KISAH DI KOS-KOSAN CAMPURAN VERSI ANDRI

KISAH DI KOS-KOSAN CAMPURAN VERSI ANDRI
Pulang Bareng


__ADS_3

"Biarin ajalah. Nanti kalau pulang kerja juga bakal dibalikin!"


Aku terus melajukan motorku balik ke kosan.


Aku langsung menuju ke dapur begitu sampai di kosan untuk sarapan.


Tapi ternyata di sana ada Iren yang sedang makan juga. Kuhiraukan saja dan makan satu meja dengannya.


Kami makan dalam diam. Aku tak ingin membuka obrolan dengannya.


"Tadi malam Tisa numpang tidur di kamarku!"


"Uhuk uhuk uhuk!" Nasi yang sampai di tenggorokan langsung nyangkut begitu mendengar ucapan Iren barusan.


"Kamu nggak ngapa-ngapain Tisa kan?!" langsung kutarik kerah bajunya.


Iren tersenyum simpul padaku meskipun aku bertanya dengan nada geram.


"Santai aja dong! Nggak usah narik-narik gini!" Iren melepas kerah baju yang kucengkram. Dan mengibasnya seolah terkena debu.


"Aku nggak ngapa-ngapain dia kok! Aku hanya mau ngambil hatinya dulu!" sinisnya. "Kita lihat aja siapa pemenangnya!"


"Awas aja kalau sampai kamu berani ngapa-ngapain dia!" ancamku yang hanya mendapat senyum ejekan dari Iren.


Setelah itu dia berlalu keluar dari dapur.


_________


Di kantor pun aku masih kepikiran dengan ucapan Iren.


"Kenapa Tisa numpang tidur di kamar Iren?! Bukankah aku sudah memperingatkannya? Kenapa dia masih belum mengerti juga? Ck! Dasar! Kalau udah kejadian, baru tau rasa dia!"


Tok tok tok


"Masuk!"


Pak Yosua masuk setelah aku mempersilahkan.


"Hari ini jadwal pertemuan Bapak dengan Direktur Kusuma Grup," ucapnya memberitahu.


Wah, dia memang cocok jadi asisten!


"Tempat meetingnya di kafe dekat kantor Pak!"


Aku hanya mengangguk. Pak Yosua juga memberitahukan bahwa meetingnya akan dimulai sepuluh menit lagi.


Aku langsung bersiap menuju ke kafe yang dimaksud. Ternyata di sana ada Papa juga. Gegas aku menuju meja mereka.


"Apakah dia tahu aku?" tanya pria yang ada di depan Papa. Mereka belum sadar bahwa aku ada di belakang mereka.


"Tidak, aku tidak memberitahunya. Biarkan saja dulu. Aku ingin An-- Eh Ndri, kau sudah datang?" Papa langsung mengubah topik pembicaraan begitu melihatku.


Pria tadi langsung berdiri dan menjulurkan tangannya padaku.


"Selamat siang! Perkenalkan, aku Darma Kusuma. Panggil saja Pak Darma."


Eh? Bukannya dia pria yang di lampu merah tadi pagi?


Aku menerima uluran tangannya. "Andri."

__ADS_1


Ternyata dia Direktur Kusuma Grup. Dia tak mengenaliku karena tadi pagi aku memakai masker.


"Apa kau malu dengan nama Papamu hingga tak menyebutnya di nama panjangmu?!" timpal Papa sambil menatapku.


"Aku rasa beliau sudah tahu nama Papa. Jadi aku tak perlu lagi menyebutnya!" sahutku santai. "Mari kita duduk, dan mulai meetingnya," ucapku pada Pak Darma.


"Ini Pak berkasnya!"


Aku mendongak ke Romi yang baru saja datang. Dia memberikan berkas ke Papa.


"Hei Rom! Kau juga di sini? Kenapa tadi tidak mampir ke kantor dulu?!" tanyaku.


Dia hanya menjawab dengan bahasa isyarat saja.


Ah, aku lupa. Dia selalu akan profesional jika sudah bekerja.


"Tolong jaga sikapmu di depan Pak Darma!" bisik Papa. "Aku tidak mau dia sampai juga berpikiran bahwa kau belok! Aku tidak mau citramu jelek di matanya!"


Kenapa? Memangnya aku mau dijodohkan dengan anaknya?!


Aku tak menjawab ucapan Papa dan langsung memulai percakapan tentang bisnis.


Di sepanjang percakapan, Pak Darma selalu memanggilku dengan sebutan 'Nak'. Seolah aku anaknya.


Aku yang merasa kurang nyaman memintanya untuk memanggil nama saja.


"Senang bekerja sama denganmu!" ucapnya dengan menjabat tanganku setelah meeting selesai karena sudah jam makan siang.


Kami akhirnya memutuskan makan siang di kafe itu.


Aku memilih untuk pindah meja dan semeja dengan Romi agar lebih santai.


"Eh Ndri, kamu tahu anaknya Pak Darma?" tanya Romi.


Yang aku tahu dia itu perempuan. Kabar tentang anak Pak Darma memang sangat populer di kalangan bisnis. Katanya dia juga yang memenangkan tender besar tahun kemarin.


"Katanya, dia keluar dari perusahaan Ayahnya!" ucap Romi lagi. "Nggak tahu alasannya apa. Padahal, kata orang-orang dia itu Putri satu-satunya!"


Aku tak terlalu menanggapi ucapan Romi karena aku tidak terlalu tertarik dengan pembicaraan itu.


Selesai makan dan mengembalikan kunci mobilku, Romi balik ke kantor Papa.


_________


Hari ini aku pulang ke kosan dengan mobil.


Saat ingin belok ke arah kos-kosan. Mataku terbelalak ketika melihat ke kaca spion yang ada di atasku.


Ternyata ada Pak Jarwo yang sedang mengikutiku di belakang.


Aku langsung membanting setir mobil ke arah lain. Terus saja berputar-putar.


Hingga sampai di kawasan pabrik, baru aku bisa kabur dari kejaran Pak Jarwo.


Tiba-tiba mataku menangkap seorang perempuan sedang duduk di bangku pinggir jalan.


Sepertinya itu Tisa?


Dan ternyata benar. Aku melambatkan mobil dan berhenti di depannya.

__ADS_1


Tisa terlihat terkejut begitu aku yang keluar dari dalam mobil. Aku berjalan menghampirinya.


"Ngapain kamu ke sini?!" tanyanya


"Aku mau ambil topi yang kamu pinjam tadi pagi!" Aku menunjuk topi yang dipegangnya.


Alasanku sangat tidak masuk akal! Kita kan satu kosan! Bukankah pastinya nanti Tisa akan mengembalikannya begitu kita bertemu di kosan.


Entahlah, alasan itu keluar begitu saja dari mulutku. Aku sendiri juga tak tahu kenapa aku malah turun dari mobil dan menghampirinya.


"Ya ampun Tisa! Jadi cowok ini yang nganterin kamu tadi pagi itu ya?!! Ternyata cowok kamu tajir ya!" bisik teman Tisa yang duduk di sampingnya.


Aku berusaha untuk tidak tersenyum karena mendengarnya.


"Sudah kubilang dia itu bukan pacar aku!!" Tisa balas berbisik. "Nih! Terimakasih!" Tisa menyodorkan topiku.


"Kamu nggak pulang?" tanyaku basa-basi.


"Kita lagi nunggu angkot Mas!" Bukan Tisa yang menjawab, tapi temannya.


"Kalau gitu, bareng aku aja yuk!"


Aku kaget sendiri. Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutku.


"Nggak usah. Kamu duluan aj--"


"Boleh Mas. Yuk kita masuk mobilnya Tis!" Teman Tisa langsung menarik tangan Tisa dan masuk ke mobil.


Aku langsung melajukan mobil dengan kecepatan normal.


Aku serasa jadi sopir karena mereka berdua duduk di kursi tengah.


"Tis, kamu hebat ya. Aku nggak nyangka kamu ternyata punya pacar tajir!"


Sepertinya aku harus mengajari teman Tisa cara berbisik agar tidak terdengar orang yang bersangkutan!


"Lilis, udah berapa kali aku bilang, dia itu bukan pacar aku!!"


"Tapi Tis, ini kesempatan kamu. Ada cowok cakep, tajir lagi. Langsung sikat aja!!"


"Emangnya kamu kira baju, main sikat aja!"


Aku sedikit terkekeh mendengar jawaban Tisa. Mereka terus saja berbisik-bisik tapi tetap bisa kudengar.


Suasana di dalam mobil menjadi hening ketika teman Tisa sudah turun dari mobil. Tak ada pembicaraan diantara kami.


"Ehem!" tiba-tiba Tisa berdehem memecahkan keheningan. Aku hanya meliriknya dari kaca spion di atasku.


"Melihat dari mobilmu yang bagus, sepertinya kamu bukan orang tidak punya!"


Mata kami bertemu karena Tisa juga melihat kaca spion yang ada di atasku.


"Jangan salah sangka. Mobil ini bukan punyaku. Aku meminjamnya dari temanku," sanggahku.


Aku tidak terlalu nyaman mengakui ini mobilku. Mengingat, dia pernah mempermasalahkan tentang biaya kosan.


Aku takut menyinggung perasaannya jika ternyata dia orang yang tidak punya.


"Hmh! Kau pikir aku percaya? Sebelum berbohong, harusnya kamu copot dulu gantungan yang ada di atasmu itu!"

__ADS_1


Aku mendongak melihat gantungan kayu yang dimaksud. Ada namaku yang terukir di sana.


Aku sudah tak bisa mengelak lagi


__ADS_2