
"Selama ini kamu tinggal dima--"
"Mama!" Aku memanggilnya pelan.
Aku tau Mama kangen banget sama anaknya yang ganteng ini. Tapi ini bukan waktu yang tepat.
Bola mataku mengkode keberadaan Tisa. Seketika Mama langsung melepas pelukannya dan menatap Tisa.
Mama juga di perintahkan oleh calon besan buat sandiwara juga.
Ribet banget emang. Tinggal nikah doang.
"Dia.." eaa si Mama udah mulai nih aktingnya.
"Dia Tisa, asistenku di kantor Ma," aku menjawab ucapan Mama yang tergantung tadi.
Tisa gegas mencium tangan Mama.
Dari tatapan Mama sih, dia suka sama Tisa.
"Cantik!" bisik Mama tiba-tiba. "Berarti nggak sal--" Aku langsung menyenggol Mama sebelum dia melanjutkan ucapannya.
Kalau Tisa denger kan bisa berabe.
"Aish! Jangan nyenggol-nyenggol dong! Bajumu itu basah, ntar nular ke Mama! Ganti baju sana!" Mama berubah jadi galak. Sepertinya dia menangkap kode dariku barusan.
Mama menatap ke arah Tisa lagi. Tisa dari tadi nunduk mulu. Nggak tau ada apaan di lantai.
"Baju kamu nggak basah kan Sa?" tanya Mama.
"Nggak kok Tan, soalnya tadi aku pakek jas hu--"
"Kok Tante sih?! Panggil Mama aja! Biar lebih akrab!"
Mataku langsung membulat. Mama keceplosan nih. Gimana kalau..
"Ah, kebanyakan orang-orang sini manggil saya Mama Ira. Jadi kamu manggil Mama aja," terang Mama yang membuatku lega.
"Hampir aja barusan Mama keceplosan!" bisik Mama. "Oh ya, Mama beliin Tisa dress, buat hadiah. Mama pengen liat calon mantu Mama pakek baju yang Mama beliin!"
"Jangan bilang baju baru!" bisikku. "Ntar dia malah curiga. Bilang aja baju Mama dulu waktu muda!"
Setelah membisikkan itu, aku berlalu ke dalam untuk ganti baju. Tapi aku masih nyantol di balik tembok. Bersembunyi lebih tepatnya.
Aku mengintip dua wanita yang sebentar lagi akan jadi mertua dan menantu.
"Kamu sudah makan?" tanya Mama ke Tisa.
__ADS_1
"Sudah Ma," Tisa mengangguk.
"Ah, bukan. Maksud Mama, makan malam. Kalau makan malam pasti belum kan?"
Aku terkekeh tanpa suara. Mama sedang berusaha menahan Tisa agar berada di rumah ini sampai malam.
Tapi kok ya sangat nyleneh. Tanya sudah makan malam apa belum di jam yang masih menunjukkan pukul dua siang. Ya jelas belum lah.
"Baju kamu basah gini, kenapa bilang nggak basah?" ucap Mama yang memegang lengan baju Tisa.
"Ng.. nggak terlalu basah kok Ma," sahutku Tisa.
Aseeek. Dia kayaknya udah terbiasa manggil Mama deh. Kayaknya beneran jodoh.
"Ini cuma kena gerimis aja tadi," imbuh Tisa yang memang nggak kehujanan.
"Jangan. Kamu harus ganti baju. Takutnya nanti malah masuk angin!" Mama kekeuh pengen Tisa ganti baju yang udah dibelinya.
"Kayaknya Mama ada baju yang pas buat kamu deh! Baju Mama waktu masih muda dulu!" Mama menarik Tisa untuk masuk ke kamarnya.
Aku segera ngibrit sebelum Tisa liat aku.
Melesat ke kamar untuk ganti baju.
Kan Mama bilang kalau beliin Tisa dress nih. Aku jadi penasaran kalau Tisa pakek baju perempuan gitu. Gimana ya.
Aku jadi senyum-senyum sendiri membayangkan Tisa pakek baju cewek. Secara, selama ini kan dia cuma pakek celana training sama hoodie doang.
Seketika aku jadi tersadar kalau aku belum ganti baju. Membuat lantai di kamarku jadi basah karena sedari tadi aku terus berdiri membayangkan Tisa.
"Ketimbang cuma bayangin, mending aku liat langsung!" gegas aku keluar kamar setelah ganti baju.
Tapi di ruang tamu aku tak melihat Mama atau pun Tisa.
"Apa Tisa belum selesai ganti baju ya?"
Aku duduk di salah satu sofa. Menunggu dua wanita itu.
Tapi setelah beberapa menit, mereka tak kunjung keliatan.
"Ck. Ini pada kemana sih?! Jangan-jangan pada nonton sinetron di kamar. Makanya lama banget!"
Aku bangkit dan melangkah ke kamar Mama.
"Kenapa kalian lama sekali?!" keluhku saat sudah berdiri di ambang pintu kamar Mama. Seketika membuat Tisa menoleh ke arahku.
"Tisa, kamu.."
__ADS_1
Kalimat yang ingin aku ucapkan hilang entah kemana. Melihat perempuan yang selalu pakai hoodie, kini memakai dress warna navi selutut tanpa lengan.
Belum lagi rambut yang selama ini dikuncir kuda tergerai bebas.
Tisa keliatan beda pakek banget.
"Kenapa Ndri?" pertanyaan Tisa menyadarkan lamunan indahku.
"Ng... Nggak," sahutku yang mendadak gagap.
Es batuku selama ini, kini sudah berubah menjadi bunga matahari. Yang akan selalu mengarah dimana matahari berada.
"Emm.. sebaiknya kit--" suaraku mendadak serak. "Ehem ehem.. ayo kita balik ke kantor," lanjutku.
"Balik ke kantor apanya?" tanya Mama. "Ini udah jam tiga, nanggung. Bentar lagi juga pulang. Mending kalian di sini aja, temenin Mama."
Mama mulai kembali berakting. Sejatinya kami menahan Tisa lebih lama di sini agar bisa makan malam bareng.
"Tapi, Ma-" Aku pun ikut memulai akting.
"Udah, nurut sama Mama. Lagian perusahaannya nggak bakalan bangkrut cuma karena kamu absen satu jam," potong Mama.
Ting tong!
Tiba-tiba suara bel rumah berbunyi.
"Nah, yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga!" ucap Mama sambil tersenyum padaku.
Ya. Siapa lagi yang datang. Tentunya itu adalah Indah. Pemeran pembantu di drama yang disutradarai oleh Ayahnya Tisa sendiri.
Sementara aku adalah pemeran utamanya.
"Siapa Ma?" Aku pura-pura bingung.
"Sebentar lagi kamu juga tahu!" Mama berjalan menuju ruang tamu.
Aku mengekor di belakang Mama. Begitupun dengan Tisa.
Ting tong!
Bel kembali berbunyi.
"Iya, sebentar," sahut Mama.
"Ck, nggak sabaran banget sih!" Aku berdecak kesal karena Indah yang terus-terusan menekan bel.
Mama pun membuka pintu. Sengaja dibuat slow motion, biar Tisa penasaran.
__ADS_1
Dan setelah beberapa saat, pintu pun terbuka lebar. Nampaklah Indah yang sudah berdandan cantik dengan dress warna biru muda atau biru langit selutut.
Dengan datangnya pemeran pembantu ini, panggung drama resmi dimulai.