
Sepanjang perjalanan balik ke kantor, aku terus-terusan minta maaf ke Tisa yang mendadak jadi diam.
Aku juga mendengar Tisa berkali-kali menghela nafas panjang.
Dia pasti marah sama aku. Meskipun dia bilang udah maafin, tapi sikapnya yang jadi lebih pendiam membuatku merasa tidak nyaman.
Sampai di kantor pun Tisa tidak banyak bicara.
Kulirik Tisa dengan ekspresi datarnya yang sedang menatap layar laptop.
Apa dia masih marah?
Kalau dipikir-pikir, pasti masih marah lah. Bayangin aja orang tua kita salah paham dan ngira kita tidur sama seseorang. Dan kita belum bisa menjelaskannya karena hp mati.
"Sa, aku minta maaf ya," aku pun memutuskan untuk meminta maaf lagi. Entah yang keberapa ini.
"Iya," jawabnya singkat tanpa melihatku.
Kenapa dia tak melihatku? Apa dia beneran masih marah?
"Sa."
"Ya?" lagi-lagi dia menjawab, tapi tanpa melihatku.
"Kamu marah ya?"
"Nggak, aku nggak marah," jawabnya datar.
"Kalau kamu nggak marah, kenapa kamu diem terus?"
"Ya kan ini jam kerja. Masa harus ngobrol?!" sahutnya seperti kesal.
"Tuh kan, nadanya gitu. Kamu marah kan?"
"Nggak Bos Andri, aku nggak marahh," nada bicaranya berubah, dengan penekanan di setiap kata meskipun mulutnya tersenyum.
"Tuh kan marah. Nadanya jadi gitu."
"Lah! Aku kalau ngomong emang gitu kok nadanya."
"Nggak. Kamu itu marah!"
"Aish! Ngeyel banget sih! Udah dibilangin aku nggak marah kok! Hiiigh!!"
"Tuh kan marah!"
"Nggak Ndri, aku nggak marah! Kok kamu ngeyel sih?! Ck. Kalau ngomong terus, nggak selesai-selesai pekerjaanku!" Tisa bangkit ke mesin fotokopi.
Aku pikir dia mau fotokopi sesuatu. Tapi tiga detik kemudian dia malah keluar dari ruangan dengan wajah yang kesal.
"Sa! Kamu mau kemana?! Kamu jangan ngehindarin aku kayak gini dong!" Aku menyusulnya keluar.
Tisa mengabaikanku dan terus berjalan ke ruang mesin fotokopi yang ada di dekat pantry.
Demi menghindariku dia sampai nggak mau memfotokopi di mesin fotokopi yang ada di dalam ruangan.
Aku terus mengekorinya dari belakang. Sementara Tisa cuma melirikku yang sedang mengikutinya.
"Oke-oke! Aku akan tanggung jawab! Aku akan jelasin semuanya ke Ayah kamu!"
__ADS_1
"Apaan sih?! Siapa yang ngehindar coba. Orang cuma mau ambil kertas doang kok!" jawabnya ketus.
"Jadi kalian berdua.."
Aku dan Tisa serempak menoleh ke ambang pintu, dimana Pak Yosua sedang berdiri di sana dengan ekspresi terkejut.
"Jadi ini alasan kamu menolakku. M-maaf, aku nggak sengaja dengar pembicaraan kalian. Aku permisi dulu!" Pak Yosua urung masuk dan pergi meninggalkan kami.
Aku mengernyit bingung. Tak mengerti apa maksud Pak Yosua.
"Tunggu Pak! Ini nggak seperti yang Pak Yosua kira!!" Tisa menoleh kesal ke arahku. "Heeghh!! Andri!!"
Apa? Memangnya aku salah apa?
Dua detik kemudian setelah otakku loading, dua sudut bibirku terangkat.
Jangan-jangan Pak Yosua salah paham dengan kata-kataku tadi.
Dia pasti mengira telah terjadi sesuatu antara aku dan Tisa, sehingga aku perlu tanggung jawab.
Biarlah kalau orang itu yang salah paham. Aku malah senang.
_________
Sepertinya Tisa benar-benar marah. Dia tak mau pulang bersamaku.
Tapi begitu sampai di kosan, kamar Tisa sepi. Sepertinya dia belum pulang.
"Kemana dia? Bukannya dia tadi pulang duluan ya?"
Tring!
[ Ndri, kalau anaknya Om Darma sudah pulang dari luar negeri, Papa akan mengatur pertemuan kalian. ]
Aku menutup pesan itu dengan tanpa ada niatan membalasnya.
"Luar negeri dari Hongkong! Orang anaknya Om Darma aja kabur! Siapa pun kamu yang dijodohin sama aku, nggak usah pulang ya! Biar perjodohan ini nggak bakalan terjadi!"
Aku ngomong sendiri sambil ganti baju.
Pas di pertemuan waktu itu aja, kata Romi, perempuan yang dijodohkan sama aku katanya juga nggak setuju dengan perjodohan ini.
Membuatku yakin, bahwa perjodohan ini tak akan pernah terjadi.
Setelah itu aku pergi ke dapur untuk memasak mie.
Tiba-tiba aja hpku berdering. Telfon dari Tiwi. Kakaknya Indah.
"Tumben nih anak nelfon!"
Berbeda dengan Indah, dia terkesan lebih lemah lembut. Dan paling manja kepadaku.
[ Halo Mas. Aku kangen tau sama Mas Andri! Udah lama kita nggak ketemu!
Satu lagi perbedaan Tiwi dan Indah. Tiwi memanggilku Mas, sementara Indah memanggilku Kakak.
"Iya, aku juga kangen sama kamu!"
Aku menoleh ke arah pintu saat mendengar suara langkah kaki. Tapi nggak ada siapa-siapa. Mungkin cuma perasaanku aja.
__ADS_1
"Gimana kabar kamu sekarang?" Aku kembali melanjutkan obrolan dengan Tiwi.
[ Aku baik Mas. ]
"Bagus deh kalau gitu."
[ Mas nggak perlu khawatir. Dewo selalu menjagaku. Bahkan semenjak kehamilanku menginjak 6 bulan, Dewo tambah posesif. Nggak boleh ini, nggak boleh itu. Dia selalu melarangku mengerjakan pekerjaan rumah! ]
"Ahaha, iya-iya. Berarti aku nggak perlu cemas dong meskipun aku nggak ada disana."
[ Mas Andri sendiri gimana kabarnya? ]
"Aku? Aku baik juga kok!"
[ Jaga kesehatan ya. Aku dengar Mas Andri sekarang sudah tinggal sendiri. ]
"Iya, kamu tenang aja!"
[ Pokoknya pas aku lahiran Mas harus dateng ya! Kapan sih Mas pulang? ]
"Iya, maaf. Aku masih belum bisa pulang sekarang."
[ Aku harap setelah anakku lahir, Ayah dan Om Wijaya mau menerima pernikahanku Mas. ] terdengar dari seberang Tiwi menghela nafas panjang.
Pernikahannya dengan Dewo memang tak mendapat restu dari Ayahnya dan Papaku.
Ayah Tiwi yang notabenenya adalah Adik dari Papaku, sifatnya sangat mirip. Dia seperti Papa yang selalu mengedepankan perjodohan dengan teman bisnisnya.
"Soal itu, aku akan coba bicara ke Om dan Papa. Semoga mereka bisa mengerti dan merestui."
[ Makasih ya Mas. ]
"Iya, kamu nggak usah cemas. Kamu serahin aja semuanya ke aku."
[ Pokoknya aku makasih banget sama Mas. Cuma Mas Andri yang ngerti aku. Semoga cepet dapet jodoh ya! Pokonya tak doain yang baik-baik terus. Mas Andri kan dari dulu selalu bantu aku. ]
"Ahaha, iya-iya. Apa sih yang nggak buat Tiwi-ku!" Aku terkekeh mendengar dia mendoakanku supaya cepat dapet jodoh.
"TISA!!" terdengar teriakan Pipit di luar.
Aku juga melihat sekelebat bayangan yang sedang berada di balik ambang pintu dapur.
"Ah. Udah dulu nya Wi." Aku memutus sambungan telfon.
Aku berjalan ke pintu dapur.
Kayaknya tadi ada orang di sana. Apa ada yang mengintipku ya.
Di luar ada Pipit yang minta dibukakan pagar kosan yang terkunci. Wajahnya kelihatan panik.
Aku segera menghampiri Tisa yang ingin membukakan pagar.
"Tisa! Tadi Ayah kamu--"
"Ada apa? Kenapa kamu panik gitu Pit?" tanyaku.
"Jelasinnya jangan di sini ya! Yuk ikut aku!" Tisa langsung membuka pagar dan menghampiri motor Pipit yang terparkir di samping pagar. "Buruan naik!" serunya ke Pipit.
Setelah Pipit naik ke sepeda, Tisa juga ikutan. Mereka pun langsung tancap gas meninggalkanku.
__ADS_1
"Ada apa sebenarnya? Kenapa Pipit panik gitu? Tadi dia nyebut Ayah Tisa juga. Apa jangan-jangan, Ayah Tisa nyariin Tisa karena salah paham tadi siang?!"