KISAH DI KOS-KOSAN CAMPURAN VERSI ANDRI

KISAH DI KOS-KOSAN CAMPURAN VERSI ANDRI
Rencana Makan Malam


__ADS_3

"Andri. Kamu Andri kan?"


Gawat! Pipit mengenaliku! Gimana ini?


"Meskipun kamu pakek masker, aku tau ini kamu Ndri."


Aku ngaku atau kabur aja?


"Ngapain kamu pakek hitam-hitam gini Ndri? Dan apa ini? Kalau emang ini buat Tisa, ngapain pakek acara titip-titipan segala, kenapa nggak kasih langsung aja?"


Mataku membulat saat Pipit tiba-tiba melihat isi dari paper bag itu.


"Gaun pengantin?!" Pipit mendongak menatapku. "Apa ini maksdutnya Ndri? Jangan-jangan, kamu ..."


Akhirnya mau tak mau aku harus menjelaskan semuanya pada Pipit.


"Pokoknya kamu nggak boleh bilang sama Tisa. Ini semua rencana Ayahnya. Kamu pura-pura nggak tau aja isi paper bag itu dan kasih ke dia."


Untungnya Pipit nurut, dia mengangguk sambil tersenyum.


"Nggak nyangka ya. Orang yang dijodohin sama Tisa itu ternyata kamu Ndri. Sengaja kabur karena nggak setuju dijodohin. Eh ternyata jodohnya ada didekatnya!" Pipit terkekeh.


"Aku sebenarnya kurang sreg dengan rencana ini Pit. Tapi mau gimana lagi, ini rencana Ayahnya."


"Yaudah Ndri, aku mau kasih ini ke Tisa," ucap Pipit. Bukannya masuk ke kamar Tisa, dia malah ke dapur dulu.


Aku pun mengeluarkan hp keduaku yang buat penyamaran untuk menelfon Tisa yang sedari tadi nggak bisa dihubungi.


Aku senang saat mendengar nada tersambung dan telfonku langsung diangkat olehnya.


"Aku kira kamu udah ganti kartu aja. Dari tadi aku telfon nggak bisa," ucapku dengan sedikit mengubah suaraku.


[ Apa maksudnya gambar Naruto yang kamu kirim?! ] tanyanya ngegas.


"Ahaha. Jadi kamu udah liat ya. Gimana? Aku ganteng kan? Atau jangan-jangan, kamu udah jatuh cinta sama aku?"


[ Dih, nggak jelas banget tahu nggak sih! ]


"Apanya yang nggak jelas? Bukannya kamu suka Naruto ya? Makanya aku kirimin kamu gambar Naruto."


[ Dari mana kamu tahu kalau aku suka Naruto? ]


Tut tut tut.


Belum sempat aku menjawabnya, Tisa udah matiin sambungan telfon duluan.


"Dasar Es Batu! Belum juga aku selesai ngomong, udah dimatiin duluan."


Aku pun melangkah ke kamar untuk ganti baju. Setelah itu aku ke dapur dan duduk-duduk disana.


"Tisa pasti sekarang udah liat baju yang aku kirim."


Aku pun mengetik pesan untuknya.


[ Gimana? Gaun pengantinnya udah kamu coba belum? Bagus kan gaunnya? ]


Aku tersenyum begitu melihat dua centang abu-abu tadi berubah jadi biru yang artinya pesanku dibaca olehnya.

__ADS_1


"Faiz!" terdengar teriakan Tisa di luar. Nadanya marah. Entah apa yang terjadi.


Terdengar Tisa juga berkali-kali menggedor pintu dan memanggil nama Faiz.


Gedoran pintu tadi berhenti. Lalu tak lama muncul Tisa di ambang pintu dapur.


Dia tak masuk. Cuma melihatku sekilas lalu pergi entah kemana.


"Ada apa sih?"


Baru juga ingin beranjak dari kursi Pipit masuk ke dapur.


"Ndri! Tisa ngiranya Faiz itu orang yang dijodohin sama dia!"


"Hah? Kok bisa Pit?"


"Ya karena pas dia tanya paper bag tadi dari siapa, aku jawabnya dari Faiz," jawab Pipit dengan menggaruk kepalanya.


"Terus dimana dia sekarang?!"


"Lagi nyari Faiz buat nanyain kebenarannya. Mungkin di kamar mandi."


Gegas aku keluar dari dapur.


Begitu aku sampai di kamar mandi. Ada Tisa dan Faiz yang sepertinya sedang ngobrol di sana.


Apa-apaan Faiz itu?! Kenapa dia telanjang dada?! Dikira cuma dia aja yang punya perut kotak-kotak?!


Segera aku menghampiri Tisa dan menutup matanya.


"Ck, siapa sih?!" Tisa berusaha melepaskan tanganku dari matanya.


Sengaja kayaknya dia mau pamerin perutnya ke Tisa.


"Ndri, lepasin! Kamu apa-apaan sih?!" Tisa berusaha melepaskan tanganku dari matanya. Tapi aku tetap menutupi matanya.


Kamu cuma boleh melihat perut kotak-kotakku Sa! Nanti setelah kita nikah nanti!


"Anu, tadi baju gantiku jatuh dan basah. Jadinya aku nggak bisa dipakek deh!" ujar Faiz sambil menunjukkan baju yang terlihat basah di tangannya.


Alasan aja dia!


"Di sini hawanya agak dingin, cepetan pakek baju sebelum kamu masuk angin!" ucapku pura-pura menasehati.


"Iya Ndri, makasih nasehatnya. Aku keluar duluan ya," sahut Faiz sambil keluar dari kamar mandi.


Akhirnya keluar juga si Pakis itu.


"Auww!!" Aku memekik saat kakiku diinjak oleh Tisa. Membuat tanganku terlepas dari matanya.


"Tisa! Kamu apa-apaan sih?! Sakit tahu!"


"Kamu yang apa-apaan! Ngapain kamu nutup mataku segala?!"


"Tadi mata kamu ada beleknya! Aku nggak mau Faiz melihatnya dan kamu jadi malu!"


Hahaha. Mulutku cepat sekali membuat alasan.

__ADS_1


"Apa? Belek?" Tisa meraba-raba ujung matanya. "Nggak ada tuh!"


"Kan aku bilang tadi!"


Tisa menatapku dengan alis menyatu seakan tidak percaya dengan alasanku barusan.


"Udah ah, minggir sana! Aku mau mandi!" Aku sedikit menyenggolnya agar Tisa sedikit minggir.


"Aish! Kalau mau mandi ya mandi aja! Nggak usah pakek dorong-dorong segala! Lagian aku juga nggak menghalangimu!" sahutnya kesal.


Saat aku masuk ke dalam kamar mandi dan ingin menutup pintunya, kulihat Tisa masih berdiri di sana.


"Ngapain kamu masih di sini? Kamu mau ngintipin aku mandi ya?!"


"Apa?!--" mata Tisa melotot padaku.


Aku segera menutup pintu sebelum Tisa protes.


Sebenarnya aku cuma pura-pura mandi. Kan tadi aku udah mandi.


Aku kembali ke kamar dan menyambar hp. Kuhubungi Es Batu kesayanganku.


[ Halo? ] sapa Tisa di seberang telfon.


"Gimana? Kamu udah coba gaunnya? Pasti cocok kan?" ucapku dengan bangga.


Ya iyalah pasti cocok. Kan dia udah nyobain ke butiknya langsung!


[ Bagaimana kau bisa tahu ukuran bajuku? ] tanyanya.


"Sudah kukatakan aku tahu segalanya tentangmu. Jika aku tahu ukuran sepatumu, bagaimana mungkin aku tak tahu ukuran bajumu!"


Tisa terdiam tak menjawab.


"Kau juga suka dengan model gaunnya kan? Aku tahu kau tidak menyukai baju yang terlalu terbuka. Makanya aku memilihkan gaun itu!" ucapku kian bangga.


Tisa masih diam tak menjawab. Mungkin dia terharu calon suaminya ini sangat peka dan tau semua tentangnya.


"Aku tahu, kau pasti sekarang sangat terharu karena mendapat calon suami yang peka dan sangat perhatian. Kalau gitu aku tutup dulu ya."


Klik!


Aku langsung mematikan sambungan telfon tanpa menunggu jawabannya.


Aku pun merebahkan tubuhku di kasur dengan senyum yang terukir di bibir.


Tak berapa lama ada telfon masuk dari camer, Ayahnya Tisa maksdutnya.


"Halo Om. Ada apa?"


[ Ndri, besok kita makan malam sama Tisa. Kamu juga datang ya. Barusan Om udah ngabari Tisa supaya dateng. Dan dia setuju. ]


"Siap Om."


Setelah dua kata itu sambungan telfon terputus.


Aku tak sabar rasanya buat makan malam bareng Tisa dan keluarganya besok.

__ADS_1


"Eh, tunggu dulu! Kalau besok aku datang kesana, bukannya artinya Tisa jadi tahu kalau jodohnya itu aku ya?!


__ADS_2