KISAH DI KOS-KOSAN CAMPURAN VERSI ANDRI

KISAH DI KOS-KOSAN CAMPURAN VERSI ANDRI
Nonton Di Bioskop


__ADS_3

Apa kalian mengira aku mengirim fotoku? Oh, tentu saja tidak. Aku mengirim foto Naruto. Hahaha.


Tandanya centang dua, tapi tidak dibaca sama Tisa.


Aku mendongak melihat Tisa di mejanya. Dia memasukkan hp ke sakunya.


"Kenapa dia tidak membaca pesan dariku?"


Aku mengambil makananku dan membawanya ke meja Tisa.


Alis Tisa mengernyit saat aku tiba-tiba duduk di depannya. "Kok pindah kesini?" tanyanya.


"Iya. Makan sendirian itu nggak enak!" jawabku santai sambil menyuapkan makanan ke mulut.


"Loh, bukannya kamu mau makan siang sama Indah ya?"


"Tadinya sih iya. Tapi Indah barusan nelfon, katanya ada meeting mendadak." Aku berbohong. Aku pindah kesini karena ingin makan bareng Tisa.


"Ndri, aku boleh minta hotspot nggak?" tanya Tisa tiba-tiba sambil nyengir.


Aku mengernyit menatapnya.


"Paket dataku habis, aku mau download sesuatu," ucap Tisa memberitahu.


Oh, jadi paket datanya habis. Itulah alasannya tak membaca pesan dan melihat foto yang kukirim.


"Bentar doang kok," ucapnya lagi.


Langsung saja aku merogoh saku dan mengeluarkan benda pipih milikku.


Terlihat Tisa bersiap-siap mengetik kata sandinya. Tiba-tiba terbersit suatu ide untuk mengerjainya.


Dengan cepat aku mengganti kata sandiku yang lama dan mengubahnya menjadi tiga kata baru.


"Cium dulu dong!" Aku menyebutkan kata sandi yang baru.


Mata Tisa langsung membulat mendengar ucapanku.


"Kamu udah gila ya!" serunya. "Masa cuma karena hotspot doang malah minta cium?!"


"Hahahaha!" tawaku langsung meledak keras. Sudah kuduga dia akan salah paham.


Padahal aku berharap dia salah paham dan menciumku. Tapi dia malah marah.


"Kok malah ketawa sih?! Nggak lucu tahu!" Tisa protes.


"Ya ampun Tisa, Tisa. Siapa yang yang minta cium? Maksud aku, kata sandinya itu 'cium dulu dong'. Bukannya aku minta cium!" jelasku sambil tertawa. Ekspresinya tadi benar-benar lucu.


"Apa?! Jadi--"


"Iya, itu kata sandinya!"


Jelas sekali kalau Tisa sekarang lagi malu.


"Hurufnya kecil semua, nggak pakek spasi," jelasku.


"Nggak jadi deh!" ucapnya tanpa melihatku.


"Lho, kenapa?"

__ADS_1


"Nggak papa. Lagian yang mau aku download nggak terlalu penting juga," jawabnya tanpa melihatku.


_________


Tisa jadi lebih banyak diam sejak kejadian tadi. Mungkin dia masih malu.


Kulihat Tisa yang sedang fokus menatap layar laptop yang ada di depannya.


"Proyek yang di bioskop gimana perkembangannya?" tanyaku memulai obrolan.


"Untuk proyek yang di bioskop, rencananya di akhir jam kerja nanti, Pak Yosua mengajakku untuk meninjau perkembangannya langsung ke bioskopnya."


Aku mengernyit mendengar jawabannya.


"Apa? Jadi kamu dan Pak Yosua mau nonton bareng?"


Tisa menoleh padaku dengan alis bertaut.


"Kami bukan mau nonton, Pak Andri. Tapi kami mau meninjau perkembangan proyek yang ada di sana!" jelasnya dengan memanggilku pakai sebutan 'Pak'


Apa-apaan itu! Pasti Pak Yosua cuma mau modus aja. Tidak akan aku biarkan!


"Katakan pada Pak Yosua, bahwa aku yang akan menggantikannya untuk pergi bersamamu saat meninjau perkembangan proyek di bioskop nanti!"


"Tapi ini hanya proyek kecil, jadi Pak Direktur tidak perlu sampai turun tangan."


"Tidak, bagiku ini adalah proyek penting. Jadi, aku sendiri yang akan meninjau perkembangannya!"


Mana mungkin aku akan membiarkan Pak Yosua mencari kesempatan mendekati Tisa. Aku rasa meninjau bioskop cuma alasan saja, pasti itu cuma kedok.


Tisa hanya mengangguk menjawab perintahku.


"Oh ya Sa, perasaan dari tadi hpmu jadi sunyi ya. Nggak kayak tadi pagi." Aku pura-pura bertanya.


"Kan tadi aku udah bilang kalau paket dataku habis!"


"Oh iya, aku lupa!" Aku menepuk dahiku sendiri.


Nanti aku akan membelikannya paket data!


_________


Begitu sampai di bioskop aku langsung membeli tiket film horor. Tau lah ya, kenapa alasannya.


Biasanya kan kalau cewek-cewek takut, mereka akan memeluk pasangannya. Hahaha.


Dan tak lupa, aku membeli popcorn juga.


"Untuk apa beli popcorn segala? Kita kan kesini untuk urusan bisnis, bukan untuk nonton," ujar Tisa begitu aku menghampirinya


"Aku beli popcorn ini, itung-itung buat menambah pemasukan di bioskop kita tahu!" Aku beralasan.


"Hem. Ini sih ceritanya nonton film berkedok kerja!" gumam Tisa lirih. Tapi aku masih bisa mendengarnya.


Aku cuma terkekeh tanpa suara.


Ya kalau nggak gini, aku nggak bakalan bisa ngajak kamu nonton Sa!


Film pun dimulai. Baru juga mulai, banyak penonton cewek yang pada teriak-teriak.

__ADS_1


Saat menoleh ke Tisa, dia malah anteng-anteng bae. Emang ya, nih cewek paling beda.


Padahal aku sengaja pilih film horor supaya Tisa takut. Dan aku sebagai laki-laki di sampingnya mendapatkan pelukan hangat.


Tapi sepertinya aku tak seberuntung laki-laki yang ada di sini. Yang pada dipeluk pasangannya karena merasa takut.


"Aaaakkhh!"


Lagi-lagi penonton cewek berteriak begitu ada pocong dengan wajah hitam dan mata melotot muncul di layar depan.


Secepat kilat aku merentangkan kedua tangan. Menyiapkannya untuk Tisa.


Tapi harapanku hangus begitu dia lebih memilih menutup matanya sendiri ketimbang masuk ke pelukanku.


"Kamu ngapain?" tanyanya saat menoleh menatapku bingung.


"Ah, kupikir tadi kamu ketakutan," jawabku sambil menggaruk leher yang sama sekali tak gatal.


"Kalaupun aku takut, lalu kenapa kamu malah merentangkan tanganmu?" tanyanya sama sekali tidak peka.


"Ck, udah lah, lupakan!" jawabku kesal dan kembali menatap layar di depan sana.


"Kamu tuh emang beda dari cewek lain!" gumamku lirih.


Padahal cewek lain memeluk cowok yang ada di sampingnya. Tapi tidak dengan Tisa.


Aku bisa melihat dari sudut mataku bahwa Tisa masih menatapku dengan tatapan bingung. Bikin tambah kesel aja.


"Layarnya itu ada di sebelah sana!" ucapku sambil memutar kepalanya agar menatap ke layar depan.


"Aku tahu kalau aku itu ganteng, tapi nggak gitu juga liatnya!"


Tisa mencebik mendengar aku menyombongkan diri.


"Siapa juga yang liatin kamu! Ge er!" cibirnya.


Film selesai begitu saja tanpa adegan pelukan atau apapun itu. Nasibku sungguh tidak seberuntung laki-laki yang ada di bioskop ini.


Begitu Tisa pamit ke toilet, aku langsung menelfon konter langgananku, membelikan Tisa paket data.


Aku tersenyum senang. Mungkin saat ini paket data itu sudah masuk ke nomornya.


Aku belikan dia paket unlimited. Sama kayak cintaku ke Tisa. Unlimited. Nggak akan ada habisnya.


Setelah itu, aku langsung membuka aplikasi hijau dan menelfonnya.


[ Halo? ] sapanya begitu telfonku diangkat.


"Paket datanya udah masuk belum?"


[ Jadi kamu yang ngisi paket dataku? ] tanyanya.


"Iya. Memangnya kau pikir siapa lagi? Kau nggak mungkin berpikir kalau itu paket data yang nyasar kan?" sahutku sambil celingak-celinguk, takut-takut tiba-tiba Tisa sudah keluar dari toilet.


Bisa ketahuan nanti kalau aku tidak waspada.


[ Kok kamu tahu kalau paket dataku habis? ] tanyanya.


"Setelah aku mengirimimu fotoku, tak ada balasan pesan darimu yang sedang memuji ketampananku. Jadinya kupikir paket datamu habis. Cepat unduh fotoku agar kamu segera melihat betapa tampannya aku! Aku yakin kamu akan langsung jatuh cinta padaku! ] Aku tertawa dan langsung mematikan sambungan telfon.

__ADS_1


Setelah dia mengunduh foto yang kukirim, pasti dia akan uring-uringan karena foto yang kukirim adalah foto Naruto, bukannya fotoku.


__ADS_2