
Untungnya ada taksi yang sedang lewat. Langsung saja aku menghentikankannya dan menggendong tubuh Tisa masuk taksi.
Taksi langsung melaju setelah aku menyebutkan alamat yang aku tuju.
"Sa, bangun Sa!" Aku memeluk Tisa erat.
Ini semua gara-gara drama bod0h ini! Aku nggak mau lagi meneruskan drama konyol ini! Aku nggak mau kehilangan Tisa!
Hatiku sangat sakit melihat Tisa tak berdaya seperti ini.
Segera aku menghubungi Om Darma.
"Halo Om!" sapaku saat telfonku diangkat.
"Aku nggak mau lagi nerusin drama ini Om! Tisa pingsan, aku sekarang lagi menuju rumah sakit!"
Aku langsung mematikan sambungan telfon tanpa menunggu jawaban dari Om Darma.
Terserah dia mau mikir aku calon mantu yang tak sopan. Akan aku bawa kabur Tisa jika kami tak direstui.
_________
Aku mondar-mandir di depan ruangan Tisa dirawat. Dia sedang diperiksa oleh Dokter.
Tak berapa lama, Om Darma dan Bundanya Tisa datang. Bertepatan dengan itu, Dokter keluar.
"Gimana kondisi Tisa Dok?!" tanyaku tak sabar.
"Kondisinya baik-baik saja. Tidak ada luka serius. Dia pingsan hanya karena terlalu panik saja."
"Bagaimana bisa Dokter yakin tidak ada masalah yang serius!" Aku mendadak emosi. "Dia habis jatuh lalu mimisan! Periksa yang benar! Jika nanti ada masalah di kepalanya gimana?!"
"Tenang Ndri, tenang." Bundanya Tisa mengelus pundakku.
"Setelah infus habis, pasien boleh pulang. Saya permisi dulu." Dokter itu berlalu pergi.
"Gimana ceritanya Tisa bisa jatuh?" tanya Om Darma saat kami masuk ke ruangan Tisa. Dia masih memejamkan mata tak sadarkan diri.
"Dia jatuh saat naik sepeda."
"Tisa kan tidak bisa naik sepeda!"
Aku langsung menoleh ke Om Darma."itu karena Tisa terlalu panik mendengar Om dirawat di Rumah Sakit. Dia sampai lupa kalau nggak bisa naik sepeda!" itu kesimpulanku.
Bunda duduk di pinggir ranjang dan membelai lembut kepala Tisa.
"Aku udah nggak mau nerusin drama ini lagi Om! Aku nggak mau kejadian ini sampai terulang lagi."
Om Darma terlihat kaget mendengar keputusanku.
Aku takut kehilangan Tisa. Cukup kali ini aja liat dia tergeletak tak berdaya.
__ADS_1
"Jangan Ndri. Rencana kita tinggal sedikit lagi akan berhasil. Om mohon, tolong bersabar sedikit lagi. Kamu juga dengar kata Dokter tadi kan? Tisa baik-baik aja."
Aku benar-benar nggak ngerti dengan pemikiran Om Darma. Anaknya hampir aja celaka, tapi dia tetap mengedepankan egonya.
"Udah lah Mas, turunkan egomu yang menginginkan Tisa selalu menurut padamu," ucap Bunda. "Apa kau tega melihat anak kita terbaring lemah kayak gini?"
"Aku hanya ingin Tisa tahu, bahwa apa yang aku lakukan untuknya itu yang terbaik. Buktinya, orang yang aku jodohkan dengannya ternyata orang yang dia cintai. Aku hanya ingin dia tahu itu!"
Aku menyentak nafas kasar.
"Tolong mengertilah kalian. Aku juga khawatir melihat keadaan Tisa. Tapi aku ingin putriku kemballi ke padaku dulu. Baru setelah itu aku akan menyatukan dia dengan laki-laki yang dicintainya."
Aku keluar dari ruangan Tisa dirawat untuk mendinginkan kepala. Tak ada yang bisa aku perbuat untuk menghentikan drama konyol ini.
_________
Sudah larut malam, tapi Tisa tak kunjung sadar juga.
Tiba-tiba aja ruangan terbuka. Seorang suster masuk. Dia mengecek infus Tisa yang ternyata sudah habis.
Dia juga mencopot infus di lengan Tisa.
"Sus, infusnya sudah habis. Lalu kenapa Tisa masih belum sadar juga?!"
"Sabar ya Mas. Mungkin sebentar lagi pasien akan sadar."
Aku hanya menghela nafas pasrah.
Orang tua Tisa tertidur di sofa. Sementara aku duduk di samping Tisa.
_________
Malam sudah berganti pagi. Tisa masih memejamkan mata. Entah tertidur atau pingsan.
Dokter bilang keadaannya tidak apa-apa.
"Ndri, dengar ya, Om mau balik ke kamar Om. Kita harus lanjutin drama ini. Tisa sebentar lagi pasti sadar. Om nggak mau kalau sampai Tisa liat Om ada di sini."
Setelah mengatakan itu, Om Darma keluar dengan istrinya.
"Sa, bangun dong. Semaleman kan kamu udah tidur, masa kamu tidur terus sih. Aku aja nggak bisa tidur dari semalam." Aku berbicara sendiri.
Tiba-tiba aja tangan yang kugenggam bergerak. Mata Tisa mengerjap perlahan.
"Tisa! Kamu sudah sadar?!" seruku girang.
Tisa menoleh menatapku dengan alis bertaut.
"Ndri, kenapa kamu ikut bersamaku?" tanyanya yang membuatku heran seketika.
Nggak mungkin kan Tisa hilang ingatan? Perasaan jatuhnya nggak separah itu.
__ADS_1
"Kenapa kamu ikut aku Ndri?" Tisa mengulang pertanyaannya.
"Kamu lupa Sa? Kan kamu minta anterin ke rumah sakit!"
"Rumah sakit?" tanyanya bingung.
"Iya, kita sekarang di rumah sakit."
Dari raut wajahnya, sepertinya Tisa sudah ingat. Tapi tiba-tiba aja matanya membulat.
"Ayah! Aku harus mencari ruangan Ayah dirawat!" Tisa menyibak selimut dan hendak turun.
"Aaargh!" gerakan Tisa terhenti karena merasa sakit. Dia memegangi lututnya yang luka.
"Tisa, hati-hati! Jangan bergerak secara tiba-tiba gitu! Nanti lututmu tambah sakit!" Aku memeganginya agar tak bergerak tiba-tiba.
"Kamu itu habis jatuh! Kenapa tadi malam kamu nggak bilang kalau kepalamu sakit?! Untung saja cideranya nggak parah!"
"Tapi Ndri, aku harus cari ruangan Ayah dirawat!" Tisa tetap ngeyel mau turun dari ranjang.
Ceklek!
Aku menoleh saat pintu dibuka. Bundanya Tisa rupanya yang membuka.
"Tisa! Kamu sudah sadar Nak! Bunda khawatir banget sama kamu tadi malam!" Bunda langsung memeluk Tisa.
"Bunda, di ruangan mana Ayah dirawat?!"
"Ayah ada di ruangan sebelah."
Tisa langsung bergegas berjalan keluar ruangan.
"Tunggu Sa, lebih baik kamu sekarang istirahat dulu supaya lekas pulih." Bunda menahan lengan Tisa.
"Aku nggak papa Bunda." Tisa melepas tangan Bundanya.
Aku masih duduk di tempat semula sambil menghela nafas panjang.
Aku kurang setuju untuk melanjutkan drama ini.
Setelah beberapa menit duduk sendiri di ruangan ini, aku bangkit dan berjalan ke kamar Om Darma dirawat.
Aku melihat Tisa memeluk Ayahnya yang sedang pura-pura tidur.
"Bangun Yah, Tisa udah di sini. Tisa janji bakal nurut kalau Ayah bangun. Kalau Ayah bangun, Tisa akan berusaha untuk jadi anak yang berbakti..."
"Janji?" Om Darma yang awalnya pura-pura tidur membuka matanya.
"Iya, Tisa Janji!"
"Berarti kamu mau menyetujui perjodohan yang sudah Ayah rencanakan?"
__ADS_1
"Asal Ayah bangun, Tisa akan menyetujuinya.."
Akhirnya kata-kata yang ingin didengar Om Darma keluar dari bibir Tisa.