
Aku menahan nafas saat Tisa terus menatapku dengan tatapan aneh.
Hingga akhirnya dia tersenyum tipis dan berlalu keluar dari dapur, membuatku bernafas lega.
Aku pikir dia tahu kalau itu aku!
Tring!
Satu pesan masuk dari Tisa.
[ Udah lah Pit, ngaku aja. Aku lagi nggak mood bercanda! ] Tisa masih kekeh mengira bahwa aku adalah Pipit.
[ Lah, emang bukan kok! Kok maksa sih?! ] balasku.
[ Terus ini siapa?! ] aku tersenyum membaca pesan Tisa.
[ Tebak dong! ]
Aku mendadak gregetan sendiri karena Tisa tak kunjung menjawab.
"Apa dia sudah tidur? Nggak bisa dibiarin ini!" Aku memutuskan menelfonnya.
Nadanya tersambung, tapi tak diangkat. Aku terus saja menelfon.
Senyumku merekah begitu telfonku diangkat olehnya. Aku sedikit berdehem untuk mengubah suara agar Tisa tak mengenali suaraku.
"Halo? Kok nggak dibalas sih?"
[ Ini siapa? ] tanyanya.
"Coba tebak!" sahutku sambil tersenyum.
[ Kalau nggak penting aku tutup! ]
"Eh jangan ditutup!" cegahku.
Ck! Tisa kaku bener dah!
"Kamu inget nggak sama cowok tompel yang kamu temui di kafe dulu?" Aku pun mengucapkan dialog yang dikarang Ayahnya Tisa.
[ Jadi kamu cowok itu?! ] tebak Tisa. [ Ngapain kamu nelfon aku?! ]
"Ahaha, bukan. Lebih tepatnya aku temannya cowok yang kamu temui di kafe dulu!"
[ Tunggu, kalau kamu temannya cowok yang aku temui, berarti kamu.. ]
"Iya. Aku cowok yang dijodohkan sama kamu!" sahutku menyela ucapan Tisa.
Tisa diam sesaat, sebelum akhirnya menjawab.
__ADS_1
[ Awalnya aku ingin menghubungimu duluan. Tapi ternyata kamu duluan yang menghubungiku. Mau kah kau bekerja sama denganku? Aku punya sebuah rencana! ]
"Rencana? Rencana apa?" Aku berpura-pura tak tahu.
Padahal sudah tahu rencananya tadi siang pas masih di rumah sakit. Pasti dia mau mengajakku kerja sama untuk membatalkan perjodohan ini.
[ Rencana untuk membatalkan perjodohan ini! ] jawab Tisa.
Nah kan bener!
"Kenapa harus dibatalkan?" tanyaku setelah beberapa saat diam.
[ Bukankah kamu tak menyetujui perjodohan ini? Itu kan, alasan kamu menyuruh temanmu untuk menggantikanmu saat disuruh menemuiku dulu?! Jadi kita sama-sama tak menyetujui perjodohan ini! ] sahut Tisa.
"Itu dulu!" timpalku sambil terkekeh kecil.
Setelah aku tahu itu kamu, mana mungkin aku menolak.
[ Maksud kamu apa?! ]
"Setelah aku pikir-pikir, tak ada ruginya juga bila aku menyetujui perjodohan ini. Dengan perusahaan Ayahmu yang besar itu, bisnisku akan semakin lancar!" Aku memulai akting dengan tertawa.
[ Jadi kau mau menikah hanya karena bisnis? ] nada bicara Tisa terdengar geram.
"Tentu saja. Kenapa tidak?"
[ Aku nggak mau! Aku hanya mau menikah berlandaskan cinta! ] tukas Tisa yang membuatku tertawa.
"Ahahaha! Cinta? Apa itu Cinta?! Jangan konyol! Kau pikir kau bisa hidup hanya dengan makan cinta? Uang memang tidak bisa membeli segalanya, tapi segalanya butuh uang! Menikahlah denganku! Dengan begitu perusahaan kita akan menjadi perusahaan terbesar!!"
[ Kau yang konyol! Aku tak mau menikah denganmu! ] sentak Tisa.
Klik!
Langsung kumatikan telfon secara sepihak biar dia tambah geram.
"Hehehe. Harusnya aku jadi artis saja!"
[ Temui aku di kafe yang dulu. Mungkin aku bisa mempertimbangkan permintaanmu untuk membatalkan perjodohan ini! Mungkin! Kalau kamu nggak datang, aku anggap kamu menyetujui perjodohan ini! ] kukirim pesan itu padanya.
Aku menghela nafas senang begitu centang dua sudah berubah jadi biru, tandanya dia sudah membaca pesanku.
Aku masih betah di dapur. Membaca ulang chatku dengan Tisa.
Tiba-tiba aja Tisa masuk lagi ke dapur. Di masuk ke dapur dengan menghentakkan kakinya.
"Hihihihi!" Aku tertawa kecil. Pasti dia sedang kesal gara-gara telfon barusan. Jadi tambah lucu deh.
Tisa berjalan ke arah kompor dan memasak air. Mungkin mau memasak mie.
__ADS_1
Aku langsung berhenti terkikik saat Tisa menoleh menatapku. Tapi begitu dia kembali menatap kompor, aku kembali terkekeh.
"Hihihihi!"
"Apanya sih yang lucu?!" seru Tisa tiba-tiba.
"Dih, kok marah lho.. Orang aku ketawa sendiri!" Aku menyahut sesantai mungkin. "Situ yang kenapa? Baru masuk tiba-tiba marah. Lagi pms ya?"
"Tau ah!" Tisa kembali memunggungiku.
"Tuh kan! Kek nya beneran lagi pms deh! Aku masuk ke kamar aja deh, ketimbang nanti malah kena semprot lagi!" Aku berlalu keluar dari dapur dengan kembali terkekeh kecil.
Nggak sabar rasanya bertemu dia di kafe besok.
________
Gara-gara tak sabar janjian sama Tisa, aku jadi tak bisa tidur. Bahkan sudah tidur tengah malam pun, aku masih bangun kepagian.
Jam baru menunjukkan pukul setengah empat pagi.
Aku pun memutuskan untuk menelfon Tisa menggunakan nomor baruku lagi.
Lama nggak diangkat. Tapi tetap kekeh menelfonnya. Sampai akhirnya diangkat juga.
[ Halo? ] suara Tisa terdengar serak. Sepertinya telfonku membangunkannya.
"Kau masih tidur?!"
[ Siapa ini? ] tanyanya dengan masih suara yang serak.
"Hmh!" Aku pura-pura menyentak nafas kesal. "Rupanya kau tak menyimpan nomor ya?!"
[ Rupanya orang sinting itu! ] terdengar Tisa menggerutu dengan suara lirih. Hampir tak terdengar.
"Apa?! Kau menyebutku apa?!"
[ Ah, tidak. Aku tak bilang apa-apa! ] jelas dia berbohong. Tapi tak apalah.
"Kamu nggak lupa kan nanti kita ketemuan di kafe?!"
[ Iya, tenang aja. Aku nggak lupa kok! ]
"Oke!"
Klik!
Aku kembali menutup telfon.
"Hihihi, dia pasti sekarang lagi kesal nih gara-gara aku telfon pagi-pagi buta cuma buat bilang gitu!"
__ADS_1
Aku kembali berbaring dan menatap langit-langit kamar.
"Rasanya tak sabar menunggu siang!"