
Kami sampai di kosan saat jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam.
Aku langsung melepas jasku untuk ganti baju.
Tok tok tok.
Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu kamarku. Aku langsung membukanya.
"Pakek baju dong woi!!" Tisa memalingkan wajahnya.
Astaga. Iya, aku belum pakek baju!
Aku memandang diriku sendiri yang memang baru memakai celana pendek selutut.
Aku langsung masuk lagi ke dalam kamar dan memakai kaos oblong.
"Sorry! Ini aku udah pakek baju."
Tisa menoleh. Dia terlihat memandang ke dalam kamarku.
"Ada apa?"
"Lampu kamarku mati. Kok punya kamu nyala ya?" tanya Tisa. "Sepertinya bohlamnya yang mati!"
Aku melongokkan kepalaku, melihat kamar Tisa yang gelap.
Semua lampu di sini menyala. Kecuali kamar Tisa. Sepertinya memang bola lampunya yang mati.
Kemudian Tisa sibuk dengan benda pipih di tangannya. Dia menghubungi Ibu kos.
"Ibu kos lagi di luar kota, besok sore pulangnya," ucapnya setelah selesai berbicara dengan Ibu kos.
"Ya udah, kamu tunggu aja Ibu kos pulang."
"Nggak bisa! Aku nggak bisa tidur kalau lampunya mati!"
"Kamu ini, lampu mati aja nggak bisa tidur. Nggak bisa gelap-gelapan dong pas di malam pertama kamu nanti!" godaku sambil tersenyum ke Tisa yang langsung mendapat pelototan mata darinya.
"Dasar mesum! Kenapa malah bahas malam pertama?!" Tisa memukul lenganku dengan keras. "Lagian kamu sendiri kan juga nggak bisa tidur kalau lampunya mati!"
Aku hanya terkekeh saja karena aku pun tak bisa tidur jika lampu mati.
"Mumpung masih jam tujuh, mending kita cari toko yang jual bohlam lampu! Kalau kemalaman, entar tokonya malah tutup!" usulku.
"Iya juga sih. Tapi ngomong-ngomong, toko yang jual bohlam lampu dimana ya?"
"Kenapa malah nanya ke aku. Aku kan baru di sini! Harusnya kamu yang lebih tahu. Kan kamu udah lama di sini."
"Ck. Meskipun aku udah lama di sini, tapi aku nggak tahu!"
"Ya udah, kita cari bareng-bareng aja toko yang jual bohlam lampu!" Aku memberi usul lagi.
Kami pun akhirnya pergi mencari toko yang jual bohlam lampu. Sepertinya keadaan berpihak padaku agar aku bisa terus jalan sama Tisa.
_________
Setelah beberapa menit berkeliling, akhirnya kami menemukan toko yang bertuliskan 'Toko Elektronik'.
Tisa membunyikan lonceng saat masuk ke dalam toko.
Setelah lonceng dibunyikan tiga kali, keluarlah seorang pria Cina paruh baya berkacamata.
Kenapa kebanyakan orang Cina selalu punya toko ya?
"Mau cari apa?" tanyanya dengan nada khas orang Cina.
"Cari lampu Koh!" jawab Tisa.
"Wah, kebetulan sekali. Sekarang lampu lagi promo!" Pria di depan kami tersenyum sambil membetulkan letak kacamatanya.
"Saya ada lampu bagus! Lampunya juga bisa buat diskotik. Tinggal dikontrol pakek remote aja!" Engkoh Cina itu menunjukkan sebuah remote kecil.
Dia menunjukkan dua tombol di remote itu, warna merah dan hijau.
"Pencet hijau untuk normal, dan pencet merah untuk lampu diskotik," ucapnya menjelaskan. Tisa hanya manggut-manggut saja.
Sementara aku hanya mesam-mesem.
Niat cari lampu biasa, malah ditawarin lampu diskotik! Hahaha.
__ADS_1
"Harganya, satu juta!"
Mata Tisa membulat mendengar harga lampu itu.
"Maaf Koh, lampu yang biasa aja ada nggak?"
Engkoh Cina menurunkan kacamatanya untuk melihat Tisa
"Jadi kamu nggak mau lampu bagus ini?!" tanyanya.
"Lampunya kebagusan Koh! Orang cuma buat kamar doang kok!" sahut Tisa.
"Oohh, jadi buat kamar tidur?"
Tisa mengangguk.
"Ini, saya juga ada lampu bagus yang lain. Cocok buat kamar tidur!" dia mengeluarkan lampu dengan ukuran lebih kecil dari yang tadi.
"Istimewanya lampu ini, warnanya temaram. Menambah kesan romantis!" ucap Engkoh Cina itu dengan memperagakan tangannya seolah sedang membaca puisi.
"Saat pasangan kita ada di bawah lampu ini.."
Lah, kenapa pembahasannya melenceng ke sana? Tapi, bagus juga sih rekomendasinya. Bisa buat masa depan kelak! Hahaha.
"Warna temaramnya membuat pasangan kita jadi terlihat makin cantik atau ganteng. Membuat kita jadi lebih bergairah untuk melakukan 'itu'!"
"Hah? Melakukan apa Koh?" Tisa malah menanyakan yang sudah jelas-jelas artinya 'itu'.
"Aish! Masa begituan masih harus diperjelas sih?!" ucap Engkoh sambil tersenyum malu. "Memangnya apa lagi yang akan dilakukan sepasang suami istri di dalam kamar dengan lampu yang temaram, kalau bukan gini-gini?!"
Engkoh itu memperagakan orang yang berhubungan badan dengan kedua tangannya.
Aku hanya terkekeh melihatnya. Boleh banget nih lampu.
"Maaf Koh, tap--"
"Saya beli Koh" Aku memotong ucapan Tisa dan meraih lampu itu.
Aku mengamati lampu itu lekat-lekat. "Ini beneran bisa buat suasana makin romantis Koh?"
"Beneran! Kalau nggak percaya, nanti malam kalian coba aja!" ucap Engkoh Cina dengan nada yang sangat meyakinkan.
Dia pasti mengira aku dan Tisa adalah pasangan suami istri.
"Oke Koh, saya jadi beli!"
Pria di depanku tersenyum senang.
"Saya beli dua lampu Koh. Yang satunya lampu biasa, yang standar," ucapku. Lampu yang standar untuk lampu kamar Tisa.
"Ndri, untuk apa kamu beli lampu itu?!" bisik Tisa.
"Ya buat kamar kamu lah!"
"Bukan lampu yang itu, tapi lampu yang satunya!"
"Oh, lampu itu akan kupasang di kamarku ketika aku sudah punya istri nanti!" Aku tersenyum ke Tisa penuh arti.
_________
Kami menggunakan meja dapur yang kakinya tidak sama tingginya. Membuat goyang-goyang saat aku naik ke atasnya.
Tisa memegangi mejanya saat aku naik supaya tidak bergoyang.
Saat aku hendak berdiri, tiba-tiba saja meja yang aku pijak bergoyang.
"Eh, Sa Sa!! Jangan digoyangin, nanti aku jatuh!!" Aku kembali duduk jongkok karena mejanya bergoyang.
"Ahaha! Santai aja kali Ndri. Ini di bumi, kalau jatuh pasti kebawah!"
"Aish! Yang serius dong Sa! Ini lampunya mau dipasang atau nggak?!!"
"Ahaha, iya-iya maaf."
Saat aku hendak berdiri kembali, Tisa dengan sengaja menggoyang mejanya lagi.
"Tisa!!" Aku kembali duduk jongkok sambil berpegangan pada pinggiran meja agar tak jatuh.
Sementara Tisa malah terkekeh melihatku. Bisa jail juga nih es batu.
__ADS_1
"Ya udah deh, aku nggak mau masangin lampunya!" Aku langsung turun dari meja.
"Eh Ndri! Jangan gitu dong. Ayo naik lagi! Aku janji nggak akan goyangin lagi deh!"
Aku bergeming tak menanggapi ucapan Tisa.
"Ayo lah Ndri, masa gitu aja ngambek. Naik lagi ya, pliss!!"
"Tapi janji ya, jangan digoyangin!"
"Iya, janji!" Tisa mengangguk mantap.
Aku mulai naik lagi ke atas meja. Tapi kali ini Tisa tak memeganginya yang membuat meja bergoyang saat aku hendak berdiri.
"Nggak bisa berdiri! Pegang dong, biar bisa berdiri!"
"Iya-iya, ini aku pegangin!" Tisa menurut, dia memegangi meja agar tidak bergoyang.
Tapi aku masih duduk jongkok, takutnya Tisa mau jail lagi.
"Kok nggak berdiri sih?!"
"Wajahmu itu tidak meyakinkan! Gimana nanti kalau kamu goyang-goyangin?!"
"Ck. Ya ampun Andri! Aku janji, beneran! Aku nggak akan goyangin lagi!!"
"Beneran ya, awas kalau nanti kamu goyangin!"
"Iya, beneran! Ayo cepat berdiri. Aku udah ngantuk nih!"
Aku pun berdiri dan mulai memasang lampunya.
"Ck, lubangnya mana sih?! Nggak masuk Sa, gelap!"
Seketika Tisa langsung menyenteri fiting lampu menggunakan senter hp.
"ASTAGA! KALIAN BERDUA NGAP-"
Aku terkejut mendengar teriakan bersamaan dengan terbukanya pintu kamar Tisa.
Di ambang pintu Tante Sarah, orang yang pernah menjambak Tisa menyorotkan senternya ke kami. Di sampingnya berdiri suaminya.
"Loh, kok Andri berdiri di atas meja? Kalian ngapain?!"
Kami bingung dengan pertanyaannya. Dia sendiri yang tiba-tiba teriak nggak jelas, malah bingung sendiri.
"Bukannya kalian itu sedang--"
"Kami sedang mengganti lampu. Bohlam lampu kamarku mati!" Tisa memotong ucapannya.
Terlihat Om Hendra mengusap kasar wajahnya.
"Ya ampun Sarah!! Mereka itu sedang mengganti lampu! Bisa-bisanya kamu nuduh mereka sedang wik-wik! Bahkan kamu sampai membangunkan aku yang sedang tidur!"
Mataku membulat mendengar ucapan Om Hendra.
Apa?!! Wik-wik? Jadi aku disangka wik-wik sama Tisa?! Kok bisa?
"Ya, maaf Mas. Aku nggak tahu. Habisnya, waktu lewat depan kamar ini tadi aku mendengar percakapan yang menurutku aneh."
Percakapan aneh? Percakapan yang mana?
"Tadi aku denger, Andri nggak mau naik karena Tisa udah goyangin. Aku yang mendengar itu dari luar, jadi negatif thinking dong! Aku pikir mereka sedang gituan!"
Aku teluk jidat mendengar tuturan Tante Sarah.
"Aku pun lanjut nguping. Dan setelah itu aku mendengar, Tisa nanya 'kok nggak berdiri sih?!' Aku yang hanya nguping dan tidak melihat apa yang terjadi di dalam, jadinya aku malah berpikir punya Andri belum berdiri!" mata Tante Sarah mengarah ke selangkang*nku.
Bisa-bisanya dia mikir gitu!
"Aku pun jadi tambah negatif thinking! Lalu aku mendengar Andri mengatakan, kalau dia nggak bisa berdiri. Dan dia meminta bantuan Tisa untuk memegangnya agar bisa berdiri!"
Aku turun dari meja sembari tetap mendengarkan Tante Sarah.
"Aku pikir Andri meminta bantuan Tisa untuk memegang miliknya agar bisa berdiri!"
Konyol banget tahu nggak sih?! Hahaha!
"Lampu kamar mati, dan di dalam kamar ada dua orang, cewek sama cowok lagi. Percakapannya juga kayak gitu. Sudah pasti dong, aku jadi negatif thinking!"
__ADS_1
"Udah ah! Kamu ini bikin malu aja! Ayo kita balik ke kamar!!" Om Hendra menarik lengan istrinya. "Maaf ya, lagi-lagi istriku menuduh sembarangan," ucap Om Hendra sebelum berlalu meninggalkan kami.
Hahaha! Bisa-bisanya dia mikir aku sama Tisa lagi gituan!