KISAH DI KOS-KOSAN CAMPURAN VERSI ANDRI

KISAH DI KOS-KOSAN CAMPURAN VERSI ANDRI
Ulang Tahun Tisa


__ADS_3

Beberapa menit aku menunggu kabar dari Romi, akhirnya hpku berdering.


Bersamaan dengan itu aku mendengar suara kamar Tisa terbuka.


"Halo Rom? Gimana tadi?"


[ Beres! ]


"Kamu udah buat dia illfeel sama kamu kan?!"


[ Udah dong! Aku bahkan sampai makan upil demi kamu Ndri! Baru tahu aku kalau upil rasanya asin. ] Aku tertawa mendengar penjelasan Romi.


[ Dia kek shock banget liat penampilan aku. Hahaha. Dia bahkan pulang duluan tanpa makan Ndri. Dia juga ngomong untuk nggak usah ngelanjutin perjodohan itu! ]


"Oke oke! Bagus!" tawaku girang.


[ Kalau dilihat dari penampilannya, sepertinya dia juga nggak niat mau pergi ke kencan itu. Tapi beneran kamu nggak pernah ketemu sama dia Ndri? ]


"Nggak, aku nggak pernah ketemuan sama sekali sama dia!"


[ Dia cantik lho Ndri! Bahkan tanpa makeup. Orangnya juga kayaknya sederhana. Yakin kamu mau nolak perjodohan ini? ] Aku tergeletak mendengar Romi memujinya cantik.


"Hah? Cantik? Ahaha! Semua cewek yang kamu temui juga kamu bilang cantik!"


[ Jadi seriusan nih kamu nggak kenal sama dia? ]


"Nggak, aku nggak kenal sama dia! Papa yang maksa aku untuk ketemuan sama dia! Tapi makasih ya Rom, udah gantiin aku!"


Setelah itu sambungan telfon terputus. Aku merasa sedikit lega.


Kurebahkan kembali tubuhku dan menatap langit-langit kamar.


_________


Sore ini aku berniat untuk lembur. Tiba-tiba saja hpku berdering. Telfon dari Pipit. Kami memang sempat bertukar nomor telfon.


Tumben dia telfon?


"Halo Pit, ada apa?"


[ Halo Ndri? Sekarang kamu lagi ngapain? ]


"Lagi duduk," jawabku yang memang lagi duduk sambil menandatangani beberapa berkas.


[ Ndri, jalan bareng yuk. Aku yang traktir! ]


"Duh, maaf Pit, aku nggak bisa!"


[ Yah, kamu sibuk ya. Padahal aku mau ngajak kamu jalan-jalan bareng karena ini hari ini ulang tahun Tisa! ] jawaban Pipit yang membuatku langsung terdiam.


[ Aku ngajak dia jalan-jalan karena dia ulang tahun. Tapi pacarku malah minta ikut juga. Bisa ngambek Tisa kalau aku ngajak jalan dia tapi bareng pacarku. Aku ngajak kamu biar Tisa nggak ngerasa jadi nyamuk, biar dia ada temennya. Tapi yaudah deh, kalau kamu sibuk. ]


"Eh, tunggu Pit! Jangan ditutup dulu!" cegahku. "Setelah dipikir-pikir aku nggak terlalu sibuk kok! Kirimin aja alamat tempat ketemuannya!"


[ Beneran Ndri kamu ikut? ]


"Iya, bener. Nanti kita jalan-jalan pakek mobil aku aja!"


[ Oke Ndri! Makasih ya! ]


Sambungan telfon terputus disusul pesan dari Pipit yang berisi alamat tempat ketemuannya.

__ADS_1


Segera aku menyambar kunci mobil dan keluar dari ruangan.


"Mau kemana Pak?"


Aku menoleh ke suara itu.


Aduh lupa! Kan hari ini aku ngajakin Pak Yosua lembur!


"Maaf ya Pak. Kayaknya kita nggak jadi lembur, saya ada urusan mendesak. Sekarang Pak Yosua boleh pulang! Maaf ya Pak!"


Langsung saja aku meninggalkan Pak Yosua yang masih dalam ekspresi bingung.


Mobilku melaju ke alamat yang dikirim oleh Pipit. Yang ternyata itu adalah sebuah taman.


Begitu sampai, aku langsung membuka jasku dan menyisakan kemeja saja. Agar terlihat lebih santai.


Sambil keluar dari mobil, aku menggulung lengan kemejaku yang berwarna hitam sampai siku.


Kuhampiri Tisa dan Pipit di depan sana. Tak jauh dari mereka, ada seorang laki-laki yang kuduga adalah pacar Pipit.


"Hai, semuanya! Udah lama ya, nunggunya?" sapaku.


Tisa menoleh, dia terlihat terkejut melihat kedatanganku. Mungkin dia nggak nyangka aku bakalan ikut.


Sementara Tisa yang berbisik-bisik dengan Pipit, aku berkenalan dengan pacarnya Pipit.


Laki-laki kuning langsat ini bernama Virman.


Aku melirik Tisa yang masih belum selesai berbisik dengan Pipit.


Aku tak bisa curi dengar karena mereka berdiri sendikit menjauh.


Oh iya, gimana dengan hadiah untuk ulang tahun Tisa?! Aku kan belum beli!


Gara-gara terlalu bersemangat, sampai lupa beli.


Eh, tapi kalau aku kasih hadiah bukannya nanti terlalu jelas ya kalau aku suka dia? Nanti dia malah jadi ilfeel lagi sama aku! Nggak usah kasih hadiah deh!


Tak berapa lama, mereka mendekat. Setelah itu kami memutuskan untuk langsung berangkat.


Kami pun berjalan ke arah mobilku yang terparkir.


"Eits! Kamu mau kemana Tis?!" Pipit mencegah Tisa hendak masuk ke mobil.


Alisku bertaut karena bingung.


"Ya mau masuk ke mobil lah. Kemana lagi?!" sahut Tisa.


"Maksudku, kenapa kamu mau duduk di belakang? Duduk depan sana!"


Aku tersenyum mendengar ucapan Pipit. Ternyata dia diam-diam ingin mendekatkan temannya itu sama aku.


"Memangnya kenapa kalau aku duduk di belakang?! Kursinya muat kok buat tiga orang!"


"Apa kau mau aku terlihat seperti supir?!" timpalku yang mendukung usaha Pipit. Tisa terdiam menatapku.


"Ck! Iya-iya, aku duduk di depan!"


Aku tersenyum melihat Tisa yang masuk ke dalam mobil bagian depan.


Dalam hati aku berterima kasih pada Pipit.

__ADS_1


________


Dalam perjalanan, Pipit dan Virman terus saja bermesraan. Terlihat dari kaca spion yang tergantung di atasku.


Aku hanya mendengus melihat itu. Sementara aku dan Tisa diam tak bersuara.


Padahal aku diajak agar Tisa nggak jadi nyamuk antara Pipit dan Virman.


Tapi nyatanya kini nyamuknya jadi dua. Aku dan Tisa.


Kulirik Tisa yang duduk di sampingku. Dia terlihat fokus dengan benda pipih di tangannya. Sesekali dia tersenyum.


Dia lagi liat apa sih?! Apa jangan-jangan Tisa udah punya pacar ya?!


Tanpa sadar aku mendengus dengan sedikit keras.


"Kenapa?"


Aku menoleh mendengar pertanyaan Tisa. Sepertinya dia barusan mendengar aku mendengus.


"Nggak papa. Cuma, berasa jadi nyamuk aja."


Tisa melirik kaca spion di atas kami. Melihat dua manusia yang duduk di belakang kami.


"Siapa suruh ikut? Rencananya tadi kalau nggak ada kamu, aku mau balik aja ke kos. Males banget nyamuk!"


Aku kan ikut karena ada kamu!


_________


Pipit mengarahkan mobil melaju ke arah bioskop.


Dan ternyata dia juga telah memesan tiket filmnya. Jadi kami tinggal langsung masuk dan menonton.


Aku duduk bersebelahan dengan Tisa.


Virman ada di sebelah kiriku dengan Pipit di sebelahnya.


Film apa ini? Ceritanya melow tentang cinta dan perselingkuhan.


Kenapa Pipit tak membeli tiket film horor saja?


Aku melirik Tisa. Dia terlihat jenuh melihat film yang diputar.


Saat melirik ke arah kiri, aku melihat Pipit yang bersandar di bahu Virman.


Saat melihat ke sebelah kanan, aku melihat seorang cewek yang bersandar ke bahu cowoknya.


Apa ini? Apa semua yang datang kesini sepasang kekasih?!


Aku melirik Tisa lagi. Hanya dia yang tidak bersandar ke bahu seseorang.


Aku menghela nafas berat. Tidak mungkin cewek seperti Tisa ujug-ujug langsung bersender di bahuku.


Putaran film terasa begitu lambat. Aku bosan.


Pluk!


Mataku terbelalak. Saking terkejutnya aku sampai tidak bisa bergerak.


Demi apa?! Tisa nyender di bahuku!

__ADS_1


__ADS_2