
Tiba-tiba tanganku dicekal olehnya. Membuatku menoleh ke Tisa.
"Tapi Ndri.." ucapan Tisa menggantung sambil menatapku.
"Maaf Sa." Aku melepaskan tangannya karena tidak tahan dengan dua mata sedih itu. "Aku benar-benar nggak bisa."
Setelah mengatakan itu, aku keluar dari ruangan.
Aku benar-benar akan menariknya dalam dekapan jika terus-terusan ada di dalam sana.
Aku tak benar-benar pergi, melainkan berdiri di depan pintu ruanganku.
Mungkinkah Tisa sedang menangis?
Entahlah. Aku saja yang tahu kalau ini hanya sandiwara saja rasanya begitu nyelkit. Apalagi dia yang tidak tahu menahu tentang rencana Ayahnya.
Padahal aku susah payah ngejar dia. Tapi aku juga yang melepasnya. Ya, walaupun ini cuma sandiwara.
Ya udahlah, nurut aja sama calon mertua.
Tiba-tiba hpku berdering.
Papa menelfonku untuk segera mengajak Tisa ke rumah. Selain untuk mengenalkan Tisa pada Mama, juga ada rencana baru lagi katanya.
Mau tidak mau aku kembali membuka pintu.
Kulihat Tisa sedang duduk di kursinya.
"Tolong persiapkan dirimu, sebentar lagi kita akan ada meeting," ucapku bohong sambil berjalan masuk.
Karena tidak mungkin aku mengatakan ingin mengajaknya ke rumah.
Aku melirik dari sudut mata. Tak ada sisa air mata di pipi Tisa. Yang berarti dia tidak menangis.
Harusnya aku seneng karena dia nggak nangis. Tapi bersamaan dengan itu, aku merasa sedikit kecewa.
Karena kalau dia tak menangis, berarti dia nggak sedih putus denganku.
Ah, bahkan pacaran pun belum ada satu jam. Jangankan satu jam, satu menit aja tadi belum.
Tiba-tiba Papa datang dan mengkandaskan hubungan kami.
_________
Aku berbohong pada Tisa kalau kita akan meeting dengan Pak Herman. Padahal aslinya meeting itu masih besok.
Herannya, kok Tisa percaya gitu aja. Padahal dia yang ngatur scheduleku.
Mungkin dia nggak fokus dan masih mikirin kandasnya hubungan kami.
__ADS_1
Tisa berjalan di belakangku dalam diam saat aku menuju parkiran.
"Sa, kenapa kamu nggak bilang kalau kamu itu anaknya Pak Darma?" tanyaku tanpa menoleh padanya.
Jika saja aku tahu lebih cepat kalau dia anaknya Om Darma. Pasti aku akan langsung setuju dengan perjodohan itu.
"Kamu kan nggak nanya!" jawabnya singkat.
Kentara sekali dari nadanya kalau dia malas menjawab.
"Lagi pula buat apa aku memberitahumu?!" lanjutnya.
Seketika langkahku terhenti. Aku menoleh ke Tisa.
Tentu saja itu penting! Perempuan yang selama ini aku kejar-kejar, ternyata adalah perempuan yang akan dijodohkan denganku!
"Iya juga sih, nggak penting juga!" malah kata itu yang keluar dari mulutku.
Aku kembali melanjutkan langkahku menuju dimana motorku diparkir.
Aku menoleh ke Tisa yang hanya membawa berkas tanpa tas. Mungkin dia mengira aku membawa mobil.
Kulihat alis Tisa menyatu.
"Ndri, bukannya meeting dengan Pak Herman itu besok ya?"
Haduh! Gawat! Ingat juga dia ternyata.
"Tidak. Tadi pagi Pak Herman menelfonku dan mengubah jadwalnya," jawabku.
Tisa mengernyit.
"Kenapa Pak Herman nggak nelfon aku? Biasanya dia kan menghubungiku dulu kalau dia ingin mengubah jadwal meeting."
"Apakah itu pertanyaan penting yang harus ditanyakan sekarang?" Aku balik nanya biar dia nggak banyak tanya. "Sudahlah, ayo cepat naik. Nanti kita terlambat. Lagi pula, Pak Herman sempat menelfonmu, tapi katanya hpmu tidak aktif."
Aku ngarang aja bilang hpnya nggak aktif. Padahal aku sendiri nggak tau. Tisa masih diam.
"Kenapa malah bengong? Buruan naik!"
Aku langsung gas ngeng begitu Tisa naik ke motor.
Di tengah perjalanan, otakku sibuk mikirin alasan untuk membawa Tisa ke rumah. Sementara tadi aku bilangnya ke dia akan meeting sama Pak Herman.
Cuaca mulai gerimis. Pas sekali. Aku akan pakek alasan gerimis buat pulang ke rumah.
Tiba-tiba hpku berdering. Aku pun menghentikan laju motorku.
"Kenapa berhenti?" tanyanya.
__ADS_1
"Ada telfon."
Mama yang telfon dan nanyain aku ada dimana.
Rintikan gerimis berubah menjadi hujan. Tisa turun dari motor dan berlari ke ruko tak terpakai yang ada di kiri jalan dan neduh di sana.
Aku segera menyusul Tisa di belakangnya.
Baru juga salah satu kaki Tisa nginjak ubin keramik toko itu, tiba-tiba..
"Aakhh!!" jerit Tisa saat ubin basah itu licin dan membuat kakinya terpeleset.
Hup!
Untungnya dengan sigap aku menangkapnya.
Dan seketika itu juga, mata kami bertemu dan terpaku beberapa saat.
Deg deg!
Tiba-tiba saja Tisa bangkit dan menjarak tubuh kami.
"Ehem!" Aku berdehem menetralisir petasan dadakan. "Makanya, kalau jalan tuh hati-hati! Untung sempet ketangkap."
Aku melirik Tisa. Dia tak menjawab dan hanya menghela nafas.
Hujan semakin deras. Mengguyur motorku yang aku tinggalkan di pinggir jalan.
"Gimana nih, hujannya makin deras aja!" Tisa menoleh padaku. "Sepertinya kita harus menghubungi Pak Herman, kalau kita akan sedikit terlambat datang ke kantornya," ucapnya seraya mengeluarkan hp.
"Nggak perlu!" cegahku cepat.
Jangan sampai dia menghubungi Pak Herman. Bisa-bisa dia tahu kebohonganku.
"Kenapa?"
"Meetingnya nggak jadi," sahutku.
"Lho kok bisa?"
"Iya, yang barusan nelfon aku itu Pak Herman. Dia mengundur jadwal meetingnya," sahutku berbohong.
"Padahal enam menit dari sini kita udah sampai ke kantornya lho. Kenapa kamu nggak bilang kalau kita udah dekat dan mau sampai ke kantornya?" protesnya.
"Memangnya kamu mau menerobos hujan yang deras ini?"
"Ya nggak juga sih. Tapi kan Pak Herman nggak bisa seenaknya maju mundurin jadwal--
BLEDARRR!!!
__ADS_1
Petir menggelegar membuatku refleks merengkuh Tisa.