KISAH DI KOS-KOSAN CAMPURAN VERSI ANDRI

KISAH DI KOS-KOSAN CAMPURAN VERSI ANDRI
Jangan Pernah Lewatkan Modus!


__ADS_3

Baru keluar dari lift, aku melihat Pak Yosua yang sedang naik motor ada di depan Tisa.


"Mau pulang?" tanya Pak Yosua ke Tisa yang bisa kudengar karena aku berjalan mendekat ke arah mereka.


Terlihat Tisa hanya mengangguk.


"Ayo naik, aku anterin!"


"Nggak usah. Tisa pulang sama saya!" Aku yang menyahut sambil memegang pundak Tisa.


"Kalau gitu, saya pulang duluan ya Pak," pamit Pak Yosua.


Mataku mengekori kepergiannya sampai menghilang di depan sana.


Apa-apaan tadi itu?! Bukannya dia terkenal dengan julukan kulkas dua belas pintu ya?! Lalu kenapa dia menjadi sok akrab sama Tisa?!


"Ayo kita pulang," ajakku ke Tisa.


"Kamu pulang duluan aja. Aku nunggu Pipit. Katanya dia mau menjemputku."


Mendengar jawaban Tisa, aku langsung merogoh hpku dan menghubungi Pipit.


"Halo Pit?"


[ Ya Ndri, ada apa? ]


"Tisa pulang bareng aku. Jadi kamu nggak usah jemput Tisa ya."


Setelah itu aku langsung mematikan sambungan telfon. Masalah beres.


"Yuk kita pulang!" Aku kembali mengajak Tisa dengan menebar senyuman maut yang kupunya.


Berharap Tisa kepincut. Eh, nggak tahunya malah jadi kepinjal dia. Kutu kucing, yang suka loncat-loncat dan susah ditangkap.


,_________


Di perjalanan, hening. Sama sekali tak ada perbincangan antara aku dan Tisa.


Tisa memilih menyibukkan dirinya dengan benda pipih pintar itu.


Entah apa yang dilihatnya di sana. Dari tadi dia senyum-senyum terus.


Tisa senyum-senyum kenapa sih?! Apa dia udah punya pacar ya?!


Aku berdecak kesal saat dia tertawa kecil.


Sebenarnya dia nganggap aku benda hidup apa benda mati sih?! Kenapa dia cuma sibuk sama hpnya?!


BRUUUMM!!


Aku menambah kecepatan mobil dan membelah jalan dengan kencang.


"Ndri! Jangan kencang-kencang!!" pekik Tisa.


Meskipun jalanan sedang padat, aku tak ada niatan untuk menurunkan kecepatan.


Aku menyalip motor dan mobil dengan menirukan gaya Han di film Fast and Furious.


Saat menyalib truk besar, tiba-tiba dari arah depan ada sebuah bus pariwisata.


"AWAS NDRI!!!!"


Dengan cepat, aku langsung membanting stir ke kiri.


Aku hanya tersenyum, melirik Tisa dari sudut mata. Akhirnya dia memperhatikanku.


"Ndri! Pelan-pelan!! Bakso masih enak!!" teriaknya. "Aku nggak mau mati dulu!!"


Aku terkekeh dalam hati dan menurunkan kecepatan mobil.


Dalam keadaan panik pun dia masih memikirkan makanan.


"Kamu kenapa sih?!" Tisa menatapku kesal.


Lihat! Aku berhasil membuatnya menatapku!


"Makanya, jangan main hp mulu! Ada orang nih di sampingmu! Ajak ngobrol kek!" sungutku.


Terdengar Tisa membuang nafasnya.

__ADS_1


"Namamu siapa?" tanyanya yang membuatku langsung menoleh menatapnya.


"Kamu sudah lupa dengan namaku?!"


"Maksudku nama panjang!"


Ah, aku tahu! Jadi dia sedang berusaha mencari topik pembicaraan.


Lucu juga. Masa iya dia mengawali pembicaraan ini dengan nanya nama. Tapi hargain ajalah.


"Andri Putra Wijaya," jawabku kemudian.


"Hobimu apa?"


"Main gitar."


"Status?"


"Beristri!"


Hampir saja tawaku pecah melihat ekspresi terkejut Tisa karena jawabanku barusan.


"Aku kan tetanggamu! Masa kamu nggak tahu statusku! Aku juga tinggal sendiri. Jadi sudah jelas kalau aku itu belum menikah!!"


"Ais! Cari topik pembicaraan itu susah tahu! Jarang ada cewek yang memulai pembicaraan di luar sana. Jadi hargain dong!!" sahutnya kesal.


Aku terkekeh melihat wajah kesalnya. "Iya-iya. Maaf. Sekarang giliranku deh yang bertanya sama kamu. Kamu suka apa?"


"Aku suka uang!" jawabnya cepat tanpa mikir.


Ah elah nih es batu! Padahal niatnya kan aku nanya itu karena ingin tahu dia suka apa.


"Semua orang juga suka uang kali! Maksudku itu.. ah, udahlah. Ganti pertanyaan aja! Makanan kesukaanmu apa?"


"Semua makanan yang gratis aku suka! Kecuali udang sama kepiting."


Hahaha! Dasar!


"Hobi?"


"Baca komik, novel, dan nonton anime!"


"Status?"


"Hah?! Janda?!!" Seriusan Tisa itu janda?!


Aku yang terkejut langsung menoleh menatap Tisa.


Tapi yang kutatap malah tersenyum santai.


"Kamu beneran janda?" Aku mengulang pertanyaanku.


Bukannya menjawab, Tisa malah tertawa ngakak.


"Kok malah ketawa sih?!"


"Habisnya pertanyaanmu itu lho! Tadi aku diprotes, karena memberikan pertanyaan itu. Sekarang kamu sendiri juga nanya tentang status!"


"Ck! Maksudku, kamu itu udah punya pacar atau single?" sahutku tak sabar.


Karena dari tadi Tisa senyum-senyum terus sambil lihat hp. Siapa tahu dia ternyata udah punya pacar.


"Aku, single.. parent!"


"Hah?!" Aku kembali terkejut dan menoleh ke Tisa. Lagi-lagi dia malah tertawa.


"Ahaha! Nggak. Bercanda aku, bercanda!"


"Aish! Yang serius dong!"


Tisa masih saja terkekeh melihatku yang kesal.


"Oh iya, Ndri. Sebenarnya Pipit mau menjemputku tadi, itu karena aku mau ikut ke rumahnya. Sejak Ibunya Pipit lahiran, aku belum menjenguknya."


"Kalau gitu, kita jenguk bareng aja! Aku juga mau lihat Adeknya Pipit," timpalku.


"Oke."


"Kamu bawa apa kesana?"

__ADS_1


"Bawa badan!" Tisa malah ngelawak lagi.


"Aish, Tisa! Aku nanya serius nih!"


"Dua rius juga nggak papa!"


"Hiigh!!" Aku mulai geregetan, membuatnya kembali terkekeh.


Sejujurnya aku pura-pura kesal, karena dengan itu Tisa terus-terusan menunjukkan tawa lebarnya yang jarang aku lihat.


"Kamu kan mau jenguk bayi baru lahir, masa kamu nggak bawa apa-apa sih?!"


"Kamu kan tahu kalau aku belum gajian. Emangnya aku mau beli pakek apa?!"


"Oh iya-ya!" Aku baru ingat kalau Tisa belum gajian. Pastinya dia juga nggak punya duit lah.


"Uh iya-ya!" Tisa menirukan apa yang aku ucapkan barusan dengan bibinya yang dimonyongkan.


Aku terkekeh melihat. Sepertinya dia sudah mulai nyaman denganku. Buktinya dia sudah berani mengolokku.


Aku menghentikan mobilku di sebuah toko perlengkapan bayi.


"Ndri, ngapain kita kesini?!"


Pertanyaan yang membuatku pingin nyubit hati Tisa. Sekalian ngukir namaku di sana.


"Beli peralatan masak!" selorohku. "Ya pasti beli perlengkapan bayi lah!"


"Tapi aku--"


"Tenang, kita beli perlengkapan bayi pakek uangku!" potongku sambil menepuk dadaku sendiri.


Sebelumnya aku belum pernah ke toko perlengkapan bayi. Ini pertama kalinya aku masuk kesini.


"Kita beli apa ya Ndri?"


"Anda bertanya ke orang yang salah Buk. Aku nggak pernah menjenguk bayi. Lagian kan kamu cewek, masa tanya ke cowok sih?!"


"Aku juga nggak pernah menjenguk bayi!!"


"Permisi Mbak, Mas." Seorang perempuan menghampiri kami. Melihat dari bajunya, sepertinya dia pegawai toko ini. "Ada yang bisa saya bantu?"


Aku dan Tisa saling melempar pandang.


"Kita cari baju bayi Mbak!" sahutku.


"Eh, tunggu dulu!! Kita kan nggak tahu ukuran baju yang mau kita beli!!" ucap Tisa.


"Iya juga ya." Aku menggaruk kepalaku yang tak gatal. "Gimana kalau kita beli pampers?"


"Kita kan juga nggak tahu ukuran pampersnya!!"


"Terus beli apa dong?!"


Pegawai toko tadi tertawa kecil melihat perdebatan kami.


"Biar saya bantu untuk membeli perlengkapannya," ucap pegawai toko. "Bayinya laki-laki atau perempuan?"


Bukannya menjawab, Tisa malah melongo.


"Saya belum tahu Mbak!" tutur Tisa ke pegawai toko itu.


Pegawai itu tersenyum menatap Tisa. "Oala, belum USG ya Mbak? Sudah dapat berapa bulan?"


Hah?!


"Hah?! Apanya yang berapa bulan Mbak?" tanya Tisa bingung. Aku pun juga bingung.


"Hamilnya Mbak sudah berapa bulan?" tanya pegawai toko itu lagi.


Ahaha! Jadi dia ngira Tisa sedang hamil!


Eh, tapi boleh juga nih bikin sandiwara biar bisa makin deket sama Tisa.


"Maaf Mbak, tap--"


"Masih satu Minggu Mbak." Aku memotong ucapan Tisa, sembari merangkulkan tanganku di bahunya.


Setiap ada kesempatan, jangan pernah lewatkan modus!

__ADS_1


__ADS_2