
Sudah hampir jam sepuluh malam. Tapi mata ini tak bisa terpejam.
Aku bangun saat mendengar suara pintu terbuka dari kamar sebelah. Kamar Tisa.
Saat menyibak korden jendela, aku melihat Tisa berjalan ke arah dapur.
Segera aku bangkit dan mengikutinya berjalan ke dapur.
Aku tak langsung masuk ke dapur, melainkan menunggu Tisa untuk memasak air terlebih dahulu.
Baru setelah aku melihatnya memasak air, dan membelakangiku, aku masuk ke dapur dan duduk di kursi dengan anteng tanpa bersuara.
Aku memperhatikannya yang sedang memasak mie dalam posisi membelakangiku.
Kulihat Tisa mematikan kompor dan mengangkat gagang panci yang sudah antil-antil.
Tau antil-antil nggak? Gimana jelasinnya ya? Intinya, gagang panci itu sudah hampir copot dari pancinya.
Bu kos itu ternyata tipe orang yang setia ya. Panci udah mau wasallam aja masih dipertahanin dan nggak diganti.
Beruntunglah pria yang kelak mendapatkan janda itu.
Eits. Bukan berarti aku naksir Ibu kos ya. Nggak. Aku bukan pecinta Tante-tante.
Hatiku udah kecantol sama es batu yang sekarang lagi masak mie.
Tisa memiringkan panci itu ke wastafel dapur untuk membuang air rebusannya.
Dia terlihat hati-hati sekali, menahan mie itu dengan sendok agar tak ikut jatuh. Tapi tiba-tiba aja..
Klek! Klontang!!
"Ahahaha!!"
Tawaku pecah saat gagang pancinya copot dan mienya jatuh ke wastafel.
Tisa langsung menoleh mendengar tawaku.
Dia membuang mie itu ke tempat sampah. Setelah itu tanpa kata lagi, dia melangkahkan kakinya keluar dari dapur.
"Sa," panggilku. Kaki itu berhenti melangkah saat aku memanggilnya.
"Hm?"
"Gimana Ayah kamu? Kamu udah jelasin salah paham yang tadi siang ke Ayah kamu belum?"
"Memangnya kamu perlu tahu?" Tisa berbalik menatapku.
"Tentu saja aku harus tahu! Aku nggak mau Ayah kamu beranggapan kalau aku laki-laki yang bres*ng!"
Bukannya menjawabku, Tisa malah melangkahkan kakinya kembali.
"Sa!" segera kucekal lengannya. "Kamu masih marah sama aku?"
"Apaan sih Ndri?!" Dia melepaskan cekalanku.
"Ngobrolnya besok aja ya. Ini udah malam. Aku mau tidur," ucapnya lalu pergi meninggalkanku.
Saat aku mengejarnya, Tisa udah masuk ke dalam kamarnya.
Dia kenapa sih? Dia seperti menghindari aku. Masa dia masih marah karena masalah yang tadi siang sih?
_________
Tok tok tok.
Kuketuk pintu kamar Tisa pagi ini. Berniat mengajaknya ke kantor bareng. Tapi tak ada jawaban dari dalam.
Kembali kuketuk pintu ini. Tetap aja tak ada sahutan.
"Sa?" Kupanggil dia sambil mengetuk pintu. "Tisa?"
Sepi.
"Apa dia udah berangkat ya?"
__ADS_1
Aku mengintip jendela kamar Tisa yang tertutup korden.
"Heh! Ngapain kamu!" tiba-tiba punggungku dipukul seseorang. "Kamu mau ngintip Tisa ya!!"
Saat menoleh, Ibu kos kembali memukulku.
"Adu-duh! Nggak Bu! Saya nggak ngintip! Suwer!" Aku berusaha menghindari pukulan dari Ibu kos.
"Bohong!"
"Nggak Bu! Beneran, saya nggak bohong!"
"Terus ngapain kamu nempelin wajah kamu di kaca jendela kamar Tisa?!"
"Saya dari tadi ketuk-ketuk pintu kamarnya. Tapi nggak ada sahutan. Saya mau ngajakin dia berangkat bareng!"
"Palingan dia udah berangkat."
"Kayaknya iya Bu."
Ibu kos melirikku dari bawah sampai atas.
"Awas aja kalau kamu berani ngintip calon mantu Ibu!" ujarnya dengan lirikan mata.
"Hah? Calon mantu?"
"Iya. Tisa itu calon mantu Ibu! Aku suka mantu modelan Tisa. Dia perempuan pekerja keras! Mantu idaman!"
"Emangnya Tisa bakalan suka sama anak Ibu?"
"Memangnya ada cewek yang bakalan menolak pesona anak saya? Tuh liat anak saya!" Ibu kos menunjuk ke arah pagar kos.
Ada seorang cowok jamet yang duduk di atas sepeda motor.
Jika modelan Koko putih kayak Pak Yosua aja bisa aku singkirkan, apalagi cuma modelan jamet gini?!
_________
Kalau tadi malam Tisa seperti menghindariku, pagi ini sikapnya terlihat aneh.
Tapi begitu aku menatapnya balik, dia langsung membuang pandangan ke arah lain.
Ada apa sih? Apa ada sesuatu di wajahku?
Aku mengaca dari layar hp.
Nggak ada apa-apa kok!
Kupandangi wajahku sendiri yang kini bersih tanpa kumis yang selama ini membuatku dipanggil 'Om'.
Sepertinya benar kata Indah. Aku jadi terlihat lebih muda tanpa kumis. Dan tampan. Eaaa.. nggak ada salahnya ya muji diri sendiri. Hahaha.
Aku meraih cangkir berisi teh untuk membasahi tenggorokan.
Terlihat jelas dari sudut mataku bahwa Tisa sedang memperhatikanku yang sedang minum.
Dan kulihat juga dia seperti ikut-ikutan nelen.
Apa dia haus? Sepertinya iya.
"Sa?"
"Eh? Iya, apa?!" Tisa gelagapan saat aku melihat ke arahnya.
Dia langsung membuang muka ke arah lain.
"Tolong buatin aku teh lagi ya," pintaku.
"Oke!" Tisa mengangguk dan beranjak dari kursi.
"Sa," panggilanku menghentikan langkahnya yang hendak keluar dari ruangan.
"Ya?" Dia menoleh menatapku.
"Jangan lupa, gulanya sedikit ya!"
__ADS_1
"Siap!" Tisa mengacungkan jempolnya lalu keluar dari ruangan.
Tak berselang lama, Tisa masuk dengan cangkir di tangannya.
"Ini tehnya," ucapnya sambil menaruh cangkir itu di mejaku.
"Minumlah!"
"Hah?" Tisa mengernyit bingung.
"Aku tahu dari tadi kamu merhatiin aku waktu minum teh kan?"
Tisa terlihat terkejut karena aku mengetahuinya.
"Kamu pasti haus. Aku sengaja minta buatin teh. Tapi teh ini untuk kamu!"
Aku membuka tutup cangkir dan menyodorkannya pada Tisa.
"Terimakasih, nggak usah. Aku nggak haus kok."
"Udah, cepetan minum!" langsung saja kutempelkan cangkir itu ke bibir Tisa. Membuat dia meminum teh ini.
Kedua alis Tisa menyatu begitu teh itu turun ke tenggorokannya.
"Kenapa?"
"Nggak enak!" sahutnya. "Nggak ada manis-manisnya!"
Aku terkekeh kecil.
"Ya iya lah nggak manis! Kamu salah cara minumnya!"
"Salah?" Tisa mengernyit bingung.
"Ada tata caranya supaya teh ini jadi manis waktu kamu minum!"
Tisa masih mengernyit bingung mendengar ucapanku.
"Coba kamu ulangi minum lagi ya. Nih, kamu pegang cangkirnya." Aku menyerahkan cangkir itu ke Tisa.
"Kamu lihat wajah aku!"
Tisa menurut, dia menatapku sambil memegang cangkir teh.
"Sekarang, kamu minum tehnya!"
Lagi-lagi dia menurut. Tisa meminum teh sambil menatapku. Kedua sudut bibirku terangkat melihatnya.
"Gimana? Manis kan tehnya? Pasti manis dong. Kan minum tehnya sambil lihat wajah aku!"
"Uhuk uhuk uhuk!" Tisa langsung terbatuk-batuk mendengar ucapanku.
"Aduh, Sa. Pelan-pelan minumnya."
"Tehnya pahit gara-gara lihat kamu!" serunya.
"Hah? Masa sih? Perasaan setiap kali aku minum tehnya sambil lihat kamu, tehnya jadi manis kok!"
Blush!
Pipi Tisa langsung bersemu merah.
"Highh!! Dasar tukang gombal!" Tisa meninju lenganku kuat.
"Aw aw! Sakit tahu Sa!"
"Biarin! Rasain!!" Tisa kembali ke meja kerjanya.
Aku tersenyum puas melihat warna pipinya yang merona. Itu artinya dia tersipu.
Saat dia ingin duduk, tak sengaja mata kami bertemu.
Ting!
Kukedipkan mata kiriku ke Tisa. Dia malah mencebik dan memutar bola mata. Membuatku terkekeh kecil.
__ADS_1