KISAH DI KOS-KOSAN CAMPURAN VERSI ANDRI

KISAH DI KOS-KOSAN CAMPURAN VERSI ANDRI
Sumpelan


__ADS_3

"Minta nomor hpnya dong!" ucap perempuan alis tebal itu.


Aku bergeming menatap Tisa. Meminta pertolongannya.


"Ayolah Mas, itung-itung nambah teman!"


Maksa banget sih nih perempuan!


"Sa, bantu aku!" Aku berbisik ke Tisa.


"Kenapa harus aku?!"


"Ayolah, aku kan pernah bantu kamu waktu sama Tante Sarah itu."


"Jadi kamu nggak ikhlas nih udah bantuin aku?!"


"Ini bukan saatnya untuk membahas ikhlas atau nggak!" Aku berusaha membujuk Tisa untuk membantuku dari perempuan alis tebal di depan kami.


"Mas, jarang-jarang lho anak saya minta nomor duluan ke cowok. Biasanya cowok yang minta nomor ke anak saya!" ucap Ibu dari perempuan alis tebal itu.


Aku kembali menoleh ke Tisa. Tapi dia malah terlihat main bisik-bisikan sama Pipit.


"Maaf Bu. Tapi saya udah punya pacar!" Aku beralasan karena enggan memberikan nomor hpku.


Dah lah, nungguin Tisa bantuin kelamaan!


"Nggak papa Mas. Lagian cuma buat nambah-nambah temen doang kok!" sahut si anak.


"Nanti pacar saya marah Mbak," Aku berusaha menolak dengan halus.


"Ngotot amat sih minta nomornya!" Aku bisa mendengar Pipit berbisik ke Tisa agak keras. Karena kami bertiga duduk di satu kursi dengan Tisa berada di tengah.


"Halah, lawongan pacarnya nggak di sini kok Mas! Dia nggak bakalan tahu kalau Mas nggak ngasih tahu!"


Harus ngasih tahu gimana lagi sih biar mereka ngerti kalau aku nggak mau ngasih nomorku?!


"Ck! Maaf Tante." Pipit akhirnya angkat bicara. "Tapi pacarnya itu juga duduk di depan kalian!" ucap Pipit sambil memegang pundak Tisa.


Bagus Pit! Kau memang pengertian!


Aku bersorak dalam hati dengan tindakan Pipit.


Ibu dan anak itu sama-sama menatap Tisa. Wajah mereka terlihat terkejut, seperti maling yang tertangkap basah ketika sedang mencuri.


Mereka sama-sama bungkam.


Saat Tisa menoleh ke arahku, aku langsung menyambutnya dengan senyum termanis. Semua kadar gula aku kerahkan.


Kini aku akan menunjukkan bakat aktingku. Modus juga sekalian. Dua puluh persen akting, delapan puluh persen modus.


Dengan perlahan, aku menyusupkan tanganku ke pinggang Tisa. Dia langsung menegakkan tubuhnya. Mungkin dia terkejut dengan apa yang aku lakukan.


"Kamu nggak marah kan sayang?" tanyaku ke Tisa dengan seromantis mungkin.


Tapi rupanya Tisa nggak mau masuk ke dramaku. Dia melepas tanganku dari pinggangnya.

__ADS_1


Tapi bukan Andri namanya kalau langsung menyerah.


Aku kembali melingkarkan tanganku di pinggangnya. Bahkan kini lebih erat. Aku juga sedikit menariknya agar lebih dekat denganku.


Tisa masih saja terus memberontak.


Aku mendekatkan wajahku ke telinganya "Tolong bantulah aku!" bisikku.


Tisa diam tak merespon.


"Kalau kau mau membantuku, gajimu akan langsung kukasih besok, plus dengan bonus!"


Tisa langsung berhenti memberontak mendengar ucapanku barusan.


Dasar! Denger gaji aja, langsung nurut! Tak bisakah aku menyogokmu dengan cinta saja?!


"Yang, kok diem aja sih? Kamu marah ya?" Aku kembali melanjutkan akting.


Asekk! Ayang!


Ucapan adalah doa. Semoga besok jadi Ayang beneran!


Tisa hanya diam saja dengan ekspresi datarnya. Ala-ala cewek sedang ngambek.


"Nanti aku beliin es krim deh!" Tisa hanya melirikku ketika aku memberikan bujukan.


Duh, lirikan matamu Sa!


Bisa nggak sih kalau ngelirik nggak usah pakek sihir segala?!


"Mbak, kok wajah Mbak pucat sih? Nggak pakek lipstik ya!" celetuk perempuan alis tebal ke Tisa.


Aku nggak suka mendengar dia mengomentari penampilan Tisa.


"Iya Neng, jadi perempuan itu harus pintar dandan. Kayak anak saya nih!" seru si Ibu membanggakan anaknya.


"Kayak ondel-ondel aja dibanggakan!" gerutu Pipit kesal.


Pipit aja kesal. Apalagi aku. Tapi yang disindir malah diem-diem bae. Ya, namanya juga es batu.


Aku yang merasa tidak terima langsung angkat bicara.


"Maaf ya, tapi aku suka kok yang natural gini! Lebih alami!"


Yang aku ucapkan ini seratus persen jujur.


"Lagian, bibir pink gini kok dibilang pucat sih?!" Aku menyelipkan anak rambut Tisa ke belakang telinganya. Aku tersenyum simpul.


"Atau.. kalian mau melihat bibir pink ini berubah jadi merah dengan caraku?!!"


Mata Tisa langsung membulat mendengar ucapanku.


Dia langsung menoleh ke arahku. Sementara aku sedang menatap Ibu dan anak di depanku dengan senyum menantang.


Mereka diam, tak bisa berkata-kata lagi.

__ADS_1


"Silakan diminum sianida-nya. Eh, maksudku sirupnya!" ujar Pipit memecah keheningan.


"Aduh, maaf ya Jeng. Si kecil lagi rewel, maunya digendong mulu!" Tante Rini kembali ke ruang tamu dengan membawa bayinya.


Adik kecil Pipit itu sangat mirip dengan Pipit. Mereka sama-sama punya kulit putih.


"Tante, aku boleh coba gendong Dedek bayi nggak?" ucap Tisa yang terlihat gemas melihat bayi itu.


"Boleh-boleh! Itung-itung latihan, biar nanti nggak kaget pas punya anak! Apa lagi udah ada yang ngincer tuh!"


Lihat, Tante Rini aja langsung peka! Masa kamu nggak peka-peka sih Sa!


Tisa langsung bangkit berdiri menghampiri Tante Rini.


"Aku juga mau gendong! Aku duluan ya!" tiba-tiba perempuan alis tebal itu menyerobot Tisa yang ingin menggendong Dedek bayi.


Tisa tidak protes, dia mengalah dan kembali duduk.


"OEEEE!!" tiba-tiba Dedek bayi menangis saat berada dalam gendongan si alis tebal.


Perempuan itu berusaha menenangkan Dedek bayi dengan cara menimang-nimangnya.


Senyumnya timbul ketika Dedek bayi berhenti menangis.


Sesaat kemudian Dedek bayi itu malah tertawa terbahak-bahak.


"Aahkkk! Dia ngompol!!" pekik perempuan itu yang membuat aku dan Tisa terkekeh. Begitu pun dengan Pipit.


"Aduh, maaf ya!" Tante Rini langsung mengambil bayinya kembali.


Tapi tangan Dedek bayi malah berpegangan erat di baju perempuan itu. Pas di bagian dadanya.


Dengan tertawa, Dedek bayi itu enggan melepaskan baju yang dipegangnya meskipun Tante Rini sudah berusaha melepaskan.


PLEK!


Sesuatu terjatuh dari baju perempuan itu bersamaan dengan lepasnya tangan Dedek bayi.


Kami semua menatap kebawah. Melihat benda apa yang jatuh barusan.


Kain?!


Sudah kuduga itu sumpelan!


Dan parahnya lagi, yang jatuh cuma sebelah. Sementara yang kiri tetap besar.


Aku langsung memalingkan wajahku karena tak tahan ingin ngakak.


"MUAHAHAHAHA!!" tawa Pipit meledak begitu saja.


Semua yang di sini tertawa. Tisa berusaha menahan tawanya agar tak keluar.


"Ayo kita pulang!" Ibunya menarik tangan anaknya. "Jeng, kami permisi pulang!" mereka berdua bergegas keluar dari rumah Pipit. Mungkin karena malu.


Tiba-tiba Pipit memungut kain yang jatuh tadi. "Mbak, kainnya ketinggalan!" teriak Pipit.

__ADS_1


Si Ibu balik lagi dan meraih kain di tangan Pipit. Kemudian langsung bergegas menyusul anaknya yang sudah ngibrit duluan.


Tawa Tisa langsung pecah ketika mereka sudah pergi. Perutku sampai terasa kaku.


__ADS_2