KISAH DI KOS-KOSAN CAMPURAN VERSI ANDRI

KISAH DI KOS-KOSAN CAMPURAN VERSI ANDRI
Apa Pipit Tahu?


__ADS_3

Ketika aku sampai di kosan, aku tak menemukan sepeda Faiz sini.


"Kemana mereka?! Bukannya harusnya udah sampai ya?! Mereka mampir kemana sih?!" Aku mondar-mandir di depan pintu kamar.


Masa aku yang jalan kaki sampai duluan ketimbang mereka yang naik sepeda?!


Ketimbang mondar-mandir nggak jelas, aku pun memutuskan untuk masuk ke kamar.


Bertepatan dengan itu, motor Faiz sampai juga.


Tentu saja dengan orangnya juga. Nggak mungkin motornya jalan sendiri.


Aku segera mengintip mereka dari balik korden. Terlihat Tisa turun dari motor Faiz.


Tisa membantu Faiz membawakan gitar milik cowok itu sampai ke depan kamarnya.


"Aish! Apa harus banget ya bantuin bawa sampai ke depan kamar?!" Aku menggerutu melihat adegan itu.


"Makasih ya," ucap Faiz sok manis pada Tisa.


"Iya, sama-sama."


"Mana kuncinya tadi ya?" Faiz terlihat merogoh saku celananya.


Dan ketika dia menarik tangannya keluar dari saku, hpnya malah ikut jatuh.


Terlihat Tisa langsung membungkuk untuk mengambil ponsel itu, bersamaan dengan Faiz yang membungkuk juga.


Alhasil, Kepala mereka jadi saling terantuk.


Aish! Pemandangan apa itu?!!


Segera aku menutup gorden. Kebakaran jenggot rasanya aku.


Aku merebahkan tubuhku di kasur. Di luar sana masih terdengar ramai-ramai. Terdengar juga suara Pipit.

__ADS_1


Bersamaan dengan itu, masuk pesan dari pegawai butik. Yang mengabarkan kalau baju yang kupesan untuk Tisa sudah jadi.


Dengan segera aku mengirimkan alamat agar mereka mengirimnya kesini.


Tak sabar rasanya aku ingin memberikan gaun itu ke Tisa. Gaun yang nanti akan Tisa pakai di pernikahan kami.


Aku menyambar hpku yang satunya untuk menghubunginya. Hp yang aku gunakan untuk menyamar.


Tapi yang menjawab malah operator. Berkali-kali kucoba, tapi tetap saja tak ada nada tersambung.


"Masa sih dia ganti kartu? Apa mungkin, hpnya mati ya."


Karena tak ada nada tersambung, aku pun memilih untuk mandi.


Saat aku keluar dari kamar, di luar sudah sepi. Tak ada Tisa atau pun Faiz.


Habis mandi, badan agak segeran rasanya.


Pas banget, baru juga selesai mandi, orang yang mengantar gaun Tisa udah ada di depan pagar kosan katanya.


Kini, di otakku lagi merencanakan gimana caranya aku ngasih ini ke Tisa.


Aku tersenyum saat mendapatkan sebuah ide.


Segera aku berganti pakaian. Memakai baju serba hitam, topi hitam, dan tak lupa juga masker hitam.


Setelah itu aku keluar. Aku berjalan menuju pagar kosan.


Rencananya, aku akan menitipkan ini ke penghuni kos yang lain yang aku temui nanti dan memintanya untuk memberikannya pada Tisa.


Sudah beberapa menit aku berdiri di depan pagar kosan, tapi tak ada satupun penghuni kosan ini yang keluar.


Dan yang keluar malah orang yang tak diharapkan. Ya, siapa lagi kalau bukan Faiz.


Cowok itu keluar dari kamarnya dengan handuk nangkring di pundak. Sepertinya dia akan mandi.

__ADS_1


Tak ada pilihan lain. Mau tidak mau, aku harus menitipkan gaun Tisa ini padanya. Ketimbang aku berdiri di sini terus.


"Mas!" Aku manggilnya dengan suara yang sedikit kuubah.


"Ya? Anda memanggil saya?" Faiz mengernyitkan alisnya.


Ya iyalah! Emang siapa lagi?! Yang ada di luar kan cuma ada kita berdua Bambang!


"Iya Mas. Saya mau minta tolong."


Faiz segera mendekat padaku.


"Saya nitip ini ya Mas. Tolong berikan ke penghuni di sini yang namanya Tisa."


Aku menyodorkan paper bag berisi gaun untuk Tisa ke Faiz.


Baru juga paper bag ini pindah ke tangan ke Faiz, terlihat Pipit keluar dari kamar Tisa.


Matanya terlihat lekat menatapku. Seolah dia tau ini aku meski aku sudah memakai masker.


Tiba-tiba aja dia mendekat ke arah kami.


Aku segera pergi sebelum Pipit mengenaliku. Bukan pergi beneran. Aku hanya bersembunyi di tikungan dekat kosan.


"Tadi itu siapa Iz?" terdengar samar-samar suara Pipit bertanya.


"Nggak tau. Dia cuma nitip ini buat Tisa. Tolong berikan ke Tisa ya, aku mau mandi."


Setelah itu tak ada suara lagi. Aku masih betah di persembunyian ini. Takutnya Pipit masih ada di luar.


Dan tiba-tiba saja..


"Siapa kamu?!" pundakku ditepuk seseorang.


Saat menoleh, Pipit sudah berdiri di sampingku.

__ADS_1


__ADS_2