
"Ck! Itu pasti anak buah Papa!" gerutuku kecil.
Ya. Itu adalah mobil Pak Jarwo, orang suruhan Papa.
Mobil Pak Jarwo juga ikut melaju kencang.
Aku menambah kecepatan mobil. Tapi sepertinya Pak Jarwo tidak mau ketinggalan. Terlihat mobilnya dengan kencang menyusulku.
Aku tak kehilangan akal, segera aku membanting stir mobil ke sebuah perumahan.
Satu belokan, mobil Pak Jarwo masih bisa mengikutiku. Aku kembali menambah kecepatan dan berbelok lagi. Sampai di belokan ketiga, aku yang melihat garasi mobil yang tak memiliki pagar, segera aku memarkirkan mobillku di sana.
Bruumm!
Berhasil. Mobil Pak Jarwo lewat begitu saja.
"Siapa mereka?" tanya Tisa tiba-tiba.
"Woy!! Siapa ini?!! Kenapa parkir di parkiran orang?!!" teriakan seorang Bapak berkumis dan ketukan di kaca mengalihkan perhatianku. Sepertinya dia yang punya ni parkiran.
Aku langsung menurunkan kaca mobil. "Ehehe. Maaf Pak. Numpang parkir sebentar."
"Enak aja! Dipikir ini tempat parkir umum apa!! Cepet pergi dari sini!!" usir Pak Kumis itu.
"Iya Pak, maaf."
Aku segera tancap gas meninggalkan rumah Bapak itu. Untungnya mobil Pak Jarwo sudah pergi entah kemana.
Ini udah nggak bisa dibiarin. Bukannya Papa udah janji nggak bakal nyari tau tempat aku tinggal ya. Mana ada Tisa lagi.
Ketika melewati jalanan yang agak sepi, aku menepikan mobilku di tepi jalan.
"Ngapain kita berhenti di sini?" tanya Tisa. "Kamu mau buang air kecil?"
"Ngawur!!" Ya kali aku kencing di pinggir jalan. "Aku mau telfon sebentar!" Aku keluar dari mobil untuk menelfon Papa.
Sengaja aku keluar supaya Tisa tak mendengar obrolanku dan Papa.
Setelah tujuh detik, akhirnya Papa mengangkat telfon dariku.
"Halo Pa!"
[ Ada apa Ndri? ]
"Bukankah aku sudah bilang, aku setuju mengurus kantor. Dengan syarat, Papa jangan pernah cari tahu tempat tinggalku yang baru! Jadi tolong Pa, berhenti menyuruh anak buah Papa untuk mengikutiku!"
Aku mengatakan itu dengan suara kecil tapi dengan penekanan agar tak terdengar oleh Tisa.
Setelah mengatakan itu, aku langsung mematikan sambungan telfon dan kembali masuk ke mobil.
Alisku menyatu melihat Tisa yang terlihat aneh.
Dia nggak nguping aku kan?
_________
Dengan arahan dari Tisa, akhirnya kami sampai di rumah Pipit.
__ADS_1
Kami menyalami Ibunya Pipit yang sedang menggendong anaknya.
"Aduh, Tisa! Udah lama nggak main kesini. Eh, sekarang datang-datang udah bawa calon aja!" ucap Ibu Pipit.
Aku langsung salting nggak karuan.
Aduh Ndri, gitu doang jangan salting dong! Tetep stay cool Ndri!!
"Eh! Bukan Tante! Dia bukan calon saya! Cuma temen Tante!" sanggah Tisa yang membuatku langsung jatuh ke tanah setelah sebelumnya diangkat ke langit.
"Mmm, masa? Iya sekarang masih teman!" ucap Ibunya Pipit dengan tertawa kecil.
"Ini Tante, bisa dipakai untuk Dedek bayi nanti," aku menyerahkan barang-barang yang kami beli tadi.
"Waduh, kenapa repot-repot!" ucap Ibunya Pipit sambil menerima barang-barang dariku.
"Halah! Ibu ini! Bilangnya kenapa repot-repot, tapi barangnya tetep diterima! Aslinya seneng kan?!" ucap Pipit yang akhirnya mendapatkan jitakan dari Ibunya.
"Aduh! Sakit Bu!" Pipit menggosok kepala yang dijitak Ibunya.
"Eh, Tis! Nunggu apalagi?! Ini udah ada yang mapan, sikat langsung aja!" bisik keras Ibunya Pipit ke Tisa. "Apalagi orangnya pakek jas gini! Udah mapan banget pasti!!"
Tisa hanya melirikku sekilas.
Tante, yang Tante bisikin itu es batu! Jadi sia-sia!!
"Permisi Jeng Rini."
Kami serempak menoleh arah pintu. Ada dua wanita yang berdiri di sana.
Dan yang dipanggil Jeng Rini itu adalah Ibunya Pipit.
"Silahkan masuk Jeng," Tante Rini mempersilahkan.
"Buset! Tuh alis atau ulat bulu?" Pipit berbisik ke Tisa. "Gede amat!"
"Stt! Nanti orangnya dengar!"
Ah, Tisa emang beda. Meskipun perempuan, dia tak suka bergosip.
"OEEEEE!!!" Adek bayi di gendongan Tante Rini tiba-tiba menangis.
"Ulu ulu! Sayang.., cup cup cup." Tante Rini menimang-nimang anaknya yang menangis. Tapi bayi itu tetap saja menangis.
"Aduh, kamu haus ya. Maaf ya Jeng, tak tinggal masuk dulu," pamit Tante Rini yang ingin menyusui anaknya.
Dua wanita tadi hanya mengangguk.
"Pit, buatin minuman buat mereka ya!" titah Tante Rini sebelum berlalu masuk ke kamar.
"Bantuin yuk!" Pipit mengajak Tisa.
"Lah! Kenapa juga aku harus bantuin kamu?! Aku kan juga tamu di sini!" mulut Tisa protes, tapi kakinya tetap mengikuti Pipit.
Sebenarnya aku juga ingin ikut dengan mereka ke dapur. Aku merasa tidak nyaman dengan tatapan anak dan Ibu itu yang melihatku dari atas sampai ke bawah.
Emangnya aku pajangan diliatin kayak gitu?!
__ADS_1
Eh eh! Apa nih?!
Tiba-tiba saja wanita yang lebih muda duduk di sampingku. Diikuti dengan Ibunya.
Alhasil, kursi yang sedikit panjang ini berisi tiga orang.
Padahal ada banyak kursi di sini. Kenapa dia malah duduk di sampingku?! Mana duduknya mepet banget lagi!
Saat Tisa balik lagi, aku segera menggeser dudukku. Agak menjauh dari wanita tadi.
"Silahkan diminum," ucap Pipit dengan senyum kaku sambil menaruh gelas berisi minuman di meja.
Perempuan dengan alisnya yang hitam tebal ini malah ikut bergeser. Dia kembali mepet kepadaku.
Aku kembali bergeser. Tapi dia malah ikut bergeser.
Belum lagi tonjolan bulat besar yang sengaja ditempelkan di lenganku.
Entah apa yang ada di dalamnya itu, terasa keras sekali saat menempel di lenganku.
Aku kembali sedikit bergeser. Berusaha menjauh dari benda bulat yang keras itu.
Tapi dia malah bergeser lagi dan menempelkan gunung batu miliknya.
Terlihat Tisa menahan tawanya yang melihat ke arahku.
Padahal aku berharap dia cemburu. Tapi jatuhnya malah aku yang risih karena ketempelan gunung jadi-jadian.
Aku terus saja bergeser hingga akhirnya mentok di pinggir kursi.
Aku membuang nafas berat karena sudah tak bisa bergeser lagi.
Aku langsung bangkit dan duduk di samping Tisa.
"Kenapa pindah kesini? Di sana kan lebih empuk!" Tisa berbisik padaku. "Aku yakin dada itu empuk, melihat dari ukurannya yang besar."
"Empuk apaan?! Orang cuma sumpelan kok!" Aku balas berbisik dengan penekanan setiap katanya.
Mata Tisa terlihat membulat.
"Darimana kamu tahu kalau itu sumpelan?!" bisiknya lagi.
"Keras bro! Kayak baju diuntel-untel!" sahutku yang tentu saja tetap berbisik supaya tak terdengar oleh Ibu dan anak itu.
"Kenapa? Kamu cemburu ya aku duduk sama dia?" Aku menyikut lengan Tisa.
"GR!! Memangnya kapan aku bilang cemburu?!"
"Perkataanmu itu udah mencerminkan tahu!" sahutku menggodanya.
"GR-mu itu udah melebihi batas Pak!"
"Mas, punya pacar nggak?" tanya perempuan alis tebal itu tiba-tiba. Membuat kegiatan bisik-berbisik kami terhenti.
Aku menatap Tisa.
Belum ada sih, tapi aku udah punya calonnya. Tinggal menjemputnya aja dari kutub.
__ADS_1