
"Gimana aku bisa tahu kalau itu anak aku?!! Bisa aja itu anak orang lain! Kamu kan ngelakuinnya bukan cuma sama aku!!"
Baru juga pulang sudah disuguhi sebuah drama baru.
Tisa terpaku di ambang pagar kosan ketika melihat pertengkaran Mbak Lina dan laki-laki yang pernah dipukuli oleh Om-om waktu itu. Seingatku namanya Restu.
"Tapi yang keluarnya di dalam itu cuma kamu!!" teriak Mbak Lina.
Aku hanya menghela nafas melihat pertengkaran itu. Aku melirik Tisa yang terdiam.
Kuharap dia kali ini tak lagi ikut campur dengan urusan Mbak Lina.
"Jangan ikut campur lagi urusan Mbak Lina. Langsung masuk aja ke dalam kamar!" Aku menepuk pundak Tisa.
Dia hanya mengangguk. Kami pun melewati Mbak Lina dan Restu yang sedang bertengkar.
Aku baru masuk ke kamar setelah memastikan Tisa masuk ke kamarnya. Takutnya dia malah keluar lagi dan ikut campur urusan Mbak Lina.
Aku nggak mau yang waktu itu terulang lagi.
"Kamu harus tanggung jawab sama aku!!" teriak Mbak Lina lagi ketika aku menutup pintu.
"Aku nggak mau!! Itu pasti bukan anak aku!!"
"Restu!! Mau kemana kamu!! Restu!!!" Mbak Lina berteriak diiringi suara langkah kakinya yang berlari.
Setelah itu kos-kosan kembali sunyi.
Sambil rebahan di kasur, aku memainkan hpku.
Bibirku mengukir senyum memandangi foto Tisa dalam beberapa pose.
Oh iya! Aku belum kirim foto ini ke Tisa!
Segera aku mencari nomor Tisa yang tadi sudah tersimpan.
'Es Batu Kecil', kukirimkan foto tadi ke nama itu.
[ Nomorku tolong disimpan ya. Andri. ] Kukirimkan pesan itu di bawah foto tadi.
Tak berselang lama, Tisa langsung membalas pesanku.
[ Oke. ]
Singkat, padat dan jelas. Dia bahkan tidak mengucapkan terima kasih padaku.
Oh iya! Bukankah tadi dia jatuh? Pasti lututnya luka.
Aku segera menyambar kotak P3K dan mengambil plester.
Setelah itu aku keluar kamar dan mengetuk pintu kamar Tisa.
Tok tok tok!
Tak berapa lama, pintu kamar terbuka. Terlihatlah es batu kecil itu.
"Andri? Ada apa?" kedua alisnya bertaut.
Apa dia terganggu olehku?
Aku mengabaikan ekspresi tak suka di wajah Tisa.
"Ini plester. Kamu tadi kan jatuh, pasti luka." Kusodorkan plester itu padanya.
__ADS_1
"Makasih ya."
Aku hanya bisa mematung karena setelah menerima plester dariku, Tisa langsung menutup pintu kamarnya.
Sungguh? Tak ada sedikitpun basa-basi atau obrolan?!
_________
Entah sudah yang ke berapa kalinya aku membuka galeri. Memilih sebuah foto untuk kutatap lama-lama.
Kupandangi foto Tisa yang sedang tersenyum.
Ah, es batu ini. Kapan kau cairnya?!
"Dia lagi ngapain sekarang ya? Apa dia lagi kerja? Apa aku coba kirimkan pesan ke dia?"
Aku membuka aplikasi warna hijau dan mengetik nomor Tisa.
Ah, tapi aku mau ngomong apa?
Aku mengurungkan niatku untuk mengiriminya pesan.
Kulihat foto profilnya yang bergambar Naruto. Terakhir masa aktifnya adalah tadi malam.
Sepertinya dia sedang kerja.
Tak berapa lama, pesanan makan siangku datang.
Kutatap foto Tisa yang sedang tersenyum. Aku pun membalas senyuman itu.
"Aku makan dulu ya!" ucapku pada foto itu.
Sret!
Sebuah tangan mencomot hpku. Dan pelakunya adalah Indah.
"Balikin nggak!" Aku merebut kembali benda pipih itu.
"Eits!" Indah dengan sigap menjauhkan hp itu dariku. "Sabar dong, aku kan juga mau lihat. Aku penasaran, apa sih yang dilihat Kakakku sambil senyum-senyum sendiri sampai-sampai dipanggil dari tadi nggak nyahut-nyahut!"
"Indah! Cepet balikin!" Aku kembali berusaha merebut hpku tapi lagi-lagi gagal.
"Wah, siapa perempuan ini?" Indah akhirnya melihat foto Tisa. Aku hanya berdecak kesal.
"Kak, kau tidak sedang berkencan dengan gadis SMA kan?! Aku jadi merasa ngeri mengetahui ternyata kau menyukai gadis yang masih muda! Kakak jadi terlihat seperti Om-om mesum!"
"Apa kamu bilang?! Om-om?! Hei aku baru berumur 23 tahun! Apa aku kelihatan setua itu?!"
Ini kedua kalinya aku disebut Om-om!
"Hemh! Muka boros!"
Aku terbelalak. Lagi, aku kembali mendengar kata itu. Sebelumnya Tisa yang melontarkan kata-kata itu.
"Berapa hari sih nggak cukur?! Tuh kumis udah mulai tumbuh!"
Aku meraba bawah hidungku, ada rambut-rambut kecil mulai tumbuh di sana.
"Kumisnya memang nambahin ganteng sih, tapi jadi kelihatan tua. Kayak Om-om!" celetuk Indah.
"Stop ya nyebut aku kayak Om-om! Dan satu lagi, perempuan yang kamu lihat itu bukan anak SMA! Dia udah kerja tahu! Lagi pula tinggi kalian sama! Atas dasar apa kamu bilang dia masih SMA!"
Indah seperti tak menggubris pertanyaanku. Dia malah kembali memperhatikan foto Tisa.
__ADS_1
"Cantik ya, meskipun nggak pakek makeup. Tapi kenapa pakaiannya cuma hoodie doang?!" seru Indah yang tiba-tiba mengomentari penampilan Tisa.
"Kakak harusnya beliin dia dress dong! Dan ini lagi! Apa ini? Kenapa rambutnya diikat asal-asalan gini?! Harusnya Kakak bawa dia ke salon. Jangan pelit-pelit dong jadi pacar!"
"Apa?! Pacar?! Bukan, dia bukan pacarku!"
"Apa?! Bukan pacar? Terus kenapa Kakak simpan fotonya?!"
"Ah, maksudku belum! Belum jadi pacar!"
"Ah, aku mengerti! Pasti cinta bertepuk sebelah tangan kan?!"
Tebakan Indah membuatku kesal dan menggaruk kepalaku dengan gemas meskipun tak terasa gatal.
"Udah! Sini balikin hp Kakak!" Aku meraih hpku dari genggaman Indah.
"Eits!" Lagi-lagi Indah berhasil menjauhkan hp itu dari tanganku. "Jawab dulu dong pertanyaanku!"
"Pertanyaan yang mana?!"
"Yang cinta bertepuk sebelah tangan! Kak Andri beneran bertepuk sebelah tangan?"
Triririring!
Hpku yang berada di tangan Indah berdering.
"Hm? Es Batu Kecil? Siapa ini?" tanya Indah.
Segera aku menyambar benda pipih itu dari tangannya.
"Halo Sa, ada apa?" sapaku setelah menggeser tombol hijau.
[ Halo Ndri. Maaf aku ganggu waktu kerjamu. Aku nggak tahu mau minta tolong siapa lagi! Tolong datang ke rumah sakit ya Ndri! Plisss!! ] terdengar nada panik dari seberang.
"Ha? Rumah sakit?! Kamu kenapa Sa?! Kok ke rumah sakit?!" Aku jadi khawatir mendengar nada panik dari seberang.
[ Nanti aku jelasin semuanya! Yang penting kamu ke rumah sakit ya! ]
"Oke oke! Kamu kirimin alamat rumah sakitnya ya!"
[ Oke. ]
Sambungan telfon terputus. Tak lama kemudian, sebuah pesan dari Tisa masuk, berisi alamat rumah sakit.
Aku segera menutup pesan itu.
"Tunggu!" Indah mencekal tanganku yang ingin beranjak.
"Ada apa Kak? Siapa yang masuk rumah sakit?! Siapa yang telfon barusan?!"
"Nanti Kakak jelasin! Kakak harus segera pergi ke rumah sakit itu!" Kulepas tangannya dariku.
"Tunggu Kak! Aku juga mau ikut!"
"Indah, Kakak sedang buru-buru! Kakak pergi dulu ya! Nanti bakal Kakak kabari!"
Aku meninggalkan Indah yang masih terlihat bingung.
Dengan berlari aku menyebrang jalan, dimana letak kantorku berada.
Aku langsung menuju area parkiran.
Apa yang terjadi dengan Tisa? Kenapa dia ke rumah sakit?!
__ADS_1