KISAH DI KOS-KOSAN CAMPURAN VERSI ANDRI

KISAH DI KOS-KOSAN CAMPURAN VERSI ANDRI
Terhindar Dari Kencan


__ADS_3

Setelah memasak mie, Tisa pergi ke kamarnya.


Aku sedikit merasa kecewa karena Tisa tak makan di dapur bersamaku.


Dengan cueknya dia pergi meninggalkanku tanpa kata. Seperti tak pernah terjadi apapun di antara kami tadi siang.


Aku pikir setelah aku membantunya tadi siang, kami akan lebih akrab. Tapi nyatanya tidak. Dia cuek bebek.


Sepertinya akan sedikit lebih sulit untuk mendekati mahkluk yang satu itu.


Apalagi dengan tingkat kepekaannya yang nol persen. Itu terbukti saat Iren yang menyukainya tapi dia tidak peka sama sekali.


_________


Tisa berbeda dengan kebanyakan cewek yang pernah aku temui.


Kebanyakan cewek yang kutemui akan caper denganku, berusaha mencuri perhatianku.


Sedangkan Tisa sebaliknya. Dia adalah tipe cewek yang cuek. Entah dengan cara apa aku mendekatinya.


Apalagi dia sepertinya tidak tertarik denganku. Terbukti dari caranya bicara dan menatapku.


Kutatap langit-langit kamar yang berwarna hijau.


Lalu aku beralih menatap ke tembok sebelah kanan yang ada di sampingku.


Tisa. Dia sedang apa ya?


Tiriririmg


Dering telfon membuyarkan lamunanku.


Aku hanya menoleh sekilas. Lalu membiarkan hpku yang berbunyi tanpa ada niatan untuk mengangkatnya.


Triririring


Aku menatap kesal hpku yang terus saja berbunyi. Ternyata Papa yang menelfon.


Dengan malas aku mengangkat telfon darinya.


"Halo Pa?"


[ Jam 20.00 kamu harus datang ke kafe dekat alun-alun! ] itu adalah kafe yang aku datangi ketika acara reuni Indah.


"Memangnya ada apa Pa?"


[ Aku ingin kau bertemu dengan jodohmu! ]


"Apa?! Aku sudah bilang kan Pa, aku nggak setuju dengan perjodohan itu. Jangan pernah berharap aku akan datang kesana!"


Langsung kututup sambungan telfon tanpa menunggu jawaban dari Papa.


Sedetik kemudian hpku kembali berdering.


"Apa lagi Pa?"


[ Ini Mama Ndri! ]


Aku langsung terdiam mendengar suara Mama.


"Mama? Ada apa Ma?"

__ADS_1


[ Tolong kamu datang ke kafe itu. Kalau kamu belum pernah ketemu dengan perempuan itu, bagaimana kamu bisa menolaknya? ]


Aku menghela nafas berat mendengar ucapan Mama.


[ Tolong temui dia Ndri. Demi Mama. ]


Aku tak bisa menolak jika itu Mama yang meminta.


Dasar! Ini pasti perbuatan Papa yang membujuk Mama untuk mengatakan ini semua!


[ Kamu udah dengar kan kata Mama barusan? ] kali ini sudah berganti suara Papa.


[ Datanglah ke kafe itu untuk berkencan dengannya! ]


Eh? Tapi kan anaknya Om Darma kabur dari rumah?


Aku jadi merasa lega setelah mengingat itu.


"Dia tidak akan datang ke kencan itu Pa!"


[ Dari mana kau tahu itu?! ]


Tentu saja aku tahu! Anaknya Om Darma kan kabur dari rumah!


[ Itu tidak mungkin. Karena Ayahnya sendiri yang sudah menjamin kalau anaknya pasti akan datang. Sudahlah, jangan banyak alasan lagi! Kau sudah mendengar permintaan Mama barusan kan. Jangan mengecewakan Mamamu! ]


Aku menghela nafas panjang. Dengan berat hati aku menyanggupi untuk datang ke kafe itu.


Bukannya anaknya Om Darma kabur karena tidak setuju dengan perjodohan ini ya? Lantas kenapa dia mendadak setuju datang kek kencan ini?!


Saat ini masih jam 19.00. Berarti satu jam lagi.


Meskipun aku mengatakan iya, tapi sebenarnya aku enggan untuk datang ke sana.


[ Halo Ndri? Ada apa? ]


"Rom, malam ini jam delapan kamu sibuk nggak?"


[ Nggak. Memangnya kenapa? ]


"Aku mau minta tolong sesuatu sama kamu! Tolong kamu datang ke acara kencan menggantikan aku!"


[ Hah? Maksudnya gimana ini? ]


"Aku disuruh ketemuan sama cewek yang dijodohin sama aku. Tapi aku males datang ke sana. Kamu mau kan gantiin aku datang nemuin dia?"


[ Duh, gimana ya Ndri. Ntar kalau ketahuan gimana? ]


"Nggak mungkin. Dia nggak bakal tahu. Orang dia nggak pernah ketemu sama aku, gimana dia bisa tahu kalau yang nemuin dia itu bukan aku! Plis lah Rom, tolongin ya?"


Terdengar nafas berat dari seberang telfon.


[ Ya udah deh iya. Cuma ketemuan berdua doang kan? ]


"Iya. Tapi nanti kamu bikin dia ilfil ya. Biar dia nggak suka sama aku dan nolak perjodohan ini!"


[ Siap. Kirimin aja alamat tempat ketemuannya. ]


"Oke."


Segera aku mematikan sambungan telfon dan mengirim alamat kafe tempat kencan itu.

__ADS_1


Aku tersenyum senang. Masalah selesai.


Aku semakin yakin menolak perjodohan ini. Apalagi sekarang aku sudah menyukai seseorang.


_________


Ini sudah jam delapan lebih. Apa Romi sudah sampai ke kafe itu ya?


Aku pergi ke dapur untuk mengambil air minum.


Saat keluar dari dapur, aku melihat Tisa yang tergesa-gesa pergi dengan jaket Hoodie hitam.


Mau kemana dia malam-malam gini?


Aku masuk kedalam kamar dan rebahan di kasur. Menunggu kabar dari Romi.


Saat membuka aplikasi warna hijau, ternyata ada pesan dari Romi. Dia mengirimiku sebuah foto.


Tawaku langsung pecah begitu melihat foto itu.


Itu adalah foto Romi yang sangat berbeda dari biasanya.


Dia memakai kacamata kotak besar yang tak pernah dipakainya. Dengan kemeja kotak-kotak yang dimasukkan ke dalam celana.


Ada tompel buatan di pipi kirinya. Tidak ketinggalan pula rambutnya yang belah tengah sangat klimis.


Aku tertawa ngakak melihat foto itu.


[ Woy Rom, tuh rambut kamu apain?! Udah kayak tikus kecemplung got aja! Tuh tompel juga, pasti dari coko cips kan?! ] Kukirim pesan itu ke Romi. Tak ketinggalan pula dengan emoticon ngakak.


Karena tak sabar menunggu balasan pesan dari Romi, segera aku menelfon dia.


Tawaku kembali pecah ketika telfon sudah tersambung.


[ Jangan ketawa! Katanya tadi disuruh bikin ilfil. Ini aku udah niat banget dandannya tahu! Udah maksimal ini! ]


Aku tambah terbahak mendengar protesan Romi.


"Hahaha." Mataku sampai mengeluarkan air mata. "Iya-iya maaf. Habisnya kamu niat banget sih! Ini kamu udah sampai belum?"


[ Iya, baru aja nyampe. Ini lagi nyari mejanya. Mejanya nomor tujuh kan ya? ]


"Iya nomor tujuh!"


[ Eh, keknya ceweknya udah sampai duluan tuh! Tapi, dia kok cuma pakai hoodie doang ya? Ini kan kencan? Harusnya kan pakai dress gitu? Mana rambutnya kek cuma diikat asal-asalan lagi. ]


Alisku bertaut mendengar tuturan dari Romi.


[ Udah dulu ya Ndri. Ini aku udah mau sampe ke meja nomor tujuh. Nanti aku kabarin lagi! ]


Klik


Sambungan telfon terputus sebelum aku bertanya lebih lanjut ke Romi.


Aku sangsi mendengar tuturan Romi barusan.


"Masa sih cewek itu cuma memakai hoodie doang?"


Apalagi Romi juga mengatakan kalau rambutnya juga diikat asal-asalan. Yang berarti dia tidak berdandan.


Apa harusnya aku yang nemuin dia ya? Siapa tahu dia bisa diajak kerja sama buat menggagalkan rencana perjodohan ini?

__ADS_1


Ah, udahlah! Rencana Romi yang bakal buat dia ilfeel juga bukan ide buruk!


Aku kembali merebahkan tubuhku di kasur. Tak sabar rasanya menunggu kabar dari Romi.


__ADS_2