KISAH DI KOS-KOSAN CAMPURAN VERSI ANDRI

KISAH DI KOS-KOSAN CAMPURAN VERSI ANDRI
Bisnis Hanyalah Alasan


__ADS_3

"Ehem!" Aku berdehem keras.


Begitu Tisa menoleh dan melihatku, dia langsung melepaskan tangannya dari pergelangan tangan Faiz.


"Kami nggak ngapa-ngapain kok!" seru Tisa.


Aku tak menggubris penjelasannya dan berlalu masuk ke dapur.


Tanpa menoleh ke belakang, aku sudah tahu kalau Tisa juga mengikutiku ke dapur.


Beberapa saat tak ada perbincangan di antara kami. Dengan mulut masih terkunci, aku membuat mie instan.


Aku sedikit melirik Tisa yang sedang melihat diri ini memasak mie.


"Ndri, tadi itu aku beneran nggak ngapa-ngapain kok sama Faiz!" Tisa membuka suara lebih dulu.


Aku menatapnya sekilas lalu memasang bumbu mie. "Emangnya aku nanya ya?"


Tisa terdiam.


Tak berapa lama, masuklah Pipit ke dapur.


"Tis, dress yang tadi itu kenapa kamu geletakin di kasur gitu aja sih?" tanya Pipit yang baru masuk ke dapur.


Mendengar kata 'drees' aku langsung melirik mereka berdua.


"Udah lah Pit, jangan bahas dress itu lagi!" Tisa tampak kesal.


Kenapa? Apa dia tak suka model dressnya?


"Kenapa? Kamu nggak suka sama dressnya?" tanyanya Pipit mewakili pertanyaanku.


Tisa diam tak menjawab.


"Kalau kamu nggak suka, buat aku aja ya?" tanya Pipit lagi.


"Terserah!" jawab Tisa enteng yang membuatku merasa kecewa.


"Kok kamu gitu sih?!"


Tisa langsung menoleh ke arahku.


Aku keceplosan. Untung saja aku sedang memegang hp. Jadi aku langsung menempelkan hp ke telinga. Pura-pura sedang berbicara dengan orang di telfon.


"Itu namanya kamu nggak menghargai apa yang aku kasih!" lanjutku yang masih pura-pura dengan maksud menyindirnya.


Setelah mengatakan itu, aku langsung keluar dari dapur sambil membawa mangkuk berisi mie kuah.


Aku harap setelah Tisa mendengar apa yang aku ucapkan barusan, dia tak memberikan dress itu ke Pipit.


Setelah selesai makan mie, aku tak ada niat membawa mangkuk kotor ke dapur.


Aku memutuskan untuk rebahan sebentar.


Di luar kamar terdengar suara petikan gitar. Terdengar juga suara Tisa.


Aku berdiri dan membuka pintu karena penasaran dengan berisik-berisik di luar kamar.


Di luar, ada Faiz dengan gitar di pangkuannya. Tisa tampak menikmati suara petikan gitar yang bernada lagu Naruto.


Meski di sana ada Pipit juga, tapi tetap saja itu pemandangan yang bikin sepet mata.


Dan ketika Pipit masuk ke dalam kamar karena hpnya berdering, tiba-tiba saja tangan Faiz terulur ke wajah Tisa.


Ingin aku segera menonjok wajah Faiz.


Tapi jika aku menonjok wajah Faiz, itu hanya akan menambah nilai minus di mata Tisa.


Segera aku berlalu menuju dapur agar tangan ini tak gatal ingin meninju cowok sok perhatian itu.


_________


Kayaknya aku harus lebih perhatian lagi sama Tisa supaya dia tidak kecantol cowok lain.


Main ke wahana permainan bareng Tisa seru juga kayaknya. Aku juga udah lama nggak kesana.


"Sa?"


"Ya?" Tisa mendongak dari laptop dan menatapku.


"Gimana kalau kita membuka bisnis wahana permainan. Sepertinya omsetnya lumayan!" ucapku yang membuat bisnis sebagai alasan. Padahal niatku pengen ngajak dia ke wahana permainan.


"Emm, boleh juga. Tapi sebelum memulai bisnis itu, kita harus survei ke wahana permainan dulu!"


Kena kau! Umpan berhasil! Inilah yang dinamakan bersenang-senang berkedok survei. Hahaha!


"Bagaimana dengan jadwalku hari ini?" Aku pura-pura bertanya. Padahal mah aku udah tau kalau jadwalku kosong.

__ADS_1


"Hari ini... jadwalmu kosong," jawab Tisa memberitahu setelah membaca schedule harianku.


"Kalau begitu, setelah makan siang kita survei ke wahana permainan terdekat!"


"Baiklah!" jawabannya sembari mengangguk.


________


Dan setelah makan siang, kami langsung meluncur ke wahana permainan terdekat.


Banyak pengunjung yang datang kesini. Padahal ini bukan hari Minggu.


Aku melirik Tisa, matanya tampak terus menatap stand-stand makanan yang berjejer di depan sana.


"Gimana kalau kita jajan dulu, untuk mengganjal perut!" usulku yang tau kalau dia pasti sangat ingin beli jajan.


"Ndri, sebaiknya nanti kita juga harus menambahkan stand-stand makanan yang banyak! Sepertinya itu juga menarik banyak pengunjung. Lihat, banyak anak-anak yang mengantri sedang beli makanan!"


Aish! Tisa terlalu fokus memikirkan bisnis. Padahal aku mengajaknya kesini untuk bermain.


Aku hanya menjawab dengan anggukan saja.


"Kita juga harus menambahkan kafe. Untuk tempat bersantai para remaja yang datang kesini," imbuhnya lagi.


"Sepertinya itu ide yang bagus!" jawabku sambil manggut-manggut.


Tisa membeli jajan begitu banyak. Kami pun melipir ke gazebo terdekat untuk memakan jajan ini.


"Sa, ini sih bukan ganjal perut namanya. Tapi lapar!" seruku saat Tisa menaruh jajanan yang dia beli ke atas meja.


Dia beli sosis bakar, sempol, cilok, dan masih ada yang lainnya. Aku ragu badan kecilnya itu bisa menghabiskan makanan sebanyak ini.


Tisa hanya nyengir dan melihat tanganku yang hanya membawa sosis bakar saja. Karena memang cuma itu saja yang aku beli.


Tisa mulai memakan jajanan itu dengan lahap.


Apa dia lapar? Ah, harusnya aku mengajaknya makan dulu untuk mengisi perut.


"Apa? Kamu mau sempolnya juga?" tanya Tisa yang mengetahui aku sedang menatapnya makan.


Aku hanya menjawab dengan senyuman.


"Maaf ya, aku nggak ada niatan untuk berbagi makanan. Beli aja sendiri! Masa Direktur mau minta jajan sama karyawannya!"


Aku tertawa mendengar ucapan Tisa barusan.


"Hem!" Tisa hanya berdehem dan terus melahap jajanan di depannya.


Setelah Tisa selesai makan, aku mengajaknya naik Roll coaster.


"Wah, ternyata antriannya sangat panjang!" seru Tisa saat melihat banyaknya pengunjung yang mengantri untuk naik Roller coaster.


"Gimana kalau kita naik bianglala dulu. Siapa tahu setelah selesai naik bianglala, antriannya sudah berkurang!" usulku.


Tisa menurut tanpa berkata apa-apa. Ini kedua kalinya aku naik bianglala bersama dengan Tisa.


"Bagaimana kalau kita menambahkan sebuah taman bunga di tengah-tengah wahananya nanti? Akan terlihat sangat bagus dilihat dari ketinggian seperti ini!" ucap Tisa saat kami tepat berada di puncak bianglala yang berhenti sejenak.


Kenapa di otaknya selalu memikirkan bisnis sih?! Aku kan berniat mengajaknya bersenang-senang.


"Kenapa? Kamu tidak suka ideku?" tanyanya tiba-tiba karena aku diam tak menjawab.


"Ah, bukan. Idemu bagus kok! Nanti kita akan membangun taman seperti usulanmu barusan!"


Sepertinya otaknya itu benar-benar disetting untuk pekerjaan terus.


Salahku juga sih. Kan aku mengajaknya kesini dengan dalih ingin membangun bisnis wahana permainan.


Setelah berputar beberapa kali, bianglala berhenti.


Aku mengulurkan tangan saat Tisa hendak turun dari kotak bianglala.


"Aku bisa sendiri," tolaknya mengabaikan uluran tanganku.


Sehabis naik bianglala, kami menuju Roller coaster yang antriannya sudah tinggal sedikit.


"Aaakh!"


Terdengar teriakan kencang para pengunjung yang sedang naik Roller coaster saat kami sedang mengantri.


Kulirik Tisa yang sepertinya berubah jadi tegang. Aku ingin membatalkan naik wahana ini jika memang Tisa takut.


Tapi terlambat. Terlihat Roller coaster di depan kami sudah mulai melambat dan akhirnya berhenti.


Melihat Tisa yang melangkahkan kakinya tanpa ragu, aku pun ikut melangkah naik ke Roller coaster. Kami duduk dia bagian tengah.


Kembali aku melirik Tisa yang terus saja diam tanpa mengeluarkan kata.

__ADS_1


"Kamu nggak takut kan?" Aku menoleh dan menatapnya.


"Nggak kok! Tenang aja!"


Aku tahu jawaban Tisa itu bohong. Kini, Roller coaster perlahan mulai berjalan pelan.


Masih belum terdengar teriakan, karena kecepatan wahana ini masih pelan. Sampai akhirnya kecepatannya berubah kencang, suara teriakan pun mulai bersahut-sahutan.


"AAAAKKHH!" Tisa juga ikut berlomba mengeluarkan suara, bersaing dengan suara pengunjung lain.


"AWAS NDRIII!" tiba-tiba Tisa berteriak.


Dan ketika aku melihat ke depan, sebuah benda aneh meluncur dari depan ke arah kami dengan cepat. Segera aku menghindar.


Plek!


Spontan aku dan Tisa langsung menoleh ke belakang.


Benda aneh tadi rupanya mengenai tepat di wajah pengunjung yang duduk di belakang kami.


"HOEEEK!" pengunjung itu langsung mual gara-gara wajahnya terkena benda aneh tadi.


Kalian tau benda aneh tadi apa? Benda aneh tadi adalah muntah*n dari pengunjung yang ada di depan kami.


"HAHAHAHAH!" tawaku dan Tisa langsung meledak melihat itu. Sebenarnya kasihan dan ngeri juga liatnya.


Untung saja tadi Tisa berteriak memperingatkanku. Entah gimana jadinya kalau aku yang kena tadi. Hahaha.


Tisa terus saja berteriak di sepanjang wahana ini bergerak.


Hingga pada akhirnya Tisa tak berteriak lagi. Dia hanya terus berpegang erat. Sepertinya dia sudah lemas. Aku rasa dia juga mual, terlihat dari ekspresi wajahnya.


Dan benar saja, begitu turun dari wahana ini, Tisa sempoyongan berjalan ke bangku yang tak jauh dari sana.


"Kamu nggak papa?" tanyaku sambil duduk di sampingnya.


"Iya, nggak papa," jawabnya sambil mengatur nafas. "Sebaiknya untuk wahana rollercoaster kita nanti, durasinya jangan terlalu lama. Biar nggak ada efek pusing dan mual!"


Aish! Bisa-bisanya dia masih mikirin begituan disaat kayak gini!


"Kamu mual?"


Tisa hanya menganggukkan kepalanya menjawabku.


"Tunggu di sini sebentar ya, aku belikan kamu minum dulu!" Aku gegas berlari ke stand yang menjual minuman.


Tapi rupanya stand yang menjual makanan dan minuman jauh dari sini. Aku harus berlari jauh.


Setelah membeli minuman, aku kembali berlari ke tempat Tisa tadi.


Tapi begitu sampai di tempat Tisa, ada seorang Ibu-ibu yang duduk di samping Tisa. Terlihat Tisa sedang menghirup sesuatu yang sepertinya itu adalah minyak kayu putih.


"Tisa, kamu kenapa?!"


"Masnya gimana sih! Istrinya lagi hamil masa ditinggal-tinggal!"


"Apa?! Hamil?!" Aku menatap Tisa dan Ibu-ibu itu secara bergantian.


"Aish! Ini pasti karena Masnya kurang perhatian, makanya nggak ada yang tahu kalau lagi hamil!" ucap Ibu-ibu itu lagi.


Ah, rupanya dia mengira aku dan Tisa sepasang suami istri. Dan dia mengira Tisa mual karena hamil. Pasti barusan Tisa munt*h dan Ibu ini liat.


"Waktu bercocok tanam aja seneng! Giliran kayak gini nggak ada peka-pekanya!" semprotnya lagi.


Hampir saja aku keceplosan tertawa gara-gara mendengar kata bercocok tanam.


"Mama!"


Tiba-tiba seorang anak kecil laki-laki menghambur memeluk Ibu-ibu tadi.


"Eh, udah selesai main kuda-kudaannya?"


"Udah Ma. Beli eskrim yuk!"


"Iya, sebentar ya!"


Ibu-ibu tadi menoleh menatapku dan Tisa secara bergantian.


"Mbak, saya tinggal ya," ucapnya sambil menatap Tisa, lalu berganti menatap Andri. "Ingat, Masnya harus lebih perhatian! Kasian istrinya tadi muntah-muntah sendirian!"


"Siap Tante!" Aku mengangguk mantap sambil berusaha menahan tawa.


"BUAHAHAHA!" tawaku meledak begitu Ibu-ibu tadi sudah pergi. "Apa tadi katanya, hamil? Bercocok tanam?" perutku sampai sakit rasanya gara-gara tertawa terus.


Sementara Tisa hanya diam saja. Dia tidak bisa protes gara-gara masih lemas.


"Kapan bercocok tanamnya, kok udah hamil aja? Gimana mau bercocok tanam, nikah aja belum!" ucapku di sela-sela tawa.

__ADS_1


Tisa hanya menghela nafas melihatku yang terus tertawa. Untung dia lagi lemas, kalau dalam keadaan normal, bisa dicubit aku.


__ADS_2