KISAH DI KOS-KOSAN CAMPURAN VERSI ANDRI

KISAH DI KOS-KOSAN CAMPURAN VERSI ANDRI
Jadi Tisa Adalah


__ADS_3

"Wi, kamu bilang tadi dia cemburu kan? Berarti dia ada rasa dong sama aku Wi?!"


Tiwi mengernyit bingung.


"Mas ini gimana sih?! Bukannya kalian itu emang pacaran ya?"


"Belum Wi!"


"Hah? Maksudnya?"


Aku pun menceritakan dari Sabang sampai Merauke. Kuceritakan semua tentang aku yang berusaha menjadi matahari untuk mencairkan es batu.


"Dan kamu tadi bilang kalau dia cemburu! Itu berarti dia udah mulai ada rasa dong Wi?!"


"Kita kan sama-sama perempuan ya Mas. Jadi aku sih yakin kalau tatapan matanya tadi itu jelas mencerminkan rasa cemburu!"


"Yes!!" Aku berseru.


"Tapi kayaknya dia marah deh sama Mas. Kayaknya dia salah paham sama kita!"


"Itu urusan gampang! Serahin aja ke aku! Yuk kita lanjut makan."


_________


Ketika jam makan siang sudah habis, Tiwi pamit pulang.


Berkali-kali dia menelfon suaminya. Tapi Dewo tak bisa dihubungi.


"Mas, aku pamit pulang ya," pamit Tiwi sambil membuka pintu.


"Pulang sama siapa kamu? Bukannya Dewo nggak bisa dihubungi?" Aku mengikuti Tiwi.


"Naik taksi online aja!"


"Wi, aku anterin kamu pulang ya!"


"Nggak usah, kamu kan lagi kerja."


"Ck, udah nggak papa. Lagian masa Bumil pulang sendirian."


Aku membantunya berjalan sambil membawa rantang yang sudah kosong.


Sebelum mengantar Tiwi, aku mampir sebentar ke resepsionis.


"San, tolong bilang ke Tisa ya kalau aku keluar sebentar. Mau ngaterin sepupu aku!"


Santi mengangguk patuh. "Iya Pak!"


Setelah itu aku pergi ke parkiran untuk mengambil mobil. Kemudian langsung capcus nganterin Tiwi.


Sepanjang perjalanan bibirku tak henti-hentinya mengukir senyum. Tak sabar rasanya ingin melihat wajah Tisa yang cemburu.


"Ekhem!" Tiwi berdehem. "Iya, yang lagi kasmaran. Sampek yang disamping ini dianggap patung!"


"Ahaha. Maaf Wi. Jangan ngambek ya!" Aku terkekeh kecil. "Kalau aja kamu tau dia itu orangnya kayak gimana. Dia itu super duper nggak peka! Dia cewek pertama yang cuek sama Mas! Bahkan di pertemuan pertama kami, dia nggak nanya nama Mas. Bahkan dia juga nggak nyebutin namanya! Unik nggak tuh! Padahal selama ini, mana ada cewek yang gitu kalau liat seorang Andri!"


"Hemh! Sombongnya!"


Aku terbahak mendengar cibiran Tiwi.

__ADS_1


Setelah mengantar Tiwi, aku mampir untuk membeli sempol di pinggir jalan.


Sogokan buat Tisa. Biar dia nggak ngambek lagi.


Sesampainya di kantor, aku gegas menuju ruanganku.


Sedikit tergesa aku saat berjalan. Sudah nggak sabar pengen ketemu Tisa.


Saat membuka pintu ruang kerja, Tisa sedang sibuk dengan laptop di depannya. Aku berjalan menghampirinya.


"Ini sempol kesukaan kamu," ucapku sambil memberikan sempol ke Tisa, menaruhnya di meja kerjanya.


"Aku rasa, kita harus jaga jarak," sahut Tisa sambil menggeser sempol yang kuberi menjauh darinya.


Aku mengernyit bingung. "Kenapa?" kembali aku dekatkan sempol tadi padanya.


"Apanya yang kenapa?!" Tisa kembali menjauhkan sempol itu. "Kamu sudah punya istri, bahkan sudah mau punya anak! Lalu kenapa kamu selalu perhatian seperti ini ke aku?!" Dia menunjuk ke sempol tadi. "Apa kamu tahu, sikap perhatianmu itu semakin membuatmu keren dan gentle?! Membuatku seperti pelakor saja! Aku tidak mau jadi pelakor! Aku tidak bis--"


"Dia adik sepupuku!" potongku.


"Terus kalau adik sepupumu hamil, memangnya-- Tunggu! Jadi perempuan hamil tadi sepupumu?!"


Dua sudut bibirku terangkat saat dia menatapku. Sedari tadi Tisa tak mau melihat wajahku.


"Kenapa? Apa kamu cemburu?" Aku menyinggungkan senyum.


"Ahehe.. nggak.." Tisa mendadak gelagapan. "Aku nggak nyangka aja. Ternyata kamu orangnya sangat perhatian ke saudara ya," dalihnya tak mau mengaku cemburu.


Fix, dia memang ada rasa sama aku!


Segera kuputar kursi Tisa menghadapku yang sedari tadi berdiri di sampingnya.


Mata kami terpaku beberapa saat. Tisa diam tak menjawabku.


"Dengan sikap kamu yang barusan, itu menunjukkan kalau kamu cemburu. Yang berarti, kamu suka sama aku!"


Pipi Tisa berubah warna. Mulutnya masih bungkam.


"Em.. Maaf Ndri, aku harus ke toilet dul-"


"Jangan alasan!" Aku menekan pundaknya yang hendak bangkit agar kembali duduk. "Jawab dulu pertanyaanku!" Aku semakin mencondongkan tubuhku ke Tisa, dengan kedua tanganku ada di tangan kursi. Mengungkung Tisa agar tak bisa kemana-mana.


Mataku tak lepas dari kedua manik yang tampak gugup itu.


"Oke, sepertinya kamu malu mengakuinya!" Aku sedikit terkekeh. "Gini aja deh, kalau memang kamu malu mengakuinya, kamu cukup ngangguk aja sebagai jawaban iya."


Manik matanya menatapku balik, dan sejurus kemudian kepalanya mengangguk.


"Yes!" Aku mengepalkan kedua tanganku. "Kalau gitu, berarti kita sekarang.."


"ANDRI!!" tiba-tiba pintu terbuka disusul suara teriakan, membuatku menoleh ke ambang pintu.


"Papa!"


Papa menatap tajam ke arah kami sambil berjalan mendekat.


"Ngapain Papa kesini?!"


Papa datang di saat yang sangat tidak tepat. Aku berdiri tegak menatap Papa.

__ADS_1


"Harusnya Papa yang melontarkan pertanyaan! Siapa perempuan ini?!" serunya sambil menunjuk Tisa. "Papa itu sudah menjodohkan kamu!"


Aku mengusap kasar wajahku.


"Sudah berapa kali Andri bilang sama Papa. Andri itu nggak setuju dengan perjodohan itu Pa!"


Aku menarik nafas dalam dan melirik ke Tisa.


"Asal Papa tahu ya," aku meraih tangan Tisa, menariknya agar berdiri mendekat ke sisiku. "Andri udah punya perempuan pilihan Andri sendiri Pa!"


"Papa nggak setuju!" seru Papa.


"Papa harus setuju! Karena Andri mencintai Tisa Pa!"


Dua alis Papa tiba-tiba menyatu.


"Tisa?!" tatapan Papa beralih menatap Tisa. "Tisandra Putri Kusuma?"


Kenapa Papa bisa tahu nama Tisa?


Tisa mengangguk sebagai jawaban, membuat Papa terkejut.


"Apa kau Tisa anaknya Darma?!" tanya Papa cepat.


Tisa kembali mengangguk. Sementara aku masih bingung. Ada apa sebenarnya ini?


"Ndri, kita perlu bicara sebentar," ucap Papa.


"Apa lagi yang mau dibicarakan Pa?!"


"Maaf, saya mau bicara empat mata dengan anak saya," ucapnya ke Tisa. Membuat Tisa keluar dari ruangan ini.


"Apalagi sih Pa yang mau dibicarain?! Andri nggak bakalan setuju dengan perjodohan itu!"


"Ndri, dengerin Papa dulu. Kamu kenal dia darimana?"


Aku menyentak nafas kasar. Pasti ujung-ujungnya mau bahas bebet bobot dan sebagainya.


"Memangnya harus aku jawab itu?!"


"Harus Ndri!"


"Ck. Dia itu anak baik-baik Pa! Aku jamin itu!"


"Jawab aja kamu kenal dia dimana!!"


"Di kosan Andri! Kami bertemu di sana!"


Papa terperangah tak percaya.


"Susah-susah mau nyatuin kalian. Ujung-ujungnya malah ketemu sendiri di kosan!" gumam Papa sedikit terkekeh.


"Papa ini ngomong apa sih?!"


"Ndri, kamu nggak denger tadi dia namanya siapa?! Dia itu Tisandra Putri Kusuma! Anaknya Darma Kusuma!"


Aku terdiam mencerna ucapan Papa.


"Bukannya Om Darma itu.."

__ADS_1


"Iya Ndri! Dia anaknya Darma! Perempuan yang selama ini akan kami jodohkan denganmu!"


__ADS_2