
Paginya, aku meneror Tisa dengan huruf P yang kukirim secara beruntun.
Tring
Tring
Tring
Hpnya terus berbunyi tanda pesan yang barusan kukirim sudah masuk ke hpnya. Dia yang sedang sibuk melihat laptop tak membuka pesan itu.
Aku kembali mengiriminya pesan beruntun lagi.
"Ada apa dengan hpmu hari ini?! Berisik sekali!" Aku pura-pura merasa terganggu. Karena Tisa tak kunjung membuka pesan dariku.
"Ah, maaf kalau itu mengganggumu. Aku akan menggantinya menjadi mode hening," sahutnya merasa tak enak.
"Mendengar hpmu yang terus berisik, sepertinya kau sudah punya penggantiku!" seruku yang langsung membuatnya mendongak menatapku.
"Hmh! Sok-sokan galau tapi ternyata diam-diam udah ada yang baru!" seruku lagi.
"Apa maksudmu?!"
"Nggak usah pura-pura, kau pasti tahu maksudku bukan?" ucapku sembari keluar dari ruangan.
Sengaja aku keluar dari ruangan kerjaku agar bisa menelfonnya.
Segera aku menekan tombol telfon.
"Temui aku siang ini!" ucapku langsung saat telfon sudah tersambung.
[ Nggak bisa sekarang, nanti sore aja. Aku sekarang lagi kerja! ] tolaknya.
"Itu urusanmu, bukan urusanku! Yang jelas, jika kamu nggak datang berarti.."
[ Aish! Aku nggak bohong! Aku beneran lagi kerja! ] nada bicara Tisa naik satu tingkat.
"Ya udah, temui aku di kafe dekat kantormu siang ini pas jam istirahat!"
[ Memangnya kamu tahu alamat kantorku? ]
Aku tersenyum menyeringai. Tentu saja aku tahu. Aku Andri!
"Tentu saja aku tahu! Aku tahu semua hal tentangmu. Aku bahkan juga tahu kalau kamu baru putus!" Aku menekankan kata putus.
Tisa diam tak menyahut. Mungkin dia bingung kenapa aku bisa tau hal itu.
__ADS_1
"Nggak usah terkejut gitu!" ucapku lagi sama Tisa tak kunjung menjawab. "Jangan sampai terlambat. Aku tak suka menunggu!"
Klik!
Aku langsung mematikan sambungan telfon setelah memberi titah pada Tisa.
Setelah itu, aku kembali masuk ke ruangan. Nampak wajah Tisa merah padam. Sepertinya dia sangat kesal.
Aku berusaha keras menahan tawa melihat ekspresinya.
_________
Aku melihat-lihat foto sepatu wanita di sebuah aplikasi phesoo, aplikasi belanja online.
Aku memilih yang tidak ada hak-nya. Karena aku tahu Tisa gak bisa memakai high heels. Kenapa aku tahu? Ya karena aku melihat keseharian Tisa yang tak pernah memakai sepatu tinggi itu.
Untuk ukuran, aku sudah tanya pada Bunda, Ibunya Tisa.
Kulihat jam sudah menunjukkan waktu makan siang.
"Siang ini ada acara meeting di kafe dekat kantor kan?" tanyaku ke Tisa yang terlihat sibuk.
"Iya," sahutnya pendek.
"Sekalian aja kita makan siang di sana lalu lanjut meeting."
"Halo Indah?" sengaja aku berpura-pura menelfon Indah.
Agar Tisa tak bisa melanjutkan ucapannya barusan. Karena aku yakin barusan dia mau menolak ajakanku.
"Sibuk nggak? Makan siang bareng yuk? Di kafe dekat kantorku." Aku berbicara sendiri pada hp yang layarnya hitam. Hahaha.
Sesuai ajakanku tadi, Tisa menurut untuk makan di kafe dekat kantor.
Setibanya di sana, aku memilih meja terpisah dengan Tisa. Kami berjarak beberapa meja. Aku bisa leluasa melihat Tisa dari sini.
Aku melihat aplikasi belanja online tadi. Sebenarnya kata orang yang jualan, barang yang kubeli tadi baru bisa nyampe kesini tiga hari lagi.
Tapi aku ngotot. Aku menjanjikan dia dengan bayaran empat kali lipat, baru dia mau. Kusuruh dia memakai kurir dengan kecepatan cahaya agar cepat sampai sepatu yang kubeli untuk Tisa.
Tring!
Hp yang aku buat untuk penyamaran berbunyi, ada pesan masuk. Siapa lagi kalau bukan Tisa. Karena hanya nomor Tisa yang tersimpan di hp baru itu.
[ Aku udah ada di kafe! ] begitulah bunyi pesan itu. Sengaja aku tak membalasnya.
__ADS_1
Aku memilih makan, karena makanan yang kupesan sudah datang.
Tring!
Hpku yang baru berbunyi lagi.
[ Kamu dimana? ] tanya Tisa di pesan itu.
Aku hanya tersenyum membaca pesan itu dan mengabaikannya lagi.
Kulihat dari sini Tisa sedang menatap hpnya dengan kesal.
Tak lama setelah itu, seorang waiters membawa makanan ke meja Tisa. Terlihat dia mulai makan, tapi matanya terus menatap ke layar hp.
Hihihi. Dia pasti sedang menunggu balasan dariku.
Terlihat Tisa mengetik sesuatu hpnya. Tak lama setelah itu, masuk sebuah pesan ke hpku.
[ Katanya kau tak suka menunggu, tapi kenapa kau membuat orang lain menunggu?! ] ucap Tisa di pesan itu.
Dan tiba-tiba..
Triririring!
Mataku membulat saat Tisa menelfonku. Dering telfonku yang nyaring pasti di dengar oleh Tisa.
Aku mendongak melihat Tisa yang sedang menatap ke arahku.
Jangan sampai Tisa tahu!
Aku lega saat dering hpku berhenti.
Segera aku meraih hpku untuk menggantinya menjadi mode hening.
Belum juga kuatur, Tisa kembali menelfonku.
Triririring!
Tisa menatap layar hpnya dan aku secara bergantian.
Tisa mematikan panggilan telfon, disusul dengan diamnya hpku. Diulang-ulang terus sampai beberapa kali. Seolah-olah dia sengaja melakukan itu untuk memastikan sesuatu.
Dia menatapku dengan tatapan aneh. Hp sudah berhasil aku silent. Jadi tak menjerit lagi meskipun Tisa masih menelfonku.
Tapi masalahnya, Tisa masih tetap menatapku tajam.
__ADS_1
Gimana ini?! Jangan-jangan, dia sudah tahu