
Pagi harinya aku menemukan Tisa tertidur di meja dapur dengan posisi duduk dan kepala bersender di meja.
"Kenapa Tisa tidur di sini?" Aku berjalan mendekat ke Tisa.
"Tisa! Bangun Tis!!" Aku terkejut merasakan pipi Tisa panas saat aku menepuk-nepuknya.
Tisa tak merespon. Aku meletakkan punggung tanganku di kening Tisa.
"Ya ampun Tisa! Badan kamu panas!" Dia demam. Pasti ini karena dia kehujanan kemarin.
Akhirnya Tisa bangun, tapi matanya cuma terbuka sedikit. Dia menggigil seperti orang kedinginan.
"Tisa! Buka matamu yang lebar Tis!"
Dia tak merespon ucapanku dan malah menutup matanya lagi.
Langsung kuangkat tubuh Tisa, menggendongnya. Dengan tergesa-gesa aku keluar dari dapur.
DUAK!!
Karena terburu-buru, kepala Tisa malah terbentur pintu dapur.
"Maaf Tisa!!"
Pasti sakit sekali karena aku membenturkan kepalanya. Tapi mata Tisa tetap tertutup.
Aku segera masuk ke kamar Tisa dan membaringkannya.
"Sa, bangun Sa!" Aku kembali menepuk-nepuk pipinya.
Tapi tak ada respon. Sepertinya dia pingsan. Apa gara-gara kepalanya terbentur pintu dapur tadi ya.
"Duh, gimana nih?! Mana kosan lagi sepi. Minta tolong sama siapa nih?!"
Aku gegas pergi ke dapur, mengambil air untuk mengompres Tisa.
"Tis, sadar dong!" Aku menjadi panik karena Tisa tak kunjung sadar meskipun aku sudah mengompresnya.
Segera aku menelfon Pipit.
"Halo Pit, Tisa pingsan. Badannya panas. Kamu bisa datang ke sini nggak?!"
Setelah memastikan kalau Pipit bisa datang kemari, aku menutup sambungan telfon.
Aku yang berdiri di ambang pintu kamar Tisa, berbalik menatap Tisa yang masih terbaring.
Aku berjalan mendekatinya dan duduk di sampingnya.
Kuangkat handuk yang menempel di dahi Tisa dan menggantinya dengan punggung tanganku.
"Masih panas."
Handuk tadi aku celupkan ke baskom berisi air dan memerasnya. Lalu kembali kuletakkan di dahi Tisa.
Aku menyentuh pipi Tisa dan membuang nafas berat.
Tisa, cepat sadar!
Lama aku memegang pipi Tisa. Aku baru menarik tanganku ketika mendengar suara motor matic berhenti di depan sana. Sepertinya Pipit sudah datang.
"Gimana keadaan Tisa?" Pipit langsung masuk ke kamar Tisa.
"Dia masih belum sadar. Badannya juga masih panas!"
Aku berdiri untuk memberi tempat pada Pipit yang ingin melihat keadaan Tisa. Dia duduk di tempat aku duduk tadi.
__ADS_1
"Cepet sadar dong Tis!" ucapnya seraya mengelus kepala Tisa. Kepala yang tadi kejedot pintu.
"Aku mau ke apotek dulu ya. Mau beli minyak kayu putih sama obat penurun panas."
"Iya," Pipit menganggukkan kepalanya.
Aku segera pergi ke apotek terdekat untuk membeli beberapa obat.
Kenapa aku nggak kepikiran membawa Tisa ke rumah sih?! Ck!
Aku sudah terlanjur membeli obat. Jika nanti Tisa masih belum sadar, aku akan membawanya ke rumah sakit.
Saat aku kembali ke kosan, aku melihat Tisa duduk bersandar di dinding.
"Tisa! Kamu sudah sadar!!" Aku bergegas ke arahnya.
Pipit masuk ke dalam kamar sambil membawa air.
Segera aku membukakan obat untuk Tisa. Aku juga membelah obat yang kelihatannya agak besar.
Karena aku masih ingat jika Tisa sulit menelan obat yang besar.
_________
Keesokan harinya, aku kembali masuk ke kantor.
Lagi-lagi aku hanya menghela nafas. Tisa masih belum sembuh. Jadinya aku kembali sendiri di ruanganku.
Tok tok tok.
Pintu ruangan diketuk oleh seseorang. Setelah aku mempersilahkan, Pak Yosua masuk dengan beberapa berkas di tangannya. Dia sudah kembali dari luar kota.
Pria keturunan Cina itu mendekat ke arahku.
"Ini ada beberapa berkas yang perlu Bapak tandatangani."
"Bagaimana proyeknya Pak?" Aku bertanya sambil menandatangani berkas tadi.
"Lancar Pak."
"Aku lihat-lihat, Pak Yosua tidak pernah mengambil cuti. Apa Pak Yosua tidak ingin libur dulu untuk istirahat setelah dari luar kota?"
"Tidak Pak. Saya akan mengambil cuti jika ada keperluan mendesak saja," ucapnya sopan.
"Oh ya, saya dengar Bapak sudah punya asisten ya?"
"Iya," sahutku tanpa mengalihkan perhatianku dari berkas yang ada di depanku.
"Kemana dia? Kok nggak ada?"
"Dia sakit," sahutku singkat.
Pak Yosua hanya manggut-manggut.
"Aku dengar, dia perempuan."
Aku mendongak menatap Pak Yosua.
"Semoga setelah punya asisten perempuan, gosip miring tentang Bapak yang sedang beredar segera terbantahkan. Kemarin Pak Lutfi sempat ingin membatalkan kerja sama kita, karena dia juga mendengar gosip itu. Untungnya saya berhasil meyakinkannya."
"Iya, semoga saja Pak. Terimakasih ya," ucapku sambil membuang nafas berat.
_________
Akhirnya Tisa masuk kerja lagi setelah dua hari absen.
__ADS_1
Seperti biasa, aku mengajaknya berangkat bareng.
Tapi ketika makan siang, dia hilang entah kemana. Padahal aku berencana mengajaknya makan siang bersama.
Akhirnya setelah beberapa menit, ketika waktu makan siang tinggal dikit, Tisa masuk ke ruangan.
"Tisa, makan siang bareng yuk!"
"Maaf, Ndri. Aku sudah makan."
Apa?! Lagi-lagi dia makan duluan. Padahal aku nggak makan buat ngajak dia makan bareng!
Tok tok tok!
Pintu ruanganku diketuk dari luar.
"Masuk!" ucapku sedikit kesal bin lapar.
Pak Yosua masuk setelah aku mempersilahkan.
"Koko ngapain kesini?!" tanya Tisa yang membuatku refleks, langsung menatapnya.
"Koko?!" Aku nggak salah denger kan. Barusan Tisa manggil Pak Yosua Koko kan?!
"Ada apa?" tanyaku yang beralih menatap ke Pak Yosua.
Aku sampai tidak fokus apa yang sedang diomongin Pak Yosua gara-gara teringat Tisa memanggil Pak Yosua 'Koko'.
"Apa tadi? Koko?!" tanyaku setelah Pak Yosua keluar dari ruanganku. "Kenapa kamu memanggilnya Koko?!"
Tisa mengernyit bingung. "Karena aku mengira dia orang Cina, jadi aku memanggilnya Koko."
Tisa juga mengatakan pertemuannya dengan Pak Yosua saat makan siang tadi.
Koko?! Baru kenal tapi dia udah manggil Koko?!!
"Saat pertama kali bertemu dengan orang lain, kau memanggilnya Koko! Tapi berbeda denganku. Kau memanggilku Om, saat pertama kali kita bertemu!" sungutku kesal.
Tisa terlihat bingung menatapku. Membuatku semakin kesal dengan ekspresi wajahnya itu.
"Jangan memanggilnya Koko lagi! Dia itu Manager di sini!"
Tisa sedikit terkejut mendengar ucapanku. "Kenapa aku tidak pernah melihatnya?"
"Aku menugaskannya di luar kota. Baru kemarin dia datang."
Mulut Tisa hanya membentuk huruf O mendengar penjelasanku.
_________
Saat jam pulang, lagi-lagi Tisa kembali menghilang.
Aku segera masuk ke lift untuk menyusul Tisa. Siapa tahu dia masih ada di bawah.
'Koko ngapain ke sini?'
"Heeghh!!" Aku kesal sendiri mengingat ucapan Tisa ke Pak Yosua tadi siang.
"Keke ngapain kesini?!" ucapku menirukan suara Tisa sambil mulut mencebik.
Aku menoleh ke samping, menatap pantulan diriku di dinding lift yang bisa dibuat ngaca.
"Apa liat-liat?!!" Aku melotot pada bayanganku sendiri di sana.
"Baru kenal langsung manggil Koko! Aish!!" Aku berbicara sendiri dengan kesal.
__ADS_1
Apa aku langsung ungkapin aja perasaanku ke Tisa ya?