
TIN TIN TIIINN
Kutekan klakson dengan tidak sabar. Entah sudah berapa menit aku terjebak kemacetan.
Aku menoleh ke Tisa yang masih belum sadar.
Aku harus segera ke rumah sakit.
"Sial!!" Kupukul stir mobil. "Kenapa harus macet segala sih?!!"
Kuraba pipi Tisa yang masih tak sadarkan diri.
"Maafkan aku Sa. Harusnya tadi aku mengizinkanmu pulang. Maaf.."
Tririring!
Tiba-tiba hpku berdering di tengah kebisingan klakson mobil. Telfon dari Om Darma.
"Halo Pak!"
[ Halo Ndri. Ini kamu ada di meja nomor berapa? Saya sudah sampai. ]
"Apa?! Bapak udah sampai di kafe?!"
[ Iya. Ini aku baru masuk ke kafe. ]
"Aduh, saya minta maaf banget ya Pak! Saya nggak bisa datang untuk meeting hari ini. Assisten saya tiba-tiba pingsan."
[ Asisten kamu pingsan? ]
"Iya Pak. Saya benar-benar minta maaf Pak. Saya akan mengatur ulang jadwal meeting kita. Saya tutup dulu telfonnya ya Pak. Ini saya lagi menuju ke rumah sakit."
[ Kenapa kamu terus memanggil saya Pak? Panggil Om aja." ]
Aku mengangguk. Lupa kalau dia tak bisa melihat kepalaku yang mengangguk.
Sekali lagi aku menjawab dengan suara. Setelah itu aku mematikan sambungan telfon.
Lampu berubah menjadi hijau. Aku langsung menancap gas.
"Sssh!"
Aku langsung menoleh mendengar suara Tisa mendesis.
"Tisa! Kamu sudah sadar?!"
Dengan lemas, dia menoleh padaku.
"Andri? Aku kenapa?" Tisa memegangi kepalanya.
"Tadi kamu pingsan. Apa kepalamu masih pusing?"
"Masih.."
"Tunggu sebentar ya. Ini kita sudah mau sampai ke rumah sakit."
"Ndri, kita nggak usah ke rumah sakit ya. Setelah minum obat aku pasti sembuh. Kita ke apotek aja untuk beli obat," sahut Tisa cepat
"Kamu yakin kita nggak usah ke rumah sakit?" Aku bertanya ragu.
"Iya. Setelah minum obat aku pasti sembuh!"
Aku pun memutuskan untuk melajukan mobil menuju ke apotek.
_________
Sementara Tisa beli obat di apotek, aku pergi ke toko untuk membeli air minum untuknya.
Aku sedikit berlari kecil menghampirinya.
Kusodorkan botol air yang baru kubeli itu kepadanya.
Tisa terlihat kesulitan membuka tutup botol itu.
Oh iya! Kenapa nggak aku bukain dulu segel tutup botolnya?!
"Biar aku bukakan." Aku meraih botol itu darinya.
Membantunya membuka segel tutup botol. Aku juga membantunya membuka kemasan obat.
Tapi anehnya, dia tak kunjung meminum obat itu.
Tisa tetap bergeming. Hingga beberapa saat, dia malah menatapku dengan menghela nafas.
__ADS_1
"Kok nggak diminum? Kenapa?" Aku bertanya karena dia tak kunjung meminum obat itu.
Tisa kembali menghela nafas. "Obatnya terlalu besar. Aku nggak bisa minum."
Aku terkekeh mendengar ucapannya. Memangnya dia itu anak kecil?
"Sini obatnya." Kuaraih obat yang tadi kusodorkan dari tangannya.
Kemudian kupatahkan obat itu menjadi dua bagian.
"Ini obatnya." Aku kembali menyodorkan obat itu. "Aku sudah membelahnya. Sekarang kamu sudah bisa minum obatnya kan?"
"Makasih ya Ndri."
Lagi-lagi kutunjukkan senyum termanis yang kupunya, untuk mencairkan es batu ini.
"Iya, sama-sama."
Akhirnya Tisa meminum obat itu.
Dia sedikit meringis. Mungkin karena rasa pahit obat itu.
"Makan ini, supaya rasa pahitnya hilang." Aku memberi Tisa permen rasa mint.
"Makasih ya Ndri."
Kemudian aku mengantarkan Tisa langsung pulang ke kosan.
"Setelah ini kamu langsung tidur ya."
Tisa hanya menjawabku dengan anggukan.
"Kalau besok masih pusing, kamu libur dulu nggak papa."
Lagi-lagi Tisa kembali mengangguk.
"Yaudah, kamu masuk ke kamar gih! Aku mau kembali ke kantor."
"Makasih ya Ndri. Maaf karena sudah ngerepotin kamu."
"Iya, sama-sama. Aku nggak repot kok. Ini kewajiban bos untuk memperhatikan kesehatan karyawannya," sahutku.
Aku tidak akan pernah merasa direpotkan olehmu Sa!
Setelah Tisa masuk ke dalam kamar, aku menghubungi Om Darma untuk meeting yang tertunda tadi.
[ Nggak Ndri. ]
"Oh, Bapak udah balik ke kantornya Bapak sendiri ya."
[ Iya, ada apa Ndri? ]
"Untuk meeting yang sempat tertunda tadi, gimana kalau kita meeting sekarang Pak?"
[ Baiklah. Kamu datang aja ke kantor saya. ]
"Baik Pak. Kalau gitu saya akan ke kantor Bapak sekarang."
[ Kamu memanggilku Pak lagi. Lupa ya? ]
"Ah iya. Aku lupa, mungkin belum terbiasa."
Sebelum kembali ke kantor, aku mampir dulu ke rumah ibu kos untuk membayar uang kos Tisa.
Kemarin dia bilang tidak punya uang untuk membayar kos.
_________
Pulang dari kantor aku membeli nasi goreng dua bungkus. Satunya buat Tisa.
Aku tak langsung masuk ke kamar, melainkan mengetuk kamar Tisa dulu. Ingin mengajaknya makan bareng.
Tak berapa, pintu kamar Tisa terbuka. Senyumku mengembang melihatnya.
"Sa, gimana kepala kamu? Masih pusing?"
Dia mengangguk. "Sedikit."
"Kamu udah makan?"
"Belum."
Bagus!
__ADS_1
"Kalau gitu kita makan bareng yuk! Aku udah beli nasi goreng buat kamu!" Aku mengacungkan kantong plastik yang ada di tanganku.
Tisa tersenyum dan mengangguk.
Aduh, senyumnya itu lho. Bikin hati leleh. Baru kali ini dia tersenyum padaku.
"Kamu duluan aja ke dapur. Aku mau ganti baju dulu."
Aku menyerahkan nasi goreng pada Tisa.
Setelah ganti baju kilat, aku langsung menyusul Tisa yang sudah duluan ke dapur. Makan bersama di sana.
"Makasih ya Ndri udah beliin aku nasi goreng," ucap Tisa sambil mengunyah.
"Sama-sama. Besok kamu nggak usah masuk kerja dulu aja. Setelah kamu pulih, baru masuk kerja nggak papa."
Dia hanya mengangguk.
Aku kembali menyantap nasi goreng di depanku. Tapi entah kenapa, aku merasa diperhatikan oleh Tisa.
Atau cuma perasaanku saja?
Eh, tapi nggak dong. Tisa beneran merhatiin aku.
Lamaa sekali dia merhatiin aku.
"Aku tahu kalau aku itu ganteng. Tapi jangan gitu juga dong ngeliatinnya!!" ucapku pada akhirnya karena sudah tak tahan diperhatikan terus olehnya.
Bisa-bisa meleleh aku.
Aku terkekwh ketika Tisa memutar bola mata mendengar ucapanku.
Aku tahu dia ingin mengatakan sesuatu. Oleh karena itu dia terus memperhatikanku. Tapi dia ragu ingin mengatakan entah apa itu.
"Kamu mau ngomong apa? Ngomong aja! Kayaknya dari tadi, sepertinya kamu ingin mengatakan sesuatu."
Tisa terdiam sesaat. Seperti memikirkan sesuatu.
"Ndri, aku boleh pinjam uang kamu nggak? Aku nggak punya uang untuk bayar uang kos. Nanti kalau aku sudah gajian, aku akan menggantinya."
Ternyata dia kepikiran uang kos. Jika bukan karena uang kos, mungkin dia tak akan memperhatikan aku begitu lama.
"Uang kos kamu sudah aku bayar."
"Apa?! Sudah kamu bayar?! Kapan?!"
"Tadi siang, setelah mengantarmu aku langsung ke rumah Ibu kos dan membayar uang kos kamu."
"Aduh, makasih ya Ndri. Aku janji, setelah aku gajian aku akan mengembalikan uangmu!"
"Santai aja kali Sa. Nggak papa kok!"
Setelah makan, kami kembali ke kamar masing-masing. Tak ada obrolan yang menahan Tisa lebih lama bersamaku.
Agaknya usahaku kurang keras untuk mencairkan es batu.
_________
Hari ini aku kembali sendiri di ruang kerja. Karena Tisa aku liburkan.
"Tisa udah minum obatnya belum ya?"
Aku melihat jam. Sudah waktunya makan siang.
Aku pun memutuskan untuk pulang ke kosan. Aku ingin melihat keadaan Tisa.
Pagi tadi aku tak bertemu dengannya. Mungkin dia masih tidur.
Suasana kosan sepi ketika aku sampai.
Aku ke dapur dulu untuk membasahi kerongkongan.
Baru juga mau keluar dari dapur, tapi langkahku terhenti ketika mata ini tak sengaja melihat sesuatu di tempat sampah.
Aku menatap sesuatu di dalam tempat sampah itu dengan seksama.
Apa ini? Bukankah ini obat Tisa yang dibelinya kemarin?!
Ada apa? Kenapa Tisa membuang obatnya?!
Kupungut obat itu dan segera bergegas keluar dari dapur.
Dengan tak sabar aku mengetuk kamar Tisa.
__ADS_1
Pintu terbuka, Tisa muncul dengan muka bantalnya.
"Apa ini?! Kenapa kamu membuangnya?!" Aku memperlihatkan obat yang tadi kupungut dari tempat sampah.