
Tisa tak menjawab pertanyaanku. Kami terus berlari keluar dari kafe dan bersembunyi di balik tempat sampah besar yang ada di belakang kafe.
Kali ini jantungku karoke bukan karena cinta. Tapi karena ngos-ngosan habis lari.
"Siapa dia?! Kenapa kamu lari darinya?! Apa kamu punya hutang sama dia?!" tanyaku berusaha menebak. Mengingat Tisa pernah mempermasalahkan tentang uang.
"Ssstt!! Nanti saja tanya jawabnya!!"
Tapi aku juga dengar orang tadi menyebut-nyebut Ayah Tisa. Berarti bukan masalah hutang.
"Atau jangan-jangan, dia mantan pacar kamu?!"
"Ngawur kamu!! Dia itu sekretaris Ayah aku!! Kalau dia di sini, berarti Ayah juga di sini! Aku nggak mau Ayah sampai melihatku!!"
Sekretaris? Bukannya Tisa orang yang nggak punya ya. Kok Ayahnya punya sekretaris segala? Eh, tapi kenapa dia harus kabur dari Ayahnya?
"Memangnya kenapa kamu lari dari Ayah kamu?!" Aku semakin merasa penasaran dengan Tisa.
"Ck! Sshtt! Kamu bisa diam sebentar nggak sih?! Nanti kita bisa ketahuan!!"
"Tapi--"
"Ssstt!!" Tisa membekap mulutku saat pria yang dibilang sekretaris Ayahnya tadi muncul tiba-tiba.
Aku langsung ditariknya agar duduk jongkok, menyembunyikan tubuh dibalik tempat sampah.
Jantungku sudah main DJ di dalam sana. Tangan Tisa masih tak lepas, dia masih membekapku.
Nggak bisa ini! Bisa meledak jantungku jika Tisa sedekat ini!
Tolong jangan meledak jantung! Kau bukan bom!
"Mana?! Katanya Tisa ada di sini?!" terdengar suara bariton laki-laki.
Apa itu Ayahnya Tisa?
Sepertinya benar itu Ayahnya, melihat dari ekspresi wajahnya yang tegang. Aku tak berani mengintip, takut ketahuan.
"Dia sudah lari Pak!" itu suara pria yang mengejar kami tadi.
Ingin sekali aku melihat rupa Ayah Tisa. Tapi Tisa semakin mempererat bekapannya pada mulutku.
"Kenapa kamu biarin dia lari?! Aish!! Dia pasti masih belum jauh dari sini!! Ayo kita cari dia!!"
Seketika Tisa langsung melepas tangannya dari mulutku ketika mendengar langkah kaki mereka menjauh.
Aku segera mengatur volume DJ jantung agar tidak terlalu keras.
"Kenapa kamu lari dari Ayah kamu?" Aku mengulang pertanyaanku tadi. "Memangnya apa yang sudah kau perbuat?!"
"Tisa!!"
Kami serempak menoleh, sekretaris Ayahnya Tisa berdiri tak jauh dari kami.
Gawat! Ketahuan!
"Pak, Tisa ada sini!!" teriaknya lagi.
"Ayo kita kabur dari sini!!" Tisa kembali menarik tanganku dan berlari.
Kami berlari ke area parkir. Tapi aku baru teringat jika mobilku masih dibawa Pipit.
__ADS_1
"Kita harus naik apa?!! Mobilku kan dibawa sama Pipit!!" seruku.
Tisa terlihat bingung. Pandangannya menyebar mencari sesuatu.
"Itu, ada taksi!!" teriak Tisa sambil menunjuk ke arah jalan raya.
Sebuah taksi yang baru saja menurunkan penumpangnya.
Tisa kembali menarik tanganku. Kami berlari mengejar taksi itu.
Demen bener dia narik-narik tanganku. Nggak tau apa dia, kalau dia itu remotenya DJ jantungku!
Melihat taksi yang mulai tancap gas menjauh, Tisa melepas tangannya dariku. Dia berlari berusaha mengejar taksi itu.
"Tunggu Pak!!" teriaknya.
Duk!
"Aww!!"
Tisa terjatuh. Aku segera berlari menghampirinya.
"Kau tidak apa-apa?!" Aku membantunya bangun.
"Jangan pedulikan aku!! Kejar dan hentikan saja taksinya!!" teriaknya.
Aku langsung menurutinya dan mengejar taksi itu.
"Pak, tunggu Pak!!"
Aku berlari sekencang-kencangnya dan terus berteriak.
Akhirnya taksi itu berhenti juga.
"Jalan Pak!!" seru Tisa pada supir taksi.
"Hah hah hah!" Tisa ngos-ngosan.
"Kamu tadi jatuh. Apa lutut kamu luka?!" Aku menyentuh lututnya untuk melihat ada luka atau tidak.
"Aww!! Sshh!" Tisa menepis tanganku dari lututnya.
"Sepertinya luka! Apakah sangat sakit? Kamu sampai gemetar seperti ini!" Aku melihat tangan Tisa yang sedikit gemetar.
"Ya iyalah aku gemetar! Aku belum makan dan lapar, malah dibuat lari-lari kayak barusan!" sahutnya.
Tririring!
Hp Tisa berdering.
"Halo Pit?"
Sepertinya itu dari Pipit. Mungkin Pipit sudah sampai di kafe tadi.
"Aku pulang!" ucap Tisa ke Pipit. "Tadi ada Ayah di sana! Jadi aku lari!"
Aku hanya diam menyimak Tisa.
"Andri juga ikut lari."
Setelah berbicara dengan Pipit, Tisa menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Deru nafasnya masih memburu.
__ADS_1
Sebenarnya aku ingin bertanya tentang kejadian barusan. Tapi aku mengurungkannya.
Aku akan menanyakan itu setelah dia sudah merasa tenang.
_________
"Pesan dua piring ya Bang!" ucap Tisa memesan pada penjual ketoprak.
Jadinya kami makan ketoprak yang ada di dekat kosan.
Kami duduk bersebelahan di kursi yang disediakan oleh penjual ketoprak yang mangkal di pinggir jalan.
Urusan mobil, katanya Pipit dan pacarnya yang akan mengantarkannya. Mereka masih makan di kafe yang tadi.
Kami diam beberapa saat sambil menunggu ketoprak pesanan kami.
Aku melirik Tisa yang sibuk dengan hpnya.
"Jadi, kenapa tadi kamu lari dari Ayah kamu?" Aku kembali bertanya karena tadi Tisa belum menjawabnya. Aku masih penasaran.
Tisa bergeming tak menjawabku. Sepertinya dia tak ingin menceritakannya.
"Kalau nggak mau cerita juga nggak papa kok!" ucapku karena Tisa tak kunjung menjawab.
Dia hanya menghela napas panjang yang berat.
Sebenarnya ada apa Tisa dengan Ayahnya? Kenapa Tisa kabur dari Ayahnya?
Meskipun aku masih merasa penasaran, tapi aku tidak akan memaksanya bercerita.
Yang pasti, sekarang aku tahu hal. Tisa bukan orang yang tidak berpunya. Karena Ayahnya terbukti punya seorang sekretaris.
Kuharap suatu saat aku tahu tentangnya.
Suasana kembali hening karena tak ada yang membuka obrolan. Hanya terdengar dentingan alat masak penjual ketoprak.
Kulirik Tisa yang hanya diam saja. Aku hanya membuang nafas panjang melihat sikapnya itu.
Tak bisakah dia membuka obrolan? Kenapa dia cuek sekali? Cueknya ngalah-ngalahin Pak Yosua yang dijuluki kulkas dua belas pintu oleh karyawan perempuan di kantor.
Tak berapa lama ketoprak kami pun siap. Dengan lahap Tisa menyendokkan ketoprak itu ke mulutnya.
Tak seperti kebanyakan perempuan yang akan makan cantik jika makan bersama cowok.
Tisa berbeda. Sepertinya tak ada kata jaim di otaknya. Dia makan dengan lahapnya sampai ada makanan yang menempel di pipinya.
"Tisa, ada makanan di pipi kamu!" Aku menunjuk pipiku sendiri untuk memberitahu bahwa ada makanan di pipinya.
Tisa meraba pipinya sendiri.
"Bukan di situ!!" seruku. "Tapi di sini!!" Aku kembali menunjuk pipiku sendiri. Berusaha menunjukkan letak makanan itu.
Tisa malah meraba pipinya di bagian yang salah. Membuatku jadi gemas sendiri.
"Sini, biar aku aja!" Kuulurkan tanganku untuk mengambil sisa makanan yang menempel di pipinya.
"Eits!!" Tisa mencegah tanganku. "Biar aku sendiri!"
Dia mengeluarkan hp dan mengaca pada layarnya. Jadilah dia tahu letak makanan yang menempel di pipinya.
Aku hanya menghela nafas pasrah.
__ADS_1
Ya Allah, berilah hamba kekuatan untuk mencairkan es batu kecil di sampingku ini!