
"Kamu pasti penasaran kan kenapa saya bisa tahu?" tanya Papa ke Tisa. "Ayahmu itu rekan kerja saya. Tentu saja saya tahu. Bahkan kami teman dekat!"
Melihat Tisa yang tegang, Papa terkekeh kecil.
"Jangan tegang gitu. Saya nggak akan kasih tahu Ayahmu. Karena saya nggak mau mencampuri urusan orang lain."
Ucapan Papa barusan membuat Tisa terlihat sedikit lega.
"Tapi Sa, kalau menurut Om, nggak baik kalau kamu lari dari masalah. Akan lebih baik kalau kamu ngobrol sama Ayahmu, bicarain baik-baik."
Tisa hanya diam mendengarkan Papa.
Aku jadi senyum-senyum sendiri karena ternyata aku dan Tisa sama-sama kabur dari rumah perkara dijodohin. Eh ujung-ujungnya kita bersatu dengan sendirinya.
"Orang tua itu hanya ingin yang terbaik buat anaknya, mereka hanya ingin anaknya bahagia," tutur Papa.
Lagi-lagi Tisa hanya mendengarkan dalam diam. Telihat dia menghela nafas.
"Oh ya Ndri, mumpung Indah lagi kesini, gimana kalau kalian cari baju pengantin sama cincinnya sekalian."
Aku mendongak menatap Papa. Jadi selain rencana makan bersama, kami juga berencana mencari gaun pernikahan.
Kami ingin menyiapkan pernikahan tanpa Tisa ketahui. Buat kejutan ceritanya.
"Kalau Andri sih iya-iya aja Pa. Tapi Indahnya gimana? Mana tahu setelah ini dia ada acara?"
Aku melirik Indah yang seperti ingin tersenyum karena tak tahan dengan drama ini. Tapi aku segera memelototinya.
"Nggak kok Pa. Setelah ini Indah nggak ada acara," ujar Indah sambil menatap Papa.
"Bagus deh kalau gitu!"
Setelah makan, kami hendak pergi untuk menjalankan misi mencari gaun pengantin untuk Tisa.
Tapi siapa sangka Tisa malah pamit pulang. Padahal niatnya kami juga ingin mengajaknya.
"Cepet kejar! Nanti dia keburu pulang!" seru Papa dan Indah bersamaan saat Tisa sudah keluar dari rumah.
Segera aku menyusul Tisa keluar. Langsung saja aku mencekal lengannya yang hendak mencegat taksi.
"Apaan sih Ndri?! Lepasin! Nanti kalau Indah lihat gimana?!" protesnya. Mau tak mau aku melepasnya.
Bersamaan dengan itu, Indah keluar juga.
"Ndah, aku pulang duluan ya," pamit Tisa ke Indah.
Aku yang tak ingin Tisa pulang segera memutar otak.
"Ndah, gimana kalau kita anterin Tisa dulu aja. Setelah itu baru cari bajunya."
Terlihat Tisa membulatkan matanya padaku. Tapi dia segera mengubah ekspresi wajahnya ketika Indah menatapnya.
"Nggak usah Ndri. Aku bisa naik taksi kok! Aku nggak mau ngerepotin kalian," tolaknya.
"Nggak ngerepotin kok. Nggak papa kan Ndah?" Aku tersenyum penuh arti ke Indah.
"Emmm, gimana kalau Tisa ikut kita pilih baju pernikahannya?"
__ADS_1
Dua sudut bibirku terangkat mendengar jawaban Indah.
Tisa terlihat keberatan. Jelas dia ingin menolak ajakan ini. Karena siapa yang mau ikut mantan pacarnya cari gaun pengantin?
Andai saja Tisa tahu kalau pengantinnya itu dia sendiri.
Mulut Tisa sudah mau mangap hendak menolak. Tapi dengan segera Indah beringsut ke Tisa dan membisikkan sesuatu yang aku tak dengar.
Entah apa yang dibisikkan Indah ke Tisa.
"Boleh juga ide kamu Ndah," ucapku yang sangat setuju Tisa ikut. Karena gaunnya kan memang untuk Tisa, jadi dia yang harus memilih.
"Sekalian biar Tisa juga bantuin buat nyari gaun pengantinnya," celetukku.
Bukan bantuin Sa. Tapi memang buat kamu pakai sendiri gaunnya.
Tisa tak bisa menolak lagi. Jadilah kita bertiga meluncur menggunakan mobil Papa karena aku kesini tadi basa sepeda motor.
Hening di dalam mobil. Aku mengkode Indah untuk membuka obrolan.
"Apa aku boleh tanya sesuatu?" Indah akhirnya buka suara.
Aku menoleh padanya yang duduk di sampingku. Sementara Tisa duduk di belakang. "Tanya aja. Mau tanya apa?"
"Ndri, sebelum hubungan kita menuju ke yang lebih serius, aku memutuskan untuk bertanya tentang ini. Apakah kamu dan Tisa pacaran?"
Aku tersenyum melirik Indah. Rupanya dia ingin memancing Tisa.
"Ahaha. Tentu saja tidak!" Tisa yang menjawab. "Informasi gila darimana itu?"
"Aku hanya bertanya saja. Biasanya kan antara Bos dan asisten di kebanyakan kantor selalu punya hubungan spesial. Mana tahu ternyata kalian juga seperti itu." Indah kembali memancing Tisa.
"Nggak. Hubungan kami hanya sebatas Bos dan asisten saja, nggak lebih!" sahut Tisa cepat.
"Syukurlah kalau gitu. Soalnya aku nggak mau jadi perusak hubungan orang. Aku jadi lega mendengar jawabanmu."
Aku melirik Indah kesal. Sementara yang dilirik hanya mengangkat bahu.
Tak berapa lama, kami sudah sampai di toko atau butik, entahlah aku kurang paham. Intinya di sini menjual perlengkapan pernikahan.
ketika hendak masuk ke toko itu indah menggandeng tangan
Ketika hendak masuk ke toko, Indah meraih tangan Tisa dan menggandengnya.
Padahal aku berharap aku yang menggandeng tangan Tisa. Aku cuma pasrah dan berjalan di belakang mereka.
"Selamat datang.." sambut pegawai toko ramah. Seorang pegawai laki-laki menyambut kami.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya ramah.
"Kami sedang mencari gaun pernikahan," jawabku.
"Wah, Abang hebat banget ya. Masih muda udah punya dua istri!" puji pegawai laki-laki itu.
Tawaku hampir saja meledak. Dia pasti mengira Tisa dan Indah adalah istriku.
"Yang mana nih istri pertamanya?" tanyanya antusias.
__ADS_1
Belum juga aku menjawab, dia kembali membuka mulut.
"Ah, saya tahu! Sesuai warna baju yang mereka pakai. Yang pakai dress biru tua ini pasti istri pertama," dia menunjuk Tisa. "Sementara yang pakai dress biru muda pasti istri kedua," ucapnya lagi sambil menunjuk Indah.
"Bukan-bukan! Mas-nya salah pa--"
"Oh jadi salah ya?" dia memotong ucapan Tisa. "Kalau begitu yang biru muda istri pertama," dia menunjuk Indah. "Dan yang biru tua istri kedua," imbuhnya sambil menunjuk Tisa.
Baru juga mau menjelaskan, pegawai ini mendekat ke arahku.
"Bagi tipsnya dong Bang. Supaya bisa punya istri dua," ucapnya seraya menaikkan turunkan alis.
"Maaf atas ketidak nyamanannya," seorang pegawai perempuan membungkam mulut pegawai laki-laki yang terlihat hendak nyerocos lagi. "Jangan bikin onar ya!" bisiknya sambil melotot.
"Dia anak magang di sini, jadi mohon dimaklumi. Sekali lagi kami minta maaf," dia sedikit membungkuk kepada kami.
"Iya nggak papa kok Mbak," sahutku yang hampir berbarengan dengan Tisa.
Kami pun digiring masuk oleh pegawai perempuan yang lain.
"Di sini nggak hanya gaun pengantin, ada juga cincin, sepatu dan perlengkapan pernikahan lainnya."
"Gimana kalau kita coba cincin dulu?" ajak Indah yang langsung aku angguki.
"Untuk cincin, ada di sebelah sini. Mari," pegawai toko berjalan di depan kami menunjukkan arah.
Indah melirikku. Ini waktunya dia berakting.
"Maaf Mbak, toilet ada di sebelah mana ya?" tanyanya dengan akting kebelet buang air.
"Mari saya antar Mbak," ujar pegawai toko.
"Ndri, kamu pilih cincinnya duluan aja ya. Aku ke toilet dulu." Indah pun berlalu meninggalkan kami.
Ini memang rencana kami. Indah meninggalkan aku berdua dengan Tisa untuk memilih cincin.
"Wah, kita ketemu lagi Bang!" ternyata yang menjaga bagian cincinnya adalah pegawai laki-laki tadi. "Lho, istri yang satunya mana Bang?"
"Ke toilet," sahutku cuek yang tak ingin meladeninya, karena aku ingin segera memilih cincin. "Sa, bantuin milih. Menurut kamu mana yang bagus?"
Terdengar Tisa menghela nafas. Kemudian dia mulai melihat-lihat cincin yang ada di dalam etalase.
"Kayaknya yang itu bagus deh Ndri!" Tisa menunjuk sebuah cincin warna silver dengan berlian putih di atasnya.
"Kayaknya iya deh. Saya mau coba yang itu Mas!"
Begitu sepasang cincin itu dikeluarkan, aku langsung mencobanya.
"Wah, langsung pas Sa!" Aku girang. Keadaan pun juga mendukung hubunganku dengan Tisa.
"Lho, Mbaknya kok nggak ikut nyoba? Dicoba aja Mbak, nggak papa!" pegawai laki-laki tadi main menyambar tangan Tisa yang berada di atas etalase dan memakaikan cincin satunya
Harusnya aku yang memakainya. Kenapa jadi dia yang gercep?!
Cincin itu sangat cocok di jari Tisa. Aku melihat senyum sekilas di bibir Tisa. Tapi tiga detik kemudian senyum hilang. Wajahnya terlihat panik.
"Ndri! Cincinya nggak bisa lepas!"
__ADS_1