
"Agh!" Aku terbangun dengan punggung yang terasa sakit.
Eh? Kenapa kaki dan tanganku tidak bisa digerakkan?!
Aku terbelalak mendapati diriku terbangun di atas kasur dengan kaki dan tangan yang diikat ke pinggiran kasur sehingga membentuk seperti huruf X.
"Apa-apaan ini?! Kenapa aku diikat?!"
"Wah, kau sudah bangun rupanya. Daya tahan tubuhmu bagus juga. Cepat sekali kau sadar. Padahal baru beberapa saat yang lalu aku memukulmu!"
Pak Beni berjalan mendekat ke ranjang.
"Lepaskan aku!! Kenapa kau melakukan ini padaku?! Aku tidak pernah punya masalah denganmu!"
Ia duduk di bibir ranjang dan mencekram wajahku.
"Benarkah?! Lihat baik-baik wajahku! Apa kau sudah mengenali wajahku hah?!" Pak Beni terlihat sangat marah.
Aku bingung, pasalnya ini pertama kalinya kami bertemu.
"Ya. Aku anaknya Burhan!"
Aku tercengang mendengar pengakuannya. Jika dilihat-lihat lagi, memang ada sedikit kemiripan.
"Gara-gara kau, perusahaan Ayahku bangkrut! Gara-gara kau!!" Pak Beni menghempaskan wajahku hingga menoleh kesamping. Leherku sampai terasa sakit.
"Sebenarnya apa yang Ayahku lakukan padamu hingga Papamu mem-blacklist perusahaan Ayah hah?!"
"Bukan salahku jika perusahaan Ayahmu bangkrut! Itu salahnya sendiri!!"
Pak Beni menatapku tajam mendengar sanggahanku.
"Oh ya?!" Pak Beni mendekat lagi ke arahku.
"Apa yang kalian lakukan malam itu? Apa kalian bersenang-senang? Hemh! Kupikir kenapa Ayah tetap sendiri dan tak menikah lagi setelah kematian Ibu. Aku pikir itu karena dia setia dengan cintanya ke Ibu. Ternyata! Aku tidak menyangka!"
"Aku masih normal! Ayahmu yang tidak normal!!"
"Berani-beraninya kau menghina Ayahku!!"
Plakk
Rasa panas menjalar di pipi saat satu tamparan keras mendarat di sana.
Kenapa ini semua terjadi padaku?!
"Ah, maaf. Tak seharusnya aku melukai wajahmu!" Pak Beni mengelus pipiku yang baru saja ditamparnya.
Kemudian dia berjalan ke arah kamera yang sudah dipersiapkan.
"Kita lihat, apa kau memang benar-benar normal atau tidak!" ucapnya sambil menyalakan kamera. Ekspresi wajahnya berubah menjadi beringas.
"Apa yang mau kau lakukan?!"
Terlihat Pak Beni mulai melepas dasi yang terlihat mencekiknya.
"Apa lagi? Melakukan apa yang Ayahku lakukan. Atau mungkin belum? Entahlah. Tapi waktu aku mendengar Ayahku memohon-mohon pada Papamu, sepertinya dia belum melakukan apapun padamu. Lalu kenapa perusahaan Ayah tetap bangkrut hah?! Rugi sekali perusahaan Ayahku bangkrut padahal dia belum menyentuhmu! Jadi, aku akan mewakilinya sekarang!"
__ADS_1
Pak Beni melompat ke kasur dan duduk di atas perutku.
"Kau sudah gila!! Menyingkir dariku dasar kepar*t!!" Aku berusaha bergerak di bawah kungkungannya.
"Diam kau!!" teriaknya. "Padahal aku tidak menyukai pria. Tapi, apa salahnya dicoba. Demi membalas dendam! Dengan ini, maka semua akan impas!" Ia tertawa puas.
"Dasar kepar*t gila!!" Aku berusaha menggerak-gerakkan tubuhku untuk menyingkirkanya. Tapi gerakanku tak terlalu berpengaruh karena kaki dan tanganku tak bisa digerakkan karena diikat.
"Kita mulai darimana ya? Hahahaha!" Pak Beni tertawa seperti orang gila. "Aku jadi bingung karena tidak pernah melakukannya dengan pria!"
Dia menyeringai sambil menatapku.
"Setelah ini aku akan menunjukkan rekaman itu pada publik! Biar kau dan keluargamu juga hancur!"
Mataku membulat mendengar ancamannya.
"Dasar gila!! Apa kau bodoh! Kau juga akan hancur jika melakukan itu! Kau juga ada di dalam rekaman!"
Bibirnya hanya tersenyum sinis. Sepertinya ucapanku tak mempengaruhinya.
"Tentu saja wajahku akan kusamarkan! Hanya wajahmu saja yang terlihat jelas!" seringainya. "Ah, aku tahu. Kita mulai dari sini!"
Aku menggelinjang ketika Pak Beni mendekat ke leherku. Dia menghirupnya dalam-dalam.
"Haah.. bisa-bisanya kau sewangi ini, padahal kau laki-laki!"
Biar badan wangi seharian, pakailah parfum X.. Stop stop! Kenapa malah iklan!!
Ini bukan waktu yang tepat untuk iklan! Aku sedang di ambang jurang!
Aku hanya berteriak memaki karena tak bisa bergerak. Kepalaku ditekannya kuat-kuat ke bantal. agar tak bisa bergerak.
Breeet!
Kemejaku di tariknya paksa hingga banyak kancing yang terlepas.
"Apa yang mau kau lakukan kepar*t!! Hentikan!! Jika aku terlepas, akan kuhajar kau!!"
Kini terpampanglah dadaku di hadapannya.
"Diamlah dan lihat saja!" ucapnya sambil duduk di atas perutku dan mulai menuang isi botol itu ke dadaku.
Sebuah cairan yang berbau manis. Sepertinya madu. Ternyata benar madu. Karena setelah menuangkan sampai habis, ia menjilat tangannya.
BRAKK!
Tiba-tiba pintu didobrak dan terbuka lebar saat Pak Beni hendak meratakan madu itu.
"Siapa yang berani mengganggu kesenanganku?!" maki Pak Beni sambil menoleh ke arah pintu.
"Aku!" sebuah suara yang familiar. Kemudian muncullah Romi dari pintu itu.
"Sial*n!! Kemana orang-orang hingga dia bisa masuk ke sini!!" geram Pak Beni gegas turun dariku.
"Hei Ndri! Masa setiap kali aku menyelamatkanmu kau selalu di posisi tidur?! Memangnya kau itu Putri tidur apa?!" ejek Romi.
Bisa-bisanya di saat seperti ini dia masih sempat mengolok-olokku.
__ADS_1
"Nanti saja ketawanya! Jangan banyak cincong! Cepat lepaskan aku!!" teriakku kesal.
"Ahaha! Iya-iya. Pangeran berjas hitam datang!!"
"Mau kemana kau!!" Pak Beni menghadang Romi.
"Mau kemana lagi? Aku mau menyelamatkan Pangeran tidur yang sedang kau tahan!"
Haish! Tak bisakah dia tidak bercanda di saat seperti ini?!
"Jangan harap kau bisa membawanya keluar dari sini!"
"Haah.. Minggir kau Kakek sihir!" seru Romi.
"Kakek sihir? Siapa?"
"Tentu saja kau! Bukankah hanya Nenek sihir yang jahat dengan putri salju? Berhubung kau laki-laki, jadi Kakek sihir!"
"Romi! Cepatlah!" teriakku.
"Sabarlah sedikit Pangeran tidur!"
"Mau kemana kau hah! Sudah kubilang kau tidak akan bisa membawanya keluar dari sini!" Pak Beni melayangkan tinjunya ke Romi.
"Eits! Nggak kena!" Romi mengejek sambil menghindar.
Beberapa kali Pak Beni berusaha meninju, tapi Romi selalu menghindar.
Hingga akhirnya datanglah Pak Jarwo dan beberapa orang suruhan Papa yang tadi kutelfon.
Sepertinya tadi mereka menghajar bodyguard yang menjaga tempat ini.
"Akhirnya, para pengawal Pangeran berjas hitam sudah datang!" ucap Romi. "Pengawal, segera ringkus orang ini!" ucapnya dengan lagak kerajaan.
"Jangan dihajar, kalian cukup tahan saja. Biar Pangeran tidur yang mengajarnya!"
Pak Beni terlihat panik saat tahu dia kalah jumlah.
Saat dia ingin kabur, segera ditahan oleh Pak Jarwo. Kemudian dia langsung diringkus.
"Lepaskan aku! Aku minta maaf! Aku janji akan menebusnya dengan kompensasi!" Pak Beni meronta-ronta yang langsung mendapat pukulan di perut.
Romi melepas ikatan di tangan dan kakiku.
Dia mengernyit menatap dadaku yang terlihat lengket.
"Apa itu Ndri?"
"Madu! Orang gila itu yang melakukannya. Dia anaknya Pak Burhan!"
"Wah, anak sama Bapak sama-sama gesrek!"
Setelah terlepas, aku turun dari ranjang. Membetulkan letak kemeja yang sudah tak ada kancingnya lagi.
Aku berjalan mendekat ke Pak Beni yang sedang ditahan kedua tangannya.
"Aku minta maaf Ndri! Tolong lepaskan aku!"
__ADS_1
Aku hanya tersenyum tipis.
"Bukankah tadi aku sudah bilang, kalau aku akan menghajarmu jika sudah terlepas?"