KISAH DI KOS-KOSAN CAMPURAN VERSI ANDRI

KISAH DI KOS-KOSAN CAMPURAN VERSI ANDRI
Andai Lebih Ke Bawah


__ADS_3

Indah tersenyum penuh arti padaku. Dia melihat ke arah Tisa. Aku pun melirik Tisa.


Tak disangka, Tisa malah mangap melihat Indah. Entah terpesona atau apa.


Tinggi Tisa sama dengan Indah.


"Tutup tuh mulut!" ucapku seraya mengatupkan mulut Tisa.


"Kasian lalatnya nanti kalau masuk ke sana!" ujarku lagi tanpa mengalihkan pandanganku dari Indah.


Mama pun memulai aktingnya dengan memeluk Indah erat.


Setelah itu, kami semua duduk di ruang tamu.


Aku bisa melihat raut kebingungan di wajah Tisa. Mungkin dia ingin tahu siapa Indah karena Mama begitu erat memeluknya tadi.


Anting panjang yang dipakai Indah terlihat bergoyang saat dia bergerak. Benar-benar totalitas sekali dia.


Entah apa yang dijanjikan Papa ke Indah sehingga dia nurut dengan permintaan Papa.


Sedari tadi mata Tisa tak pernah lepas dari Indah.


"Tisa, bantuin Mama yuk!" Mama mengajak Tisa ke dapur untuk membuat minuman.


Tisa hanya mengangguk dan mengekor di belakang Mama tanpa kata.


Saat aku hendak mengikuti juga, lenganku dicekal Indah.


"Mau kemana Kak?'


"Aku mau ngikut mereka!"


"Kakak lupa? Kita itu sedang berakting!!"


"Sstt! Diem dah. Aku cuma penasaran sama obrolan mereka."


Aku pun meninggalkan Indah dan beranjak mengikuti Tisa dan Mama.


Aku mengikuti mereka yang berjalan ke arah dapur. Dengan memakai jurus ngawang tentunya. Biar nggak ketahuan.


"Kamu pasti penasaran siapa dia kan?" ucap Mama memancing Tisa. Yang Mama maksud adalah Indah.


"Iya, Ma. Hehehe. Dia siapa Ma?"


"Dia itu calonnya Andri!"


Seketika langkah Tisa terhenti. Senyumku terbit melihat itu.


Sebenarnya aku tak tega. Tapi ada rasa senang juga melihat Tisa yang mendadak membeku mendengar ucapan Mama.


Itu tandanya dia tak rela kehilangan aku.


"Tisa? Kok kamu bengong?" Mama menyadarkan Tisa. "Ayo, dapurnya di sebelah sini!"


"Ah, iya Ma!"


Mereka berdua pun masuk ke dalam dapur.


Aku pun kepikiran sebuah ide untuk mengerjai Tisa. Gegas aku ikut masuk ke dapur.


Telihat Mama hendak menuang minuman ke gelas.


"Udah, sini Ma. Biar Tisa aja yang bikin." Aku mengambil alih teko kaca dari tangan Mama dan memberikannya pada Tisa. "Mending Mama ke depan aja, ngobrol-ngobrol sama Indah."


"Tapi Ndri--"

__ADS_1


"Udah, nggak papa. Tisa udah biasa bikin minuman kok Ma. Dia kan asisten aku." Aku mendorong Mama keluar dari dapur.


"Cepetan ya Sa! Aku udah haus nih!" seruku ke Tisa.


Baru juga keluar, aku balik lagi ke dapur. Terlihat Tisa hanya melirikku.


"Bakinya ada di sebelah sini!" Aku menunjuk ke sebuah lemari dapur.


Setelah mengatakan itu, aku keluar. Tapi balik lagi ke dapur. Tidak masuk, hanya berdiri di ambang pintu.


"Oh iya! Ada yang kelupaan!" ucapku yang membuat Tisa menoleh.


"Di lemari atas kamu, ada camilan. Tolong dihidangkan untuk Indah juga ya!" setelah mengatakan itu aku berjalan ke ruang tamu sambil ngikik.


Dari raut wajahnya tadi, Tisa benar-benar terlihat kesal. Sepertinya aku sukses membuatnya jengkel.


"Loh, Tisa mana?" tanya Mama saat aku duduk bergabung dengan mereka.


"Di dapur, masih buat minuman."


"Kisah cintamu benar-benar rumit ya Kak!" celetuk Indah. "Dari dulu nggak pernah deket sama perempuan. Giliran udah deket banyak kerikil yang harus dilewati!"


"Mana Tisa? Kok lama banget?" tanya Mama yang sudah tak sabar menunggu kedatangan catu, calon mantu maksudnya.


"Sana bantuin Kak!" suruh Indah.


Aku pun kembali bangkit dan berjalan ke dapur.


"Sa, kok lama bang-- Kamu ngapain?! Kenapa naik kursi segala?!"


Aku melihat Tisa naik ke kursi dan berusaha meraih sesuatu di lemari atas dapur.


Tisa hendak menoleh melihatku. Tapi tiba-tiba..


"Aaakh!!" Tisa terjatuh.


Hup!


Aku berhasil menangkapnya.


"E e eh!" Aku panik saat kehilangan keseimbangan ketika menggendong Tisa.


Brugh!


"Aww!" pekik Tisa saat kami berdua jatuh bersama dengan aku menindih tubuhnya.


"Aduhh, lagian kenapa pakek naik kursi segala sih?!" protesku yang hendak bangun.


Tapi mendadak aku mematung karena jarak kami yang begitu dekat.


"Aku nggak nyampek!" sungut Tisa. "Lagian kamu yang nyuruh aku buat--" ucapan Tisa terpotong kala matanya menatapku.


Mata yang kutatap begitu menghipnotis.


Membuat tanganku bergerak sendiri untuk menyibak poni Tisa yang menutupi wajahnya.


Deg


Deg


Deg


Kuselipkan poni Tisa ke belakang telinganya.


Sementara tangan kiriku tetap menopang tubuh agar tak menindih Tisa.

__ADS_1


Aku tersenyum saat melihat pipi Tisa memerah.


Tapi tiba-tiba aja dia gelagapan seperti tersadar sesuatu dan hendak bangkit.


Yang mengakibatkan dia malah menyenggol tangan kiri yang kugunakan untuk menopang tubuh.


Dug!


Cup!


Mataku membulat saat bibirku mendarat di hidung Tisa karena menindih Tisa.


Keadaan jantungku sudah nggak aman. Seperti ada seseorang yang sedang memainkan kembang api di dalam sana.


Detak jantungku terdengar begitu kencang di telingaku.


Waktu bagai terhenti. Aku dan Tisa sama-sama mematung dengan bibirku yang tetap menempel di hidung Tisa.


"Tisa! Andri! Suara apa itu? Apa yang jatuh?!" tiba-tiba terdengar suara Mama dan derap langkah kaki menuju ke dapur.


Tisa segera mendorong tubuhku dan berdiri. Membuat waktu kembali berjalan.


Aku pun ikut berdiri dan gegas mengambil camilan yang tadi diambil Tisa dari lemari yang jatuh ke lantai.


Langsung saja aku pura-pura sibuk membuka bungkusan camilan dan menuangnya ke piring.


Kulirik Tisa yang terlihat meraih teko berisi minuman dan menuangnya ke gelas.


"Apa yang jatuh barusan?" tanya Mama ketika sampai di dapur.


"Ng.. I-ini Ma. C-camilan!" Aku mendadak gagap. "B-barusan Andri ngambil camilan dari lemari. Tapi camilannya malah jatuh!"


"Masa sih camilan jatuh suaranya sampai keras kayak gitu? Kedengeran sampai ruang tamu lho.. Iya kan Ndah?"


Telihat Indah ngangguk-ngangguk.


"Bener kok Ma! Barusan itu camilan yang jatuh ke lantai!" seru Tisa mendukung kebohonganku.


Tapi Mama terlihat tak percaya dan meneliti wajah Tisa dengan dahi mengernyit.


"Tunggu!" seru Mama. Tatapannya bergantian melihatku dan Tisa.


"Wajah kalian kenapa merah gini?"


Kerongkonganku terasa kering seperti sudah tiga hari belum minum.


"Apa kalian sakit karena kehujanan tadi?" Mama berjalan mendekat ke arah Tisa seraya menempelkan punggung tangannya ke dahi Tisa.


"Tisa nggak sakit kok Ma," ucap Tisa seraya menurunkan tangan Mama. "Tisa kan tadi pakek jas hujan, jadi nggak kehujanan!"


Kemudian Mama mendekat kearahku dan mengarahkan tangannya ke dahiku.


Segera aku mencegah tangan itu sebelum sampai di dahiku.


"Andri juga nggak sakit kok Ma. Mama nggak perlu khawatir. Mending Mama ke depan aja sama Indah. Bentar lagi kami akan nyusul setelah semuanya siap."


Mama menatapku beberapa saat.


"Ya udah deh kalau gitu. Mama ke depan dulu sama Indah ya."


Aku dan Tisa kompak mengangguk menjawab ucapan Mama.


"Fyuuhhh.." Aku bernafas lega setelah Mama dan Indah pergi.


Kuraba bibir ini, yang tadi sempat menempel di hidung Tisa.

__ADS_1


Andai lebih ke bawah sedikit saja..


Aish! Apa yang aku pikirkan?!


__ADS_2