KISAH DI KOS-KOSAN CAMPURAN VERSI ANDRI

KISAH DI KOS-KOSAN CAMPURAN VERSI ANDRI
Sedot WC


__ADS_3

Setelah itu aku langsung tancap gas. Tentunya aku mengambil KTP dan mengembalikan botol bensin dulu sebelum pulang.


Saat di lampu merah yang masih berdurasi 120 detik, tiba-tiba seorang anak kecil menghampiri kami dengan membawa keranjang berisi penuh bunga mawar merah.


"Bunganya Kak, masih segar-segar. Silahkan dibeli, bisa buat pacarnya Kakak yang cantik ini," tawarnya.


Aku terkekeh kecil.


Jiah! Masih kecil udah ngerti pacar-pacaran. Aku tebak umurnya masih 9 tahun.


"Maaf Dek, tapi pacarnya Kakak sukanya cilok, bukan bunga," jawabku mengucapkan kenyataan.


"Nggak papa Kak, sekali-kali beliin bunga. Biar romantis!"


"Gimana, beli bunganya nggak?" Aku menoleh sedikit ke Tisa.


"Ya nggak tahu. Terserah kamu! Lagian kan kita nggak pacaran!"


"Beli aja ya Sa. Kasian Adeknya. Tuh, kamu lihat. Bunganya masih banyak, belum ada yang beli."


"Terserah."


Aku pun membeli dua tangkai bunga.


"Makasih ya Kak," ucap anak itu.


"Iya, sama-sama."


Setelah membayar bunganya, anak itu pergi meninggalkan kami.


"Sa, ini buat kamu!" Aku menoleh ke Tisa dan memberikan dua tangkai bunga itu padanya.


"Lah. Kenapa dikasih ke aku?! Nggak mau!"


"Udah, pegang aja nih! Tuh lampunya udah hijau. Aku mau nyetir, gimana mau pegang bunga?!" langsung saja aku menyodorkan bunga itu ke telapak tangannya supaya dia mau menerima bunga itu.


Tisa tak lagi protes karena aku langsung menarik pedal gas meninggalkan lampu lalu lintas.


Aku tersenyum penuh kemenangan. Meskipun dia menerima bunga itu dengan terpaksa.


Kulihat wajahnya dari kaca spion kiri. Tisa sedang menatap bunga yang ada di tangannya.


"Sa?" panggilku.


"Ya?"


"Aku masih nungguin jawaban kamu!"


Tisa tak menjawabku.


"Selalu!" lanjutku.


Aku menangkap rona pipi Tisa berubah. Sepertinya sedikit demi sedikit dia mulai mencair.


"Akan kupastikan jawabanmu berubah!" ucapku sambil tersenyum penuh keyakinan.


Meskipun Tisa tak menjawabku, aku yakin dia sedang deg-degan. Lihat saja wajahnya yang merah itu. Padahal dia tidak memakai blus blus apa lah itu. Yang suka dipakai cewek di pipinya.


Setelah sampai di kosan, dia langsung turun tanpa sepatah kata pun dan langsung masuk ke kamarnya.


Ketebak sekali kalau dia sedang menghindariku karena malu sebab pembicaraan tadi.


Aku juga masuk ke kamar dan langsung rebahan.


Dan tiba-tiba aja mata jadi berat, tak berapa lama kemudian aku pun terlelap.


_________

__ADS_1


"BAKSO BAKSO!! TING TING TING!"


Mataku langsung terbuka mendengar teriakan dan suara mangkuk dipukul.


Aku sedikit meregangkan tubuhku.


"Beli bakso ah!"


"Bang! Beli bakso!!" terdengar teriakan Tisa di luar. Membuat kedua sudut bibirku terangkat ke atas.


Aku yang tadinya ingin buru-buru takut tukang bakso keburu pergi pun akhirnya langsung ngeloyor ke kamar mandi dulu.


Masa ketemu Tisa dengan muka bantal gini.


Setelah memastikan belek di mata hanyut dengan air yang aku guyurkan ke muka, aku langsung menghampiri gerobak bakso.


Aku urung membuka pagar kosan begitu melihat malah Tisa yang sedang menjaga gerobak bakso.


"Tukang baksonya kemana? Kok jadi Tisa yang jual?"


Terlihat Tisa duduk manis di kursi yang terbuat dari plastik di samping gerobak.


Tak berapa lama kemudian sebuah sepeda motor melambat dan menghampiri gerobak bakso.


Cowok yang mengendarai sepeda motor itu menghampiri Tisa.


"Cantik-cantik kok jaga bakso. Jagain hati Abang aja!" Dia menggombali Tisa.


Aku bisa melihat dia tersenyum ke Tisa.


Panas nggak? Panas nggak? Ya pasti panas lah!


Kenapa aku tak langsung menghampiri mereka? Entahlah, aku ingin melihat dari sini dulu.


"Mau beli bakso apa Bang?" tanya Tisa ke cowok itu.


"Emang baksonya ada berapa macam?"


"Harganya berapaan?"


"Bakso biasa, delapan ribu. Bakso campur, sepuluh ribu. Bakso jumbo, tujuh belas ribu. Bakso pedas, lima belas ribu."


"Kalau beli yang jual boleh nggak?"


"Ck. Mau beli apa kagak sih Bang--"


Terlihat Tisa langsung menutup mulutnya.


Bagus Sa! Semprot aja tuh cowok!


Aku terkekeh melihat Tisa keceplosan bernada kesal.


Pasti ini dia lagi dimintai tolong tukang bakso buat jaga gerobaknya nih. Dan pasti Tisa diiming-imingi bakso gratis, makanya dia mau.


"Galak amat sih Neng!" ucap cowok itu ke Tisa.


"Untung cantik, jadi Abang maafin deh! Beli bakso jumbonya dua porsi ya, dibungkus," lanjutnya lagi.


Dengan gesit Tisa langsung meracik bakso ke dalam plastik.


Pasti dia sering beli bakso. Melihat dari kegesitan tangannya itu.


"Minta nomornya dong Neng!"


Elah! Malah nglunjak minta nomor tuh cowok!


Aku langsung membuka pagar kosan.

__ADS_1


"Sendal jepitku udah tipis Bang, jadinya kagak kelihatan nomornya!"


Kakiku langsung urung melangkah mendengar ucapan Tisa.


Hahaha. Dasar es batu! Bisa juga nolaknya dia!


"Yaelah Neng! Bukan nomor sendal jepit, tapi nomor hp!" si cowok tetep kekeuh.


"Waduh, maaf Bang! Kalau nomor hp mah, kagak ingat! Nomor hp ada dua belas biji, kebanyakan. Jadinya kagak ingat!" Tisa lagi-lagi memberi alasan membuat dua sudut bibirku terangkat ke atas.


"Lah, gimana sih Neng! Nomor sendiri kok nggak hafal! Hp mana? Lihat nomornya dari hp dah!"


"Aku nggak bawa hp Bang!" sahut Tisa lagi.


Kalau kayak gini mah, aku tidak perlu takut Tisa digondol kucing garong di luaran sana. Tisa udah pinter mengatasinya.


Dengan langkah santai, aku menghampiri mereka.


"Wah, ada penjual bakso baru nih!" Aku langsung menyerobot tempat cowok itu berdiri. Biar nggak kedekatan sama Tisa.


"Eits! Antri dulu dong! Kan gua duluan yang beli!" cowok itu menatapku tak suka.


"Totalnya jadi tiga puluh empat ribu Bang!" Tisa menyerahkan kresek berisi bakso ke cowok itu.


"Makasih Neng," cowok itu meraih kresek yang Tisa sodorkan. "Nomor hpnya gimana Neng?"


Ya ampun! Nih orang maksa banget sih!


"081.." ucapku yang tak sengaja melihat nomor yang ditempel di tiang listrik.


Tak lupa dengan tangan memegang hp, biar terlihat sedang membaca nomor dari hp.


Aku mendongak dari layar hp, menatap cowok itu.


"Kenapa diem aja?! Buruan catet, katanya mau minta nomor hpnya dia!" Aku menunjuk Tisa.


"Ah, tunggu sebentar Mas!" cowok itu dengan buru-buru mengeluarkan hpnya dari saku celana.


Tisa melotot padaku. Sepertinya dia mengira aku akan memberikan nomornya. Aku hanya menanggapinya dengan senyuman.


Tenang Tisa, bagaimana bisa aku memberikan nomormu padanya?


"081.."


Wajah Tisa terlihat tegang.


"224.."


Ketegangan di wajah Tisa langsung hilang begitu mendengar angka barusan bukanlah nomornya.


"240..007."


"Oke. Makasih ya Mas!" cowok itu tersenyum padaku.


"Iya, sama-sama. Cepetan hubungin ya Bang. Selalu online kok!" Aku memberi semangat palsu.


"Siap!!" cowok itu mengerling pada Tisa lalu melajukan motornya meninggalkan kami.


Tisa segera menghampiriku.


"Ndri, tadi itu bukan nomorku!"


"Emang bukan!" sahutku santai.


"Lah, terus nomor siapa yang kamu kasih?!"


"Nomor sedot WC!" Aku tersenyum sambil menunjuk tiang listrik yang penuh dengan tempelan nomor sedot WC. Nomor yang barusan aku baca.

__ADS_1


Emang enak. Biarin aja rumahnya nanti langsung didatangi mobil sedot WC.


HAHAHA.


__ADS_2