
Aku berusaha untuk terlelap dengan bantal yang masih menutupi kepala.
"Dasar jal*ng! Setelah menghabiskan uangku, kau main di belakangku hah?!!" teriakan itu menembus bantal yang menutupi telingaku.
Ya ampuun!! Kalau kayak gini ceritanya, aku nggak akan bisa tidur!!
Teriakan tadi disusul suara pukulan yang begitu keras.
Kusambar hp untuk melapor pada Ibu kos. Tapi tidak ada nada tersambung. Suara pukulan di luar juga masih terdengar.
Bahkan sekarang terdengar makin riuh. Terdengar juga teriakan Tisa.
Berulang-ulang aku menelepon Ibu kos. Tapi tak ada nada tersambung.
Kemudian terdengar lagi teriakan Tisa dan juga sudah tamparan.
"Ck. Apa yang dilakukan Tisa! Kenapa dia ikut campur urusan Mbak Lina sih! Memangnya dia bisa menolong Mbak Lina dengan tubuh kecilnya itu? Harusnya dia cukup melapor pada Ibu kos saja!"
Belum lagi suara teriakan Pipit. Makin menambah keriuhan di luar.
Aku berusaha mengabaikan suara riuh di luar sana dan kembali berbaring.
Berusaha memejamkan mata agar bisa terpejam. Biar saja aku tak ikut campur urusan mereka.
Aku hanya ingin ketenangan. Tidak baik ikut campur urusan orang. Hanya akan menimbulkan masalah.
Tapi dengan suara riuh diluar sana bagaimana aku bisa tidur?!
Kalau aku tidak keluar, pasti semalaman aku tidak akan bisa tidur.
Dengan kesal aku membuka pintu kamar.
Mataku terbelalak melihat pemandangan di luar. Seorang pria kekar berotot melayangkan tangannya hendak menampar Tisa.
GREP!
Aku sedikit bernafas lega. Beruntung aku sempat menangkap tangan pria itu sehingga tak mendarat di pipi Tisa.
"Siapa lagi ini?!! Mau jadi sok pahlawan ya?!" geram pria itu dan langsung menghempaskan tanganku.
Ada banyak tato di tangan berototnya. Matanya melotot menatapku. Seperti akan lompat dari lubangnya.
Apa aku akan menang melawannya?
"Lawan Om itu bukan perempuan, tapi saya!"
BUAKK!!
Aku meninju wajahnya sebelum dia duluan yang menunjukku.
__ADS_1
Apa ini? Badannya saja yang kekar, tapi sekali pukul langsung tumbang.
Saat dia ingin bangun, langsung kuhujani dia dengan pukulan. Terus saja kupukul sampai dia tak bisa melawan.
Kupikir akan sulit memukulnya jika melihat badannya yang besar. Yogi yang mabuk saja masih bisa dibilang lebih kuat dibandingkan dengan Om ini.
"Stop, stop! Saya kalah!" cegah Om yang sedang kupukuli. Wajahnya sudah bonyok.
Aku pun langsung berhenti memukulinya. Tapi detik berikutnya dia langsung berdiri dan melarikan diri.
"Awas kamu ya Lina!" ancamnya sebelum berlari makin jauh.
Tisa langsung jatuh terduduk begitu Om tadi sudah pergi.
"Tisa, kamu nggak papa?!" Pipit langsung menghampiri Tisa dan memegang bahunya.
Tisa hanya mengangguk.
Apanya yang baik-baik saja? Badannya saja gemetar seperti itu! Kenapa sih dia sok-sokan nolongin orang?!
"Kalau kamu takut, kenapa kamu memaksakan diri untuk melawan orang yang menyeramkan tadi?!" Aku berjongkok di depannya.
Aku tak bisa menahan geram melihat sikapnya ini. Pipinya merah, sudut bibirnya juga berdarah. Pasti dia ditampar Om tadi.
"Lihat, bibirmu sampai berdarah karena ditamparnya!"
"Kalau kamu dari tadi ada di kamar, kenapa tidak keluar?!! Kenapa tidak sedari awal kamu keluar, sebelum semua orang dipukuli?!! Kenapa setelah semua orang dipukuli kamu baru keluar?!!" pekik Tisa marah.
"Lihat cowok itu! Dia sampai tidak sadarkan diri karena dipukuli Om tadi. Lihat Mbak Lina, pipinya lebam karena ditampar tangan besar itu!"
"Sudah semuanya, jangan bertengkar. Aku sudah cukup berterimakasih kalian sudah mau keluar menolongku," ucap Mbak Lina menengahi.
"Aku akan bawa Restu ke klinik untuk mengobati lukanya. Sekali lagi, terimakasih ya semuanya karena sudah menolongku," imbuh Mbak Lina.
"Akan aku antar kalian ke klinik!" Aku segera berdiri dan membantu memapah orang yang bernama Restu itu. Dia tak sadarkan diri dengan banyak luka di wajahnya.
"Tidak usah, di depan sini ada becak. Kami akan naik becak saja," tolak Mbak Lina.
Aku pun hanya mengangguk dan mengantarnya ke pangkalan becak.
Sepertinya Restu ini cowok yang tadi ada di kamar Mbak Lina. Mungkin pacarnya. Tapi kenapa cowok ini berbeda dengan cowok yang waktu itu berada di dalam toilet bersama Mbak Lina?
Memangnya ada berapa pacarnya Mbak Lina? Om itu juga marah pada Mbak Lina karena merasa diselingkuhi kan?
Aish. Kenapa aku jadi mikirin ada berapa pacar Mbak Lina!
Sepertinya aku harus pindah kos-kosan lagi. Om tadi juga mengancam Mbak Lina. Berarti dia akan datang lagi ke kosan dan membuat kerusuhan.
Gimana kalau dia mau balas dendam sama aku sambil membawa teman-teman premannya?
__ADS_1
Ck! Sepertinya aku harus benar-benar pindah dari kos-kosan itu.
"Makasih ya," ucap Mbak Lina setelah sampai di pangkalan becak.
"Iya Mbak, sama-sama."
Setelah kepergian mereka, aku kembali ke kosan.
Terlihat Tisa sedang duduk di depan pintu kamarnya. Aku bisa melihat kalau tangannya masih gemetar.
Badan kecil gitu mau ngelawan Om tadi. Apa dia nggak mikir. Dengan dorongan satu jari Om tadi aja pasti dia akan jatuh!
"Kamu punya Betadine sama kapas nggak?" tanya Pipit. "Bibirmu luka, pasti perih!" Tisa menggeleng.
"Aku punya!" sahutku sambil membuka pagar kosan.
Tisa hanya melirikku sekilas. Lalu membuang pandangannya ke arah lain.
Apa? Apa dia marah padaku karena tadi nggak segera keluar?
Aku berlalu ke kamar dan mengambil kotak P3K. Aku bersyukur Mama selalu menyuruhku membawa kita obat ini.
Gegas aku keluar dari kamar dan menyodorkan kotak obat ke Pipit.
"Terimakasih," ucap Pipit.
Terlihat Pipit menuangkan Betadine ke kapas dan langsung mengarahkannya ke sudut bibir Tisa.
"Jangan langsung begitu!" cegahku. "Kita bersihkan dulu lukanya, biar tidak infeksi."
Aku meraih kapas dan Betadine yang ada di tangan Pipit. Lalu aku duduk di depan Tisa.
Tisa menatapku dengan tatapan tak suka.
"Aku bisa melakukannya sendiri!!" cegahnya berusaha meraih kapas dari tanganku.
"Diamlah, jangan bergerak. Aku akan membersihkan lukanya," ucapku dan mulai membersikan lukanya.
Tisa hanya diam ketika aku mengobati lukanya. Dia membuang pandangannya ke arah lain.
Di saat seperti ini saja di masih bersikap tak ramah padaku. Apa dia benar-benar nggak bisa bersikap seperti cewek pada umumnya.
Belum lagi kilatan matanya yang tidak bisa menyembunyikan rasa tidak suka. Dasar! Benar-benar deh!
Tak sengaja aku melihat ke dalam kamarnya yang terbuka.
Mataku tak sengaja menatap topi hitam dan jaket Hoodie warna hitam yang tergantung di dinding.
Itu topi yang sama persis dengan yang dipakai cewek yang menolong kucing waktu itu!
__ADS_1