
Hari Senin yang membosankan. Aku mengirimkan surat lamaran kerja ke beberapa perusahaan lewat via email.
Suasana kos-kosan sedikit lebih sepi karena hari Senin. Tak ada aktivitas senam seperti hari kemarin. Semua sibuk dengan aktivitas hari Senin.
Rencananya sore ini aku dan Romi akan mencari tempat tinggal untukku.
Aku berjalan ke kamar mandi saat hari sudah menjelang siang.
Kamar mandi di sini sangat membagongkan. Dinding penyekat bilik kamar mandinya tidak sampai ke langit-langit.
Mungkin ada satu setengah meter dari kepalaku. Jadinya, kalau kita bertumpu pada sesuatu, maka kita akan bisa mengintip kamar mandi sebelah.
Tapi nggak mungkinlah ada yang mengintipku saat mandi. Lawong sama laki-laki kok. Apanya yang mau diintip?
Tiba-tiba saja aku jadi teringat Yanto. Dia nggak mungkin ngintip orang mandi kan?
Aku melihat ke atas dinding penyekat itu dengan was-was. Terdengar ada gemericik air juga dari kamar mandi sebelah.
"Halo? Apa ada orang di kamar mandi sebelah?" terdengar suara dari kamar mandi sebelah.
"Ya? Ada apa?" sahutku ragu-ragu.
"Sampoku habis. Bisa aku meminta sampomu?"
Aku melirik ke botol sampo yang baru kubeli beberapa hari yang lalu.
Aku pun memberi aba-aba pada orang itu, lalu melemparkan botol sampoku padanya.
"Terimakasih!" serunya. "Selesai mandi aku akan mengembalikannya."
Selesai mandi aku menunggu orang tadi mengembalikan sampoku karena dia memintaku menunggunya.
Saat pintu kamar mandi terbuka, muncullah laki-laki kulit sawo matang.
"Andri?!" serunya. "Ternyata kamu yang ngasih sampo tadi? Makasih ya!"
Aku mengernyit menatapnya. "Apa kita saling mengenal?"
"Ini aku Ndri! Yanti!" ujarnya dengan suara yang sudah berubah serak-serak becek.
Astaga!
Aku terbelalak melihat laki-laki di depanku. Laki-laki dengan rambut cepak itu tersenyum padaku.
Selama ini aku melihat Yanti selalu dengan makeup tebalnya. Baru kali ini aku melihatnya polos tanpa make up, tanpa wig dan tanpa rok. Benar-benar beda!
Padahal kalau dia keluar dengan penampilannya yang sekarang, aku yakin dia akan digoda oleh perempuan yang ada di lantai satu.
"Kok malah bengong?" tanyanya menyadarkanku.
Dengan cepat aku menggeleng. "Aku rasa kamu lebih cocok kayak gini!" ucapku mencoba meluruskannya, agar kembali ke jalannya.
"Apa itu artinya kamu menyukaiku?"
__ADS_1
"Uhuk!" Aku langsung tersedak ludahku sendiri mendengar ucapannya.
Bagaimana bisa dia salah mengartikan ucapanku?
"Bukan itu maksudku!" sanggahku cepat.
"Udah ya Ndri, aku keluar dulu. Aku mau cepat-cepat ganti baju dan makeup. Malu aku karena kepergok kamu saat polosan gini!" ucapnya sambil berlalu dari kamar mandi.
_________
Aku menguap bosan. Entah ini sudah yang ke berapa kali aku menguap.
Menatap komputer dan terus mengecek email menunggu balasan atas surat lamaran kerja membuatku sedikit jenuh.
Aku memutuskan untuk pergi ke atap untuk menghilangkan rasa jenuh.
Saat memandang ke bawah sana, lagi-lagi aku melihat kucing yang kemarin.
Kucing itu duduk manis di pinggir trotoar. Tak lama, melintaslah seorang perempuan dengan seragam baju warna putih dan celana warna hijau.
Sepertinya dia perempuan yang kemarin.
Dia duduk jongkok di depan kucing itu. Melihat dari seragamnya, sepertinya dia karyawan pabrik tekstil yang berada tak jauh dari sini.
Terlihat dia mengeluarkan makanan dari tasnya dan memberikannya ke kucing. Dia juga terlihat mengelus kucing itu.
Lagi-lagi tanpa sadar bibirku mengukir senyum. Tapi sayangnya aku tak bisa melihat wajahnya.
Apa aku harus turun dan menghampirinya? Tapi, untuk apa?
Aku langsung menoleh ke suara yang menyapaku. Entah sejak kapan Yogi sudah ada di sampingku.
"Tidak ada. Hanya mencari udara segar."
Saat melihat ke trotoar lagi, perempuan itu sudah tak ada lagi di sana. Aku hanya menghela nafas panjang.
"Aku ke atap untuk merokok," ujar Yogi tanpa kutanya. "Gimana, sudah dapat kerja?"
"Belum," sahutku pendek.
Aku baru tahu kalau dia juga bisa basa-basi. Bukanya Romi bilang dia tak suka dengan orang baru? Aku rasa Romi salah.
"Di kafe tempatku bekerja buka lowongan di bagian bartender. Siapa tahu kamu minat," ujarnya lagi.
"Terimakasih informasinya. Nanti aku pikir-pikir lagi!" jawabku.
"Dulu kerja dimana?" tanyanya berbasa-basi lagi.
"Di perkantoran."
"Satu kantor sana Romi?" tanyanya sambil menghembuskan asap rokok ke udara. Aku hanya mengangguk menjawabnya.
"Kenapa berhenti?" Ini adalah kalimat sakral yang tidak boleh diucapkan pada orang yang berhenti kerja.
__ADS_1
"Ingin cari suasana baru aja," jawabku sekenanya.
Kulirik jam di hpku. Sebentar lagi Romi akan pulang dari kantor.
Aku pamit ke Yogi untuk turun duluan karena setelah Romi pulang, kami akan melihat-lihat tempat yang akan kutinggali.
"Sorry Ndri. Hari ini Sela ngajak jalan. Jadi aku nggak bisa nemenin. Gimana kalau besok aja?" ucapnya ketika aku kembali ke kamar.
Aku pun hanya mengiyakan dan melihat Romi yang kembali keluar.
Jam menunjukkan pukul lima sore ketika aku kembali naik ke atap kos-kosan.
Entah sejak kapan tempat ini jadi tempat favoritku.
Aku yang awalnya bersender malas ke pagar teralis langsung berdiri tegak ketika melihat perempuan memakai hoodie hitam dan topi hitam berjalan di trotoar. Itu perempuan yang tadi siang.
Tangan kirinya terlihat memegang sesuatu dan tangan kanannya sibuk menjejalkan makanan ke mulutnya.
Aku tertawa saat makanan yang hendak disuapkan ke mulutnya itu jatuh. Dia terlihat tolah toleh sebelum akhirnya berjongkok hendak mengambil makanan yang jatuh tadi.
Setelah meniup-niup makanan tersebut, dia membuka mulutnya.
Tiba-tiba seorang perempuan lain datang dan menampel tangannya, mengakibatkan makanan itu kembali jatuh.
Aku kembali tertawa sendiri.
Perempuan yang lebih tinggi darinya itu terlihat menjitak kepalanya.
Dugaanku, mereka pasti berteman. Dan perempuan yang lebih tinggi itu menjitak kepala temannya lantaran akan memakan makanan yang telah jatuh.
Aku hanya menggeleng sambil terkekeh melihat ulah perempuan bertopi hitam itu.
Kemudian mereka terlihat masuk ke sebuah minimarket.
"Aku haus. Apa aku cari yang dingin-dingin ke minimarket ya?" Aku berdialog sendiri.
Setelah itu aku bergegas turun dengan sedikit berlari kecil. Langsung kunaiki sepeda motor menuju minimarket.
"Sekalian sama beli mie goreng ah!"
Aku tahu aku hanya berusaha membuat alasan untuk diriku sendiri pergi ke minimarket itu.
Saat masuk ke minimarket, aku mengedarkan pandanganku.
Mencari perempuan tadi? Tidak. Aku sedang mencari lemari pendingin berisi minuman.
Aku berkeliling di antara rak-rak berisi berbagai makanan.
Padahal aku sudah melewati lemari pendingin dua kali. Tapi aku tak berhenti dan malah terus berkeliling. Entah apa yang aku cari.
Hei! Sudah kubilang aku tak mencari perempuan itu! Kakiku hanya ingin sedikit berolahraga berjalan.
Kemudian terdengar dua perempuan sedang bercakap-cakap. Mereka ada di balik rak yang ada di depanku.
__ADS_1
Kulangkahkan kakiku ke sana untuk mencari camilan. Ya. Aku sedang mencari camilan. Bukan yang lain.
Aku pun mulai melangkah ke balik rak di depanku.