
Sekarang kami sedang berada di bagian gaun pengantin.
"Yakin nih aku yang modelnya? Nanti kalau Indah nggak suka gimana?" tanya Tisa.
"Tenang aja. Aku yakin dia bakalan suka kok!"
Tisa terlihat menghela nafas panjang. Dia pun mulai memilih gaun yang ada di manekin.
Sementara aku duduk di kursi yang sudah di sediakan.
[ Gimana? Kak Tisa udah coba gaunnya? ] itu pesan dari Indah.
[ Belum, lagi milih dia. ]
Aku melihat Tisa melihat masuk ke kamar ganti dengan membawa salah satu gaun pengantin.
Lama dia ada di dalam. Aku pun memilih sibuk dengan benda pipih yang terus berbunyi, pesan dari Indah terus saja masuk.
Tisa yang sedang mencoba gaun, malah aku yang deg-degan.
Aku langsung mendongak begitu mendengar pintu kamar ganti dibuka.
Bukan bajunya yang buat bagus. Tapi orang yang pakek!
Dia keluar dari ruang ganti itu dengan tangan kanan menyincing gaun, sementara tangan kirinya berada di dadanya.
"Ndri, coba kamu telfon Indah. Aku mau nunjukin gaunnya. Takutnya model yang aku pilih nggak cocok sama dia."
Mata ini tak mau lepas dari Tisa.
"Woy!" seruan Tisa membuatku tersentak.
"Eh. I-iya, apa?"
"Ck. Malah bengong. Cepetan telfon Indah, aku mau nunjukin gaunnya nih!"
"Iya, sebentar."
Aku mulai mencari nomor Indah dan menelfonnya.
Tapi mata ini kembali menatap Tisa. Aku mengernyit saat melihat tangan kiri Tisa tak mau turun dari dadanya.
"Tapi Sa, ngomong-ngomong, dadamu kenapa ditutupin gitu?"
"Ya suka-suka aku lah!" jawabnya ketus.
Masa iya Tisa punya tompel?
"Jangan bilang, kamu punya tompel besar di dada ya!" tebakku, membuat dua bola mata Tisa membulat.
"Ngawur! Aku nggak punya tompel ya!"
"Ya terus, kenapa dong dadamu ditutupin mulu dari tadi?"
__ADS_1
"Aku nggak biasa pakek baju yang dadanya keliatan kayak gini!"
Kepala ini manggut-manggut mendengar penjelasannya.
Bener kata Indah. Untung Tisa coba gaunnya langsung. Misal kalau Indah yang coba, bisa-bisa pilih yang dadanya lebar dan Tisa malah nggak suka tapi kita nggak tahu.
[ Halo Ndri, kenapa? ] terdengar suara Indah yang sudah mengangkat panggilan video call dariku.
Tisa segera mendekat padaku dan bicara pada Indah.
"Ndah, aku udah milih bajunya!"
Mataku membulat begitu melihat Indah lagi berduaan dengan pacar barunya yang seorang dokter hewan.
Jangan sampai Tisa tahu!
Segera aku mengubah layar panggilan menjadi kamera belakang.
"Coba lihat aku Sa!"
Aku mengarahkan kamera belakang ke Tisa.
Setelah ngobrol sebentar dengan Indah. Kami memutuskan beli gaun ini.
"Kamu tunggu di luar aja, aku mau bayar ini dulu," ucapku ke Tisa.
Dia hanya mengangguk dan berjalan ke luar.
Segera aku menemui karyawan toko.
"Maksudnya Mas?"
"Calon istri saya suka gaun yang ini. Tapi dadanya terlalu lebar dan terbuka. Dia sukanya yang lebih tertutup. Bisa nggak kalau lehernya nanti dibuat tinggi dengan hiasan renda gitu? Soal biaya, tenang aja. berapapun saya bayar. Bisa kan?"
"Oh, bisa Mas. Tenang aja."
Setelah tukar nomor telfon, aku keluar dengan membawa paper bag kosong.
Kenapa kosong? Ya iya lah. Kan gaunnya masih mau dibenerin.
"Mau mampir makan dulu nggak?" tanyaku setelah masuk ke mobil.
"Kan kita udah makan," sahut Tisa.
"Ya, mana tahu kamu mau mampir jajan dulu atau apa gitu."
"Nggak deh. Langsung pulang ke kos aja, aku capek." Tisa membuang pandangannya ke luar kaca mobil.
Di luar mulai turun rintik hujan. Kulihat raut wajah Tisa sedih.
Maaf Sa, setelah ini kamu akan bahagia. Kita akan bersatu.
Hening. Tak ada pembicaraan. Aku melirik Tisa yang sesekali menggosok-gosok lengannya, tanda dia sedang kedinginan.
__ADS_1
Segera aku mematikan AC mobil.
"Kamu kok nggak pernah cerita kalau ternyata kamu itu dijodohin?" tanyaku memancing Tisa.
Ya, selama ini aku mendekatinya. Tapi aku tak tahu tentang kehidupannya.
"Untuk apa aku cerita?"
Aku menoleh menatapnya. Tisa menghela nafas panjang.
"Nyatanya kamu juga dijodohin kan! Kamu juga nggak pernah cerita sama aku." Tisa kembali melempar pandangan ke luar kaca mobil.
"Kan kamu nggak pernah nanya!"
"Ya udah, berarti sama! Lagian kenapa kamu bahas ini lagi sih Ndri?!" Tisa terdengar kesal.
"Terus kamu setelah ini mau gimana?"
"Ya nggak gimana-gimana. Kan tadi kamu juga udah dengar, aku mau fokus dulu sama impian aku!"
Aku menoleh lagi ke Tisa yang tidak menatapku.
"Emangnya kamu nggak penasaran sama orang yang dijodohin sama kamu?" Aku kembali memancingnya.
"Nggak. Lagian aku juga udah pernah ketemu dan ngobrol sama orangnya kok!" sahutnya malas.
Seketika aku merutuki diriku sendiri. Orang yang dimaksud Tisa pasti Romi.
Bodohnya aku waktu itu nggak mau nemuin Tisa. Anda waktu itu.. Ah, berandai-andai juga tak ada gunanya.
Dan lagi-lagi keheningan menyerang kami. Tak ada lagi perbincangan, sampai akhirnya kita sampai di kosan.
"Aku mau pulang dulu, ambil motor," pamitku ke Tisa.
"Kenapa tadi nggak mampir aja kesana biar nggak bolak-balik?"
"Kamu kan pakek dress. Mana mungkin kita pulang naik motor."
Aku nggak mau dia kedinginan. Apalagi drees yang dipakainya tanpa lengan.
"Emangnya kenapa?"
"Aku nggak mau kamu kedinginan," jawabku lirih.
"Apa Ndri?!"
Gawat! Aku keceplosan perhatian sama Tisa!
"Ya suka-suka aku dong!" sahutku cepat. "Mau aku pakek motor kek, mobil kek. Terserah aku! Kok jadi kamu yang ribet. Buruan turun! Atau kamu mau ikut aku lagi ke rumah?!"
Tisa menatapku dengan alis menyatu.
"Ck. Iya-iya sebentar! Nggak sabaran banget sih!" Tisa turun dari mobil dan menutup pintu dengan keras.
__ADS_1
Sepertinya dia kesal. Haah, padahal aku tak berniat membuatnya kesal.