KISAH DI KOS-KOSAN CAMPURAN VERSI ANDRI

KISAH DI KOS-KOSAN CAMPURAN VERSI ANDRI
Nomor Baru


__ADS_3

"Eh?" Tisa mendongak. Sepertinya dia sadar kalau tidak mungkin Ayahnya yang sedang tidur menjawab ucapannya.


"Ayah, syukurlah Ayah sudah sadar!" Tisa segera melepas pelukannya dan bergegas keluar dari ruangan.


"Tisa, kamu mau kemana?" cegah Bundanya. Sementara aku hanya berdiri di ambang pintu.


"Tisa mau manggil dokter. Ayah sudah sadar Bunda!" jawabnya bahagia.


Ah, dia benar-benar polos. Tak tahu jika Ayahnya sedang pura-pura.


"Itu tidak perlu Sa," jawab Bunda.


"Eh? Kenapa?"


"Karena Ayah udah sadar dari tadi malam. Barusan Ayah hanya tertidur."


Tisa menatap Ayahnya bingung.


"Tadi kamu udah janji ke Ayah. Kamu nggak mungkin akan mengingkari janjimu kan?" Om Darma tersenyum licik ke Tisa.


"Tapi kan--


"Bunda mohon, kamu terima perjodohannya ya. Demi Ayah," bisik Bunda.


Tisa akhirnya mengangguk lemah.


"Terimakasih Nak," ucap Bunda sambil memeluk Tisa.


Aku keluar dari rumah sakit berniat mencari makanan kesukaan Tisa.


________


Begitu aku kembali ke kamar Om Darma dirawat, Tisa tak ada di sana.


"Tisa dimana Bunda?" tanyaku begitu masuk ke ruangan.


"Dia tadi pamit keluar cari udara segar."


Aku langsung berbalik hendak keluar.


"Ndri," panggil Om Darma. Aku menoleh.


"Masa kamu panggil Bundanya Tisa Bunda. Sementara ke aku kamu masih panggil Om?"


Aku hanya bisa nyengir.


"Panggil Ayah ya," pintanya. "Oh ya? Kamu udah beli hp baru buat persiapan rencana selanjutnya kan?"


"Belum Om-- eh, Yah. Nanti sepulang dari sini Andri beli."


Setelah mengucapkan itu, aku pamit mau mencari Tisa. Dan rupanya, dia sedang duduk di taman rumah sakit.


"Ternyata kamu ada di sini!"


Tisa menoleh. "Andri? Kok kamu belum pulang?"


Aku berjalan ke arahnya dan menjatuhkan bobot di samping Tisa. Dia langsung bergeser memberi jarak.


"Jangan ge er. Aku masih di rumah sakit ini bukan karena kamu. Kamu lupa ya. Ayah kamu itu kolegaku, jadi itulah alasanku masih di sini. Aku menjenguknya!"


Tisa diam tak menjawab.


"Oh ya. Ini cincinmu aku kembaliin!" ujarnya sambil menaruh cincin yang nyangkut di jarinya ke telapak tanganku.


"Nggak usah, ambil aja. Buat kenang-kenangan!" Aku mengembalikan cincin itu kepadanya.


"Aku nggak mau! Kenang-kenanganmu cuma bikin sakit hati!" Tisa mengembalikan cincin itu ke telapak tanganku. "Eh, nggak jadi deh!" Dia kembali mengambil cincin itu. "Makasih ya. Lumayan bisa dijual, dapet duit!"

__ADS_1


"Enak aja mau dijual! Aku nggak jadi ngasih deh! Sini kembaliin cincinnya!" Disuruh buat kenang-kenangan malah mau dijual.


"Eits!" Tisa menjauhkan cincin itu dariku. "Udah dikasih nggak boleh diminta lagi! Nanti sikutmu borok!"


"Mitos! Sini cincinnya!"


Aku kembali berusaha merebut cincin itu darinya, tapi selalu gagal karena Tisa begitu cepat menjauhkan cincin itu.


"Ahaha, dapat!" seruku saat berhasil menangkap tangannya yang berusaha menyembunyikan cincin itu.


Tapi detik berikutnya aku langsung menahan nafas. Kami tiba-tiba membatu.


Tisa yang tadi menyembunyikan cincin itu di belakang tubuhnya, dan aku yang berhasil menangkap tangannya yang sedang disembunyikan di belakang tubuh membuat posisi kami seperti sedang berpelukan.


Deg deg deg


Wajah Tisa tampak memerah. Bi-birnya yang pink alami terlihat begitu menghipnotis.


Sreet..


Tiba-tiba saja wajahku bergerak mendekat ke bi-bir itu.


"Ma, lihat! Kakak itu lagi ngapain?"


Teriakan seorang anak kecil berhasil membuatku tersadar. Segera aku menegakkan tubuh dan menjauh dari Tisa.


Tadi itu hampir saja!


Aku melirik ke Tisa yang ternyata juga menjauh dan duduk di ujung kursi.


"Ehem." Aku berdehem untuk membuang rasa gugup. "Oh ya Tisa, ini ada cilok buat kamu. Tadi aku beli cilok kebanyakan, aku nggak habis," ucapku bohong. Karena aku membeli cilok itu khusus untuknya.


"Makasih Ndri." Tisa menerima cilok dariku dan langsung memakannya.


Aku membiarkan Tisa makan cilok itu dengan tenang. Baru setelah cilok di tangannya habis, aku buka suara.


Tisa menoleh menatapku. "Jadi kamu nguping?!"


"N-nggak! Aku nggak nguping! Lebih tepatnya aku nggak sengaja denger saat menyusul kamu ke ruang rawat ayahmu."


"Sama aja!" cibirnya.


"Jadi, terus kelanjutannya gimana?"


"Ya nggak gimana-gimana," sahutnya malas. "Tadi Ayah juga cerita sama aku kalau yang datang ke kencan yang pernah direncanain Ayah dulu itu yang datang bukan jodohku. Melainkan temannya." Tisa bercerita dengan sendirinya.


Iya Sa, aku memang bo-doh waktu itu. Andai aku yang datang ke sana.


"Itu adalah kabar yang bagus untukku," lanjut Tisa.


"Kenapa jadi kabar bagus?" Aku menatapnya bingung.


"Iya lah. Itu tandanya dia juga tak menyetujui perjodohan ini. Aku bisa kerja sama dengannya, menyusun rencana baru. Kalau penolakan datang dari pihak laki-laki, tidak menutup kemungkinan perjodohan ini akan batal!" ucapnya mantap.


"Itu kan sebelum dia mengenalmu!"


Setelah aku tahu orang yang dijodohkan denganku itu kamu, mana mungkin aku menolak perjodohan ini.


"Maksudmu?" tanya Tisa dengan alis bertaut.


"Maksudku, gimana kalau setelah dia mengenalmu dia malah suka sama kamu dan malah ingin melanjutkan perjodohan ini?!"


"Nggak mungkin lah! Mana ada orang baru kenal langsung jatuh cinta? Itu cuma ada di sinetron!" Tisa mengibaskan tangannya.


"Ya kan nggak ada yang tahu!" Aku mengedikkan bahu.


________

__ADS_1


Sepulang dari rumah sakit, aku langsung membeli hp dan nomor baru.


Aku akan menggunakan nomor ini untuk menghubungi Tisa sebagai orang yang dijodohkan dengannya.


Malamnya, aku langsung mengirim pesan padannya. Aku menggunakan foto kucing putih sebagai profil nomor baruku.


[ P ] kukirim huruf itu padanya.


Kenapa P? Nggak tau juga aku. Bukankah semua orang yang mengirim pesan selalu diawali dari huruf P.


Centang dua, tapi tidak dibalas. Apa Tisa udah tidur? Nggak mungkin, ini kan baru jam 8 malam.


Kembali aku mengirimkan huruf P padanya.


[ P ]


[ P ]


[ P ]


Tiga huruf P kukirim secara beruntun.


Dan akhirnya centang dua itu langsung berubah jadi biru, yang tandanya Tisa membaca pesan dariku. Kemudian di pojok kiri layar ada tulisan mengetik.


Tak lama, pesanku dibalas.


[ Q ]


Aku terkekeh membaca balasan darinya. Dia memang unik. Ini pertama kalinya aku mendapat balasan seperti ini.


[ R ] kukirim huruf itu dengan tak bisa menahan tawa.


[ S ] Tisa membalas dengan huruf itu. Aku kembali tertawa.


[ T ] aku kembali membalas.


[ U ]


[ V ]


[ W ]


Kami terus sama bertukar pesan dengan huruf abjad.


[ Ini ceritanya lagi ngafalin huruf abjad ya? ] tanyaku dengan emoticon tertawa.


[ Kan kamu tadi yang mulai duluan! ] balasnya.


[ Masa sih?! ] balasku.


Lama Tisa tak menjawab. Aku menyenderkan punggung di kursi dapur yang sedang kududuki. Sampai akhirnya pesan darinya kembali masuk.


[ Pit, ini kamu ya?! ]


Bisa-bisanya dia mengira aku Pipit.


[ Bukan ] balasku sambil senyum-senyum sendiri.


Tak ada balasan darinya. Dia sudah ofline. Apa dia sudah tidur?


Karena terlalu fokus menatap layar, aku sampai tak menyadari ada Tisa di belakangku, dia berdiri di dekat dispenser. Rupanya dia sedang mengisi botolnya.


"Eh Tisa!"


Sejak kapan Tisa ada dibelakangku. Tatapannya juga terlihat aneh. Dia melihat ke arah hp yang kupegang.


Apa jangan-jangan, dia juga membaca pesan yang ada di hpku? Dia kan dari tadi ada dibelakangku! Jangan-jangan dia sudah tahu kalau yang mengirim pesan itu aku!

__ADS_1


__ADS_2