
Hari yang kunanti telah tiba. Pagi ini aku berangkat ke kantor bersama Tisa.
Dia terlihat sangat gugup sekali.
Aku memutar musik agar Tisa sedikit rileks. Aku juga mengajaknya mengobrol sepanjang jalan.
Tapi sepertinya gugup itu kembali mendatangi Tisa saat kami sudah sampai di kantor.
Saat aku sudah memarkirkan mobilku, aku langsung turun. Tapi urung melihat Tisa yang masih bergeming.
Tatapannya kosong, seperti memikirkan sesuatu. Dia melamun.
"Sa, ayo turun."
Tisa tersadar dan menoleh padaku.
Dari raut wajahnya aku sudah tahu kalau dia sedang gugup.
"Duh, Ndri. Perutku mules, jadi pingin beol!"
Aku terkekeh mendengar ucapannya. "Gugup ya?"
"Iya. Deg-degan banget aku! Gimana kalau nanti nggak diterima?!"
Itu tidak akan terjadi Sa! Seratus persen kau akan diterima kerja. Bahkan jadi asisten direktur!
"Optimis dong! Masa belum apa-apa udah pesimis!" Aku berusaha menyemangati Tisa.
Tisa bergeming menatapku.
"Udah, tenang aja! Yang penting sekarang kamu masuk dulu. Lalu serahkan surat lamaran kerjamu. Diterima atau nggak, itu urusan belakang!" ucapku lagi.
Kami pun turun dari mobil.
"Maaf, aku nggak bisa nemenin kamu,"
"Iya, nggak papa. Kamu udah ngasih tahu lowongan ini aja, aku udah bersyukur banget!"
Aku harus masuk duluan agar Tisa tidak melihat para karyawan yang mengangguk sopan padaku dan memanggilku direktur.
Begitu masuk ke kantor, aku langsung ke Sinta.
"Sin, bentar lagi ada perempuan yang melamar kerja di sini. Kamu langsung terima dia kerja!"
"Hah? Bukannya kita nggak lagi buka lowongan ya Pak?" tanya Sinta heran.
"Khusus hari ini aku buka! Udah, jangan banyak tanya. Pokoknya kamu langsung terima dia kerja!"
"Ditempatkan di bagian apa dia Pak?"
"Karena saat ini yang kosong cuma posisi asisten direktur, terima dia jadi asistenku!"
"Loh? Bukannya Bapak nggak suka asisten cewek ya?"
Aku tak sempat menjawab karena melihat Tisa mulai masuk.
"Udah! Pokoknya kamu lakukan apa yang aku bilang barusan! Setelah itu antar dia ke ruanganku!"
Segera aku berlari ke ruanganku sebelum Tisa melihatku.
Aku sedikit merapikan dasi yang kupakai.
Kutatap cermin setinggi badanku yang berada di dalam ruanganku.
Aku merapikan rambut yang sebenarnya tidak berantakan sama sekali.
"Hm, sepertinya aku besok harus bercukur."
Aku kembali mengingat perkataan Indah yang mengatakan aku terlihat tua jika punya kumis.
Di bawah hidungku mulai muncul rambu-rambu tipis.
Tok tok tok!
Itu pasti Tisa!
__ADS_1
Aku segera duduk di kursi kebesaranku dan memutar kursi agar membelakangi pintu.
"Masuk."
Ceklek!
Terdengar suara pintu terbuka. Hening sesaat tak ada suara dari Tisa.
Dia lagi ngapain sih? Kenapa nggak ngomong?!
Karena tidak sabar aku berniat memutar kursiku menghadapnya. Tapi urung ketika mendengar suara helaan nafas Tisa. Sepertinya dia gugup.
Aku jadi senyum-senyum sendiri.
"Selamat siang Pak--"
"Ini masih pagi. Apa kau sangat gugup sampai tidak melihat jam?!" Aku memotong ucapan Tisa.
Senyumku tambah lebar. Rasanya menyenangkan menjahili Tisa.
"M-maaf Pak. Selamat Pagi Pak. Perkenalkan, saya nama Tisa."
"Hahaha!!" tawaku pecah mendengar kata-kata Tisa yang kebalik.
"Sepertinya kamu memang sangat gugup. Kata-katamu sampai terbalik!"
Aku memutar kursi menghadap Tisa.
Matanya terbelalak melihatku.
"Andri?!!"
Aku tersenyum menatapnya.
"Jadi direktur perusahaan ini kamu?!!"
Aku mengangguk dengan senyuman yang tak pernah kulepas saat menatapnya.
"Mulai hari ini, kamu akan menjadi assistenku!"
_________
Tapi nyatanya tidak. Dia seperti sudah terbiasa mengerjakan tugas yang kuberikan.
Dia seperti sudah berpengalaman bekerja di perusahaan.
Ketika aku kembali dari toilet dan ingin mengajaknya makan siang, Tisa sudah tak ada di mejanya.
"Tisa kemana? Apa mungkin dia ke toilet juga ya?"
Aku memutuskan untuk menunggu Tisa. Aku akan mengajaknya makan siang bersama di kafe.
Sudah beberapa menit aku menunggunya, tapi Tisa tak kunjung kembali.
"Sebenarnya Tisa kemana sih?"
Aku sudah lapar, tapi aku ingin makan bersamanya.
Tiba-tiba pintu ruanganku terbuka. Tisa akhirnya muncul.
"Kamu darimana?"
"Dari makan Pak."
Mataku membulat mendengarnya memanggilku Pak.
"Apa?! Pak?! Kenapa kamu memanggil aku Bapak?!"
Tisa mengernyit. "Ya karena kamu atasanku!"
"Jangan panggil aku Bapak! Aku masih muda! Panggil Andri aja, kayak biasanya."
"Tapi kamu kan atasanku. Masa bawahan manggil bosnya dengan namanya langsung."
"Kalau gitu panggil aku 'Mas' aja!" Aku tersenyum.
__ADS_1
"Andri aja deh!" Senyumku hilang. "Rasanya aneh kalau manggil kamu 'Mas'."
Kruyuuuuk!
Tiba-tiba perutku berbunyi. Padahal aku menunggunya karena ingin mengajaknya makan bersama. Tapi dia malah makan duluan.
"Ke kafe yuk!" ajakku.
"Hah? Ngapain? Kan aku sudah bilang kalau aku sudah makan."
"Temani aku makan. Sekalian nanti kita ada meeting di kafe itu."
Aku pun mengajak Tisa ke kafe dekat kantor. Di sana pula aku akan meeting dengan Om Darma.
_________
"Halo Pak Darma. Kita jadi meeting di kafe dekat kantor saya kan?"
Aku menelfon Om Darma saat sudah selesai makan siang.
Om Darma kembali mengingatkanku untuk memanggilnya Om saja.
Entah kenapa aku menangkap air muka Tisa berubah ketika aku menyebut nama Om Darma.
Tapi mungkin itu cuma perasaanku saja. Karena saat aku kembali memastikan ekspresi Tisa, ternyata air mukanya biasa saja.
"Ndri, kita mau meeting dengan siapa di sini?"
Tisa tidak tahu scheduleku karena ini hari pertama dia kerja.
"Dengan Pak Dharma. Itu lho, orang yang ngobrol sama aku waktu di lampu merah."
Lagi-lagi aku menangkap ekspresi aneh di wajah Tisa ketika aku menyebut nama Om Darma.
Tisa kenapa sih?
Tiba-tiba saja dia memegang kepalanya.
"Tisa, kamu kenapa?"
"Aku merasa sedikit pusing Ndri. Aku boleh izin pulang nggak?"
"Aduh Tisa, maaf. Kamu tahan sakitnya sampai meeting selesai ya?! Soalnya ini meeting penting. Aku ingin kamu juga ikut andil dalam meeting ini! Aku beliin kamu obat ya!"
Tisa mencekal lenganku saat aku ingin berdiri.
"Ndri, nggak usah deh! Nanti aku beli sendiri obatnya. Aku masih tahan kok!"
Aku kembali duduk. "Beneran kamu masih tahan?"
Tisa mengangguk menjawabku..
Tapi entah kenapa mimik wajahnya terlihat gelisah. Dia kemudian berdiri.
"Kamu mau kemana?"
"Aku mau ke toilet sebentar."
Saat Tisa melangkahkan kakinya, tiba-tiba saja dia terhuyung.
"Tisa! Kamu kenapa?!"
Dia masih sempat meraih sandaran kursi agar tidak jatuh. Tangannya memegangi kepalanya.
Apa kepala Tisa sangat sakit?!
Tiba-tiba badannya limbung. Aku segera menangkap tubuh Tisa. Tisa pingsan.
"Tisa! Kamu kenapa?!!" Aku panik dan menepuk-nepuk pipinya. "Tisa!!"
Dia tak merespon tepukan di pipinya.
Kuangkat tubuh Tisa. Aku harus membawanya ke dokter.
Dengan tergesa aku menggendong Tisa masuk ke mobil.
__ADS_1
Sebenarnya Tisa sakit apa? Kenapa dia pingsan?!