
"Geseran dikit dong! Sempit nih!" Aku sedikit mendorong tubuh Pak Yosua dengan badanku.
"Lho? Pak Andri ngapain kesini?" tanya Pak Yosua yang seperti terkejut melihatku.
Kenapa terkejut? Kau pasti nggak menyangka kan aku akan mengacaukan rencanamu berduaan dengan Tisa?!
"Ya makanlah! Emang mau ngapain lagi kalau ke warteg?! Nontonin orang makan?!"
"Maksud saya, tumben Pak Direktur makan di tempat seperti ini?"
"Memangnya kenapa? Saya sering kok makan di tempat seperti ini! Tanya aja sama Tisa kalau nggak percaya!"
Terlihat Tisa menganggukkan kepala ke Pak Yosua.
"Tapi saya kok nggak pernah lihat Bapak makan di tempat seperti ini ya?" ujar Pak Yosua lagi.
"Memangnya saya harus lapor ke kamu setiap kali makan dimana?!" ketusku.
"Ya, nggak juga sih Pak."
"Bu, pesan Ad*m Sari ya!" ucapku pada Ibu warung. "Soalnya cuacanya panas, takutnya jadi panas dalam!"
"Aduh, maaf Mas. Di sini nggak jual Ad*m Sari," jawab si Ibu warung.
"Kalau gitu, es teh aja deh Bu. Es-nya banyakin ya Bu. Panas banget soalnya ini!"
Tisa menatapku heran. Dia pasti heran karena aku mengatakan panas padahal cuaca sedang mendung.
Bukan cuacanya yang panas Sa, tapi aku!
_________
Rencana yang telah kususun gagal total. Dan itu gara-gara Pak Yosua.
Tiba-tiba saja pihak kafe menelponku. Kebetulan aku sudah selesai makan. Aku keluar dari warteg untuk mengangkat telepon dari pihak kafe.
"Halo Pak, maaf acaranya batal. Tapi tenang saja, saya akan tetap membayar semua biayanya."
Setelah mengatakan itu, Tisa dan Pak Yosua keluar dari warteg. Aku segera mematikan sambungan telepon.
Saat menyeberang jalan, aku ingin meraih tangan Tisa. Tapi tanganku sudah digandeng duluan olehnya.
Nggak biasanya Tisa gandeng tangan aku. Tapi ya udahlah. Siapa yang peduli itu? Yang penting, aku bisa gandengan tangan sama Tisa.
Aku pun menyeberangi jalan sambil bergandengan tangan dengan Tisa.
"Ahahahaha!!"
Kenapa Tisa tertawa? Tapi, ngomong-ngomong kenapa suara Tisa ada di belakang?
__ADS_1
Saat aku menoleh ke belakang, aku menemukan Tisa sedang berjongkok membetulkan tali sepatunya.
"Loh! Tisa! Kok kamu ada di situ?! Lalu tangan siapa yang aku-- agh!!" Aku langsung menghempaskan tangan Pak Yosua.
Kenapa jadi tangan Pak Yosua yang aku gandeng?! Perasaan tadi aku menggandeng tangan Tisa deh!
"Kenapa Pak Andri gandeng tangan saya?!" tanya Pak Yosua. "Saya kan mau gandeng tangan Tisa, biar dia nggak sembrono waktu nyebrang!"
"Harusnya itu saya yang nanya!! Kenapa kamu gandeng tangan saya?! Jelas-jelas tadi kamu duluan yang gandeng saya! Saya pikir tadi Tisa yang gandeng!" sahutku.
__________
Semua rencanaku gagal total. Aku ingin menyatakan perasaanku pada Tisa, tapi gagal karena Pak Yosua.
Aku juga ingin romantis-romantisan gandeng tangan Tisa, tapi gagal juga gara-gara Pak Yosua.
Waktu pulang juga, Tisa malah pulang duluan. Nggak tahu sama siapa. Padahal niatnya, aku ingin mengajaknya pulang bareng dan menyatakan perasaanku.
Aku pulang ke kosan dengan hati dongkol.
Tisa masih belum pulang. karena kamarnya masih tertutup rapat.
Sebenarnya Tisa ke mana sih?!
Dengan jengkel, aku masuk ke dalam kamar.
Dan yang lebih membuatku jengkel, Tisa baru pulang setelah langit udah gelap. Dan itu pun diantar oleh Pak Yosua.
Dan aku tambah bergemuruh saat melihat Pak Yosua membantu Tisa melepaskan helm dari kepalanya.
Sebenarnya Tisa ada hubungan apa sih sama Pak Yosua?! Aku harus segera menyatakan perasaanku pada Tisa sebelum keduluan Pak Yosua!
Aku tetap berdiri di ambang pintu kamarku sambil bersedekap tangan.
Layaknya seorang suami yang menghadang istrinya karena pulang larut malam.
"Habis jalan-jalan darimana?" tanyaku ketika Tisa berjalan ke arah kamar.
"Habis nemenin Pak Yosua beli hadiah buat Mamanya."
Aku mengernyit menatap bibir Tisa yang merah. "Kamu pakek lipstik ya?"
"Iya. Kenapa? Nggak cocok ya?!"
"Nggak, bagus kok! Tapi aku lebih suka kamu yang biasanya!"
Aku udah kasih kode lewat kata-kataku barusan loh Sa! Masa sih kamu nggak peka juga!
Tapi Tisa malah diam saja. Dasar es batu!
"Tisa!" Aku memanggilnya. "Sebenarnya aku.."
__ADS_1