KISAH DI KOS-KOSAN CAMPURAN VERSI ANDRI

KISAH DI KOS-KOSAN CAMPURAN VERSI ANDRI
Pernyataan Pak Yosua


__ADS_3

Aku langsung menyuruh kurir pengantar makanan untuk naik ke atas ketika Tisa sedang ke toilet.


Ya, aku memesan kue untuk Tisa. Emangnya cuma Pak Yosua doang yang bisa kasih kue?!


Aku langsung menaruh kue itu di meja kerja Tisa.


Tapi setelah beberapa menit, Tisa tak kunjung kembali.


"Tisa kemana sih?! Nggak mungkin banget dia kesasar. Orang ini bukan hutan!"


Aku mengetuk-ngetukkan jari ke meja. Tak sabar menunggu Tisa. Aku ingin melihat bagaimana ekspresinya melihat kue itu.


Setelah beberapa lama, akhirnya pintu ruangan terbuka setelah sebelumnya pintu itu diketuk.


Tisa muncul bersamaan dengan terbukanya pintu itu.


"Kamu ke toilet yang ada di Arab kah?! Lama amat baliknya!" ucapku saat dia masuk.


Yang ditanya malah cuma nyengir. Dia berjalan ke meja kerjanya dan melihat kue dariku.


"Tadi aku beli kue kebanyakan. Katanya kan kamu suka kue, jadi aku kasih ke kamu!" Aku menjawab sebelum dia bertanya.


"Makasih ya Ndri!" Tisa tersenyum padaku.


Duuhh, nggak bisa ini! Wajahku terasa panas melihat senyum itu.


"Iya, sama-sama. Sa, tolong buatin aku teh ya."


"Oke, siap!" Tisa bangkit dari duduknya.


"Gulanya dikit ya!" pesanku.


"Oke!"


Saat Tisa keluar dari ruangan aku langsung menghirup nafas banyak-banyak karena tadi aku sempat menahannya gara-gara senyum Tisa.


Aku menyuruh Tisa untuk membuat teh, agar dia tak melihat wajahku yang memerah.


Tapi sama seperti tadi. Tisa tak kunjung kembali.


Padahal membuat teh tak membutuhkan waktu selama ini.


Aku pun memutuskan untuk menyusul Tisa ke pantry.


Aku mengernyit saat melihat Tisa cuma berdiri di pinggir luar pintu pantry.


"Kenapa dia malah nggak masuk dan berdiri di luar?! Memangnya tehnya bisa dibuat melalui telepati?!"


Aku mengendap-endap, berniat mengejutkannya.


Saat aku sudah ada di belakangnya. Tangan yang sudah terangkat ke atas bersiap menepuk pundaknya, tergantung begitu saja saat mendengar percakapan dari dalam pantry.


"Nggak nyangka ya, ternyata Pak Manager bisa senyum juga!"


Aku cuma mengernyit saat mendengar mereka membicarakan Pak Yosua.


"Hah? Manager yang mana?" sahut perempuan yang lain.


"Memangnya Manager yang mana lagi?! Manager kulkas kan cuma Pak Yosua! Manager ganteng tapi selalu dingin sama cewek!!"

__ADS_1


"Serius kamu lihat dia senyum?!"


"Iya! Beneran! Kamu tahu kan asistennya Pak Andri?!"


"Mbak Tisa?"


"Iya! Pak Yosua kalau ngobrol sama Mbak Tisa, wajahnya selalu tersenyum ramah! Kek beda banget kalau lagi sama kita tahu nggak!"


"Mungkin karena Pak Yosua suka sama Mbak Tisa!"


"Udah selesai gosipnya?!" Aku yang sudah tak tahan dengan gosip itu akhirnya menyahut.


Bisa-bisanya mereka ngegosipin Tisa dan Pak Yosua!


Bukan cuma mereka kaget. Tapi Tisa juga ikut kaget. Dia refleks menoleh ke belakang. Dimana aku berdiri tepat di belakangnya.


Tisa juga. Bukannya menegur mereka yang sedang gosip tentang dirinya malah cuma berdiri sambil nguping!


"Sekarang itu lagi jam kerja! Bukan jamnya gosip!"


"M-maaf Pak! Kami minta maaf!"


Secara beruntun, tiga perempuan yang bergosip tadi keluar dari pantry.


"Kalau digosipin sama orang tuh tegur! Jangan cuma nguping!" seruku ke Tisa yang cuma dia aja.


Aku gegas kembali ke ruangan. Dengan segumpal rasa kesal di dada mengingat gosip tadi.


Tak lama, Tisa masuk ke dalam ruangan dengan secangkir teh di tangannya.


Dia menaruh teh ke meja dengan hati-hati dan tersenyum.


"Makasih ya."


"Sama-sama. Kamu nggak suka manis ya?" tanya Tisa yang masih berdiri di depan meja kerjaku.


"Ngapain minum yang manis-manis, aku kan udah manis! Entar kemanisan lagi!" sahutku yang kelewat PD.


Tisa hanya mencebik dan kembali duduk di meja kerjanya.


_________


Pingin makan siang bareng Tisa malah gagal karena Papa malah minta makan siang bareng.


Padahal tadi aku udah bilang makan siang bareng Tisa.


Tapi Tisa malah nyuruh aku duluan karena dia belum selesai.


Dan karena aku berangkat duluan ke kafe, aku jadi ketemu Papa dan akhirnya makan bareng Papa.


Dan di kafe ini juga, aku mendengar beberapa karyawan menggosipkan hubungan Tisa dan Pak Yosua karena sering makan siang bareng. Membuatku telingaku terasa panas.


Kenapa Tisa harus di gosipkan dengan Pak Yosua sih?! Kenapa nggak sama aku aja?!


Tapi ternyata mataku nggak mau kalah sama telinga. Mataku malah ikut-ikutan panas gara-gara melihat Tisa ada di kafe ini juga bersama dengan Pak Yosua.


Tapi aku tak bisa berbuat apa-apa. Karena aku tak hanya makan bersama Papa, tapi juga bersama dengan para kolega Papa.


__________

__ADS_1


Saat jam pulang, tiba-tiba hujan turun dengan derasnya.


Tisa sudah tak ada di dalam ruangan ketika aku kembali dari pantry.


Aku pun gegas mengambil tas dan turun ke bawah.


Bibirku melengkung ke atas saat melihat Tisa berdiri di luar pintu depan kantor yang terbuat dari kaca.


Tanganku urung membuka pintu kaca yang gelap jika dilihat dari luar dan terlihat jelas jika dilihat dari dalam ketika Pak Yosua menghampiri Tisa.


"Tisa? Belum pulang?" sapa Pak Yosua.


Tisa menoleh mendengar suara Pak Yosua.


"Iya, dari tadi hujannya nggak berhenti!"


Suasana kantor sudah sepi karena semua karyawan sudah pulang.


"Nunggu di dalam aja, di luar dingin!" ajak Pak Yosua ke Tisa.


"Nggak papa. Nggak dingin kok!" jawab Tisa.


Di dalam rasanya ada yang panas saat Pak Yosua tiba-tiba membuka jaketnya dan memakaikannya pada Tisa.


"N-Ngak usah Pak!" Tisa berusaha melepas jaket Pak Yosua tapi langsung ditahan oleh Pak Yosua.


"Nggak papa, pakek aja!"


Setelah itu hening beberapa saat di antara mereka. Sementara aku masih berdiri di tempat.


"Tis!" panggil Pak Yosua.


"Hm?"


"Kamu adalah cewek pertama yang aku ajak ke rumah dan Mama langsung suka sama kamu!"


Aku tahu arah pembicaraan ini! Pak Yosua mau menyatakan perasaannya ke Tisa!


Nggak! Aku harus mencegahnya!


Tapi lagi-lagi tanganku urung membuka pintu yang sudah kupegang.


Tiba-tiba timbul rasa penasaran dengan jawaban Tisa jika Pak Yosua benar-benar menyatakan perasaannya.


"Aku ingin lebih dekat denganmu, Tisa!" lanjut Pak Yosua.


"Hah?! Pak Yosua ngomong apa sih?! Kita kan sekarang sudah dekat Pak!" Tisa malah menunjuk jarak antara dia dan Pak Yosua berdiri.


Dasar es batu nggak peka!


"Bukan itu maksudku! Aku ingin lebih dekat denganmu dalam hal hubungan! Aku ingin kita lebih dari teman Tisa!" ucap Pak Yosua yang lebih to the point.


Dan sepertinya Tisa sudah mengerti maksud ucapan Pak Yosua.


"A-aku sama sekali nggak nyangka--"


"Kamu mau nggak jadi pacarku?" Pak Yosua memotong ucapan Tisa.


Dadaku bergemuruh bersamaan dengan suara guntur di luar sana. Aku juga menajamkan telingaku, menunggu jawaban Tisa.

__ADS_1


Plis tolak dia Sa! Jawab dia! Kenapa kamu dia aja?!!


__ADS_2