
Aku pernah dengar, jika hati kita senang, waktu akan terasa berjalan lebih cepat.
Dan itu benar terjadi padaku. Tau-tau ini udah hari libur lagi aja.
Saat ingin memasak mie, ternyata ada Tisa juga di dapur.
Aku ingin menyapanya, tapi urung karena hpnya berdering.
Tisa tak langsung mengangkatnya. Dia malah menatap layar hpnya yang terus berdering. Dia yang sedang membelakangiku tak mengetahui aku yang masuk ke dapur.
Setelah beberapa saat, akhirnya dia mengangkatnya.
"Halo?"
Iseng-iseng, aku mengendap-endap mendekat ke Tisa dan mendekatkan telingaku ke hpnya yang sedang ia tempelkan ke telinga.
[ Iya, halo Tisa! ]
Terdengar suara wanita dari seberang.
Tisa menjauhkan hp dari telinganya. Dia membaca nama si penelfon. Pak Yosua.
[ Ini Tante Ima ] lanjut wanita dari seberang.
Siapa Tante Ima? Pasti Mamanya Pak Yosua.
"Iya Tante. Ada apa?" tanya Tisa. Aku masih setia ikut mendekatkan telinga ke hpnya.
[ Hari ini kamu sibuk nggak? ]
"Memangnya ada apa ya Tante?"
[ Tante ada acara makan-makan di rumah. Kamu kesini ya! ]
Ngapain sih nih Tante-tante ngajak makan bareng segala?! Nggak tahu apa dia kalau anaknya itu udah ditolak sama Tisa?!
[ Halo Tisa? Kok kamu diem? Atau jangan-jangan, kamu udah ada janji?! ]
"Ah, nggak kok Tan--"
[ Wah, bagus deh kalau kamu nggak ada janji hari ini. Berarti kamu bisa datang kesini dong ] potong Tante yang bernama Ima.
"Mm.."
[ Ma, hpku mana?! ] terdengar suara cowok dari seberang. Sepertinya itu suara Pak Yosua.
[ Udah dulu ya Tis. Ini Tante pinjam hp Yosua tapi nggak bilang-bilang. Hehehe. Tante tunggu kedatangan kamu. ]
"Tapi Tan--"
Tut tut tut.
Telfon udah ditutup sebelum Tisa menjawab.
"Udah kayak menantu aja diundang makan-makan segala!" Aku nyeletuk.
Tisa yang terkejut langsung menoleh. Dia menjauh dariku begitu tau aku ikut mendekatkan telinga ke hpnya.
"Aku juga mau ikut kesana!" putusku.
"Dih, nggak ada yang ngajak main ikut aja!"
"Aku nggak peduli. Pokoknya aku mau ikut!" ucapku kekeh.
"Apaan sih, ngotot banget! Orang situ nggak diundang kok!"
"Bodo amat! Pokoknya aku mau ikut!"
"Aish! Tuh kepala atau batu sih?! Kenapa keras banget!"
"Meskipun keras kepala gini, tapi ganteng kan?!" Aku mengedipkan mata sebelah kiri ke Tisa.
Tapi Tisa malah bergidik.
"Halah! Nggak usah sok bergidik gitu. Padahal kamu sendiri nggak bisa kan ngedipin satu mata?" ujarku mengejek. Berusaha memancing Tisa masuk ke perangkapku.
__ADS_1
"Sok tahu kamu! Siapa bilang aku nggak bisa?! Aku bisa kok!!"
"Mana buktinya?! Coba kedipin satu mata kamu!"
"Nih, lihat nih!"
Ting ting
Senyumku mengembang. Dia masuk ke perangkapku. Tisa mengedipkan mata kanannya dua kali. Sesuai yang aku harapkan.
"Ih! Tisa nakal deh. Suka main mata sama aku!" seruku menggodanya.
Seketika matanya langsung membulat.
"Apa kamu bilang?! Aku main mata?! Eh, Bambang! Kan kamu tadi yang nyuruh aku buat ngedipin satu mata! Pikun atau gimana kamu?!"
"Wah, malu dia! Nggak mau ngakuin! Udah, bilang aja deh kalau kamu itu udah mulai suka sama aku! Nggak usah kode-kodean ngedipin mata segala!" Aku menyisir rambutku dengan tangan ke belakang. "Aku akan ikut ke rumah Pak Yosua!"
"Ah, terserah kamu lah! Aku nggak mau tanggung jawab ya kalau nanti piringnya kurang karena ada tamu tak diundang!"
_________
Karena kegigihanku, akhirnya aku bisa ikut ke rumah Pak Yosua.
Lagian kenapa sih keluarganya Pak Yosua pakek acara ngundang Tisa segala?!
Roman-romannya sih, nih Tante pengen ngedeketin Tisa sama anaknya.
Tapi maaf ya Tante, sepertinya itu tidak akan semudah apa yang Tante pikirkan.
Sekarang kami lagi duduk di ruang tamu Pak Yosua. Ada Pak Yosua juga yang menemani kami dengan tanpa ada niatan basa-basi.
Tadi sih Tante Ima, Mamanya Pak Yosua sempet terkejut karena Tisa datang sama aku.
Dia mengira kalau aku pacarnya Tisa. Baru kali ini aku suka kesalahpahaman.
Tapi Tisa malah menjelaskan kesalahpahaman itu dan mengenalkanku sebagai Bosnya di kantor. Yang berarti Bos dari anaknya juga.
Hadeeeh.. padahal mah aku seneng-seneng aja nih Tante ngira aku pacarnya Tisa. Biar dia nggak berusaha ngedeketin anaknya sama Tisa.
"Halah! Sok-sokan banget sih! Padahal Kakak seneng kan ada Kak Tisa di sini?!" ucap Yosi yang tiba-tiba muncul dari dalam sambil membawa minuman.
"Haish! Ck. Anak kecil diem aja! Jangan ikut-ikutan ngomong!" sahut Pak Yosua. "Udah, sana cepet masuk. Bantuin Mama di dalam!"
"Ahaha. Nggak repot kok Pak!" sahut Tisa.
"Makanya, punya hp itu disandi! Biar nggak gampang dibuka!" celetukku yang duduk di samping Tisa.
Tiba-tiba lenganku disikut Tisa. "Yang sopan dong! Kamu ini tamu tahu!" bisiknya dengan penuh penekanan.
Bodo amat. Aku hanya melirik Tisa.
"Ahaha. Saya nggak biasa ngunci hp pakai sandi Pak," sahut Pak Yosua.
Lagian, jaman sekarang kok ya ada orang yang hpnya nggak disandi?!
Eh. Hpku nggak ada sandinya juga sih!
"Ya udah, kalian ngobrol dulu aja ya. Aku mau bantuin Tante Ima di belakang." Tiba-tiba Tisa bangkit dan berjalan menuju dapur.
Apa Tisa sering main ke sini ya. Sampai-sampai dia tahu arah dapurnya Pak Yosua.
Nggak mau ketinggalan, aku pun menyusul Tisa. Dan ternyata Pak Yosua juga ikut-ikutan ke dapur.
"Lho, Tisa ngapain kesini?! Udah, kamu di depan aja! Nggak usah repot-repot bantu! Baru kalau nanti udah jadi mantu, nggak papa bantu-bantu!" terdengar suara Tante Ima saat aku baru masuk dapur.
"Aish, Mama nih. Apa-apaan sih?!" timpal Pak Yosua.
Iya nih! Enak aja dia mau ngeklaim Tisa jadi mantunya.
"Aduh, maaf. Mama cuma bercanda kok! Tapi kalau ter-ijabah jadi mantu sih, ya syukur alhamdulillah!" ujar Tante Ima.
"Aish Mama!" seru Pak Yosua.
"Iya-iya. Mama cuma bercanda kok!"
__ADS_1
"Ehem!" Aku berdehem sedikit keras.
Tisa itu nggak cocok sama Pak Yosua!
Pak Yosua kan kulkas, sementara Tisa itu es batu. Jadi tambah beku dong kalau masuk ke kulkas!
"Yuk, kita makan. Udah pada siap nih!" ujar Tante Ima setelah semua makanan sudah tersusun rapi di meja makan yang berbentuk persegi panjang.
Syukurlah Tisa duduk di sampingku. Sementara Pak Yosua duduk agak jauh dari Tisa.
Tisa duduk di antara aku dan Tante Ima.
"Yos, Mama tukar tempat duduk sama kamu ya!" ucap Tante Ima ke Pak Yosua.
"Lah, memangnya kenapa Ma?"
"Kursi yang Mama duduki kurang empuk!"
Aku melirik ke Tante Ima.
"Masa sih Ma?"
"Iya, beneran! Coba kamu berdiri dan duduk di sini deh!" Tante Ima berdiri dari duduknya dan bertukar posisi dengan Pak Yosua.
Jelas ini cuma akal-akalan Tante Ima!
Dia ingin Pak Yosua agar duduk di deket Tisa.
Aish! Nih Tante bener-bener ya!
Jadinya sekarang Tisa duduk di tengah-tengah antara aku dan Pak Yosua.
"Mana? Kursinya sama-sama empuk kok Ma!" ucap Pak Yosua.
"Hah? Iya kah? Mungkin tadi cuma perasaan Mama aja kali ya," ucap Tante Ima sambil menggaruk dagunya yang pasti tidak gatal. "Yaudah lah, nggak papa. Kita lanjut makan aja!"
"Hmh! Itu mah cuma akal-akalan Mama aja. Biar Kak Yosua bisa duduk dekat Kak Tisa!" celetuk Yosi yang sedari tadi diam menyimak.
Nah, ada juga akhirnya yang sepemikiran.
"Aish, Yosi! Kenapa buka kartu Mama sih!" seru Tante Ima.
"Udah ketebak kali Ma!" timpal Yosi sambil mengambil nasi.
"Ehem! Abaikan Mama ya. Jangan dianggap serius!" ucap Pak Yosua.
Ini sama sekali nggak bisa diabaikan tahu!
"Ahaha. Iya Pak," sahut Tisa.
"Tisa," panggil Tante Ima.
"Iya Tante?"
"Kamu sekarang tinggal sama orang tua kamu?" tanya Tante Ima.
"Nggak Tante. Saya ngekos."
Ngapain dia nanya-nanya tempat tinggal Tisa?!
"Kamu umur berapa sekarang?" tanyannya lagi.
"Umur 22 tahun Tante."
"Wah, udah siap nikah dong berarti!"
"Uhuk uhuk uhuk!" Tisa langsung terbatuk mendengar ucapan Tante Ima.
"Pelan-pelan! Ini minum airnya!" Aku menyodorkan air ke Tisa. Tapi ternyata Pak Yosua juga melakukan hal yang sama.
"Uuu.. Banyak yang perhatian ya sama Kak Tisa!" seru Yosi yang melihat kekompakanku dan Kakaknya.
Tisa terlihat bingung mau ngambil gelas yang mana.
Please. Ambil punyaku aja Sa!
__ADS_1