KISAH DI KOS-KOSAN CAMPURAN VERSI ANDRI

KISAH DI KOS-KOSAN CAMPURAN VERSI ANDRI
Mencegah Sebelum Diambil


__ADS_3

Aku senyum-senyum sendiri menunggu Tisa keluar dari toilet. Tak sabar rasanya ingin melihat ekspresinya setelah melihat foto yang kukirim.


"Harusnya sih, saat ini dia udah liat foto Naruto yang kukirim. Tapi kok dia nggak chat atau telfon ya?" Aku mengecek hp yang aku buat untuk menyamar.


Begitu mendongak, aku melihat Tisa sudah keluar dari toilet dan berjalan ke arahku. Segera aku memasukkan hpku yang kedua.


Hampir saja aku keceplosan ketawa saat melihatnya berjalan kemari dengan kaki yang dihentak-hentakkan.


"Kok lama banget sih?" Aku pura-pura bertanya. "Kamu--" tawaku hampir saja meledak saat melihat ekspresi wajahnya yang kesal.


"Kamu sembelit ya?" tanyaku setelah berhasil menahan tawa.


"Aish! Sembelit dari mananya? Orang aku tadi cuma buang air kecil kok!" kesalnya.


"Ya habisnya, ekspresi wajahmu jadi seperti itu setelah keluar dari kamar mandi. Dan lagi kamu ke kamar mandinya lama banget. Aku pikir kamu sembelit," sahutku sambil nyengir.


Tisa hanya melirikku dengan ekspresi kesal.


"Udah sore nih, pulang yuk!" ajakku, yang dijawab Tisa hanya dengan anggukan kepala.


_________


Tisa diam saja selama perjalanan pulang. Mungkin dia sedang kesal dengan laki-laki yang dijodohkan dengannya yang tak lain dan tak bukan adalah aku. Hahaha.


Setelah dari bioskop tadi, kami langsung pulang ke kos-kosan.


Aku langsung memarkirkan mobilku di rumah Ibu kos.


"Andri," panggil Tisa ketika aku baru saja mematikan mesin mobil.


"Ya?" Aku menoleh menatapnya.


"Setelah aku pikir-pikir, kamu kan udah setuju dengan perjodohanmu sama Indah, terus kenapa sekarang kamu nggak pulang ke rumah aja? Alasan kamu ngekos karena kamu dulu nggak setuju dengan perjodohan itu kan?" tanyanya yang membuatku langsung terdiam.


Kenapa Tisa sampai berpikir sejauh itu? Aku harus jawab apa nih?! Aku kan tetep ngekos ya karena jodoh aku itu kamu Sa!


Otakku terus berputar mencari jawaban yang tepat.


"Aku udah terlanjur bayar uang kos beberapa bulan. Rugi kalau aku tiba-tiba keluar dari kos. Uangnya juga nggak bakal kembali!" jawabanku malah membuat Tisa tertawa.

__ADS_1


"Ndri, kamu kan direktur. Banyak duit. Masa cuma keluar uang segitu aja dibilang rugi?" ucapnya seraya tertawa.


"Terus kamu sendiri gimana? Bukannya kamu juga udah menyetujui perjodohan yang dilakukan Ayahmu ya?" Aku membalik pertanyaannya ke Tisa. "Kenapa kamu juga nggak pulang ke rumahmu?"


Nah kan! Bingung dia!


"Ya.. kalau aku kan sedikit beda. Aku masih memikirkan cara membatalkan perjodohanku!"


Aku mengernyit mendengar jawabannya.


"Kamu mau ngerencanain apa lagi Sa?"


"Ya kan aku masih mau memikirkan, jadi rencananya masih belum ada!" sahutnya sambil membuka pintu mobil dan keluar.


"Tisa, Andri!" panggil seseorang ketika aku dan Tisa akan meninggalkan pelataran rumah Ibu kos.


Aku dan Tisa kompak menoleh.


Terlihat Ibu kos di ambang pintu rumahnya. Di sampingnya berdiri seorang laki-laki yang tidak kami kenal.


"Ada apa Bu?" tanyaku. Kami pun berjalan menghampiri Ibu kos.


"Lho Bu, bukannya kos-kosannya udah full ya?" tanya Tisa.


"Itu, si Putri udah pindah kos. Jadinya satu kamar kosong."


Tisa manggut-manggut mendengar jawaban Ibu kos.


Aku mengernyit tak suka saat melihat Tisa seperti meneliti cowok yang ada di samping Ibu kos.


Tiba-tiba saja, cowok itu mengulurkan tangannya pada Tisa.


"Faiz," ucapnya menyebutkan nama.


"Tisa," ucap Tisa seraya menerima uluran tangannya.


Setelah itu, cowok yang bernama Faiz tadi mengulurkan tangannya padaku.


"Andri," ucapku ketika menerima uluran tangannya.

__ADS_1


Aku tidak terlalu menyukainya! Awas aja kalau dia berani mendekati Tisa.


"Kalian kan mau pulang ke kos ya, salah satu dari kalian bareng Faiz ya. Soalnya dia masih nggak hafal jalan ke kosan," pinta Ibu kos.


"Biar aku aja yang bareng Faiz!" seruku cepat.


Aku tidak akan membiarkan dia bareng sama Tisa!


"Ndri, kamu kan cowok. Harusnya kamu yang ngalah jalan kaki ke kosan. Biar Tisa yang ikut Faiz sambil nunjukin arah jalan ke kosan!"


Aku menoleh mendengar ucapan Ibu kos.


Ini bukan soal cewek atau cowok! Ini adalah mencegah sebelum Tisa diambil orang!


Tapi, mau nggak mau aku harus mengalah. Karena si Faiz itu udah siap dengan motornya maticnya.


Aku hanya bisa pasrah saat Tisa naik ke motor Faiz dan meninggalkanku yang masih berdiri di depan pelataran rumah Ibu kos.


"Ndri! Kamu jangan kuatir!" seru Ibu kos tiba-tiba.


"Kuatir kenapa Bu?" tanganku heran.


"Kamu aslinya cemburu kan Tisa bareng Faiz?!"


Aku terkejut mendengar ucapan Ibu kos.


"Kok Ibu bisa ta--"


"Ya tau lah!" potong Ibu kos. "Ibu ini udah umur berapa. Kalau masalah yang gituan mah udah jelas kali! Apalagi liat ekspresi wajah kamu!"


Emang sejelas itu?!


"Kalian itu pacaran ya? Karena tak liat, kalian sering pulang bareng."


Aku diam tak menjawab pertanyaan Ibu kos.


"Tenang Ndri, Tisa itu bukan tipe yang jelalatan. Ibu bisa jamin itu! Ibu aja pernah nawarin anak ganteng Ibu ke Tisa. Tapi dia nggak ngelirik sama sekali!"


Jiah! Emang baju, pakek ditawarin segala?!

__ADS_1


Kalau sama Tisa aku percaya. Tapi Faiz? Aku harus waspada dengannya!


__ADS_2