
Tririring!!!
Bunyi hp menyadarkanku dan segera melepaskan Tisa.
"Maaf, refleks," ucapku karena Tisa terus menatapku.
Aku sedikit menjauh begitu tau yang menelfon adalah Papa.
"Halo?"
[ Kamu jadi ke rumah? ]
"Iya, ini sedang berteduh karena hujannya deras."
[ Semuanya di sini udah siap. ]
"Apa? Udah siap?"
[ Papa minta tolong sama Indah buat membantu rencananya Darma. Dia udah setuju buat bantu. ]
Jadi ceritanya itu, si Indah akan pura-pura jadi perempuan yang mau dijodohkan sama aku. Biar Tisa lebih percaya. Dan tentunya ada alasan lain lagi kenapa Papa milih Indah.
Entahlah apa aja rencana Om Darma. Aku ngikut aja. Demi kelancaran hubungan aku sama Tisa.
[ Kamu masih lama sampai ke rumah? ]
"Iya, sebentar lagi. Hujannya masih deras banget. Mama juga udah diceritain kan, tentang--" aku menoleh ke Tisa yang mendekatkan telinga ke arahku. "Kamu nguping ya?!"
Tisa yang terkejut langsung menegakkan tubuhnya.
"Apa kamu bilang? Aku? Nguping?" Tisa tertawa sinis. "Emangnya buat apa aku nguping? GR benget!" lanjutnya sambil membuang muka.
"Bagus deh kalau gitu!" Aku sedikit menjauh lagi dari Tisa. Dan melanjutkan obrolan dengan Papa.
Papa juga mengatakan kalau Mama bahkan sudah membelikan Tisa dress untuk hadiah.
Setelah selesai berbicara dengan Papa, aku kembali mendekat ke Tisa.
Hujan masih deres, bahkan disertai angin kencang.
"Percuma kita neduh! Kalau di sini terus, bakalan basah kuyup kita!" ucapku yang memang ingin segera sampai di rumah.
"Tapi mau gimana lagi? Masa kita harus hujan-hujanan?! Basah dong, berkasnya!" Tisa menunjuk berkas yang didekapnya.
"Kamu tunggu di sini sebentar ya!" Aku langsung berlari ke arah motor yang lagi main ujan-ujanan.
Mengambil jas hujan yang ada di jok motor dan balik lagi ke Tisa.
"Ini, pakailah!" Aku menyodorkan jas hujan itu ke Tisa.
"Apa ini?"
"Udah tau ini jas hujan, masih pakek nanya. Udah buruan pakek, nanti hujannya makin deras. Kita nggak bisa di sini terus. Percuma, hujannya nyiprat. Bisa basah kuyup nanti kita."
__ADS_1
"Kenapa nggak kamu aja yang pakek? Kan jas hujannya punya kamu. Kenapa harus aku yang pakek?!"
Tisa menatapku.
Ya karena aku nggak mau kamu basah kuyup Sa!
"Kamu jangan GR ya! Aku nyuruh kamu yang pakek jas hujannya bukan karena aku perhatian sama kamu. Itu semua demi berkas yang ada di tanganmu itu. Supaya berkasnya nggak basah!" mulut sama hati emang nggak selaras.
Tapi gimana lagi, aku harus tetap berakting. Sesuai apa kata calon mertua.
"Lagian percuma juga kalau aku yang pakek jas hujannya. Bajuku juga udah basah gara-gara ngambil jas hujannya tadi!" ucapku lagi karena Tisa tak kunjung meraih jas hujan ini.
"Lagian salah kamu sendiri. Kenapa tadi nggak nyuruh aku aja buat ngambil jas--"
"Sstt!!" Kuraruh jari telunjukku di bibirnya. "Nggak usah bawel. Buruan pakek!"
Tisa dengan segera menepis jariku dari bibirnya dan memakai jas hujan punyaku. Dia juga menyimpan berkas di balik jas hujan.
Tisa jadi imut pakek jas hujan yang kegedean ini.
"Iket yang bener, biar airnya nggak masuk!" Aku memakaikan penutup kepala jas hujannya karena gemes liat Tisa.
"Aku bisa sendiri!" Tisa mencegah tanganku.
"Udah, diem. Hampir selesai nih!" Aku mengingat tali yang ada di penutup kepala jas hujan.
Ah, lihat ini. Pipi Tisa berubah warna. Sepertinya aku benar-benar telah mendapatkan ginjalnya. Eh, maksudnya hatinya.
Bibirku tersungging melihat Tisa yang tak mau menatapku.
"Nggak usah salting gitu! Ini semua demi berkasnya supaya nggak basah!" Aku menggodanya.
"Siapa juga yang salting?!"
"Lha itu, buktinya pipi kamu merah!"
Tisa langsung menggosok kedua pipinya.
"Mana ada?! Ini tuh karena aku pakai blash on!"
Sejak kapan dia pakai blas blas atau apalah itu? Dikira aku nggak tau apa yang sedang dia rasakan.
"Iya deh, iya. Terserah kamu," ucapku sembari terkekeh.
Bibinya mencebik karena aku tertawa.
"Inget ya Sa. Kita memang putus, tapi bukan berarti putus hubungan. Kita masih bisa berteman!"
Teman hidup maksudnya!
"Yuk kita pergi dari sini!" ajakku sambil berlari ke arah motor yang sedang main ujan-ujanan.
Motorku pun menggunting hujan begitu Tisa naik ke motorku.
__ADS_1
Aku menunduk melihat perutku. Jangan harap ada tangan yang melingkar di sana. Tisa tak akan melakukan itu.
Padahal kalau di film Dilan, hujan itu waktu yang romantis. Sama kayak saat ini. Cuma, bedanya ini si hujan pada ngajak teman-temannya. Petir sama kilat maksudnya. Belum lagi angin kenceng yang ikut meramaikan suasana.
Setelah beberapa lama berkelana dalam guyuran hujan, akhirnya sampai juga di rumah yang sudah lama aku tinggal.
Pak Amin tergopoh-gopoh berlari ke gerbang sambil memegang payung. Dia membuka pagar rumah yang tertutup.
Aku mengangguk tanda terima kasih. Melajukan motor ke halaman rumah.
"Ndri, kok kita kesini?! Ini kan bukan kantor!" tanya Tisa yang baru sadar kita sedang berada di depan sebuah rumah.
"Lah, ini memang bukan kantor. Ini rumahku!"
"Apa?! Rumahmu?!"
"Iya, ini rumahku," sahutku sambil mematikan mesin motor.
"Terus, ngapain kita kesini?!" tanya Tisa sambil turun dari motor.
"Ngapain lagi?! Kamu nggak lihat bajuku basah kuyup gini?!" Aku menunjuk bajuku yang basah sebagai alasan.
Padahal mah aslinya emang mau bawa dia kesini. Dan kebetulan yang sangat menguntungkan hujan turun.
"Ya kali aku ke kantor dengan baju yang basah kayak gini?! Aku mau ganti baju dulu!" ucapku kembali berasalan.
Tisa menatapku dengan kedua alis bertaut.
"Kalau balik ke kosan jaraknya kejauhan, makanya aku milih untuk ganti baju di rumah aja, karena lebih deket!" terangku karena tau apa yang sedang Tisa pikiran.
Aku sedikit mengibaskan rambutku yang basah. Sudah agak panjang rupanya.
Aku menoleh ke Tisa yang terpaku menatapku.
"Kok malah bengong?!"
Yang ditanya malah buang muka ke arah lain.
"Buruan lepas jas hujannya. Memangnya kamu mau pakek jas hujan masuk ke rumah?!"
Tisa pun segera melepas jas hujannya.
Sekilas aku melihat chat masuk dari Papa. Mengatakan kalau Indah sudah perjalanan kemari.
Beruntungnya hp anti air, jadi nggak masalah waktu tadi aku mandi hujan.
"Yuk masuk," ajakku ke Tisa.
Ketika aku sampai di ruang tamu aku mengucap salam, yang harusnya aku ucapin waktu buka pintu tadi.
Setelah mengucap salam beberapa kali, wanita yang telah melahirkanku akhirnya keluar sambil menjawab salam dariku.
Mama langsung bergegas ke arahku begitu tau aku pulang setelah sekian lama.
__ADS_1
Mama berhambur memeluk tubuhku yang basah kuyup.
"Andri! Mama kangen banget sama kamu!"